Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cacing dan Tikus
Di sisi lain, Eve sesampainya dia di kamar, pelayan itu membantunya naik ke tempat tidur. Eve duduk bersandar pada kepala ranjang sementara pelayan tersebut merapikan pakaiannya yang sedikit kusut setelah belajar.
"Kalau Nona membutuhkan sesuatu selama berada di kamar, Nona bisa membunyikan lonceng ini," jelas pelayan itu sambil menunjuk sebuah tali kecil yang tergantung di sisi tempat tidur.
"Tali ini terhubung langsung dengan ruang kerja para pelayan. Kami akan segera datang jika Nona membutuhkannya," lanjut pelayan itu.
Eve menoleh kepada lonceng tersebut. Bentuknya sederhana dan mudah dijangkau dari tempat tidur.
"Kalau lapal?" tanyanya memastikan.
Pelayan itu tersenyum kecil. "Kalau Nona lapar juga boleh membunyikannya."
Eve mengangguk puas. "Otey."
Pelayan itu kemudian membungkuk sebelum meninggalkan kamar. Eve memperhatikan sampai pintu tertutup, lalu membiarkan tubuhnya kembali bersandar pada bantal.
Meskipun sejak pagi semua berjalan lancar. Namun, semakin dia mengingat keadaan Aveline di dalam novel, semakin jelas satu masalah yang mengganggunya.
Dia tidak tahu berapa banyak waktu yang dia punya.
Eve menatap langit-langit kamar dalam diam.
Kalau menunggu sampai dia benar-benar lancar membaca, pencarian informasi tentang Aveline mungkin akan memakan waktu cukup lama.
Dia bisa saja bertanya kepada para pelayan. Masalahnya, sejak pagi dia sudah melihat sendiri bagaimana sibuknya mereka. Ada yang mengurus dapur, membersihkan ruangan, membawa dokumen, menyiapkan pakaian, dan entah apa lagi. Kalau dia terus memanggil seseorang hanya untuk menanyakan hal-hal yang sebenarnya bisa dia cari sendiri, lama-lama dia justru akan menarik perhatian.
Eve mengusap dgunya, keningnya berkerut pelan.
'Kalau begitu, mari lanjut ke rencana lain?'
Eve turun dari tempat tidur.
Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Dia berjalan menuju pintu dan berdiri di depannya. Tangannya terangkat untuk meraih gagang pintu, tetapi dia berhenti ketika menyadari ukurannya jauh lebih tinggi daripada yang biasa dia gunakan.
'Sia*lan!"
Dia menarik napas, lalu berjinjit.
Tangannya akhirnya berhasil menggenggam gagang tersebut. Eve memutar perlahan. Pintu tidak langsung terbuka karena cukup berat, tetapi dia menggunakan kedua tangannya dan menariknya dengan seluruh tenaga yang dimiliki tubuh kecilnya.
Engsel pintu mengeluarkan suara pelan.
Sedikit demi sedikit celah terbuka.
Eve segera menyelinap keluar sebelum kehilangan tenaga. Dia berdiri di lorong dan menoleh ke kanan serta kiri, tidak ada pelayan yang terlihat di dekat kamarnya.
Eve menarik ujung gaunnya sedikit agar tidak tersandung, kemudian mulai berjalan.
'Kalau gue nunggu sampe Cedric ada di kediaman, pasti bakalan lama. Selain Cedric orang yang terhubung dengan cerita asli itu Lucien'
Eve hanya ingin melihat sendiri seperti apa rutinitas pria itu, siapa yang biasanya menemuinya, ruangan mana yang sering dia gunakan, dan orang-orang seperti apa yang berada di sekitarnya, mungkin saja dia bisa mengetahui timeline asli dari hal hal kecil. Dan kalau nanti ada sesuatu yang mencurigakan, setidaknya dia sudah punya gambaran awal.
Masalahnya, mansion ini terlalu besar.
Eve baru berjalan beberapa belokan ketika dia mulai kehilangan arah. Beberapa lorong terlihat hampir sama, sementara tangga yang dia lewati tadi pagi mulai membuatnya ragu apakah dia sedang menuju bagian yang benar atau justru semakin jauh dari tujuan.
Dia berhenti di persimpangan.
"...Duke di mana, cih?"
Tidak ada yang menjawab.
Eve mengembuskan napas kecil, lalu memilih salah satu lorong secara acak. Eve baru berjalan beberapa menit ketika langkahnya melambat. Dari ujung lorong terdengar suara dua orang pria sedang berbicara. Salah satunya langsung dia kenali.
'Lucien??'
Eve refleks berhenti. Dia tidak langsung mendekat. Suara mereka terdengar cukup jelas karena lorong mansion yang panjang membuat percakapan itu bergema samar.
"Yang Mulia, keluarga Kekaisaran sudah semakin tidak tahu batas," ujar seorang pria yang terdengar lebih tua, nada suaranya berat dan penuh kekesalan.
"Mereka bukan hanya ikut campur dalam urusan para bangsawan, tetapi juga mulai memperlakukan beberapa keluarga seolah kedudukan mereka berada di bawah keluarga Kekaisaran," lanjut pria tua itu.
Lucien menjawab dengan suara rendah. "Aku tahu."
"Dan Anda masih berniat diam?"
"Aku tidak mengatakan akan diam."
Eve yang tadinya hendak maju langsung membeku.
'Oh? jangan jangan?'
Dia mundur satu langkah.
'Obrolan politik?'
Eve menoleh ke arah ujung lorong. Dua orang itu masih belum terlihat karena terhalang belokan. Dia segera mencari tempat bersembunyi. Untungnya, tidak jauh dari tempatnya berdiri terdapat dinding yang menjorok sebelum belokan. Eve buru-buru berjalan ke sana, lalu menempelkan tubuh kecilnya di balik dinding.
Begitu suara langkah terdengar semakin dekat, Eve langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
'Jangan lewat sini. Jangan lewat sini.'
Dia menahan nnapas
Eve mengintip sedikit dari balik dinding. Dari celah kecil itu, dia bisa melihat sebagian pakaian Lucien. Pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung, sementara seorang pria berambut putih yang jauh lebih tua berdiri di hadapannya. Wajah pria tua itu terlihat serius.
"Anda terlalu sabar, Yang Mulia Duke," katanya. "Kalau terus dibiarkan, keluarga-keluarga bangsawan akan kehilangan satu per satu hak mereka."
Lucien tidak segera menjawab.
Pria tua itu menghela napas sebelum melanjutkan, "Saya bersumpah, kalau Anda berniat melakukan pemberontakan, saya akan mendukungnya."
Eve langsung membelalakkan mata.
'Pemberontakan??!?'
Tangannya semakin rapat menutup mulut. Dia bahkan tidak berani bergerak. Kalau ketahuan sekarang, dia tidak yakin bisa menjelaskan kenapa dirinya sedang menguping percakapan orang dewasa terlebih topiknya begitu sensitif.
Namun Lucien belum sempat menjawab. Kepalanya tiba-tiba sedikit miring, ada sesuatu yang mengganggunya.
Sejak beberapa saat lalu, dia merasakan keberadaan seseorang di dekat lorong itu. Awalnya hanya samar, tetapi semakin lama semakin jelas. Napas yang ditahan, gerakan kecil pakaian yang bergesekan dengan dinding, bahkan detak jantung yang berusaha disembunyikan.
Lucien mengenali keberadaan itu, anak kecil yang baru saja menjadi bagian dari keluarganya.
Dia tidak menunjukkan perubahan berarti pada wajahnya. Hanya sudut bibirnya yang perlahan terangkat.
Pria tua di hadapannya masih menunggu jawaban.
Lucien akhirnya tersenyum tipis kepadanya,"Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali."
Pria tua itu tampak sedikit bingung, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Dia mengangguk dan membungkuk sebelum berjalan melewati lorong.
Eve mendengar langkah kaki itu semakin dekat.
'Jangan kesini woi'
Dia menempelkan punggung lebih rapat ke dinding.
Langkah pria tua itu melewatinya tanpa berhenti. Eve mengembuskan napas lega, tetapi belum sempat merasa aman ketika suara langkah lain terdengar dari belakang yang membuat Eve semakin tegang.
Dia masih bersembunyi di balik dinding ketika bayangan sepatu hitam muncul di lantai. Bayangan itu berhenti tepat di sisi lain dinding.
Eve menelan ludah.
'Mati gue.'
Ketika Lucien berbelok, tatapannya langsung jatuh kepada sosok kecil yang berdiri kaku di balik dinding.
Eve tidak sempat berpura-pura pergi. Dia juga tidak sempat membuat alasan. Tubuh kecilnya hanya diam dengan kedua tangan masih menutupi mulut, sementara matanya menatap Lucien dengan gugup.
Tatapan merah pria itu terasa jauh lebih tajam dari biasanya. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Tidak lama Lucien kemudian menyipitkan mata sedikit, meskipun suaranya tetap dingin ketika akhirnya berbicara.
"Cacing yang kupungut rupanya sudah berubah menjadi tikus, ya?"
Bulu kuduk Eve langsung berdiri.
'Bangs*t.'
Dia perlahan menurunkan kedua tangannya, tanpa dia sadari, tangannya bergetar.