NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:137.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka dunia

Pagi itu, sehari setelah kepulangannya dari liburan di Maladewa, Senja memutuskan untuk mendatangi kediaman orang tuanya seorang diri. Mobil yang ditumpanginya akhirnya berhenti di pelataran luas kediaman Anjasmara. Perjalanan dari Maladewa yang semula dipenuhi kenangan manis dan desir kehangatan bersama Alfa mendadak menguap, digantikan oleh aura dingin yang menusuk begitu roda kendaraan menyentuh pekarangan rumah megah tersebut.

​Kedatangan Senja disambut oleh para pelayan yang berbaris rapi. Namun, bukan sambutan hangat atau pertanyaan penuh kasih sayang yang menantikannya di dalam rumah.

​Di ruang keluarga bergaya klasik modern yang megah, Prasetya Anjasmara dan Rahma sudah duduk menunggu di sofa kulit berukir emas. Langkah kaki Senja masih tampak agak tertatih, dan perban tipis masih tersingkap samar di pergelangan kakinya bekas terperosok karang saat di Maladewa. Namun, begitu Senja melangkah masuk, pandangan kedua orang tuanya tak sedikit pun tertuju pada kondisi fisiknya.

​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan besar itu saat Senja mendekat.

​Senja berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya menempel erat pada tali tas yang digenggamnya. Ia berharap, walau hanya sekilas, sang Mama akan menyadari bekas luka atau kelelahan di raut wajahnya. Namun harapan itu sirna seketika saat Rahma meletakkan cangkir porselennya dan menatap Senja dengan pandangan menuntut.

​Bukannya menanyakan bagaimana kondisi kesehatan Senja, bagaimana liburannya di Maladewa, atau mengapa langkah kakinya tampak pincang, Rahma justru menatap tajam ke arah perut Senja yang masih rata di balik gaun longgarnya.

​"Bagaimana, Senja?" Tanya Rahma tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan terburu-buru.

"Apakah ada tanda-tanda? Kamu sudah terlambat haid bulan ini?"

​Senja tertegun. Lidahnya mendadak terasa kelu di dalam mulut.

"Mama... aku baru saja kembali kemarin. Kakiku juga sempat..."

​"Kami tidak menanyakan soal perjalananmu atau hal-hal tidak penting lainnya, Senja!" Potong Prasetya dengan nada suara yang meninggi, memukul pelan lengan sofa kulit tempatnya duduk.

"Jawab pertanyaan mamamu. Apakah Alfa sudah menyentuhmu selama di Maladewa? Apakah kamu sudah berhasil menaklukkan hatinya?"

​Senja mengepalkan tangannya di samping gaun. Dada yang semula terisi kehangatan atas kenangan manis dari pelukan dan ciuman kening Alfa di Maladewa, kini serasa dihantam oleh batu besar berukuran raksasa.

​"Belum, Pa... Ma," Jawab Senja lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan kepedihan di matanya.

"Kami... kami butuh waktu."

​"Waktu?!" Prasetya bangkit dari duduknya dengan raut wajah murka. Pria paruh baya itu melangkah mendekati Senja dengan tatapan mata yang menyala tajam, memancarkan dominasi yang selama ini membendung kebebasan putrinya.

"Kamu pikir kita punya banyak waktu, Senja?! Kamu tahu betul situasi bisnis kita sekarang! Pernikahanmu dengan Alfa adalah benteng utama keluarga ini!"

​Prasetya menunjuk tepat di hadapan wajah Senja, menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya dengan nada penuh penekanan yang beracun:

​"Dengarkan Papa, Senja! Kamu harus cepat punya anak dari Alfa! Anak itu adalah satu-satunya senjata paling ampuh agar posisimu di keluarga Arghantara tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun! Jika kamu melahirkan seorang pewaris laki-laki untuk Arghantara Group, seluruh harta, saham, dan kekuasaan keluarga itu akan jatuh ke tanganmu dan anakmu secara mutlak! Kenapa otakmu yang pintar itu tidak bisa memahami hal sesederhana ini?!"

​Kata-kata itu menghantam pendengaran Senja bagaikan petir di siang bolong. Suara Prasetya yang bergaung di ruang keluarga yang luas itu terasa membakar setiap incinya. Harta, posisi, pewaris, senjata. Senja dianggap tak lebih dari sebuah mesin pencetak pewaris demi mengamankan ambisi dan kekuasaan yang tak pernah ia inginkan.

​Semua rasa lelah yang menumpuk selama bertahun-tahun, rasa tertekan di bawah bayang-bayang standar sempurna Sang Papa, serta rasa sesak atas kenyataan bahwa di mata orang tuanya ia tak pernah dianggap sebagai seorang putri yang dicintai, mendadak meledak seketika di dalam dadanya.

​Bentrokan emosi yang membendung di dalam jiwa Senja akhirnya merobohkan seluruh dinding kesabaran yang selama ini ia jaga dengan rapat.

​Senja mendongakkan kepalanya. Untuk pertama kalinya sepanjang dua puluh lima tahun hidupnya, Senja menatap lurus ke dalam mata Prasetya tanpa ada rasa takut atau tunduk. Matanya bergetar hebat, dipenuhi oleh kepedihan dan amarah yang meletup-letup.

​"Bisakah Papa dan Mama tidak menekanku lagi?!" Teriak Senja dengan suara nyaring yang melengking memecah keheningan rumah megah itu.

​Prasetya dan Rahma tersentak hebat. Mereka berdua membelalakkan mata, terperanjat tak percaya menyaksikan putri mereka yang biasanya penurut, anggun, dan tak pernah bersuara keras, kini berdiri di hadapan mereka dengan dada naik turun menahan emosi.

​"Aku sudah menuruti semua apa mau kalian!" Lanjut Senja dengan derai air mata yang akhirnya pecah dan mengalir deras membahasi pipinya.

"Aku menurut saat kalian mengatur seluruh hidupku! Aku menuruti perintah Papa untuk menikah dengan Alfa, pria yang bahkan tidak mencintaiku saat itu! Sekarang... sekarang kalian menuntutku untuk cepat punya anak dan memanfaatkannya demi harta keluarga Arghantara?!"

​Suara Senja bergetar hebat, terengah-engah diselingi histeris napas yang tertahan oleh rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

​"Lalu besok apa lagi, Pa?! Ma?! Apa lagi yang harus kuberikan dari hidupku untuk memuaskan ambisi kalian?! Sampai kapan aku harus hidup hanya sebagai alat untuk kepentingan keluarga ini?!"

​Puncak amarah Prasetya meledak mendengar perlawanan dari putri tunggalnya. Wajah pria tua itu memerah padam oleh rasa tersinggung yang luar biasa.

​"Kurang ajar!" Geram Prasetya seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara.

​Rahma dengan cepat menahan lengan suaminya sebelum tamparan keras melayang ke wajah Senja.

"Mas, jangan!" Seru Rahma kaget.

​Prasetya menepis tangan istrinya kasar, lalu menatap Senja dengan pandangan menghina dan penuh kemurkaan.

"Berani sekali kamu melawan orang tuamu, Senja! Siapa yang membesarkanmu?! Siapa yang memberimu kehidupan mewah hingga kamu bisa berada di posisi ini?! Tanpa Papa, kamu bukan siapa-siapa!"

​Melihat amarah sang papa yang menggelegar dan napas ibunya yang tertahan kaget, kesadaran Senja perlahan kembali menyapu pikirannya. Benteng emosinya yang sempat jebol mendadak menyisakan rasa bersalah, ketakutan, dan kehampaan yang teramat sangat.

​Senja menyapu air matanya dengan punggung tangan secara kasar. Ia menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangis yang menyesakkan tenggorokannya.

​"Maaf..." Cicit Senja dengan suara parau yang hampir tak terdengar.

"Maafkan aku... aku lepas kendali, Pa... Ma..."

​Permintaan maaf itu keluar begitu saja dari bibir Senja, bukan karena ia merasa salah atas perasaan yang ia miliki, melainkan karena kebiasaan bertahun-tahun yang memaksanya untuk selalu mengalah dan meminta maaf setiap kali emosinya tidak sesuai dengan ekspektasi sang papa.

​Tanpa menunggu balasan lagi dari Prasetya maupun Rahma, Senja berbalik arah. Ia mengabaikan rasa nyeri yang menusuk tajam di pergelangan kakinya yang terkilir, memaksakan kakinya berlari menyusuri lorong marmer rumah yang megah itu.

​"Senja! Mau ke mana kamu?! Kembali!" Teriak Prasetya menggema di belakangnya.

​Namun Senja tidak peduli lagi. Ia menulikan telinganya, mendorong pintu utama rumah itu lebar-lebar, lalu melangkah keluar menembus teriknya matahari siang.

​Setiap langkah kaki yang dipaksakannya berjalan terasa begitu menyiksa. Namun rasa sakit fisik di kakinya tak ada apa-apa dibandingkan dengan rasa hancur dan sesak yang menggelegak di dalam dadanya. Rumah megah tempat ia dibesarkan ini tak pernah menjadi sebuah rumah, itu hanyalah neraka dingin berdinding marmer yang perlahan-lahan meremukkan jiwanya.

​Senja terus berjalan tertatih-tatih keluar melewati gerbang utama kediaman Anjasmara, menolak untuk menoleh ke belakang sedikit pun. Di bawah naungan langit siang yang terik, wanita muda bergaun indah itu berjalan seorang diri di tepi jalan raya, membiarkan air matanya mengalir bebas menetes di atas tanah, mencari tempat di mana ia bisa bernapas tanpa harus tercekik oleh belenggu ambisi orang tuanya.

1
mb peppy
ko hari ini gak up ya
Agnezz
aku masih berpikir kenapa Senja mau mengorbankan diri dengan mendonorkan ginjalnya? 🤔🤔 demi Alfa lelaki yg dicintai atau merasa hopeless, merasa impiannya sudah hilang? 🤔🤔 Pengorbanan Senja akhirnya Alfa ikut2an berkorban, menyerahkan segala harta dan tahta, hidup sederhana dan sulit tujuannya adalah menemukan Senja.
santi.santi: karena dia lihat Alfa hancur pas Dila kritis.. dia mau Alfa bahagia sama Dila
total 2 replies
Umfaiq
pa kabar Thor...ditunggu up nya
☆ 𝑺𝒐𝑳𝒆𝑫𝒂𝑫 ☆³ ⚫
blom up thor
Nadja 🎀
coba senja kerja bikin kue di toko, terus Alfa bikin lukis bareng atau bantu bikin kue roti dll bersama... nanti byk pembeli di sana semangat ya!
mery harwati
Penasaran dengan Arganthara orang tuanya Alfa & Ares, semoga sudah mati Arganthara & Prasetya 🤣
Devi Novita
zaman sekarang sudah jarang kisah cinta dan rasa cinta yg begitu dalam pada pasangannya lah kalau wanita2 sekarang bilang makan tu cinta emang cinta bisa beli skincare bisa beli perhiasan bisa buat perut kenyang😅 tp rasa cinta si Alfamart cocok dgn aku yg bersyukur dgn kata susah senang dijalani bersama doa dan ikhtiar GK akan mengkhianati hasil intinya selalu bersyukur maka segala sesuatunya dipermudah oleh Allah SWT, cemungut ya bang Alfa buat menjalani bahtera rumah tangga yg sesungguhnya doa ku bersamamu 🤭😁
Devi Novita
2 hari GK ketemu suami aja aku rindu banget GK tenang gelisah 🫣😂 lah ini 1 THN ya rindu sampai karatan lah 😁
nayla tsaqif
Udahan thorr,, bawangnya,,! Waktunya bahagia,, kerja jd pelukis aja alfa senja,, buka galeri 😩
Silvia
selamat berjuang Alfa dan senja semangat💪💪
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas aq
Fitra Sari
lanjut KK
Hanima
🥹🥹🥹🥹😭
Hanima
gerammm eikeee tau 🤭
Hanima
ke 2 nya bodxx..pakai bangetssss
Sastri Dalila
🥺🥺🥺🙄🙄
Sastri Dalila
🥺🥺🥺👍
Sastri Dalila
🥺🥺🥺
Umfaiq
badai telah berlalu... mudahkan segala urusan nya thorrr...
Aysah Meta
Mau nangis,tapi kok yooo!!Pagi betul
ini memang sengaja malam hari kah,upnya!!Btw bayangin kalian berdua ini gimana ya!!Pintar dan kaya tanpa cela,tapi urusan hati..Kalian ini gak bisa mengungkapkan dan menangkap kode dr pasangan masing².Berarti manusia emang bener,kada ada yg sempurna ya?Baik di dunia novel maupun dunia nyata.
Tapi..aku bahagia buat kalian berdua,ke depan jangan lagi ada rahasia ya!!Diantara kita..ehhh salah??
senja dan alfa🤣😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!