[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Brent, Kemahiran Meningkat Pesat!
Suasana di sekitar karavan Micel seketika berubah menjadi medan pembantaian yang mengerikan.
Kelompok bandit bandana merah menerjang dengan keganasan yang tak terbayangkan, menebas para tentara bayaran yang mencoba membentuk formasi pertahanan yang rapuh.
"Sangat lemah! Apakah kekuatan kalian hanya sebatas ini?!" teriak salah satu bandit sembari membelah dada seorang prajurit bayaran hingga organ dalamnya berhamburan.
"Jangan bunuh aku! Aku punya anak dan istri!" teriak seorang tentara bayaran dengan suara penuh ketakutan.
Namun, jawaban yang ia terima hanyalah tawa sinis sebelum sebuah bilah pedang dingin memutus lehernya. "Keluargamu akan segera menyusulmu di neraka!" Kata sang bandit sembari menyapu darah dari senjatanya.
Micel berdiri mematung di dekat kereta, lututnya bergetar hebat hingga ia nyaris jatuh tersungkur.
'Sialan! Benar-benar sialan!' umpatnya dalam hati dengan penuh keputusasaan. 'Aku tidak menyangka setelah mengeluarkan modal besar untuk membayar sampah-sampah ini, namun mereka mati lebih cepat daripada domba di rumah jagal! Jika karavan ini jatuh, seluruh aset dan nyawaku akan lenyap dalam sekejap!'.
Dengan sisa keberanian yang ada, Micel menoleh ke arah Simon Blake, yang masih berdiri tenang di balik tudung jubah hitamnya.
Wajah Micel tampak memohon, "Saudara Simon... kumohon, selamatkan kami! Hanya Anda yang mampu membalikkan keadaan ini!".
Simon tidak langsung bergerak. Ia justru terdiam, seolah-olah sedang menimbang sesuatu dengan sangat berat, yang membuat jantung Micel berdetak dua kali lebih cepat karena ngeri.
"Bukannya intervensi tempur ini tidak tertulis dalam kesepakatan kerja sama kita sebelumnya?" ucap Simon dengan nada datar yang dingin, menunjukkan sisi realistis.
Micel mendecakkan lidahnya, diliputi penyesalan mendalam karena tidak menawarkan lebih banyak sejak awal.
Ah aku tau!
Sebuah ide mendadak muncul di kepalanya. "Saudara Simon! Jika Anda bersedia membantu saya menghancurkan ancaman ini, saya akan memberikan ramuan ksatria tingkat rendah kepada Anda! Sebagai ksatria tentu kamu pasti tahu betapa berharganya barang itu, bukan?".
Ramuan itu sebenarnya adalah titipan milik seorang bangsawan, namun demi keselamatannya sendiri, Micel tidak memiliki pilihan lain selain menjadikannya alat tawar-menawar.
Ia berjanji akan menjelaskan alasan hilangnya ramuan itu kepada sang bangsawan nanti yang penting sekarang dirinya harus selamat terlebih dahulu.
Mendengar kata ramuan ksatria, sebuah senyuman tipis yang tajam terukir di wajah tampan Simon. Ia memang sangat membutuhkan sumber daya tersebut untuk mempercepat progres kemahirannya.
"Kenapa Anda tidak mengatakannya dari tadi? Tentu saja aku akan membantu Saudara Micel," ujar Simon sembari mengambil gagang pedang dari mayat sekitar.
Ia kemudian membawa Micel ke dalam kereta, "Masuklah dan jangan keluar. Biarkan urusan bandit ini menjadi tanggung jawabku."
"Baiklah kamu harus hati-hati." Kata Micel sambil mengingatkan.
Simon melangkah keluar dari bayang-bayang kereta. Kini, hanya tersisa tiga tentara bayaran yang masih bertahan hidup, sementara jumlah bandit masih cukup banyak.
Tanpa membuang waktu, Simon segera mengincar ancaman terbesar kelompok bandit itu, yaitu sang pemanah! yang bersembunyi di balik semak-semak.
"Orang ini sangat merepotkan ku lihat!"
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
Dengan kelenturan luar biasa dari teknik ularnya, Simon melesat bagai siluet hitam yang tidak terlihat.
"Ahh ! Bagaimana mungkin kamu disini?!"
Hanya dalam hitungan detik, ia sudah berada di belakang sang pemanah dan memutus tenggorokannya sebelum busur itu sempat ditarik kembali.
Ahh!
Setelah ancaman jarak jauh dieliminasi, Simon berbalik menuju para bandit yang yang lain.
Simon bergerak meliuk-liuk, menghindari setiap ayunan senjata lawan dengan sudut-sudut yang tidak masuk akal. Pedangnya membelah udara dengan suara desisan yang mematikan.
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
CLANG! SPLAT!
"Siapa orang ini?" Para bandit kaget melihat Simon yang seperti tukang jagal.
Setiap gerakan Simon sangat efisien. Para bandit mulai menyadari ada yang salah. Kekuatan fisik dan kecepatan Simon jauh melampaui manusia biasa.
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
"Sialan! Dia ternyata seorang ksatria!" teriak pemimpin bandit dengan wajah pucat.
Ketakutan yang luar biasa segera menyebar di antara anak buahnya. "Lari! Ada ksatria di sini! Mama, aku takut!" jerit para bandit sembari membuang senjata mereka dan lari kocar-kacir.
Kepala bandit berbandana merah itu merasakan dunianya runtuh. 'Bagaimana mungkin di wilayah terpencil ini ada ksatria?!' pikirnya sembari memacu langkahnya untuk melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.
Baginya, manusia biasa seperti dirinya hanyalah semut di hadapan seorang praktis ksatria ini. Lebih baik mundur atau kamu akan kehilangan nyawamu!
Namun, sebuah suara yang sangat dingin dan rendah bergema tepat di belakang telinganya.
"Apakah aku telah memberimu izin untuk pergi?".
Kepala bandit itu tersentak dan melihat ke depan. Simon sudah berdiri di sana, siluet jubah hitamnya berkibar tertiup angin, tampak seperti malaikat maut yang menanti.
"T-tidak! Aku tidak ingin mati!" pemimpin bandit itu jatuh berlutut, air mata ketakutan mengalir di pipinya.
"Tuan Ksatria, kumohon selamatkan hidupku! Aku memiliki banyak koin emas di kantungku, aku akan memberikan semuanya kepada Anda, tapi kumohon jangan bunuh aku!"
Simon menatapnya dengan tatapan meremehkan yang sangat dingin. "Memberikan padaku?" Simon bertanya secara retoris. "Aku membunuhmu pun, harta itu akan tetap menjadi milikku"
"Tidak, bukan seperti ini cara mainnya--"
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
Pupil mata kepala bandit itu mengecil hingga seukuran lubang jarum. Sebelum ia sempat memohon lagi, dunia di matanya berputar secara aneh. Hal terakhir yang ia lihat adalah tubuhnya yang masih berlutut tanpa kepala, serta sosok Simon yang berdiri tegak sembari menyarungkan pedangnya dengan tenang.
[ Pernafasan Ular Hitam (Dasar): 4/200 ]
Setelah memastikan ancaman dari pemimpin bandit bandana merah telah berakhir sepenuhnya, Simon Blake melangkah mendekati jasad pria tersebut yang kini tergeletak kaku tanpa kepala.
Dengan ekspresi dingin, ia segera merogoh pakaian bandit itu dan hanya menemukan 2 koin emas.
"Brengsek, hanya dua koin emas ini yang kau banggakan? Cih, jumlah ini bahkan tidak cukup untuk menebus satu botol ramuan ksatria tingkat rendah," gumam Simon dengan nada kesal.
Simon kemudian beralih menggeledah mayat bandit lainnya serta prajurit bayaran yang telah gugur, namun ia hanya berhasil mengumpulkan tambahan 30 koin perak.
"Benar-benar kelompok yang miskin!" umpatnya sembari memasukkan jarahannya ke dalam saku jubah hitamnya.
Melihat tiga prajurit bayaran yang tersisa masih bernapas di tengah genangan darah, nurani Simon sebagai manusia modern sedikit tergerak.
Ia mendekati salah satu prajurit yang kehilangan lengannya, segera menyobek bagian bajunya sendiri untuk mengikat luka tersebut guna menghentikan pendarahan yang fatal.
"Terima kasih, Tuan Simon, atas pertolongan Anda yang luar biasa," ucap prajurit itu dengan suara bergetar menahan sakit.
"Tidak perlu berterima kasih, ini adalah bagian dari tanggung jawab saya dalam kerja sama ini," balas Simon datar sembari membantunya bersandar.
"Apakah kau masih memiliki kemampuan untuk bergerak?".
"Saya akan mencoba bertahan, Tuan," kata prajurit itu.
Mendengar itu Simon segera meninggalkan mereka.
Di balik punggung Simon, dua prajurit lain saling berbisik dengan nada putus asa mengenai masa depan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Dengan kondisi fisik yang cacat seperti ini, tidak ada tentara bayaran lain yang mau menerima kita," bisik salah satunya dengan wajah pucat.
"Mungkin kita hanya akan berakhir menjadi penjaga gerbang kota atau pengemis di distrik kumuh jika keberuntungan masih berpihak pada kita," jawab rekannya dengan pasrah.
Simon mengabaikan pembicaraan mereka dan segera bergegas menuju kereta kuda untuk menemui Micel.
Srett!
Begitu Simon membuka pintu kereta secara tiba-tiba, Micel tersentak dan nyaris berteriak ketakutan sebelum menyadari siapa yang datang.
"Semuanya telah saya bereskan, Saudara Micel. Sesuai dengan perjanjian tertulis kita, berikan ramuan ksatria itu kepadaku sekarang," tagih Simon tanpa basa-basi.
Micel yang masih gemetar segera menyerahkan sebuah botol kecil kepada Simon. "Ambillah, ini sudah sepantasnya menjadi milikmu. Tanpa kehadiran Anda, saya mungkin sudah menjadi mayat yang membusuk di jalanan ini," ujar Micel dengan penuh rasa syukur.
"Baiklah, anggap saja kita sama-sama diuntungkan dalam situasi ini," kata Simon sembari mengangkat kedua tangannya dengan santai, lalu menyimpan ramuan merah gelap tersebut.
Karavan dagang itu segera melanjutkan perjalanan di bawah naungan langit malam yang mulai pekat.
Menjelang fajar, barisan kereta akhirnya tiba di gerbang Wilayah Baron Brent yang dijaga ketat. Pasukan penjaga gerbang segera menghentikan laju karavan tersebut.
"Berhenti! Identifikasi diri kalian dan tunjukkan surat izin perdagangan!" bentak salah seorang penjaga gerbang berseragam lengkap.
Micel keluar dari kereta dengan senyum menjilat yang sudah menjadi keahliannya. "Tuan-tuan yang terhormat, saya adalah Micel, pedagang resmi yang membawa pasokan logistik untuk keperluan wilayah Baron Brent," jelasnya sembari menyerahkan dokumen serta menyelipkan beberapa keping perak secara halus.
Penjaga itu memeriksa dokumen sejenak sebelum melambaikan tangan. "Masuklah, pastikan kalian tidak membuat keributan di dalam kota!".
Begitu memasuki area kota, Simon terpukau melihat pemandangan arsitektur Eropa abad pertengahan yang kuno namun megah. Suasana ini mengingatkannya pada buku-buku sejarah di duniaku sebelumnya.
Di persimpangan jalan, Simon memutuskan untuk berpisah dengan rombongan Micel.
"Saudara Simon, jika Anda membutuhkan bantuan atau informasi di kota ini, datanglah ke toko saya. Saya akan membantu Anda dengan segenap kemampuan saya," pesan Micel sebelum karavannya menjauh.
Simon hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dan mulai menyusuri jalanan kota yang sepi akibat larutnya malam.
Setelah beberapa saat mencari, Simon menemukan sebuah penginapan kecil yang tampak tenang.
Di meja resepsionis, seorang wanita muda berambut pirang menyambutnya dengan senyuman ramah.
"Selamat malam, Tuan. Apakah Anda membutuhkan kamar untuk beristirahat?" tanya resepsionis itu.
"Ya, berikan saya satu kamar yang paling tenang di lantai atas," jawab Simon sembari meletakkan koin perak di atas meja.
"Tentu, Tuan. Ini kuncinya, kamar nomor tujuh belas ada di ujung koridor," balasnya sembari menyerahkan kunci besi.
Simon segera menuju kamarnya yang ternyata cukup sempit. Ia tidak mengeluh, baginya tempat tidur sederhana di dunia ini sudah jauh lebih baik daripada tidur di atas jerami lembap di kandang bandit.
Setelah merapikan barang-barangnya, ia mengeluarkan botol ramuan ksatria tingkat rendah yang berwarna merah gelap.
Tanpa ragu, Simon meminum cairan kental tersebut hingga habis dan segera duduk bersila untuk mempraktikkan Pernafasan Ular Hitam.
Seketika, sensasi panas yang membakar menjalar ke seluruh sarafnya, memberikan dorongan energi yang luar biasa bagi proses metabolismenya.
[ Pernafasan Ular Hitam +7 ]
Simon terkejut melihat lonjakan angka yang muncul di panel transparannya.
"Astaga, peningkatan poinnya sangat pesat! Jika ramuan tingkat rendah saja sudah memberikan hasil seperti ini, berapa banyak poin yang bisa saya dapatkan dari ramuan tingkat tinggi?" batinnya dengan antusiasme yang membara.
Notifikasi sistem terus berdatangan seiring dengan ritme napasnya yang semakin dalam.
[ Pernafasan Ular Hitam +9 ]
[ Pernafasan Ular Hitam +5 ]
[ Pernafasan Ular Hitam +7 ]
Ketika efek ramuan tersebut akhirnya mereda setelah satu jam, Simon segera memeriksa kolom keterampilannya.
[ Pernafasan Ular Hitam (Dasar): 124/200 ]
"Pencapaian ini hampir menembus batas berikutnya," gumam Simon dengan senyum puas yang tipis.
"Tidak lama lagi, aku akan resmi menjadi Ksatria Magang Tingkat 2. Jari emas ini benar-benar instrumen yang luar biasa untuk merubah takdir".
Karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa akibat sesi latihan yang intens, Simon segera merebahkan tubuhnya dan jatuh tertidur lelap di dalam keheningan penginapan tersebut.