NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Tetesan air berbau tembaga jatuh secara teratur memecah keheningan dungeon bawah tanah Sekte Racun Jiwa. Ruangan itu terpahat di dalam gua batu cadas yang lembap, terisolasi jauh di bawah perut bumi Kota Karang Es, di mana cahaya matahari dan hembusan angin utara tidak akan pernah sanggup menggapainya.

Di tengah ruangan yang remang oleh pendar lilin minyak lemak manusia, Mu Jin tergantung kaku.

Empat rantai besi hitam tebal mengikat kedua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya, menarik tubuhnya melayang satu jengkal di atas meja batu tempat pembedahan. Rantai-rantai itu bertatahkan pasak penekan qi. Meskipun bagi manusia tanpa tenaga dalam seperti Mu Jin, pasak itu justru menghunjam dalam menembus daging pergelangan tangannya, mengunci tulangnya secara paksa agar tidak bisa bergeser satu milimeter pun.

Di hadapannya, Tetua Du Kang berdiri dengan kedua lengan yang terbalut perban tebal bertaut kayu penopang. Wajahnya yang keriput tampak sangat mengerikan di bawah cahaya lilin, dipenuhi senyum kepuasan yang busuk.

“Tubuh yang sangat luar biasa...” desis Du Kang, jemari kanannya yang tersisa mengelus luka melepuh di dada Mu Jin memakai jarum besi panjang. “Tanpa qi, tanpa perlindungan ramuan pelindung, tapi jantungmu masih berdetak setelah menelan Tujuh Organ Pembusuk. Kau bukan manusia, Cacing. Kau adalah wadah yang diciptakan alam semesta untuk karya terbesarku.”

Mu Jin tidak membalas. Pandangan matanya kabur, tertutup oleh lapisan darah kering dan nanah yang mengering di sekitar kelopak matanya. Tenggorokannya yang mengering terasa seperti disiram cuka panas.

Eksperimen pertama dimulai bukan dengan belati, melainkan dengan Bisa Kalajengking Es.

Du Kang mengambil sebuah cawan porselen hitam berisi cairan kental berwarna biru gelap. Menggunakan tabung bambu tipis, iblis tua itu mencurahkan cairan beracun tersebut lurus ke dalam luka terbuka di pundak kiri Mu Jin, luka lama bekas tusukan pedang Feng Xiao yang belum sepenuhnya sembuh.

SZZZZZT!

Daging di sekitar pundak Mu Jin mendadak membeku, lalu berubah menjadi warna hitam keunguan sebelum perlahan-lahan merekah, terkelupas bagai kertas terbakar.

Rasa sakitnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Itu bukan sekadar rasa terbakar, melainkan sensasi ribuan jarum es raksasa yang dihantamkan secara serentak ke dalam pembuluh darah dan jaringan sarafnya, menyebar perlahan menuju sumsum tulang belakang.

Nnnngggghhh!

Geraman berat tertahan keluar dari celah gigi Mu Jin yang beradu kencang hingga retak. Seluruh otot di tubuhnya menegang hebat, membuat rantai besi hitam yang mengikatnya bergetar dan berdenting nyaring menghantam dinding batu.

“Bagus! Tahan lebih lama!” Du Kang tertawa histeris, matanya melotot penuh kegilaan melihat reaksi tubuh Mu Jin. “Darahmu menolak racunnya! Ia bertarung! Ini adalah reaksi murni dari jaringan fisik yang sempurna!”

Hari demi hari melenyap tanpa tanda. Di dalam kegelapan gua yang abadi, Mu Jin kehilangan arah waktu. Dia tidak tahu apakah fajar telah terbit atau apakah musim dingin telah berlalu.

Setiap beberapa jam, para murid Sekte Racun Jiwa akan datang membawa ramuan-ramuan racun baru. Mereka menyuntikkan Minyak Ular Merah untuk membakar organ dalamnya dari dalam, lalu melanjutkannya dengan Cairan Ulat Sutra Tulang yang membuat seluruh persendian Mu Jin terasa digergaji secara perlahan.

Rasa sakit yang teramat luar biasa itu datang bertubi-tubi tanpa henti, merobek ketahanan fisiknya hingga ke titik terendah.

Namun, yang jauh lebih mengerikan dari rasa sakit fisik adalah rasa tak berdaya yang perlahan merayap naik menggerogoti jiwanya.

Di sini, tergantung tidak berdaya bagai daging potong di kedai jagal, Mu Jin tersadar betapa kecilnya dia. Besi kaku bersegi empat yang selama ini menjadi satu-satunya penyambung nyawanya diletakkan begitu saja di atas meja kayu di sudut ruangan, terjangkau oleh matanya, namun mustahil digapai oleh tangannya yang terantai.

Siksa fisik merusak tubuhnya, namun ketidakberdayaan meremukkan kewarasannya.

Bayangan-bayangan dari masa lalu mulai berdatangan menghantuinya dalam mimpi buruk yang pekat di saat dia pingsan akibat rasa sakit. Dia melihat warga Lembah Nian tersenyum padanya sebelum berubah menjadi tengkorak terbakar. Dia melihat Jiang Xia menyodorkan mangkuk sup hangat yang mendadak meluap penuh darah kental. Dan di atas semua itu, tawa anggun Lu Chen bergema begitu dekat, mengejek setiap langkah sia-sia yang telah dia tempuh.

Kenapa aku tidak mati saja di dasar jurang?

Sebuah bisikan asing mulai bergema di dalam kepalanya yang makin berat. Kewarasannya berada di ambang jurang kehancuran total. Pandangan matanya yang dulunya mati kini perlahan kehilangan pendar kehidupan, menyisakan kekosongan yang makin pekat.

“Hari ini, kita akan memasukkan Cacing Darah Murni ke dalam jantungmu,” kata suara Du Kang dari kegelapan, mendekat membawa sepasang penjepit besi yang menahan seekor ulat merah geliut yang membara.

Mu Jin menatap ulat itu dengan pupil mata yang membesar. Rasa sakit baru siap diluncurkan, dan di dalam kegelapan dungeon yang membisu, sang tukang kayu perlahan tenggelam dalam lautan penderitaan yang tak bertepi.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!