NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN SIANG

Siang hari yang cerah dan hangat menyelimuti seluruh halaman kampus. Cahaya matahari bersinar terang di langit yang biru bersih, menyinari gedung-gedung tempat mereka belajar. Joe baru saja melangkah keluar dari pintu kelas, berjalan sendirian menuju area parkir yang terletak di sisi paling luar kampus. Ia berniat segera pulang, berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir rapi di antara deretan kendaraan lain. Tangan Joe baru saja menyentuh kunci kontak hendak menyalakan mesin, ketika terdengar langkah kaki yang cepat mendekat dari belakang.

"Hei, Joe! Tunggu dulu!" seru suara yang dikenalnya sebagai suara Billy.

Joe menoleh dan melihat Billy berjalan mendekat dengan wajah cerah, diikuti Rey yang tersenyum ramah di sampingnya. Sedangkan Alex berjalan agak tertinggi di belakang mereka, wajahnya datar tanpa ekspresi berlebih, seakan hal-hal di sekitarnya tidak terlalu menarik perhatiannya. Mereka bertiga berhenti tepat di samping motor Joe.

"Siang ini jangan buru-buru pulang," ucap Billy dengan nada yang sangat ramah dan akrab. "Mama sudah menyiapkan makan siang yang cukup banyak di rumah — katanya ingin sekali menyambut teman-teman sekelasmu. Jadi ikut kami ya!"

Rey ikut mengangguk setuju sambil tersenyum hangat. "Benar kata Billy. Sekalian makan bersama, pasti lebih seru daripada makan sendirian di tempat biasa. Jangan pulang dulu."

Alex hanya berdiri di belakang sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap ke samping tanpa banyak bicara, seakan kehadiran Joe belum sepenuhnya ia terima dengan hati terbuka.

Joe tersenyum sopan kepada mereka bertiga. "Terima kasih banyak sudah mengundang gue. Tapi sayangnya gue naik sepeda motor sendiri ke sini. Mungkin lain kali saja."

Billy langsung melambaikan tangannya lebar-lebar seakan hal itu bukan masalah besar sama sekali. "Ah, soal itu gampang sekali! Tinggalkan saja dulu motornya di sini, aman kok. Nanti sore gue suruh pengawal gue datang ke sini untuk mengantar loe kembali ke kampus dan mengambil motornya. Sekarang ikut saja naik mobil gue — lebih nyaman, lebih luas, dan kita bisa mengobrol sepanjang jalan."

Mendengar tawaran yang begitu ramah dan tulus, Joe tidak lagi menolak. "Baiklah, kalau begitu gue ikut kalian. Terima kasih banyak."

Mereka pun berjalan bersama menuju mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di tempat khusus. Setelah semua naik, mobil itu melaju perlahan meninggalkan kampus, bergerak menuju kediaman keluarga Billy yang terletak di kawasan perumahan paling elit dan sepi di pinggiran kota.

Perjalanan berlangsung cukup lama, melewati jalanan yang makin sepi dan pepohonan yang makin rimbun di sisi jalan. Tak lama kemudian, mobil melaju mendekati sebuah gerbang besar yang tinggi dan dijaga ketat oleh dua orang penjaga berbadan tegap. Begitu mobil mendekat, gerbang besi yang besar itu terbuka perlahan dengan sendirinya. Penjaga di samping pintu menundukkan kepala dalam-dalam sebagai tanda hormat saat mobil melintas masuk melewati mereka. Di dalam pagar itu terbentang halaman yang sangat luas dan rapi, rumputnya hijau terawat, dan di kejauhan tampak bangunan rumah yang besar dan megah — tampak lebih seperti istana daripada tempat tinggal biasa. Mobil terus berjalan jauh melewati halaman itu sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama rumah yang mewah.

Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sejuk dan sunyi. Tanpa berhenti di ruang tamu, mereka langsung berjalan menuju bagian belakang rumah — menembus pintu kaca besar yang terbuka menuju taman yang sangat indah dan asri. Di tengah taman itu terdapat kolam renang yang airnya jernih sekali, berkilau terkena pantulan cahaya matahari siang. Di tepi kolam sudah tersusun meja panjang dari kayu mahoni yang indah, dikelilingi kursi-kursi yang empuk dan nyaman. Tiga orang pelayan wanita berdiri dengan rapi di samping meja, menata hidangan yang sangat banyak dan melimpah ruah. Di sana ada panci besar berisi sup ayam yang masih mengeluarkan uap panas, piring berisi daging siap dibakar, serta berbagai macam lauk pauk, roti, dan buah-buahan segar yang memenuhi seluruh permukaan meja.

"Wah, luar biasa banyaknya!" seru Billy dengan gembira. "Ayo duduk semuanya! Santai saja, jangan sungkan seakan di rumah sendiri."

Mereka pun duduk mengelilingi meja panjang itu, menikmati udara segar taman sambil menatap hidangan yang begitu berlimpah. Tak lama setelah mereka duduk, pintu kaca di belakang terbuka perlahan dan seorang wanita yang cantik, anggun, dan ramah melangkah keluar — itulah ibu kandung Billy. Ia tersenyum lembut menyambut kedatangan mereka berempat.

"Selamat datang, anak-anak," sapanya dengan suara yang lembut dan menyenangkan. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang hangat seperti ibu yang menyambut anak-anak temannya. "Bagaimana perkuliahan kalian hari ini? Apakah pelajarannya berjalan lancar? Belum terlalu berat, kan?"

Billy langsung menyahut dengan wajah ceria. "Semuanya lancar sekali, Ma! Seperti biasa saja, tidak ada yang menyulitkan kami."

Rey ikut tersenyum sopan dan menjawab, "Semuanya baik-baik saja, Tante. Pelajaran hari ini lumayan mudah dipahami dan tidak terlalu banyak tugas."

Alex hanya mengangguk singkat dengan sopan tanpa menambahkan banyak kata. Sedangkan Joe menjawab dengan nada yang tenang dan hormat, "Semuanya berjalan lancar, Tante. Terima kasih sudah bertanya."

Saat ibu Billy menyapa mereka, Rey tersenyum sangat manis dan hangat kepada wanita itu — senyum yang lebih lebar dan tulus daripada yang ia berikan kepada orang lain. Joe memperhatikan hal itu dengan tenang, menyadari ada kedekatan khusus di antara mereka yang mungkin tidak diketahui orang lain.

Ibu Billy tersenyum puas mendengar jawaban mereka. "Syukurlah kalau begitu. Makanlah dengan lahap ya, pasti sudah merasa lapar sekali sehabis belajar dari pagi tadi. Jangan sungkan di rumah ini." Setelah berpesan demikian, ia berbalik perlahan dan masuk kembali ke dalam rumah.

Begitu wanita itu pergi, Billy segera menoleh ke arah salah satu pelayan. "Tolong ambilkan beberapa botol bir dingin dari lemari es," ucapnya dengan nada santai.

Tak lama kemudian, pelayan kembali membawa beberapa botol minuman yang dingin dan meneguknya ke dalam gelas-gelas di depan mereka. Mereka pun mulai makan dan minum dengan gembira, saling bercerita hal-hal ringan sambil menikmati suasana siang yang menyenangkan itu.

Setelah perut terisi dan suasana makin santai, Joe menatap sekeliling taman yang luas dan mewah itu lalu berkata dengan nada biasa, "Rumahmu sungguh luar biasa indah dan besar, Bil. Ternyata loe hidup dengan kemewahan seperti ini setiap hari."

Billy hanya tertawa pelan sambil mengangkat bahu dengan santai. "Ah, biasa saja. Memang begitulah keadaan rumah kami sejak kecil. Gue sudah terbiasa dengan suasana seperti ini."

Alex yang sedari tadi agak diam tiba-tiba menatap lurus ke arah Joe dan bertanya dengan nada penasaran, "Kalau loe bagaimana, Joe? Di mana rumahmu sebenarnya? Apa pekerjaan orang tuamu?"

Joe menunduk sejenak, seakan sedang mengingat sesuatu yang berat, lalu menjawab dengan suara yang rendah namun tetap tenang. "Sebenarnya... gue dibuang oleh orang tua kandung sendiri sejak masih bayi. Gue tidak pernah tahu siapa mereka. Gue dibesarkan hanya oleh kakek gue sendirian di tempat yang sederhana."

Mendengar pengakuan itu, Rey ikut berbicara dengan nada yang lebih lembut dan penuh pengertian. "Gue juga mengalami hal yang sama, Joe. Posisi kita hampir sama. Mama gue pergi meninggalkan gue saat masih kecil sekali. Sejak saat itu, gue hanya hidup bersama Ayah dan tidak pernah bertemu Mama lagi."

Joe tersenyum tipis mendengar cerita Rey, namun di dalam hatinya pikirannya berputar dengan cepat. Ia teringat foto yang diperlihatkan Arthur kemarin — di dalamnya hanya ada keluarga Alex dan keluarga Billy. Nama Rey sama sekali tidak muncul di sana. Artinya... ayah Rey tidak terlibat dalam peristiwa berdarah yang menimpa orang tua Joe sepuluh tahun yang lalu. Rey mungkin tidak ada hubungannya dengan semua itu.

Pikiran itu membuatnya diam melamun sejenak, menatap permukaan meja tanpa berkedip.

"Hei, Joe?" suara Billy tiba-tiba terdengar memecah keheningan. "Kenapa melamun begitu? Pikirkan apa?"

Joe tersentak sedikit, lalu segera mengangkat wajah dan tersenyum tenang. "Ah, tidak apa-apa. Gue hanya berpikir... betapa enaknya hidup seperti kalian. Punya rumah yang luas, fasilitas yang lengkap, dan segala sesuatu sudah tersedia tanpa harus susah payah mencarinya sendiri."

Billy dan Alex langsung tertawa keras mendengar ucapan itu. "Hahaha! Kalau begitu nikmati saja hari ini sepuas hatimu!" seru Billy sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Ayo lanjut minum untuk persahabatan kita!" ajak Alex sambil ikut mengangkat gelas.

Mereka pun mengangkat gelas masing-masing dan bersulang bersama. Saat bunyi gelas yang saling beradu terdengar jelas di udara, Joe ikut tersenyum bersama mereka — namun senyumnya kali ini terasa berbeda dari biasanya. Di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana. Ia tahu persis siapa yang harus dihadapi lebih dulu, dan siapa yang mungkin bisa didekati sebagai teman. Cara yang tepat untuk melampiaskan dendamnya perlahan-lahan sudah terbentang jelas di benaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!