NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serly Mulai Menyadari Sesuatu

“Victor, bangun.”

Elisa menggoyang-goyangkan lengan putranya yang masih terlelap di atas ranjang.

“Hmm... apa sih, Ma? Masih pagi.”

Victor menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.

Wanita itu menghela napas, lalu melirik ke arah ruang tamu.

“Itu yang tidur di sofa siapa? Jangan bilang kamu membawa perempuan pulang tanpa sepengetahuan Mama.”

Victor membuka sebelah matanya.

“Bukan sembarang perempuan, Ma. Dia klienku.”

“Klien?” Elisa langsung mengerutkan kening. “Kenapa klienmu sampai tidur di ruang tamu rumah kita?”

Victor akhirnya bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

“Namanya Diandra. Dia sedang mengurus perceraian dengan suaminya.”

“Lalu?”

“Suaminya kasar dan sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka hingga temanku menitipkannya padaku. Aku nggak mungkin membiarkan Diandra kembali ke rumah itu dalam keadaan seperti ini.”

Lagi-lagi wanita itu menatap putranya lekat-lekat.

“Victor, selama ini kamu menangani banyak kasus perceraian. Kenapa baru kali ini kamu sampai membawa klien pulang?”

Victor terdiam sejenak.

“Karena kasus ini berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Victor mengusap wajahnya sambil tersenyum tipis.

“Pokoknya berbeda.”

Elisa mendengkus.

“Jangan-jangan kamu mulai menyukai klienmu sendiri.”

“Mama ini ada-ada saja.”

“Kalau memang tidak suka, kenapa sampai segitunya membela dia?”

Victor tidak menjawab. Entah mengapa, pertanyaan sederhana itu justru membuat pikirannya tertuju pada Diandra.

Perempuan yang beberapa hari terakhir selalu terlihat tegar meskipun jelas menyimpan luka yang dalam.

“Diandra masih tidur?” tanyanya kemudian.

“Tadi Mama lihat masih di ruang tamu.”

Victor mengangguk.

“Biarkan dia istirahat. Dia pasti kelelahan.”

Elisa memperhatikan perubahan sikap putranya. Ada sesuatu yang berbeda setiap kali ia membicarakan Diandra.

“Baiklah. Mama siapkan sarapan.”

“Terima kasih, Ma.”

Setelah Elisa pergi, Victor segera mandi dan berganti pakaian. Ia mengenakan kaus abu-abu sederhana dan celana cargo selutut. Setelah merapikan rambutnya, ia segera keluar dari kamar.

Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Diandra sudah bangun.

Perempuan itu sedang berdiri di ruang tamu bersama seorang pria yang sangat dikenalnya.

Victor langsung mengenali pria itu sebagai Sean.

“Ayo, Mbak. Kita pergi sekarang,” kata Sean tegas. “Aku sudah menemukan tempat yang lebih aman untukmu.”

Diandra tampak ragu.

“Di sini juga aman.”

“Belum tentu.”

Sean berjalan mendekat dengan kedua tangan masuk ke saku celananya.

“Dia benar. Di sini aman.”

Sean langsung menoleh. Tatapannya menyipit saat melihat Victor.

“Aman dari Bastian, mungkin. Tapi belum tentu aman dari lo, Bang.”

Victor mengangkat alis.

“Maksudmu?”

“Lo pasti punya niat lain. Jangan bilang lo mau manfaatin keadaan Diandra.”

“ Sean,” tegur Diandra pelan. “Sudah. Jangan cari masalah pagi-pagi.”

Sean mendengus.

“Aku cuma nggak mau Mbak Diandra jatuh ke tangan orang yang salah lagi.”

Sean menatap Victor dengan tenang.

“Kalau aku berniat menyakitinya, aku nggak akan membawanya ke sini dan menjaganya dari Bastian.”

Suasana seketika hening.

Diandra menundukkan wajah. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Sementara Victor diam-diam menatap perempuan itu.

Entah sejak kapan, rasa iba yang awalnya hanya ditujukan kepada seorang klien mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit ia abaikan.

Dan Victor mulai sadar, mungkin justru dirinya yang sedang berada dalam masalah.

Karena semakin lama mengenal Diandra, semakin sulit baginya untuk melihat perempuan itu hanya sebagai seorang klien.

“Ngomong-ngomong, lo ke sini nggak ada yang ngikutin, kan?” tanya Victor memastikan.

Sean langsung menggeleng.

“Aman, Bang. Gue nggak sebodoh itu. Tadi gue sengaja ke mal dulu, ganti pakaian, terus tukeran mobil sama teman. Gue tahu cara menghilangkan jejak.”

Victor mengangguk puas.

“Bagus. Setidaknya lo masih mikir.”

Victor kemudian duduk di sofa single yang berada di samping sofa panjang tempat Diandra dan Sean duduk.

“Jadi gimana? Diandra tetap pindah sekarang?” tanya Sean.

Diandra belum sempat menjawab ketika Victor lebih dulu angkat bicara.

“Sudah gue bilang, untuk sementara dia tetap di sini. Setelah perceraiannya dengan Bastian benar-benar selesai, baru kita pikirkan tempat lain.”

Sean menghela napas.

“Gue cuma khawatir, Bang.”

“Gue tahu.”

Victor menyandarkan tubuhnya.

“Dan lo nggak perlu takut gue macam-macam sama Diandra. Dia klien gue. Gue cuma memastikan keselamatannya sampai urusan perceraiannya selesai.”

Sean menatap Victor dengan tatapan curiga.

“Justru itu masalahnya. Gue nggak sepenuhnya percaya sama lo, Bang.”

Victor mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena kadang orang yang paling dekat justru orang yang paling gampang menusuk dari belakang.”

Victor terkekeh sinis.

“Pemikiran lo terlalu jauh.”

“Gue cuma berjaga-jaga.”

Victor menghela napas sebelum kembali menatap Sean.

“Kalau begitu, gue tanya balik. Kalau lo mau membawa Diandra pergi dari sini, lo mau membawanya ke mana?”

Sean terdiam.

Victor melanjutkan dengan suara lebih serius.

“Bastian bukan orang bodoh. Gue yakin sekarang setiap gerakan lo sudah mulai dia awasi. Kalau lo membawa Diandra ke tempat lain secara terburu-buru, justru itu akan membuat keberadaan kalian semakin mudah terlacak.”

Sean mengepalkan tangannya.

Ia tahu Victor benar.

Bastian bukan pria yang mudah menyerah. Selama perceraian itu belum resmi, Diandra masih berada dalam bahaya.

Diandra yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

“Sean, aku tetap di sini dulu.”

Sean menoleh kepadanya.

“Tapi, Diandra—”

“Aku percaya pada Victor.”

Kalimat sederhana itu membuat Sean terdiam.

Sementara Victor hanya menghela napas pelan.

Untuk saat ini, keselamatan Diandra jauh lebih penting daripada rasa curiga siapa pun.

Namun mereka semua belum tahu, Bastian ternyata sudah mulai bergerak mencari keberadaan istrinya.

Sean sebenarnya masih ingin membantah, tetapi dia tidak bisa mengingkari perkataan Victor. Tadi, saat meninggalkan apartemennya, Sean memang sempat menyadari ada seseorang yang mengikuti dari belakang.

Untungnya, Sean cukup sigap untuk mengelabui orang tersebut. Dia sengaja berpindah kendaraan dan mengambil beberapa jalur berbeda sebelum akhirnya datang ke rumah Victor.

Namun, sepandai apa pun seseorang menghindari kejaran, tetap ada kemungkinan suatu saat langkahnya terbaca.

“Baiklah. Untuk sementara kamu tetap di sini,” kata Sean akhirnya.

Diandra menatapnya dengan rasa tidak enak.

“Maaf, Sean. Aku jadi merepotkan kamu. Aku sebenarnya nggak bermaksud—”

“Sudah, jangan bilang begitu.”

Sean tersenyum untuk menenangkan Diandra.

“Kamu sama sekali nggak merepotkan. Lagi pula, sudah menjadi tanggung jawabku untuk memastikan kamu aman.”

Dia sengaja berhenti sebentar, kemudian menambahkan dengan nada menggoda,

“Apalagi kamu calon istriku.”

“Sean!”

Diandra langsung melotot.

Sean malah tertawa kecil melihat ekspresinya.

“Bercanda, Mbak.”

Diandra menghela napas panjang. Pria ini benar-benar tidak pernah kehabisan cara membuatnya kesal.

“Oh iya, aku juga bawakan sarapan.”

Sean mengambil sebuah paper bag yang sejak tadi diletakkan di tangannya, lalu menaruhnya di atas meja.

“Aku juga sempat membeli beberapa pakaian untuk kamu. Ada perlengkapan mandi dan kebutuhan lainnya. Aku nggak tahu ukuranmu, jadi kalau ada yang kurang cocok nanti kita beli lagi.”

Diandra menatap isi paper bag tersebut.

“Terima kasih, Sean.”

“Sama-sama, Sayang.”

Diandra kembali menatapnya tajam.

Kali ini bukan hanya tatapan yang ia berikan. Tangannya langsung mencubit lengan Sean.

“Aduh!”

Sean meringis sambil mengusap lengannya.

“Jangan panggil aku seperti itu!”

“Kenapa? Lucu, kan?”

“Tidak lucu.”

Diandra melirik ke arah Victor yang masih berada di sana. Ia tidak ingin Victor salah paham mengenai hubungan mereka.

Selain itu, bagaimanapun juga, dirinya masih berstatus sebagai istri Bastian. Ia ingin tetap menjaga batasan dan harga dirinya selama proses perceraian belum selesai.

Jika akhirnya ia menerima bantuan Victor dan Sean, itu semata-mata karena ia sudah tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.

Sayangnya, Sean justru semakin suka menggoda.

Padahal sudah berkali-kali Diandra memperingatkannya agar tidak mengaku sebagai suaminya.

“Baiklah, baiklah. Aku nggak panggil lagi.”

Sean kemudian seperti teringat sesuatu.

“Oh iya, Mbak. Aku juga mau mengembalikan ini.”

Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kalung.

Mata Diandra langsung tertuju pada benda tersebut.

“Kalungku?”

“Iya. Waktu itu kalung ini terjatuh dan aku sempat menemukannya.”

Sean menyerahkannya kepada Diandra.

“Sayangnya cuma kalung ini yang berhasil aku selamatkan. Ponsel dan barang-barang lain di dalam tasmu sepertinya tertinggal di depan rumah Bastian.”

Diandra menerima kalung tersebut dengan hati-hati.

Jarinya menyentuh liontin itu. Tatapannya mendadak berubah sendu.

Kalung itu mengingatkannya pada Bastian.

Dulu, setiap kali melakukan kesalahan, Bastian selalu datang membawa permintaan maaf dan janji akan berubah. Namun, setelah beberapa waktu, kesalahan yang sama kembali terulang.

Janji demi janji akhirnya terasa tidak lebih dari kata-kata kosong.

“Kalung ini pemberian Bastian?” tanya Sean.

Diandra mengangguk.

“Iya. Waktu itu dia ingin meminta maaf. Katanya dia membuatkan kalung ini karena kalung lamaku hilang.”

Sean memperhatikan liontin tersebut.

“Membuatkan?”

“Lebih tepatnya membuat kalung yang mirip.”

“Apa maksudnya mirip?”

Diandra mengusap permukaan liontin.

“Kalung asliku memiliki berlian biru sebagai liontin, dan di bagian dalamnya ada mutiara putih. Desainnya sangat unik. Aku bahkan belum pernah melihat kalung dengan desain seperti itu.”

Sean mulai memperhatikan kalung tersebut lebih serius.

“Berarti kalung itu bukan barang biasa?”

“Sepertinya bukan. Kata Bu Liliana, ibu panti yang merawatku dulu, kalung itu ditemukan bersamaku.”

Sean mengernyit.

“Bersamamu?”

“Iya. Saat aku ditemukan di depan panti, kalung itu ada di dalam bedongku.”

Diandra menarik napas pelan.

“Bu Liliana pernah menyimpan kalung itu. Tapi kemudian Ola mengambilnya. Sayangnya, setelah kejadian di Club, Ola meninggal karena bunuh diri dan kalung itu tidak pernah ditemukan lagi.”

Sean mendadak terdiam.

Tatapannya terpaku pada liontin di tangan Diandra.

Ada sesuatu yang membuat pikirannya berputar.

Kalung yang disimpan di apartemennya—kalung milik ibunya—memiliki ciri yang sama persis.

Berlian biru.

Mutiara putih di dalamnya.

Desain yang sangat khas.

Sean menelan ludah.

Tidak mungkin.

Ia tidak berani langsung mengambil kesimpulan. Kalung milik ibunya saat ini masih tersimpan aman di apartemen.

Namun, kalau memang kalung itu sama...

Dari mana ibunya mendapatkannya?

Sean menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul.

Nanti, dia harus melihat kalung itu sekali lagi.

Dan kalau benar benda yang disimpan ibunya adalah kalung yang selama ini dicari Diandra, berarti ada sebuah rahasia besar yang selama ini tersembunyi.

Tapi Sean masih belum sanggup percaya bahwa ibunya mungkin terlibat dalam hilangnya kalung tersebut.

“Wah, serius sekali ngobrolnya.”

Suara Elisa tiba-tiba memecah suasana.

Sean segera mengalihkan pandangan.

“Nggak ada apa-apa, Ma. Cuma ngobrol biasa.”

Elisa tersenyum kemudian mendekati mereka.

Victor berdiri dan membantu memperkenalkan Diandra.

“Ma, ini Diandra.”

Diandra ikut berdiri.

“Selamat pagi, Bu. Saya Diandra.”

Wanita itu mengulurkan tangannya.

“Selamat pagi, Diandra. Jangan panggil Ibu seperti orang asing. Anggap saja rumah ini rumah sendiri selama kamu tinggal di sini.”

Diandra tersenyum kecil dan menyambut uluran tangan itu.

“Terima kasih, Bu.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Diandra merasakan kehangatan dari seseorang yang bahkan baru dikenalnya.

Tanpa Diandra sadari, kedatangannya ke rumah itu bukan hanya akan mengubah hidup Sean.

Kehadirannya juga perlahan akan membuka rahasia lama yang selama ini terkubur dalam keluarga Victor.

“Kalian belum sarapan, kan?” tanya Elisa sambil tersenyum. “Ayo, sarapan dulu. Mama sudah menyiapkan makanan.”

“Belum, Tante,” jawab Sean santai. “Kalau Tante mengizinkan, saya boleh ikut makan?”

“Tentu saja. Justru Mama senang ada yang menemani sarapan.”

Elisa segera berjalan menuju ruang makan. Sean dan Victor lebih dulu melangkah, sementara Diandra berjalan di samping Elisa.

“Victor sudah cerita banyak tentang keadaanmu,” ujarnya lembut. “Jadi kamu nggak perlu merasa sungkan. Tinggallah di sini sampai masalahmu dengan Bastian selesai.”

Diandra tersenyum penuh haru.

“Terima kasih, Bu. Saya benar-benar nggak tahu harus membalas kebaikan kalian bagaimana.”

“Tidak perlu dibalas. Yang penting kamu aman dulu.”

Diandra mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa berada di tempat yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.

“Daddy!”

Begitu Bastian memasuki rumah, seorang gadis kecil langsung berlari menghampirinya.

Azzura menghamburkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan sang ayah.

Bastian segera membungkuk dan mengangkat putrinya.

“Halo, Sayang.”

Ia mengecup pipi Azzura yang masih basah oleh air mata. Namun, bukannya tenang, tangisan Azzura justru semakin menjadi-jadi.

“Sudah, jangan menangis. Daddy sudah pulang.”

“Azzura kira Daddy pergi dan nggak pulang lagi. Azzura kira Daddy pergi mencari Mommy Diandra.”

Bastian mengusap rambut putrinya.

“Daddy memang mencari Mommy. Tapi Daddy nggak akan meninggalkan Azzura sendirian.”

“Azzura nggak mau Daddy cari Mommy.”

Bastian terdiam.

“Kenapa?”

“Di rumah kan sudah ada Mama Serly. Mommy biarkan saja pergi.”

Bastian menghela napas panjang.

“Tidak bisa begitu, Sayang. Diandra tetap Mommy kamu. Apa pun yang terjadi, Azzura harus tetap menyayanginya.”

Azzura langsung menggeleng kuat.

“Nggak mau! Azzura cuma sayang Mama Serly!”

Kedua tangannya melingkar erat di leher Bastian. Kepalanya kemudian bersandar di bahu sang ayah.

Bastian menepuk punggung putrinya perlahan.

Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya.

Entah mengapa, ia berharap Azzura akan merindukan Diandra dan menanyakan keberadaan ibunya. Namun, ternyata putrinya justru terlihat tidak peduli.

“Mas Bastian.”

Suara Serly terdengar dari belakang.

Perempuan itu segera mendekat dengan ekspresi penuh kekhawatiran.

“Akhirnya kamu pulang juga. Serly dari tadi benar-benar khawatir. Kamu pasti capek. Wajahmu kelihatan pucat.”

Tangannya terangkat hendak menyentuh dahi Bastian.

“Aku nggak apa-apa.”

Bastian menghindari sentuhan itu dengan halus.

“Aku nggak boleh lelah.”

Serly mengernyit.

“Apa maksudnya?”

“Aku harus menemukan Diandra.”

Jawaban itu membuat senyum Serly sedikit membeku.

Bastian menatap lurus ke depan.

“Selama Diandra belum ditemukan, aku nggak akan berhenti mencarinya.”

Serly menahan napas.

Ada sesuatu yang tidak ia mengerti tentang pria di hadapannya.

Selama ini Bastian memang selalu memperlakukannya dengan perhatian. Bahkan beberapa kali Serly sempat berpikir bahwa mungkin masih ada perasaan Bastian untuk dirinya.

Namun, setiap kali Diandra pergi atau marah, sikap Bastian selalu berubah drastis.

Pria itu seolah kehilangan kendali dan rela melakukan apa saja agar Diandra kembali kepadanya.

Serly tidak pernah benar-benar memahami apa yang ada di hati Bastian.

Yang ia tahu, meskipun Diandra sudah meninggalkannya, nama perempuan itu masih menjadi satu-satunya hal yang mampu membuat Bastian kehilangan ketenangannya.

Dan untuk pertama kalinya, Serly mulai bertanya-tanya—

sebenarnya seberapa dalam perasaan Bastian kepada Diandra?

1
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!