Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2. Janji Lama yang Menjadi Tanggung Jawab
Malam itu, aku tak kunjung terlelap. Tubuhku terbaring di atas kasur empuk, namun mataku terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Sisa-sisa air mata masih terasa basah membasahi pipi, dadaku masih terasa sesak seakan terhimpit beban berat yang tak tampak. Kata-kata Papa tadi malam terus bergema berulang kali di telingaku, berputar tak henti-henti bagai jeruji besi yang mengurung kebebasanku. “Janji itu telah terucap sejak lama… dan tak sepantasnya diingkari.” Kalimat itu terus menghantui setiap sudut pikiranku, membuatku tak tenang sedikit pun.
Pagi harinya, matahari baru saja condong naik, menyelinap masuk melalui celah jendela kamar dan menyentuh wajahku dengan cahaya keemasan yang lembut. Namun tak ada sedikit pun rasa hangat yang kurasakan. Hatiku masih terasa dingin dan gundah. Setelah membersihkan diri, aku melangkah keluar kamar dengan langkah yang masih terasa berat, menuju ruang tengah tempat biasanya Papa menikmati kopi paginya sebelum berangkat bekerja. Aku ingin tahu sepenuhnya. Aku ingin mendengar kisah lengkapnya. Agar aku paham, mengapa nasibku harus ditentukan oleh sebuah janji yang bahkan tak kubuat sendiri.
Sesampainya di sana, Papa sudah duduk di kursi kesayangannya. Ia tampak tenang, mengenakan kemeja rapi yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Mendengar langkah kakiku, Papa menoleh perlahan. Wajahnya tak lagi setegas semalam, namun sorot matanya tetap mantap dan tak tergoyahkan. Ia memberi isyarat agar aku duduk di hadapannya. Di samping Papa sudah ada Mama, yang seakan telah menanti kedatanganku sejak tadi, menatapku penuh iba namun tak bersuara.
"Pagi, Lisna," sapa Papa pelan namun tegas.
Aku duduk perlahan, kedua tanganku saling meremas di pangkuan. Menatap wajah Papa, aku memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sedari tadi memenuhi kepalaku. "Pa... Lisna mohon, ceritakan semuanya. Janji apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa masa depan Lisna harus menjadi bagian dari janji itu? Lisna ingin tahu, setidaknya agar hati Lisna lebih siap menerima semuanya."
Papa menghela napas panjang, lalu menatap ke luar jendela seakan sedang menelusuri lembaran waktu yang telah lama berlalu. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, namun senyum yang membawa kisah kenangan mendalam. Perlahan Papa mulai bercerita, suaranya terdengar tenang dan mengalir penuh makna.
"Ini bermula sejak puluhan tahun yang lalu, Nak. Saat Papa masih seusiamu, penuh semangat, dan baru saja melangkah memasuki dunia kerja. Papa memiliki seorang sahabat karib, persis seperti saudara kandung sendiri. Namanya Pak Bayu. Beliau adalah sahabat terbaik yang pernah Papa miliki. Kami tumbuh bersama, menuntut ilmu bersama, berbagi suka maupun duka. Tak ada rahasia di antara kami. Kami saling menjaga, saling mendukung, seakan tak terpisahkan."
Papa terdiam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang kini terdengar lebih lembut namun sarat makna.
"Suatu hari, saat kami sedang berkumpul penuh sukacita, beliau menyampaikan kabar bahagia. Istrinya sedang mengandung seorang putra. Di saat yang sama, Mama pun sedang mengandungmu, Lisna. Kebahagiaan itu terasa berlipat ganda bagi kami berdua. Maka, di bawah langit yang sama, di hadapan saksi-saksi yang hadir, kami berjanji. Jika kelak anak-anak kami lahir berlainan jenis kelamin, maka kami akan menjodohkan mereka. Menyatukan kedua keluarga dalam ikatan pernikahan, agar persaudaraan dan kasih sayang di antara kami tetap abadi turun-temurun. Sebuah janji tulus yang terucap dari hati yang paling dalam."
Hatiku mencelos mendengarnya. Ternyata... semuanya bermula dari kebahagiaan dan persahabatan yang begitu indah. Namun mengapa keindahan masa lalu itu justru terasa seperti belenggu bagiku saat ini?
"Janji itu diucapkan dengan kesungguhan hati, Lisna. Bukan sekadar ucapan kosong," tambah Papa seakan membaca keraguanku. "Kami berharap kelak anak-anak kami melanjutkan kebaikan yang telah kami tanam. Menua bersama, membangun rumah tangga yang penuh berkah, dan menjadi pelipur lara satu sama lain. Namun takdir berkata lain, Nak. Beliau dan keluarganya harus pergi merantau ke negeri orang demi tugas dan pekerjaannya. Hubungan kami sempat terputus cukup lama, namun janji itu tak pernah sekalipun terlupakan oleh Papa. Dan kini... beliau telah kembali. Putranya telah tumbuh menjadi pria yang luar biasa. Segala syarat untuk menepati janji itu telah lengkap."
Mama ikut menyelipkan kata-katanya pelan, tangannya terulur menggenggam tanganku dengan penuh kelembutan. "Lisna, Nak... pahamilah maksud hati Papa. Janji adalah utang yang wajib dibayar. Kehormatan seorang pria terletak pada kesetiaannya terhadap ucapan yang telah meluncur dari bibirnya. Jika Papa mengingkari janji itu, maka Papa telah menyakiti hati sahabat baiknya, merusak persaudaraan yang dijaga puluhan tahun, dan menodai kepercayaan yang begitu tulus diberikan kepadanya. Bagaimana mungkin Papa melakukannya?"
Aku terdiam membisu. Kata-kata mereka begitu benar, begitu mulia, dan begitu berat untuk dilawan. Di satu sisi aku paham betul makna sebuah janji dan kehormatan keluarga. Namun di sisi lain, hatiku tetap merasa perih dan kecewa. Aku merasa seakan tak memiliki hak sedikit pun atas hidupku sendiri. Bahwa perasaanku, keinginanku, dan pilihanku seakan tak memiliki arti dibanding sebuah janji lama yang terucap jauh sebelum aku lahir ke dunia.
"Tapi... bagaimana dengan perasaan Lisna, Pa?" tanyaku lirih, air mata kembali bergenang di pelupuk mataku. "Bagaimana jika Lisna tak menyukainya? Bagaimana jika kami tak sejalan? Apakah janji itu tetap harus ditepati meski hati salah satu pihak tak bersedia?"
Papa menatapku lekat-lekat, lalu menjawab dengan tegas namun tetap lembut. "Papa memahami kegelisahanmu, Lisna. Namun percayalah, Papa tak akan menyerahkan putri tunggal Papa kepada orang yang salah. Putra sahabat Papa itu tumbuh dengan didikan yang baik. Berakhlak mulia, berilmu, dan berbudi pekerti luhur. Papa yakin, kelak engkau akan bahagia bersamanya. Cinta tak selalu harus lahir pada pertemuan pertama, Nak. Cinta pun bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, dibangun di atas dasar rasa hormat, saling pengertian, dan kesetiaan yang dijaga bersama. Berikan kesempatan itu padanya, dan berikan pula kesempatan itu pada dirimu."
Aku menunduk dalam. Tak ada lagi pembelaan yang sanggup kuucapkan. Segala alasan yang kupunya tampak begitu kecil dan tak berarti dibandingkan nilai kehormatan, persahabatan, dan janji yang telah terjalin begitu lama. Aku menyadari, sejak detik ini, keinginan hatiku harus tersisih demi sebuah tanggung jawab yang besar. Bahwa aku bukan sekadar Lisna yang bebas menentukan jalan hidup, melainkan bagian dari sebuah janji yang harus ditepati demi kebaikan dan kehormatan keluarga.
Dengan hati yang terasa berat namun mulai sedikit lebih tenang, aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Menatap wajah Papa dan Mama bergantian, aku akhirnya mengangguk pelan.
"Baik, Pa... Ma. Lisna paham. Lisna menerima janji itu sebagai tanggung jawab yang harus Lisna emban. Meski hati belum sepenuhnya siap, Lisna akan berusaha menjalani semuanya dengan sabar. Semoga... semoga janji lama ini kelak membawa kebahagiaan, dan bukan penderitaan bagi kami berdua."
Papa tersenyum lega mendengar jawabanku. Ia berdiri, mendekat kepadaku, lalu menepuk pundakku penuh kasih sayang. "Terima kasih, Putriku. Kamu telah membuat Papa bangga. Percayalah, langkah yang kau ambil hari ini kelak akan kau lihat buah kebaikannya. Segala sesuatu terjadi atas izin Tuhan, dan Dia tak akan membiarkan hamba-Nya berjuang sia-sia."
Pagi itu berakhir dengan kesepakatan yang berat namun tak terbantahkan. Sebuah janji yang terucap puluhan tahun silam kini menjadi takdir yang harus kujalani. Entah ke mana arahnya, entah seperti apa ujungnya. Namun aku telah memutuskan untuk melangkah. Menerima takdir ini sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus kujalani, dengan harapan bahwa di balik semua ini, tersimpan rencana indah yang belum terlihat oleh mataku yang masih sempit.
bersambung...