NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27. Perhatian kecil yang makin membuatku jatuh hati

Setelah sakit kemarin, tubuhku perlahan pulih kembali. Namun ada sesuatu yang berubah di dalam hatiku — setiap hari, hal-hal kecil yang ia lakukan tanpa suara justru semakin membuatku jatuh hati padanya, lebih dalam dari sebelumnya. Bukan karena hadiah mewah atau janji manis yang megah, melainkan karena perhatian-perhatian kecil yang begitu sederhana, begitu wajar, namun begitu tulus hingga tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pagi itu, udara di dalam kelas terasa cukup dingin karena AC menyala agak kuat. Aku duduk di bangku dekat jendela, sesekali menggosokkan kedua tanganku untuk menghangatkannya, dan sesekali menggigil pelan. Aku pikir tak ada yang menyadarinya — termasuk Arga yang sedang berdiri di depan kelas menjelaskan materi. Namun sepuluh menit kemudian, saat ia berjalan melewati bangkuku tanpa berhenti, sesuatu jatuh pelan ke atas meja di samping bukuku. Sebuah syal rajut berwarna krem yang lembut dan hangat.

Aku mendongak terkejut. Arga terus berjalan seakan tak melakukan apa-apa, suaranya masih tenang menjelaskan materi kepada seluruh kelas. Namun sekilas, matanya melirik ke arahku dan berkedip pelan — isyarat agar aku segera memakainya. Tanganku gemetar sedikit saat mengambil syal itu. Aromanya harum lembut, sama seperti yang selalu ia pakai. Saat kulilitkan di leherku, rasa hangat seketika menjalar ke seluruh tubuh, bukan hanya karena syalnya, melainkan karena hatiku yang terasa dipeluk oleh perhatiannya yang begitu halus. Ia tak berteriak, tak bertanya, tak membiarkan orang lain menyadari bahwa aku kedinginan. Ia hanya memberikan apa yang kubutuhkan — diam-diam, tepat waktu, dan tanpa mengharapkan ucapan terima kasih di depan umum.

Perhatian kecil seperti itu terjadi hampir setiap hari, dan setiap kali selalu berhasil membuat jantungku berdebar dan hatiku semakin luluh.

Saat ia melihatku selalu membawa bekal makan siang yang sederhana, beberapa hari kemudian sebuah kotak makan kecil muncul di atas meja perpustakaan tempatku biasa duduk. Di dalamnya terdapat potongan buah segar dan roti isi yang terlihat begitu lezat. Di atas kertas kecil yang terselip di sampingnya tertulis tulisan tangannya yang rapi: Tubuhmu butuh nutrisi lebih agar tidak mudah sakit lagi. Makanlah yang baik. Tak ada nama, tak ada tanda tangan. Namun aku tahu itu darinya. Dan setiap kali mengunyah buah itu, rasanya terasa lebih manis dari biasanya — karena dibuat dengan perhatian yang tulus.

Saat hujan turun dan aku lupa membawa payung, ia tak perlu lagi berteriak atau menawarkan secara langsung. Sebuah payung lipat akan selalu menungguku di tempat teduh di depan gedung, di mana aku biasa berdiri menunggu reda. Dan aku tahu, ia pasti melihatku dari jendela ruang kerjanya, memastikan aku pulang dengan selamat dan tidak kehujanan.

Saat aku sedang sibuk mencatat dengan cepat hingga tanganku terasa pegal, ia akan berjalan melewati bangkuku dan meletakkan pulpen yang lebih nyaman digenggam di ujung mejaku, lalu berbisik pelan tanpa menoleh, "Pulpen yang kau pakai itu kasar, ganti dengan yang ini." Lalu ia berjalan pergi seakan tak ada yang istimewa diucapkannya. Padahal, ia bahkan memperhatikan hal sekecil itu — jenis pulpen yang kugunakan, rasa pegal di tanganku, hal yang bahkan tak pernah kusadari sendiri.

Suatu sore, saat kami berpapasan di lorong yang sepi, aku memberanikan diri berhenti sejenak dan menatapnya. "Kak... kenapa kau selalu melakukan hal-hal seperti ini? Memberi syal, buah, pulpen, payung... semuanya begitu kecil, tapi selalu tepat waktu."

Arga berhenti di hadapanku, menjaga jarak yang sopan namun matanya menatapku lembut dan dalam. "Karena aku tak bisa selalu berada di sisimu, Lisna. Aku tak bisa selalu memegang tanganmu, melindungimu dari angin, atau memastikan kau makan dengan baik. Jadi, hal-hal kecil ini... adalah caraku tetap melindungimu walau tak ada di dekatmu. Jika aku bisa membuatmu sedikit lebih hangat, sedikit lebih kenyang, sedikit lebih nyaman... itu sudah cukup untukku. Aku tak butuh orang lain tahu. Yang penting kau merasakannya."

Kata-katanya begitu sederhana, namun menghantam hatiku dengan kekuatan yang luar biasa. Jadi, semua perhatian kecil itu bukan sekadar kebetulan atau kebaikan hati biasa. Itu adalah bentuk kasih sayangnya yang paling murni — yang tak butuh panggung, tak butuh tepuk tangan, tak butuh diketahui siapa pun. Yang ia butuhkan hanyalah satu hal: agar aku baik-baik saja.

Saat itu aku menyadari satu hal yang sangat jelas — mengapa aku semakin jatuh hati padanya setiap harinya. Bukan karena ia sempurna, bukan karena ia hebat. Melainkan karena ia melihat hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri tak sadari. Ia peduli pada detail yang tak dilihat orang lain. Ia hadir di saat-saat yang sepi, di saat-saat yang tak terlihat oleh dunia. Dan perhatian-perhatian kecil itu, yang diberikan dengan diam-diam dan tanpa pamrih, justru menjadi bukti terbesar bahwa cintanya begitu besar, begitu dalam, dan begitu nyata.

Malam itu, saat aku menyimpan syalnya di lemari kamarku, aku tersenyum sendiri membayangkan wajahnya. Setiap kali melihat benda-benda pemberiannya — syal, pulpen, kalung, payung — aku tak hanya melihat benda itu. Aku melihat perhatiannya, ketulusannya, dan cintanya yang tak pernah berhenti tumbuh. Dan aku tahu, perhatian-perhatian kecil inilah yang perlahan-lahan membangun fondasi cinta kami yang kokoh. Karena cinta yang tumbuh dari hal-hal kecil dan tulus, akan bertahan jauh lebih lama daripada cinta yang lahir dari kemewahan dan pujian semata.

Dan sejak hari itu, setiap kali ia melakukan hal kecil yang lain, aku tak lagi hanya merasa senang. Aku merasa dicintai — dengan cara yang paling sederhana, paling tulus, dan paling membuatku jatuh hati setiap harinya.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!