NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 - IDOLA MENDADAK JADI IPAR

Kapal terbang itu meluncur turun dengan mulus menuju gerbang Akademi Militer Kekaisaran. Di dalam kabin hanya tinggal Kirana dan Sekar; yang lain telah berhenti di cabang rumah makan keluarga Wijaya di Provinsi Kedaton.

Tak ada orang lain yang menemani, dan Kirana pun tak berminat bermain kasih sayang kakak beradik. Ia bersandar santai sambil setengah memejamkan mata.

Dari dalam Gelang Lentera, Kunang berbisik-bisik bercerita bahwa di dalam kawasan akademi kapal terbang tidak boleh terbang seenaknya tanpa izin khusus.

Sepanjang penerbangan tadi, percakapan yang kurang menyenangkan sempat terjadi di antara keduanya. Begitu kapal mulai menurunkan ketinggian, Sekar yang sedari tadi membisu akhirnya membuka suara lagi.

"Kenapa? Mau memakai taktik menyindir untuk menekanku?" Kirana tersenyum. "Maaf saja, keberuntungan dan jejaring juga bagian dari kekuatan seseorang."

"Sudah, jadilah anak yang baik, fokuslah belajar di akademi, nanti cari pekerjaan yang bagus. Harta keluarga Wijaya itu, masih banyak hal di luar bayanganmu."

Sekar memasang wajah tersudut. "Kakak, kau salah paham. Aku tidak mengincar harta keluarga. Itu Ayah yang bilang badanmu kurang sehat, dan kedua kakak kita tidak berminat mengurus rumah makan. Aku hanya ingin membantu Ayah meringankan beban. Semua demi keluarga Wijaya."

Kirana menyentuh bingkai kacamata emas tanpa serat di wajahnya, lalu menatap Sekar dengan rasa ingin tahu.

Sekar gugup. "Ka...kakak, sedang melihat apa?"

"Aku sedang memperhatikan, bagaimana kau bisa menahan wajahmu tanpa merona dan jantungmu tanpa berdebar, lalu mengucapkan kata-kata yang begitu tidak tahu malu."

---

Wajah Sekar seketika berubah menghitam seperti dasar periuk.

Kebetulan saat itu kabar dari kapal terdengar, bahwa kapal telah tiba di Akademi Militer Kekaisaran dan mendarat dengan selamat.

Sebagaimana tadi dikatakan Kunang, di dalam kawasan akademi tidak ada kapal terbang lain yang boleh terbang tanpa alasan dan izin khusus.

Kirana turun lebih dulu dan berjalan menuju arah kampus. Hari ini adalah hari pertama taruna baru, sekaligus hari paling ramai sepanjang tahun di Akademi Militer Kekaisaran.

Di tempat itu sudah berdiri Pandhu, kakak laki-lakinya, dalam seragam militer abu-abu tua.

Pandhu sebentar lagi lulus dari tingkat akhir, dan kini ia menjabat sebagai ketua Badan Pengurus Taruna, sehingga namanya cukup terkenal di kalangan akademi.

Para guru dan taruna yang berpapasan dengan Pandhu menyapanya dengan ramah.

Di sampingnya berdiri Modo, teman sekamarnya yang juga mengenakan seragam abu-abu tua. Ia menengok ke kiri dan kanan, lalu bertanya, "Pandhu, dari kedua adikmu itu, mana yang lebih cantik? Apakah mereka sudah punya kekasih?"

"Yang satu sudah bersuami." Pandhu menjawab dengan tenang, tetapi sebenarnya hatinya tidak setenang itu.

Pasangan adiknya ternyata Panglima Kabut!

Meski kabar itu untuk sementara belum menyebar, begitu banyak orang di seantero Kekaisaran yang mencari tahu siapa istri sang Panglima, dan tak sedikit orang yang menghadiri pernikahan di Provinsi Seruni hari itu, sehingga identitas Kirana cepat atau lambat akan terbongkar.

Rangga adalah Dewa Perang Kekaisaran Cakrawala, bahkan idola para taruna militer ini.

Siapa sangka, idola itu mendadak berubah menjadi ipar mereka sendiri?

Bahkan Pandhu, yang biasanya tenang, ikut merasa gelisah.

Tidak lama kemudian, dua gadis cantik muncul dalam pandangan mereka.

Modo tiba-tiba bersemangat seperti disambar petir. "Wah, gadis berponi ekor yang berjalan di depan itu terlalu cantik! Usianya kelihatan masih muda, apa ia sudah menikah?"

Pandhu tak menghiraukan teman sekamarnya yang ribut itu, ia langsung melangkah cepat mendekat.

Kalau dulu, yang pertama kali diperhatikan Pandhu pasti Sekar.

Sebab karena pengalaman Kirana yang lama terbaring tidur sejak kecil, ia kurang akrab dengan kakak laki-lakinya ini.

Sebaliknya, sejak Sekar datang ke rumah keluarga Wijaya, ia sangat dekat dengan Pandhu, layaknya kakak beradik kandung.

Tetapi kali ini, di bawah tatapan Sekar yang penuh harap sekaligus tersudut, Pandhu justru berjalan lurus menuju Kirana.

"Rara, kenapa panggilanku tak pernah kau jawab?"

"Oh, beberapa hari ini terlalu banyak orang yang menghubungi, jadi sekalian saja kututup semuanya." Jawaban Kirana terdengar santai tanpa rasa bersalah.

Pandhu mengerutkan kening, tetapi di sekitar gerbang akademi ini terlalu banyak orang yang berbincang, sehingga tidak nyaman menanyakan hal itu lebih dalam.

Maka ia berkata kepada Modo, "Modo, tolong antarkan adikku ke fakultasnya."

Mata Modo berbinar. "Yang mana?"

"Sekar dari Jurusan Sejarah, ada di Fakultas Sastra."

"Oh." Begitu tahu yang diantarkan adalah Sekar, kilau harapan di mata Modo langsung meredup di depan mata.

Sekar hanya bisa terdiam di tempat.

Namun demi menjaga citranya di mata Pandhu, Sekar terpaksa mengangguk patuh dan mengikuti Modo pergi mendaftar.

Sudut bibir Kirana bergetar menahan tawa.

Dulu ia tidak pernah memperhatikan, tetapi sekarang setelah diamati, Sekar benar-benar hidup melelahkan.

Di sisi lain, Pandhu menggiring Kirana menuju Jurusan Peracikan Ramu. Begitu sampai di tempat yang sepi, ia berbisik, "Rara, pria yang menikahimu hari itu, apakah benar Panglima Rangga?"

"Jadi kau meninggalkan Sekar begitu saja hanya untuk menanyakan ini?"

Menyaksikan ejekan di wajah adiknya, Pandhu tak marah. "Sekar anak yang sangat pengertian, dia tidak akan menyalahkanku. Rara, kalau benar yang menikahimu itu sang Panglima, bukankah sebaiknya keluarga kita datang berkunjung?"

Apalagi Pandhu kini adalah taruna militer yang sebentar lagi lulus dan masuk bala tentara.

Saat itu, kedudukannya akan setara dengan bawahan Rangga.

Kirana benar-benar pusing memikirkan keinginan keluarganya untuk bertemu Rangga.

Ia terpaksa mengeluarkan alasan lama lagi. "Rangga sedang sangat sibuk, dalam waktu dekat ia tidak akan sempat bertemu kita secara pribadi. Malah aku sendiri belum bisa menemuinya sampai urusannya selesai."

Pandhu mendengar dan merasa jawaban itu masuk akal, tidak menaruh curiga.

Tetapi ia menambahkan, "Aku dengar dari Kepala Akademi, Panglima Rangga akan datang berpidato di upacara pembukaan taruna baru."

"Apa? Dia datang ke upacara pembukaan taruna baru?" "Kau tidak tahu?"

Kirana menarik napas dalam-dalam dua kali, mengatur raut wajahnya, lalu berkata dengan suara penuh keyakinan, "Jadwal Panglima itu urusan rahasia, bagaimana aku bisa tahu?"

"Benar juga. Tapi Rara, bagaimana bisa kau berakhir dengan Panglima Rangga?"

Kirana kira-kira seluruh Kekaisaran Cakrawala ingin tahu jawaban dari pertanyaan ini.

Tetapi Kirana sendiri tidak ingin membicarakannya.

Ia menjawab asal-asalan beberapa patah kata, dan Pandhu pun akhirnya pergi.

Kirana berpikir tentang Rangga yang akan menghadiri upacara pembukaan taruna baru, lalu mengangguk-angguk.

Ia menatap Gelang Lentera di pergelangan tangannya dengan ragu, mempertimbangkan apakah harus mengirim pesan pada pria itu... Ah, sudahlah, jangan dikirim.

Kalau kiranya pihak lain tidak menganggapnya ada dan malah bertanya-tanya, bukankah nanti jadi canggung?

Ia malah berharap Rangga melupakan keberadaannya.

Kunang memberi peringatan ramah. "Nyonya, setiap kali Tuan Panglima membuka catatan pribadinya di Arsip Agung, begitu membaca kolom ikatan Sumpah Sejiwanya, Tuan pasti langsung teringat Nyonya."

Kirana menatap kosong. "Diam."

"Baik, sesuai kehendak Nyonya."

Setelah mendaftar, Kirana menuju asramanya, sekalian meminta Kunang menampilkan catatan tamu undangan upacara pembukaan taruna baru dari tahun-tahun sebelumnya.

Ternyata, selama ini Rangga tidak pernah sekali pun menghadiri upacara pembukaan taruna baru Akademi Militer Kekaisaran. Mungkin karena ia terlalu sibuk; pihak akademi mengundangnya setiap tahun, tetapi ia tidak pernah sempat hadir. Kirana menebak pasti begitu.

Bertahun-tahun saja tidak pernah senggang, mana mungkin tahun ini tiba-tiba senggang!

Kirana pun meletakkan kembali hatinya yang tadi mengambang, lalu berjalan ke arah asrama.

Asrama Jurusan Peracikan Ramu menampung taruna laki-laki dan perempuan dalam satu bangunan. Pernah ada yang bertanya mengapa tidak dipisah, dan seorang kakak tingkat yang sudah lama lulus memberi penjelasan.

Kakak tingkat itu berkata, "Di hadapan ramuan dan racikan, semua jenis orang sama saja, siapa pula yang masih peduli soal laki-laki dan perempuan."

Semua orang langsung paham!

Asrama jurusan ini berbentuk hunian tiga kamar, ruang tengah dipakai bersama, sedangkan tiga kamar lainnya masing-masing memiliki ruang pemandian sendiri dan dilengkapi berbagai keperluan sehari-hari, sangat nyaman. Ketika Kirana menunjukkan tanda pengenal taruna dan masuk, kamar timur dan barat ternyata sudah terisi, pintunya tertutup rapat. Hanya pintu kamar Tengah yang terbuka, menandakan belum ada penghuninya.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!