NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Yang Sengaja Diciptakan

Seperti yang telah Esmera katakan sebelumnya, sore hari ia sudah kembali lagi ke Kastil Stone.

Perjalanan menuju perpustakaan pusat kota ternyata cukup melelahkan, tetapi setidaknya dia tidak dicengkram rasa bosan. Dia bahkan sempat mendapatkan beberapa buku yang menarik perhatiannya. Meski tidak menemukan informasi yang benar-benar ia cari, setidaknya waktunya tidak terbuang sia-sia.

Namun, begitu Esmera baru saja melewati pintu utama kastil, langkahnya mendadak terhenti. Di sana, seseorang sudah berdiri menunggunya.

Raja Edris Ruan.

Kening Esmera langsung berkerut.

Kenapa dia ada di sini? Bukankah di masa depan pria itu selalu sibuk?

Mengurus kerajaan, menghadiri rapat dengan para bangsawan, menangani urusan militer, bahkan terkadang hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat.

Esmera memandang Edris dari kejauhan dengan tatapan penuh curiga.

Apakah dia sudah menjadi seorang pengangguran yang memiliki banyak waktu.

Sementara Esmera masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Edris justru sudah berjalan mendekat.

Tatapan pria itu langsung tertuju kepadanya."Informasi apa yang sedang kau cari?" Pertanyaannya keluar begitu saja, tanpa basa-basi sedikit pun. Rupanya dia mengetahui kemana Esmera pergi hari ini.

Esmera menghela napas pendek."Tidak ada," jawabnya santai."Aku hanya sedang bosan berada di kamar, jadi aku keluar. Dan karena aku suka membaca, maka aku pergi ke perpustakaan."

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi mata Edris tetap mengamati wajahnya seolah sedang mencari celah dari setiap kata yang baru saja diucapkannya.

"Aku hanya pergi membaca," tambah Esmera, sedikit menekankan kalimatnya."Lagipula aku sudah tahu semuanya, tanpa harus mencari tahu."

Edris tidak menanggapi jawaban itu. Ia hanya diam. Tatapannya perlahan turun dari wajah Esmera, kemudian mengamati penampilannya dari atas sampai bawah.

Esmera mulai merasa tidak nyaman.

Tatapan itu tidak berlebihan, tetapi cukup lama untuk membuatnya sadar bahwa Edris sedang memperhatikannya dengan sangat teliti.

Akhirnya Esmera menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Walaupun Baginda seorang raja, tetapi tetap saja, menatap seorang gadis dengan cara seperti itu adalah sebuah pelecehan." Nada suaranya terdengar sewot.

Edris tersenyum kecil."Aku hanya penasaran. Kenapa kau suka sekali memakai pakaian seperti itu?"

Esmera terdiam. Ia spontan menundukkan pandangan, memperhatikan pakaiannya sendiri. Barulah ia sadar bahwa penampilannya memang sangat berbeda dibandingkan saat berada di istana.

Gaun yang dikenakannya sederhana, warnanya tidak mencolok, bahannya pun terlihat biasa saja. Bahkan dibandingkan pakaian yang biasanya dikenakan para pelayan kastil, pakaian itu hampir tidak memiliki perbedaan.

Memang itu tujuannya. Ia tidak ingin menarik perhatian siapa pun ketika pergi ke perpustakaan.

Apalagi Esmera sudah memutuskan bahwa dirinya tidak ingin lagi hidup sebagai seseorang yang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan. Ia ingin menjadi orang biasa. Persetan dengan keluarga aslinya, apa masih hidup atau sudah mati, toh mereka juga tidak pernah peduli pada nasib Esmera.

Lagipula tidak ada alasan baginya untuk mengenakan pakaian mewah.

"Wajar saja aku berpenampilan seperti ini," jawab Esmera kemudian."Aku bukan gadis bangsawan." Ia mengangkat wajahnya dan menatap Edris lurus-lurus."Jika Baginda lupa, aku hanyalah seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana Anda, Yang Mulia."

Kalimat itu terdengar tenang. Namun, sindiran yang tersimpan di baliknya sangat jelas.

Seolah-olah Esmera sedang mengingatkan Edris, bahwa selama ini pria itulah yang telah merancang kehidupan Esmera menjadi yatim Piatu yang menyedihkan, lalu Raja yang baik hati menjadikannya seorang Ratu.

Rencana yang sangat epik, sehingga dahulu Esmera menjadi gadis yang terus menanggung rasa bersalah jika tidak menuruti keinginan keluarga kerajaan. Setelah itu, dia dibuang secara halus karena dianggap tidak mampu memenuhi apa yang diinginkan kerajaan.

Edris tentu saja memahami maksudnya. Hanya saja, seperti biasa, pria itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi berarti.

Wajahnya tetap datar.

Dingin.

Seolah-olah sindiran Esmera barusan hanya angin yang lewat di telinganya.

Esmera menghela napas dalam hati.

Benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa seseorang begitu tidak peka terhadap sindiran? Atau jangan-jangan dia memang sengaja berpura-pura tidak mengerti?

Edris kemudian mengalihkan pandangannya dari pakaian Esmera kembali ke wajah gadis itu."Ganti pakaianmu."

Esmera mengerutkan kening.

"Dan temui aku di ruang kerja." Hanya itu yang dikatakannya.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada alasan.

Bahkan Edris tidak memberikan kesempatan kepada Esmera untuk bertanya lebih jauh. Pria itu langsung berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya.

Esmera berdiri mematung beberapa saat sambil menatap punggung Edris yang semakin menjauh.

Matanya menyipit.

Apa-apaan dia?

Baru saja pulang, bukannya diberi kesempatan untuk beristirahat, malah diperintahkan mengganti pakaian dan menemuinya di ruang kerja.

"Raja macam apa yang suka sekali memerintah orang seenaknya..." gumamnya kesal.

Namun, setelah beberapa langkah, ia berhenti. Tatapannya kembali mengarah ke punggung Edris.

Ada satu hal yang membuatnya penasaran.

Kalau Edris sampai menunggunya di pintu masuk dan bahkan sudah mengetahui dirinya pergi ke perpustakaan, berarti pria itu memang sengaja datang ke Kastil Stone untuk menemuinya.

Pertanyaannya sekarang...

Untuk apa?

Esmera mengembuskan napas pelan."Semoga bukan sesuatu yang merepotkan."

Karena berdasarkan pengalamannya, setiap kali Edris datang membawa wajah datar seperti itu, biasanya akan selalu ada sesuatu yang membuat hidupnya menjadi jauh lebih rumit.

***

"Setelah menyelidiki Gareth dan menemukan fakta-fakta yang sesuai dengan dugaanmu, kuanggap hari ini aku telah resmi percaya pada ucapanmu yang mengatakan, bahwa kau bisa melihat masa depan." Jelas Edris dengan nada tenang. Namun, kalimat sederhana itu berhasil membuat wajah ketus Esmera seketika berubah.

Untuk beberapa saat, gadis itu hanya menatap Edris seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar."Benarkah?" Nada suaranya bahkan terdengar jauh lebih ringan daripada sebelumnya.

Esmera yang sejak tadi bersandar dengan wajah penuh kewaspadaan kini langsung menegakkan tubuhnya. Matanya tampak berbinar."Jadi Yang Mulia sudah menyelidiki Gareth?"

Edris mengangguk kecil.

Senyum tipis muncul di wajah Esmera."Kalau begitu, Yang Mulia harus segera bertindak."

Nada bicaranya berubah menjadi begitu bersemangat. Seakan-akan persoalan Gareth bukan lagi sekedar masalah kerajaan, melainkan sesuatu yang benar-benar ingin ia cegah.

"Jika Anda terlalu lama membiarkannya, dia akan mengumpulkan lebih banyak prajurit. Begitu jumlahnya cukup, dia akan memiliki keberanian untuk menentang Yang Mulia secara terbuka."

Edris memperhatikannya tanpa menyela.

Esmera bahkan tidak menyadari bahwa tatapan pria itu kini tertuju padanya dengan penuh perhatian.

"Selain Arabella," tanya Edris akhirnya,"siapa lagi bangsawan yang akan menjadi sekutunya?"

Seketika Esmera terdiam. Semangat yang tadi memenuhi wajahnya perlahan menghilang.

Dia menatap Edris. Kemudian memalingkan wajah. Tidak menjawab.

Edris sedikit mengangkat alis."Kenapa diam?"

Esmera menggigit bibir bagian dalam. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Justru sebaliknya, Esmera tahu semuanya.

Nama-nama bangsawan yang kelak berdiri di belakang Gareth, wilayah mana yang akan mereka kuasai, siapa yang akan menyediakan senjata, bahkan siapa yang pada akhirnya akan berkhianat dan mencoba menyelamatkan diri ketika pemberontakan itu gagal.

Namun, semua informasi itu adalah kartu yang sangat berharga. Dan Esmera tidak berniat membagikannya secara cuma-cuma. Ia menundukkan pandangan.

Ini kesempatanku.

Selama ini Edris selalu berada di posisi yang lebih tinggi darinya. Ia seorang raja.

Sementara Esmera hanyalah seorang gadis yang bahkan tidak memiliki tempat yang jelas di masa sekarang. Tetapi untuk pertama kalinya, keadaan berbalik. Edris membutuhkan sesuatu darinya.

Dan Esmera memiliki sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun di kerajaan ini. Pengetahuan tentang masa depan.

Dia perlahan mengangkat wajahnya."Jika Anda memenuhi keinginanku," ucap Esmera,"maka aku akan memberikan semua informasi yang menguntungkan kerajaan."

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Edris tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Esmera. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Kau sedang mencoba peruntunganmu?"

Esmera tidak mundur sedikit pun."Bukan." Tatapannya justru semakin mantap."Aku sedang berkompromi dengan Anda, Yang Mulia."

Edris hampir saja tertawa. Tentu saja dia sudah mengetahui apa yang diinginkan gadis itu. Dia bahkan tidak perlu berpikir lama untuk menebaknya. Esmera ingin bebas. Dia menolak menjadi bagian dari keluarga kerajaan, menolak menjadi Ratu dan menolak pernikahan.

Namun, mengetahui bukan berarti dia akan langsung memberikannya. Ia ingin mendengar sendiri dari mulut Esmera. Karena ada perbedaan antara menebak keinginan seseorang dan mendengar orang itu mengatakannya secara langsung.

Edris menyandarkan tubuhnya dengan santai."Katakan keinginanmu."

Mata Esmera langsung berbinar.

Akhirnya.

Setelah sekian lama, ia berhasil mendapatkan posisi yang menguntungkan. Untuk pertama kalinya, ia memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk bernegosiasi dengan seorang raja.

Dan Esmera tahu betul bahwa Edris Ruan bukanlah seseorang yang akan mempertaruhkan keselamatan kerajaannya hanya demi mempertahankan harga diri.

Jika informasi yang ia miliki benar-benar dapat menyelamatkan kerajaan dari pemberontakan Gareth, maka Edris tidak punya banyak pilihan. Setidaknya, itulah yang Esmera pikirkan.

Senyum kecil mulai muncul di wajahnya."Keinginanku sebenarnya sangat sederhana, Yang Mulia."

Edris menatapnya lekat-lekat."Kalau begitu, katakan."

Esmera menarik napas dalam-dalam. Kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Kemudian Esmera berkata dengan suara tegas,

"Aku ingin Yang Mulia melepaskanku."

1
Wulan
semangat thor up nya 😌😌
Wulan
cocok menurut mu peribadi saja kn😑😑
Wulan
semangat thor up nya 😌😌
Saasaa: siap🤣
total 1 replies
Wulan
cerita nya seru 😆😆 aku menanti kan pov Edris di kehidupan yang dulu kenapa dia dingin pada esmera tapi mengorbankan nyawa nya untuk esmera juga😌😌
Saasaa: Terimakasih sudah baca ya😍
total 1 replies
Wulan
jujur cerita nya seru sekali 😆😆

di tunggu up nya thor😌😌 semangat up nya 😆😆
Saasaa: sudah di up ya, selamat baca
total 1 replies
Moreno
Jadi makin seru!
Saasaa: terimakasih sudah baca ya😍
total 1 replies
Komariyah Hendriyati
tip bgt sih 💪
Saasaa: terimakasih 😍
total 1 replies
Ririn Nuriyanti
esmera nya lemah bgt
Komariyah Hendriyati
sangat bgussssssss cerita nya
Saasaa: terimakasih sudah baca😍
total 1 replies
Moreno
penasaran lanjutannyaaa 🩵
Saasaa: sudah di update ya terimakasih sudah baca..
total 1 replies
Yuliana Hakim
jangan lama2 up'nya thor..
Saasaa: siap, aku usahain ya...
total 1 replies
Natasya
👌
cleona
lanjut
cleona
lanjut please..
Saasaa: Sudah di up ya, makasih udah baca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!