NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERPECAHAN

Rey dan Dodi melangkah dengan langkah cepat, wajah keduanya menahan amarah yang membara di dalam dada. Setiap langkah yang mereka ambil terasa berat namun penuh ketegasan. Sesampainya di lantai atas Loyalty Hotel, di bagian yang dipenuhi ruangan-ruangan VIP yang tertutup rapat dan dijaga ketat, mereka berdua berjalan menuju salah satu pintu besar yang dijaga oleh dua orang bodyguard berbadan tegap. Dodi berhenti sejenak di depan pintu itu, lalu menatap salah satu penjaga dengan pandangan tajam.

"Di mana Nisa dan Billy?" tanyanya, berusaha menahan emosi yang hampir meledak dari dalam suaranya.

Tanpa menjawab sepatah kata pun, bodyguard itu mengangguk pelan dan segera membuka pintu lebar-lebar. Dodi dan Rey melangkah masuk bersamaan. Di dalam ruangan yang luas dan mewah itu, hanya ada Billy sendirian. Ia duduk santai di sofa empuk sambil memegang gelas berisi minuman berwarna gelap, tampak sangat menikmati waktunya seakan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar sana. Saat melihat kedatangan Dodi dan Rey, Billy hanya tersenyum lebar tanpa sedikit pun merasa bersalah, lalu mengangkat gelasnya seakan menyambut tamu.

"Silakan duduk, Paman Dodi. Rey..." ucapnya santai. "Mau minum apa? Di sini tersedia semuanya."

"Loe bener-bener brengsek!" bentak Rey, tangannya kembali mengepal hendak memukul untuk kedua kalinya.

Namun Dodi segera melangkah maju dan menahan lengan Rey dengan kuat. "Cukup, Rey!" bentaknya singkat namun tegas.

Rey mundur perlahan, napasnya memburu, matanya menatap tajam penuh kebencian ke arah Billy yang sedang mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Darah segar menetes perlahan di jari-jemarinya, namun Billy seakan tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia justru tersenyum miring, senyum yang penuh dengan penghinaan dan kesombongan yang tak bisa disembunyikan. Bagi Billy, apa yang terjadi hanyalah bagian kecil dari rencana besar yang sedang mereka jalani bersama ayahnya dan orang-orang berkuasa lainnya. Ia tidak merasa bersalah, tidak merasa menyesal, dan bahkan merasa bahwa semua yang dilakukan adalah hal yang benar dan perlu demi kepentingan mereka semua.

Dodi menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meskipun hatinya juga sedang marah besar. Ia berjalan mendekat, berdiri di hadapan Billy, lalu bertanya dengan suara rendah namun penuh penekanan.

"Kenapa, Billy? Kenapa kau mengambil keputusan sepihak untuk membunuh Susi? Tidakkah kau tahu bahwa itu adalah istriku dan juga mamanya Rey?"

Billy meludah darah di sudut bibirnya ke lantai, lalu menatap Dodi dengan senyum miring yang penuh keangkuhan. "Susi bukan bagian dari kita. Dia lemah, dan orang lemah hanya akan menjadi beban yang bisa membahayakan kita semua. Lagipula, Susi adalah orang yang pantas mati karena dia membantu Joe dan Arthur kabur dari jangkauan kita. Dia tahu terlalu banyak hal, hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh orang luar, dan hal yang sudah terlalu banyak diketahui oleh seseorang itu sangat berbahaya dan membuat dia tidak bisa dibiarkan hidup. Apalagi dia ternyata memilih memihak kepada musuh kita sendiri — itu sudah cukup menjadi alasan yang jelas mengapa dia harus dihilangkan."

Mendengar itu, Rey maju selangkah lagi, tangannya mengepal erat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Suaranya meninggi penuh kemarahan yang tak lagi bisa ditahan.

"Bagaimanapun juga, wanita itu adalah mama gue! Dan loe tidak berhak memutuskan hidup dan mati seseorang sendirian tanpa bertanya pada siapa pun! Loe tidak berhak mengambil orang yang gue sayangi hanya karena loe menganggap dia lemah atau tahu terlalu banyak! Loe pikir loe siapa? Penguasa dunia? Yang berhak menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati?"

Suara Rey bergema di seluruh ruangan yang luas itu, namun Billy hanya mengangkat bahu dengan santai, seakan kemarahan Rey hanyalah angin lalu yang tidak berarti apa-apa baginya. Sikap dingin dan tidak peduli itu justru membuat amarah Rey semakin membara, seakan api yang disiram minyak semakin besar dan tak terkendali.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar dengan kasar. William masuk dengan langkah tegas dan wajah yang tampak tidak senang. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan, menekan suasana yang sudah panas menjadi jauh lebih berat dan menegangkan.

"Cukup! Tidak ada seorang pun yang boleh memarahi Billy atas apa yang dia lakukan!" bentaknya dengan mata yang menyala tajam menatap mereka berdua. Langkahnya mantap dan berwibawa, seakan setiap langkah yang diambilnya adalah perintah yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Ia berdiri di antara Dodi dan Billy, melindungi putranya sekaligus menegaskan kekuasaannya di tempat itu.

Dodi menatap William dengan pandangan yang tak kalah tegas. "Kita sudah sepakat sejak awal, William. Tidak ada pemimpin di antara kita. Kita setara. Sejak kapan kau berhak mengatur hidup orang lain dan membuat keputusan besar tanpa memberi tahuku terlebih dahulu? Susi adalah istriku, wanita yang telah menemani gue selama bertahun-tahun, dan kau membiarkan anakmu menghilangkannya begitu saja tanpa bicara dengan gue sedikit pun!"

William tersenyum dingin, senyum yang tidak menyentuh matanya sama sekali. Matanya tetap tajam dan dingin, seakan melihat hal yang tidak penting sama sekali. Ia melangkah mendekat sambil menatap lurus ke mata Dodi, berusaha menekan lawan bicaranya dengan tatapan saja.

"Dengar baik-baik, Dodi. Susi pantas mati karena dia dengan sengaja membantu anak Kevin dan anak Steven melarikan diri dari jangkauan kita. Dia membela musuh kita sendiri, dan orang yang melindungi musuh tidak pantas hidup di antara kita. Kita bertahan dan mengembangkan bisnis ini bukan dalam satu atau dua hari saja. Kita telah membangunnya selama bertahun-tahun dengan susah payah, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan kita, termasuk siapa pun yang berkhianat atau membantu musuh — tidak peduli siapa dia, tidak peduli seberapa dekat hubungan kita dengannya."

Dodi tertegun sejenak, namun segera menambahkan dengan nada yang masih menantang. "Tapi seharusnya kita berdiskusi dulu sebelum bertindak sejauh ini! Kita rekan kerja, bukan bawahanmu yang bisa kau perintah sesuka hati tanpa mendengar pendapat orang lain!"

William tersenyum sinis, lalu menunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk seakan mengingatkan sesuatu yang seharusnya sudah mereka pahami sejak awal. "Gunakan otakmu, Dodi. Segala sesuatu yang berbahaya harus disingkirkan sebelum ia tumbuh menjadi bencana besar. Susi tahu terlalu banyak hal, hal-hal yang hanya boleh diketahui oleh orang-orang kita saja, dan hal yang sudah terlalu banyak diketahui oleh orang lain itu sangat berbahaya dan membuat dia tidak bisa dibiarkan hidup. Apalagi dia ternyata membantu mereka kabur — itu sudah cukup menjadi alasan yang jelas. Kalau kita menunggu terlalu lama, menunggu untuk berdiskusi dan berdebat, justru merekalah yang akan menemukan cara untuk menghancurkan kita lebih dulu. Di dunia ini tidak ada tempat untuk orang yang ragu-ragu dan terlalu berperasaan."

Ia berhenti sejenak, menatap Dodi dengan tatapan yang tajam dan mengancam, lalu menambahkan dengan nada yang lebih menekan dan berat.

"Sekarang, Dodi, kau harus membereskan sisa masalah di rumah Susi. Pastikan jangan sampai ada pihak yang mencoba mencari tahu dan membongkarnya. Jangan sampai ada jejak yang tertinggal, jangan sampai ada pertanyaan yang muncul dari orang luar. Semua harus terlihat seperti biasa, seakan tidak ada apa-apa yang terjadi. Jika ada yang mulai curiga atau bertanya terlalu banyak, kau yang harus menanganinya — dan kau tahu apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi."

Dodi hendak membantah, kata-kata penolakan sudah berada di ujung lidahnya, namun William segera memotong dengan nada peringatan yang keras dan tegas, tidak memberi ruang sedikit pun untuk perdebatan lebih lanjut.

"Kalau kau menolak melakukannya, maka semua bisnis kita, semua kekayaan yang kita bangun bersama selama bertahun-tahun ini akan terbongkar. Dan itu berarti kehancuran bagi kita semua — termasuk kau dan keluargamu sendiri. Pilihan ada di tanganmu, Dodi. Tetap bersama kami dan laksanakan apa yang harus dilakukan, atau ikut menghilang bersama Susi dan semua rahasia yang kau ketahui."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang sangat rendah namun penuh ancaman yang jelas dan nyata. Ruangan itu seakan menjadi lebih dingin, lebih sunyi, seakan seluruh udara telah tersedot keluar. Dodi terdiam, menunduk perlahan karena menyadari posisinya yang sebenarnya — bukan rekan setara, melainkan bagian dari jaringan besar yang dikendalikan sepenuhnya oleh William dan orang-orang berkuasa di belakangnya. Ia tidak berdaya, tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah itu.

Rey yang berdiri di samping mendengar perkataan ayahnya itu terdiam seketika. Ia menyadari bahwa Dodi terjebak dalam posisi yang sangat sulit — tidak bisa menolak perintah itu tanpa membahayakan seluruh rencana yang telah mereka susun. Di satu sisi ada kemarahan besar atas kematian ibunya, di sisi lain ada kenyataan pahit bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih kuat, lebih berkuasa, dan lebih kejam daripada yang dibayangkan siapa pun. Dengan perasaan campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa yang mendalam, Rey berteriak keras, lalu berbalik badan dan melangkah keluar meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Ia tidak sanggup berdiri di tempat yang sama lebih lama lagi, mendengar pembicaraan yang terasa seperti penghinaan terhadap nyawa ibunya sendiri.

Dodi menatap pintu yang baru saja ditutup Rey, lalu menatap William dengan pandangan yang berat dan penuh kepahitan. "Baiklah... masalah ini akan kita bahas lebih panjang lagi di lain waktu," ucapnya pelan namun penuh makna, seakan berjanji dalam hati bahwa hal ini tidak akan berakhir begitu saja. Suatu saat nanti, ketika posisi mereka berubah, ia akan menuntut penjelasan yang layak. Namun untuk sekarang, ia hanya bisa menelan kepahitan itu dan melangkah pergi. Dodi pun berbalik dan menyusul Rey keluar dari ruangan itu.

Tinggal William dan Billy di dalam ruangan yang besar itu. William segera berjalan mendekati putranya, wajahnya yang tadi keras dan mengancam berubah seketika menjadi lembut dan penuh perhatian. Ia mengusap pelan pipi Billy yang terhantam pukulan Rey tadi, seakan lupa bahwa putranya sendirilah yang memulai semua ini.

"Billy... apakah kau terluka?" tanyanya pelan dengan nada yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Billy menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Ayah. Cuma sedikit benturan saja. Rey hanya emosi karena ibunya, itu wajar. Aku mengerti perasaannya."

William tersenyum bangga mendengar jawaban putranya. "Kau memang anakku. Paham dan dewasa. Itu sebabnya Ayah percaya segala hal penting kepadamu. Kau tidak terbawa perasaan seperti orang lain. Tetaplah seperti ini."

 

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju meninggalkan pusat kota, Dodi menyetir dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rey duduk di kursi penumpang sambil menatap ke luar jendela tanpa berkata apa-apa. Matanya merah dan berkaca-kaca, namun ia menahan agar air matanya tidak jatuh. Di dalam dadanya, kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu, menciptakan rasa sakit yang luar biasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sepanjang perjalanan, pikirannya berputar dengan cepat, memikirkan cara untuk membalas perbuatan keji Billy yang telah mengambil nyawa ibunya yang baru saja ia temukan kembali. Perlahan, secercah ide muncul di benaknya, sebuah rencana yang perlahan mulai terbentuk. Sudut bibir Rey terangkat membentuk senyuman licik yang penuh dengan niat balas dendam. Ia berkata dalam hati: "Billy... loe pikir loe sudah menang? Tunggu saja. Gue akan memanfaatkan mama loe untuk menghancurkan semua yang loe miliki. Gue akan membuat loe merasakan apa yang gue rasakan hari ini — kehilangan orang yang paling loe sayangi."

 

Di tempat yang jauh dari keramaian kota, mobil jip yang dikendarai Joe dan Arthur melaju membelah jalan sepi yang mulai berdebu. Pemandangan di sekeliling mereka berubah dari gedung-gedung tinggi menjadi pepohonan rindang dan ladang luas yang terbentang sejauh mata memandang. Udara di sini terasa lebih segar dan bersih, jauh dari polusi dan kebisingan kota yang padat. Arthur menoleh ke arah Joe yang sedang menyetir dengan pandangan lurus ke depan. Wajah Joe tampak tenang namun matanya menyimpan keseriusan yang dalam, seakan memikirkan banyak hal sekaligus di dalam kepalanya.

"Hei, Jo... sebenarnya kita mau ke mana?" tanyanya penasaran. "Loe bilang mau menemui seseorang, tapi sampai sekarang gue belum tahu tujuannya di mana. Jalan ini makin lama makin sepi, bahkan rumah penduduk pun jarang terlihat. Loe yakin kita tidak salah jalan?"

Joe menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan di depannya. "Kita akan menuju ke bekas rumah ayah gue yang dulu terbakar habis. Kita akan mengambil beberapa keping emas yang tersimpan di sana sebagai biaya hidup dan perjalanan kita ke depannya. Jalan ini memang benar, Arthur. Semakin jauh kita dari kota, semakin baik. Di sinilah tempat sembunyi yang lama sekali tidak diketahui siapa pun."

Arthur mengangguk paham, lalu berpikir sejenak sambil menatap jalan yang berkelok di depan mereka. "Oke, emas itu urusan biaya. Tapi kalau begitu, bukankah kita butuh senjata? Seperti pistol, misalnya? Untuk berjaga-jaga kalau ada bahaya di jalan. Kita tidak tahu siapa yang mungkin mengikuti kita atau apa yang menanti di sana."

Joe menggeleng pelan. "Tidak bisa, Arthur. Membawa senjata api justru lebih berbahaya. Kalau ada pemeriksaan di tengah jalan dan ketahuan, kita yang akan ditangkap duluan sebelum sempat melakukan apa pun. Lebih baik kita berhati-hati dan waspada daripada mengandalkan senjata. Kewaspadaan dan keberanian jauh lebih berguna daripada senjata yang bisa berbalik mencelakai diri sendiri."

Arthur menghela napas panjang namun tetap setuju dengan jawaban Joe. "Baiklah, kalau begitu. Gue ikut keputusan loe. Loe yang lebih tahu keadaan sebenarnya." Ia terdiam sejenak, menatap pepohonan yang berlalu di samping jalan, lalu bertanya lagi, "Lalu... siapa sebenarnya orang yang hendak loe temui setelah mengambil emas itu? Orang yang loe percaya seperti keluarga sendiri?"

Joe menatap lurus ke depan, matanya menyala dengan tekad yang kuat setiap kali menyebutkan orang itu. "Dia adalah salah satu penjaga setia ayah gue dulu. Orang-orang menyebutnya dengan sebutan 'Tukang Jagal'. Dia adalah orang yang paling dipercaya ayah gue, bahkan sebelum gue lahir ke dunia ini. Dia tahu segalanya — tentang siapa yang mengkhianati keluarga gue, di mana mereka bersembunyi, dan bagaimana cara menjatuhkan mereka satu per satu."

Mendengar nama itu, bulu kuduk Arthur seketika merinding. Ia menatap Joe dengan wajah tidak percaya. "Tukang Jagal? Itu nama yang mengerikan. Gimana kalau dia malah tidak mengenali kita, lalu memotong kita, memasak, dan menyajikan kita di meja makan?" candanya dengan nada yang sedikit gemetar, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa berat dan menakutkan.

Joe tersenyum tipis, senyum yang penuh harapan namun juga penuh kesedihan. "Tenang saja. Ada satu sandi khusus yang hanya ayah gue, dia, dan Paman Anto yang tahu. Kalau kita menyebutkan sandi itu, dia akan percaya bahwa gue adalah anak Kevin — ayah gue. Sandi itu adalah janji kesetiaan yang diucapkan oleh ayah gue sendiri puluhan tahun yang lalu."

Joe kemudian terdiam sejenak, mengenang orang yang telah merawatnya sejak kecil. Wajahnya menjadi lebih lembut saat menyebut nama Paman Anto. "Sebelum meninggal, Paman Anto — yang merawat gue selama lima belas tahun — memberitahu lokasi persembunyian Tukang Jagal. Dia tinggal di sebuah rumah terpencil yang tersembunyi jauh di dalam hutan lebat. Setelah kematian ayah gue, banyak orang yang dulu setia pada ayah gue memilih bersembunyi dan menjauh, karena takut diburu oleh Jefri, William, dan Dodi. Mereka semua tahu kebenaran, namun tidak berani berbicara karena takut nyawanya terancam. Hanya Tukang Jagal yang tetap berdiri di tempatnya, menunggu kedatangan seseorang yang berani kembali untuk menuntut keadilan."

Arthur menyimak dengan saksama setiap kata yang diucapkan Joe, menyadari betapa beratnya beban yang dipikul oleh sahabatnya ini sendirian selama bertahun-tahun. "Kalau begitu... bukankah ayah gue, Steven, juga pasti mengenal si Tukang Jagal itu? Apakah Ayah pernah bercerita tentang dia kepada loe?"

Joe menggeleng perlahan. "Tidak. Hanya ayah gue, Tukang Jagal itu sendiri, dan Paman Anto yang mengetahuinya. Karena Paman Anto adalah supir pribadi ayah gue yang selalu ikut ke mana pun ayah gue pergi. Dia orang yang paling dipercaya. Ayah gue sengaja tidak memberitahu siapa pun — bahkan sahabat setianya sekalipun — agar jika sesuatu terjadi pada ayah gue, rahasia ini tetap aman dan bisa diteruskan kepada gue kelak. Itu adalah cara ayah gue melindungi semua orang yang dia sayangi."

Arthur menghela napas panjang sambil menatap jalan yang berkelok di depan mereka, merenungkan betapa dalamnya rencana yang telah disusun oleh ayah Joe sejak lama. "Semoga saja orang yang akan kita temui itu benar-benar orang yang bisa dipercaya, Jo. Semoga dia bukan musuh yang menyamar. Karena kalau sampai dia membocorkan keberadaan kita, kita tidak akan punya tempat lain untuk berlindung lagi."

Joe tersenyum tipis namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Kita akan tahu sebentar lagi, Arthur. Tetaplah bersiap. Apa pun yang terjadi di sana, gue harap loe tetap di belakang gue. Gue tidak ingin loe terluka karena urusan balas dendam gue ini."

Mobil jip itu terus melaju membelah jalan yang semakin sepi dan jauh dari pemukiman, menembus kabut tipis yang mulai turun menutupi jalan setapak yang berdebu. Langit di depan mereka perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan, menandakan hari mulai sore. Perjalanan mereka masih panjang, namun perjalanan menuju kebenaran dan balas dendam baru saja dimulai. Menuju masa lalu yang penuh rahasia dan bahaya yang perlahan mulai terungkap satu per satu, membawa serta harapan dan ancaman yang tak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!