NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Liana, Bukan Mbak Liana

Dalam empat hari berikutnya, Renard menemukan enam alasan untuk memanggil Liana masuk.

Satu berkas yang sebenarnya dapat dikirim lewat surel.

Dua evaluasi aroma yang bisa ditunggu sampai Jumat.

Satu jadwal makan malam yang sudah tertera di kalender.

Dua pertanyaan yang jawabannya telah ia ketahui.

Pada panggilan keenam, Liana berdiri di depan meja dengan tangan bersedekap.

"Pak Renard membutuhkan saya untuk apa?"

Renard menatap dokumen kosong di depannya. "Perjalanan Bali."

"Belum ada undangan resmi."

"Akan ada."

"Jadi Bapak memanggil saya untuk undangan yang belum ada?"

"Kamu banyak bertanya, Liana."

Nama itu keluar tanpa `Mbak`.

Keduanya diam.

Renard tidak memperbaikinya. "Duduk."

Liana duduk dengan jantung terlalu cepat. "Baik, Pak."

Mereka membahas kemungkinan perjalanan selama dua puluh menit. Setelahnya, Renard tetap memanggilnya Liana. Di depan orang lain ia kadang kembali memakai Mbak Liana, tetapi ketika hanya berdua, gelar itu perlahan hilang.

Jarak psikologis mereka menyusut satu kata demi satu kata.

Panggilan-panggilan itu bukan sepenuhnya alasan kosong. Renard menggunakan waktu tersebut untuk memberi Liana tiga sampel lini spa Bali. Ia meminta pendapatnya sebelum tim parfum membuat keputusan akhir.

"Sampel pertama terlalu berat untuk udara lembap," kata Liana. "Yang kedua lebih cocok, tapi tambahkan jeruk purut agar pembukanya tidak terasa datar."

Renard mencatat sendiri. "Dan ketiga?"

"Bagus untuk malam, bukan ruang spa siang."

"Kamu ikut mempresentasikannya di Bali."

Liana mendongak. "Saya?"

"Itu penilaianmu."

"Tim parfum mungkin keberatan."

"Karena itu semua hasilmu tercatat lewat uji buta. Mereka bisa menilai data, bukan jabatanmu."

Renard tidak memberi panggung kosong. Ia menyiapkan dasar agar suara Liana sah di ruang profesional. Bagi Liana, perhatian itu terasa lebih memabukkan daripada pujian tentang wajah atau tubuh.

Di luar, Dimas menambahkan satu baris pada catatan taruhan.

Bos memanggil Liana enam kali dalam empat hari. Probabilitas naik.

Bayu menulis balasan.

Masih belum resmi.

Rizal menambahkan tiga tanda seru.

Tapi sudah gawat.

***

Saat makan siang, Liana membuka kotak nasi paling sederhana dari pantry. Nasi, tumis kangkung, dan satu telur. Kebiasaan dari panti membuatnya selalu memilih porsi termurah meski gajinya kini cukup.

Keesokan hari, kotak tambahan muncul di meja administrasi. Ayam panggang, sayur, buah, dan sambal terpisah.

"Pesanan lebih," kata Rizal.

Hari berikutnya, kotak yang sama muncul lagi.

Pada hari ketiga, Rizal lupa cerita yang dipakai.

"Pak Renard bilang jangan lupa pesanan Mbak Liana yang tidak terlalu pedas."

Bayu menendang kaki kursinya.

Rizal membeku. "Maksud saya, administrasi. Administrasi bernama Pak Renard."

Liana melihat ke kantor berdinding kaca. Renard sedang membaca, tetapi telinganya memerah.

Ia membawa kotak makan itu masuk.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Makan siang."

"Pesanan administrasi."

"Administrasi bernama Pak Renard?"

Pena di tangannya berhenti. "Rizal akan mendapat evaluasi khusus."

Liana tertawa. "Bapak tidak perlu melakukan ini."

"Kamu melewatkan makan terlalu sering."

"Saya sudah terbiasa."

"Kebiasaan buruk tidak menjadi baik hanya karena lama dilakukan."

Liana memegang kotak lebih erat. Tidak ada bunga mahal atau kalimat manis. Hanya seseorang yang memperhatikan sambal, jadwal makan, dan kebiasaan kecil yang bahkan tidak pernah ia anggap layak diperhatikan.

"Saya akan makan," katanya.

"Bagus."

***

Jumat sore, undangan Bali akhirnya datang. Tan Group harus meninjau mitra resort dan lini aroma spa baru. Perjalanan berlangsung empat hari, dan Liana wajib mendampingi Renard.

Liana menyusun daftar perjalanan: sampel dalam kotak tahan panas, dokumen kontrak, pakaian rapat, obat Renard yang dibawa sesuai resep, nomor RS terdekat, dan kontak pengganti jika penerbangan terganggu. Ia juga menjadwalkan sesi terapi lebih awal sebelum berangkat agar perjalanan tidak menjadi alasan kontak spontan.

Renard memeriksa daftar itu. "Kamu memasukkan jadwal terapiku?"

"Hanya blok waktu pribadi tanpa detail. Tidak ada orang lain yang bisa membaca isinya."

"Kamu menjaga rahasia pasien dengan sangat serius."

Liana merasakan lapisan lain di balik kalimatnya. "Itu kewajiban saya sebagai asisten."

"Tentu," jawab Renard, meski tatapannya mengatakan ia sedang memikirkan kewajiban Liana yang lain.

Rizal menyerahkan itinerary sambil berusaha menjaga wajah netral.

"Kenapa ekspresimu begitu?" tanya Liana.

"Tidak ada."

Bayu berdiri di belakangnya. "Dia melihat bagian hotel."

Liana membuka halaman akomodasi. Nama Renard dan namanya tercantum pada penerbangan yang sama, kendaraan yang sama, dan dua nomor reservasi.

Ia mengerutkan dahi. "Dua reservasi, tapi tipe kamarnya sama."

"Suite satu kamar tidur," kata Rizal. "Mungkin sistem salah memasukkan sharing inventory."

"Pastikan dua kamar terpisah."

"Sudah saya minta hotel konfirmasi. Belum dibalas."

Pintu kantor terbuka. Renard keluar sambil mengenakan jas.

"Ada masalah?"

Liana menunjukkan itinerary. "Informasi kamar Bali tidak jelas."

Renard membaca sekilas. "Perbaiki."

"Sedang diproses, Pak," kata Rizal.

"Kalau hotel penuh?" tanya Bayu, lalu tampak menyesali hidupnya.

Renard menatap Liana. "Kita cari hotel lain."

Jawaban itu seharusnya mengakhiri masalah. Namun ponsel Rizal berbunyi pada saat yang sama.

Konfirmasi dari resort.

Karena konferensi internasional, seluruh kamar telah penuh. Sistem hanya mempertahankan satu reservasi aktif atas nama Renard Tan.

Satu suite.

Satu kamar tidur.

Satu ranjang besar.

Liana mengangkat mata dari layar.

Perjalanan Bali mendadak terasa jauh lebih panas daripada cuacanya.

Dan mereka bahkan belum berangkat.

Masalah satu ranjang sudah menunggu lebih dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!