NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Kehadiran Talita yang menahan gelombang emosi perlahan menembus lelapnya tidur Mentari. Membuat kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka lebar. Sebuah reaksi kaget dari kesadaran yang terhentak bangun. Matanya yang redup dan sedikit kabur berjuang menajamkan fokus, mencari sumber bayangan yang menaunginya, hingga akhirnya manik mata itu bertaut tepat pada wajah Talita yang menahan tangis.

"Sayang..." ucap Mentari lembut, mengait pergelangan tangan putrinya itu, walau tidak bertenaga. "Kenapa?" Lanjutnya sedih menatap putrinya yang masih terisak-isak.

"Lita tadi ke restoran, tapi nggak jadi makan! Kapan Bunda sembuh? Terus kita jalan-jalan lagi, makan bareng lagi," ucap Talita panjang lebar di sela-sela isak.

Mentari semakin terkejut, kenapa tiba-tiba putrinya syok seperti itu? Padahal selama beberapa hari ini sudah dekat dengan Rembulan.

"Sini sayang... bobo," Mentari mengusap kasur di sebelahnya.

Talita pun akhirnya mengangkat lutut, naik ke tempat yang sudah lama sekali tidak ia tiduri, merebahkan tubuhnya di sebelah bunda. Tangan kecil tapi berisi itu melingkar di perut Mentari seolah tidak ingin berpisah walau hanya sebentar.

"Sayang..." ucap Mentari terdengar parau.

​"Dengar baik-baik ya, Nak," Mentari menahan air matanya agar tidak menetes. Ia menatap langit-langit kamar sebelum kembali memandang wajah cantik putrinya.

"Iya Bun, Lita ingin Bunda sembuh."

 "Tubuh Ibu mungkin tidak akan sekuat dulu untuk menjaga kamu. Tapi Allah itu maha penyayang, tidak pernah meninggalkan kamu sendirian."

​Mentari terbatuk kecil, membuat dada tipisnya naik turun. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya.

​"Allah juga telah mengirimkan Mama yang baik, sangat kuat dan sayang kepada Lita. Mulai hari ini, buang rasa sedih di hatimu dan menurut lah kepada Mama Bulan. Kamu harus bahagia, Nak... sekarang kamu tidak hanya punya satu ibu, tapi punya dua bukan? Ada Ibu Mentari, dan ada Mama Bulan."

​ "Tapi Talita ingin Bunda Mentari lebih kuat daripada Mama Bulan," jawab Talita, kepalanya menyusup di selimut bunda hingga basah air mata.

​"Mama Bulan ada di sini bukan untuk menggantikan posisi Bunda, tapi untuk melengkapi apa yang tidak lagi bisa Bunda berikan untukmu. Hormati beliau seperti kamu menyayangi Bunda. Saat malam datang dan Mentari harus terbenam, Bulan-lah yang akan menerangi jalanmu agar kamu tidak kegelapan."

Di luar pintu Bintang rupanya mendengar semuanya, air matanya pun semakin luruh.

Sementara itu ​Mentari, diam sejenak mengumpulkan tenaganya, mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena sebenarnya tidak bisa berkata panjang seperti itu, seolah baru selesai berlari.

Hening di kamar itu hingga beberapa menit kemudian, Mentari meraba wajah putrinya yang masih betah di perutnya, tampaknya sudah tertidur.

Tidak lama kemudian Bintang muncul dengan wajah merah, menatap istrinya yang juga menatapnya redup.

"Bulan mana Mas?" Tanya Mentari, ia ingin segera bertanya apa yang membuat Talita tiba-tiba sesedih itu.

"Sedang masukkan mobil aku ke garasi."

"Talita bobo, Mas," Lanjut Mentari dengan harapan putrinya segera dibenarkan posisi tubuhnya agar tidurnya nyaman.

"Iya sayang..." Bintang hendak memindahkan Talita ke kamarnya.

"Tidak usah, biar bobo di sini saja," Mentari menepuk pelan kasur di sebelahnya.

Bintang mengangguk, setelah mengganjal kepala Lita dengan bantal, lalu berputar merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya, posisi Mentari di tengah. Tidak ada suara yang keluar dari bibir Bintang, hanya tersirat wajah sedih yang mendalam, pria itupun gantian melingkarkan tangannya di pinggang Mentari.

"Kalian kenapa?" Mentari bingung, tiba-tiba anak dan suaminya sedemikian murung.

"Tidak, aku hanya ingin tidur bersamamu sayang..." jawabnya serak.

Sementara itu, Bulan hendak masuk ke kamar tersebut memastikan bagaimana Talita setelah bertemu Mentari. Kakinya melangkah ke arah pintu yang ditutup tidak rapat. Namun, melihat situasi di dalam sana yang begitu intim, ia memilih menarik kakinya mundur meninggalkan tempat itu.

Tidak membuang waktu, Bulan melaksanakan kewajiban shalat dzuhur, sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur dalam keadaan perut kosong.

Sore harinya, Bulan ke dapur menemui Entin, menanyakan apakah Talita sudah makan atau belum.

"Sejak pulang dari kantor tadi, Talita belum keluar dari kamar Non Mentari, Dok," tutur Entin.

Bulan hanya mengangguk, lalu memasak untuk Talita, hingga sore belum keluar dari kamar, itu artinya belum makan hingga kini.

"Mamaaa..." suara gadis yang sedang Bulan pikirkan pun terdengar serak.

""Sayang... sudah bangun..." Bulan tersenyum menatap Talita yang berjalan ke arahnya.

"Mama masak apa? Emmm... harum..." ucapnya dengan mata terpejam menghirup tumis bumbu sayur sop.

Bulan tertawa senang karena Talita sudah kembali ceria. "Sekarang Talita mandi dulu ya..." Bulan mengatakan jika selesai mandi nanti masakan sudah matang.

"Iya Mah," Talita berlari-lari ambil handuk diikuti oleh Entin.

Bulan lanjut memasak hingga matang, kemudian giliran dirinya yang ambil handuk digantung di jemuran stainless kecil. Namun, belum lagi sempat menarik kain tebal tersebut, tangan kekar menyambar lebih dulu hingga salah menggenggam tangannya.

Bulan mendongak menatap mata pria yang masih merah, rambut acak-acakkan kas bangun tidur, tapi justru terlihat keren di hadapannya.

Secepatnya Bulan membuang pandangannya ke arah lain. "Tidak, aku tidak boleh mengagumi pria itu walau sedikit, dia milik orang lain." Batin Bulan lalu meninggalkan tempat itu.

Mandi sudah selesai, saat Bulan belum selesai ganti baju, tiba-tiba Bintang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Bulan kaget, secepatnya berlari ke kamar mandi. Tidak lama kemudian kembali menatap Bintang yang sudah rebahan di atas kasur.

"Sudah dibilang berapa kali sih, Pak... Kalau masuk mengetuk pintu dulu," Bulan ngomel sambil berjalan ke arah kaca, lantas menyisir rambut.

"Sudah berapa kali aku katakan sih Bull... Suami istri itu bebas melihat anggota tubuh tanpa berpakaian sekalipun," Bintang membalikkan kata-kata Bulan.

"Tahu, ah," ketus Bulan sambil menarik kapas guna membersihkan wajah.

"Aku mau minta maaf karena lagi-lagi gagal makan siang," Bintang pun bangun mendekati Bulan.

"Lain kali, kalau mau makan di luar, jangan ditempat nostalgia kalian," tegas Rembulan, bukan cemburu tapi mengingat Lita sedih seperti tadi semuanya menjadi ikut sedih.

"Kamu benar Bull..." Bintang tiba-tiba menyentuh rambut Bulan yang basah karena keramas. Entah apa yang ada dipikiran Bintang saat itu, Bulan segera menjauh keluar dari kamar berjalan ke dapur.

Waktu berubah menjadi gelap, malam itu Bulan minta bibi untuk memanggil semua penghuni rumah itu kecuali Mentari, hendak makan lebih cepat karena siang harinya tidak makan.

Selesai menata semua hidangan, Bulan pun duduk memandangi sekiranya ada hidangan yang belum tersaji.

"Geser" ucap Ratih mengusir Bulan agar pindah kursi yang biasa diduduki Mentari.

Bulan hanya mengangguk, lalu pindah di kursi sebelah Lita yang masih kosong.

"Sherly, kamu yang duduk di kursi ini," perintah Ratih penuh kuasa, ia pikir hanya Sherly yang pantas menduduki kursi di sebelah Bintang.

Saat Sherly baru saja meletakkan bokongnya, Bintang yang sudah selesai menyuapi Mentari, muncul dan bergabung dengan mereka sambil menuntun Talita.

"Bull, kamu duduk di sini," pinta nya, seolah tidak mau berdekatan dengan Sherly.

Bulan lagi-lagi pindah ke kursi sebelah Sherly yang tampak kecewa lantaran tidak bisa berdekatan dengan Bintang.

Makan malam itu berjalan lancar karena masing-masing sudah menahan lapar, meskipun sesekali mendengar kata-kata Ratih yang selalu menyindir Bulan. Namun, Bulan tidak mau menimpali.

​Jam tujuh malam, saat Bulan hendak berangkat ke rumah sakit, hujan gerimis membasahi kaca depan sedan merah miliknya yang ia parkir di halaman, padahal sudah dia pompa dan dicuci bersih tapi kotor lagi.

​Langkah Bulan berhenti di teras saat Sherly sudah berdiri tidak jauh dari kendaraan, melipat kedua tangannya di dada, sorot lampu jatuh tepat di wajahnya yang menatapnya tidak bersahabat.

Bulan tidak ambil pusing, buka payung hendak menuju pintu mobil, lagi-lagi tangannya berhenti saat mendengar ucapan Sherly.

​"Enak sekali ya, kamu? Apa-apa tinggal minta, langsung Bintang belikan!"

"Maksudnya apa ya?" Dahi Bulan berkerut, ia belum pernah merasa dibelikan apapun oleh Bintang selain mahar yang melingkar di jari.

 "Mobil mewah ini contohnya. Kamu benar-benar pinter memanfaatkan kebaikan Kak Bintang. Sudah berani minta mobil, nanti lama-lama sertifikat tanah ini pun kamu rubah." tuduh Sherly.

​Bulan tertohok mendengar ucapan Sherly, rupanya selama tinggal di rumah ini beranggapan bahwa kendaraan yang ia beli dengan keringatnya pemberian Bintang.

"Berikan kunci itu kepadaku!" Sherly maju dan berdiri tetap di hadapan Bulan, mengulurkan telapak tangannya dengan angkuh. Namun, tiba-tiba langkah kaki dari dalam membuat keduanya menoleh.

...~Bersambung~...

1
Eka ELissa
tu ..ko nya aj marah besar Ade nya di bikin maluuu bin....lha kmu ko mlhn biasa aja kmrin bukan nya cari Sherly murka minta hapus tu vidionya TPI mlhn diem aja....mlhn sibuk... cndiri...
mikir bingung 🤦🤦🤦🤦
falea sezi
🤣🤣 emank bner kn bulan cm lu jadiin baby sitter anak lu doank sama dokter gratis buat mentari kapan mati nya ini Sin mentari😒 nyusain amat lu bkin bulan d hujat sana sini lu nya klarifikasi bloon
Agunk Setyawan
emang bener bintang laki lembek menye" gak tegas Uda tau kaya gitu masih aja seperti keong
Perempuan
Bagus Langit, Bintang emang laki yg gak bertanggung jawab. Dia masih bisa makan dan tidur nyenyak sementara dia tau masalah video belum sepenuhnya selesai. Mending mereka cerai saja. Bulan terlalu rendah utk jadi istri kedua yg intinya hanya karena alasan anak mereka ada yg mengurus. Itu mah penghalusan dari baby siter doang
Fitri Yah
pria itu siapa ya? kan ayah nya rembulan da tiada??
Eka ELissa
nah loh...krna kmu kurang...tegas cih...Ahir nya kacau kan ...😡😡
Perempuan
aduh..., pasti sakit ya Bintang. tapi aq koq bersyukur banget 🤣🤣👍👍👍👍
tiara
kemanakah Rembulan,selamat mencari mas Bintang kamu sih ga tegas sama mertuamu yang ga ada akhlak iitu
falea sezi
🤣🤣 baru dateng uda bonyok aja lu bin
Teh Yen
dengarkan mentari bagaimana kelakuan ibu d adik tirimu itu huuuh dua dua nya seperti ular d rmh mu sendiri tau engga licik mereka tuh
Teh Yen
salahmu sendiri kenapa tidak tegas kenapa diam.saja.tidka.membela bulan hanya bertengkar lalu pergi begitu saja dasar huuh 😤 sudha bagus bulan pergi dari rmh kalian bair dia Tidka tersiksa lagi
kamu masih bisa memperbaiki keadaan usir aj ibu mertua d iparmu itu mereka yg membuat semuanya jd kacau kaku kamu bisa itu juga 😏
Eka ELissa
mo ngapain mentari udh bner usir aj tu duo keong racun dari rumh Klian...😡😡😡😡
falea sezi
ini mentari egois jadiin. bulan nany doank. buat anak nya 😒 samaa biar ada yg ngurus suami nya 🤣 egois bgt tau mau. mati aja nyusain
Buna Seta: 🤣🤣🤣❤❤❤
total 1 replies
Eka ELissa
kmu cih gak tegas⭐⭐⭐ bintang giliran bulan 🌙🌙🌙 prgi aj bingung....🤦🤦🤦
Perempuan
Bintang, kamu masih bisa tidur pulas, emang lambat banget gerakannya/Panic//Panic/
Sri Devi Oktaviani
ipar adalah maut 😄
tiara
ayo Bintang usir ibu mertuamu sama iparmu yang ga ada akhlak, tinggal cuma numpang aja ga tau diri
Agunk Setyawan
laki" qo oon
Teh Yen
harus bagaimana memberitahu ibu mertuamu yg ngeyel itu yah ,, suruh aj mentari yg cerita semuanya bintang coba percaya engg tuh ibu mertuamu tp aku yakin mereka pasti akan menghasut mentari agar membenci rembulan
Eka ELissa
ksian Talita jadi korban... khilngan mama nya kan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!