Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Pintu ruang darurat terbuka. Seorang dokter keluar diikuti dua perawat di belakangnya yang membuat Keira dan Elang serempak bangkit dari duduk mereka.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Elang cepat.
"Pasien mengalami cedera pada kepalanya akibat benturan, memar di beberapa bagian tubuh dan kami menemukan indikasi gegar otak ringan. Untuk sementara kondisinya stabil, tapi tetap harus menjalani observasi."
Elang mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
"Apakah ada cedera serius?" tanya Keira.
Dokter tersenyum. "Sejauh pemeriksaan awal, tidak ada pendarahan di kepala. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. Anda berdua bisa melihatnya setelah pasien dipindahkan."
Keira mengangguk. "Terima kasih, Dokter."
"Kalau begitu saya permisi," ujar dokter berlalu pergi.
Keduanya mengangguk serempak, kembali duduk menunggu
"Elang."
"Ya?" Elang menoleh menatap atasannya.
"Di mobil tadi..." Keira menoleh, membuat tatapan keduanya bertemu. "Kamu menghubungi ayahmu untuk menghubungi keluarga Pak Damar. Apakah ayahmu mengenal keluarga Arkatama?"
Elang terdiam sejenak, menimang-nimang apakah ia perlu mengatakan yang sebenarnya pada Keira atau tidak. Namun, pemikiran tentang ayahnya yang sebentar lagi akan datang dan mungkin membuat atasannya bertemu dengan sang ayah membuat ia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Pak Bram... adalah ayah saya," ungkap Elang.
Hening jatuh selama beberapa saat setelah pernyataan Elang yang tidak pernah Keira duga.
"Dan kamu tidak mengatakannya sejak awal?"
Akhirnya hanya pertanyaan itu yang bisa Keira keluarkan setelah lama terdiam. "Kenapa kamu tidak bekerja di tempat yang sama dengan ayahmu?"
"Ceritanya panjang, dan saya berani bertaruh ini bukan cerita yang cocok dijadikan sebagai dongeng pengantar tidur," jawab Elang diakhiri tawa getir.
"Lagipula." lanjutnya sambil menyandarkan punggung. "Saya bekerja untuk Daneswara, tentang siapa ayah saya tidak akan membuat saya mencampuradukkan masalah pekerjaan dan pribadi."
"Aku percaya," sahut Keira tanpa jeda. "Kau sudah membuktikannya."
"Sebaliknya," lanjutnya setelah terdiam sejenak. "Tidak banyak orang mau memulai dari dasar ketika memiliki ayah yang sudah bekerja di perusahaan sebesar Arkatama. Tapi, kamu justru datang melamar ke kantorku."
"Saya hanya ingin memulai sesuatu dengan mengandalkan kemampuan saya sendiri," jawab Elang.
Keira tersenyum simpul sembari memberikan anggukan ringan.
Hening kembali menyelimuti koridor rumah sakit, hanya gema langkah dari orang-orang berlalu-lalang di depan mereka saja yang terdengar.
"Bu Keira, ini sudah malam. Lebih baik Ibu pulang saja, biar saya saja yang menunggu sampai keluarga Pak Damar datang," ucap Elang memecah keheningan.
"Aku bisa di sini sebentar lagi-"
Belum sempat Keira menyelesaikan kalimatnya, dering ponsel di sakunya menyela lebih cepat. Tangan Keira bergerak mengeluarkan ponsel, menatap layar dan mengembuskan napas setelah meihat nama 'Ayah' memenuhi layar.
Jemari Keira menggeser layar untuk menerima panggilan, menempelkan ponsel ke telinga, hanya untuk mendengar suara ayahnya yang meminta dirinya untuk segera pulang.
"Haahh... Aku benar-benar harus pulang sekarang." ujar Keira seraya beralih pandang dark ponsel ke wajah Elang. "Kabari aku tentang kondisi Pak Damar."
Elang mengangguk. "Tentu, Bu."
Bibir Keira terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun tidak ada kata yang keluar. Memilih untuk menelan kembali apa yang ingin ia ucapkan, kemudian bangkit berdiri dan berlalu pergi.
Suasana kembali hening. Elang beranjak dari duduknya setelah melihat ke ujung koridor namun tak kunjung melihat sosok ayahnya, membawa langkahnya menuju salah satu ruangan di mana Mirah berada setelah bertanya pada perawat yang sebelumnya mendorong brankar wanita itu.
Di saat yang sama, langkah tergesa keluarga Arkatama menggema memenuhi koridor bersama Bram yang berjalan memimpin mereka dengan ponsel di tangan. Sesekali ia menatap layar ponselnya untuk memastikan di mana ruangan Damar berada dari pesan yang ia terima dari putranya.
"Dasar... Ke mana perginya bocah itu?" Bram menggerutu pelan seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
Ia membawa langkahnya menuju ruangan di mana Damar berada. Sesaat kemudian Bram beserta keluarga Arkatama masuk ke dalam salah satu ruang VVIP setelah Damar dipindahkan.
.
.
Di dalam ruang rawat berbeda, Elang berdiri dengan pandangan terpaku pada Mirah yang terbaring di atas ranjang pasien setelah menutup pintu di belakangnya, kemudian membawa langkahnya mendekat.
Suara langkah Elang membuat Mirah membuka matanya perlahan. Ia menoleh, membuat kedua netranya berkaca saat bertemu pandang dengan Elang.
Tangan Mirah terulur dengan sediki gemetar, meraih tangan Elang untuk ia genggam saat pemuda itu duduk di kursi samping ranjang.
"Bram... Mahesa... dia bukan ayahmu," ucap Mirah dengan suara bergetar, mengulang kalimat yang sudah ia katakan pada Elang beberapa waktu sebelumnya.
"Bagaimana Anda bisa berkesimpulan begitu? Apakah Anda mengenal ayah saya?" tanya Elang.
"Da-damar Ar-arkatama... barulah ayahmu," ungkap Mirah.
"Apa?"
Rasa sesak perlahan mulai memenuhi dada Elang saat mendengar kebenaran yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia ingin menyangkal, tetapi wanita di hadapannya menyebutkan dua nama tanpa kesalahan yang membuat kemungkinan jika wanita itu berhalusinasi menguap dari pikiran Elang.
"Dua puluh tiga tahun lalu... Aku yang membantu... persalinan... ibumu," ungkap Mirah dengan suara terbata.
Bibir Mirah bergetar, air matanya kembali mengalir tanpa diminta bersama kilasan masa lalu yang membuat dadanya terhimpit beban berat saat ia mulai mengungkapkan kebenaran yang selama ini membelenggu dirinya.
"Kamu... Kamu tidak bernapas saat lahir. Sebelum aku sempat memberitahu dokter, malam itu...
. . . .
. . ..
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????