Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Setelah selesai makan di meja bawah bersama Robby, Narendra membawa sebaki piring berisi beberapa potong pizza yang masih hangat menuju ke lantai atas.
Ia tahu persis Tiyas sangat menyukai pizza—makanan favorit wanita itu yang selalu bisa mengembalikan senyumnya.
Ia mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka dan melihat Imelda yang masih telaten menyuapi Tiyas.
Mangkuk di tangan Imelda kini tinggal menyisakan beberapa sendok terakhir.
"Ayo habiskan buburnya. Setelah itu minum obat, dan sebagai hadiahnya, ini pizza," puji Narendra seraya tersenyum tipis dan meletakkan piring pizza tersebut di atas meja nakas di samping tempat tidur.
Aroma pizza yang gurih dan lezat seketika memenuhi ruangan.
Tiyas yang tadinya enggan menyantap bubur karena lidahnya terasa pahit, mendadak menoleh ke arah piring pizza itu.
Matanya berbinar kecil—sebuah rekaan binar kehidupan yang sudah beberapa hari ini hilang dari raut wajahnya yang pucat.
Imelda terkekeh pelan melihat reaksi sahabatnya. "Nah, lihat kan? Narendra tahu betul kuncinya buat bikin kamu mau nurut. Ayo, tinggal dua suap lagi, Tiyas."
Dengan motivasi kecil itu, Tiyas akhirnya menghabiskan sisa bubur di mangkuknya.
Imelda dengan sigap menyerahkan segelas air hangat beserta jajaran obat lambung dan pereda nyeri dari dokter UGD semalam.
Setelah Tiyas menelan obat-obatnya, Narendra mengambil sepotong pizza yang paling hangat, lalu menyerahkannya perlahan ke tangan Tiyas.
"Makan sedikit saja dulu untuk pengobat lidah pahitmu, Tiyas. Jangan terlalu banyak, perutmu belum siap sepenuhnya," bisik Narendra lembut seraya mengusap puncak kepala Tiyas dengan penuh kehangatan.
Tiyas menerima potongan pizza itu, menggigitnya perlahan, dan menatap Narendra serta Imelda bergantian.
Di tengah badai pengkhianatan yang menghancurkan hatinya, ia menyadari satu hal: ia tidak benar-benar sendirian.
Orang-orang tulus yang menyayanginya ada di sini, siap menguatkannya untuk menuntaskan pembalasan lima hari lagi.
Imelda yang sedang meletakkan gelas kosong di meja nakas menoleh ke arah Narendra.
"Naren, setelah kamu bertemu dengan Mia nanti apakah kamu akan langsung kembali ke Bali lagi?" tanya Imelda penuh rasa penasaran.
Narendra tidak langsung menjawab. Manik matanya bergulir perlahan, menatap wajah Tiyas yang kini sedang mengunyah gigitan kecil pizzanya.
Ada kilat ketegasan dan rasa perlindungan yang tak tergoyahkan di dalam tatapan pria itu.
"Aku akan di sini sampai perceraianku selesai," jawab Narendra mantap, suaranya tenang namun sarat akan kepastian.
Ia kemudian beralih menatap Imelda, lalu kembali mengunci pandangannya pada Tiyas.
"Aku tidak akan ke mana-mana sampai semua urusan hukum kita tuntas. Sampai hak-hak Tiyas kembali sepenuhnya dan Gio beserta Mia menerima konsekuensi atas apa yang sudah mereka perbuat," lanjut Narendra.
Tiyas tertegun, menghentikan kunyahannya sejenak.
Dada wanita itu berdesir hangat mendengar pernyataan Narendra.
Di saat orang yang pernah berjanji menemaninya seumur hidup justru memilih untuk menghancurkannya, Narendra—pria yang juga membawa luka yang sama—justru berdiri paling depan sebagai benteng pelindungnya.
Imelda menghembuskan napas lega dan mengangguk-angguk puas.
"Bagus kalau begitu, Naren. Dengan adanya kamu di sini, aku dan Robby jauh lebih tenang. Tiyas butuh sosok yang tegas untuk membentenginya dari kebusukan Gio."
"Aku siap pasang badan untuk Tiyas," puji Narendra singkat namun tegas.
"Sekarang, tugas utama Tiyas cuma satu: fokus pulih dalam empat hari ini."
Imelda merapikan kantong plastik bekas makanan di meja nakas, lalu berdiri dan menatap Tiyas serta Narendra bergantian.
"Tiyas, Naren, aku sama Robby pamit dulu ya," ujar Imelda.
"Aku harus kembali ke rumah makan. Tahu sendiri kan, kalau jam makan siang begini pegawai di dapur suka kewalahan kalau nggak ada yang memantau."
Robby melangkah mendekat ke sisi tempat tidur, mengukir senyum hangat untuk Tiyas.
"Cepat sembuh ya, Tiyas. Makan yang banyak dan nurut sama instruksi Naren. Kamu harus benar-benar fit biar siap mengeksekusi rencana kita."
Tiyas mengangguk pelan dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding semalam.
"Makasih banyak ya, Mel, Rob. Maaf jadi merepotkan kalian pagi-pagi begini."
"Jangan ngomong gitu ah, kayak sama siapa aja," sangkal Imelda cepat seraya mengusap lembut bahu Tiyas.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku atau Robby, ya."
Narendra mengantar Imelda dan Robby berjalan turun menaiki tangga menuju lantai bawah.
Di depan pintu utama, Robby menepuk bahu Narendra dengan mantap.
"Titip Tiyas ya, Ren. Kalau butuh bantuan fisik atau kendala apa pun, kabari aku saja."
"Pasti, Rob. Terima kasih banyak sudah menyempatkan datang," balas Narendra tulus.
Setelah mobil Imelda dan Robby melaju meninggalkan pelataran rumah, Narendra menutup pintu depan, menguncinya, lalu melangkah kembali ke atas untuk memastikan Tiyas beristirahat dengan tenang.
Narendra melangkah masuk kembali ke dalam kamar dan mendapati Tiyas masih bersandar di kepala ranjang dengan tatapan mata yang sudah jauh lebih segar.
"Mau tidur?" tanya Narendra lembut sambil mendekati tempat tidur.
Tiyas menggelengkan kepalanya pelan. "Belum mau, Naren. Kepala aku masih agak berputar kalau langsung dipakai tidur."
Narendra berpikir sejenak, mencari cara agar pikiran Tiyas bisa teralih dari segala masalah yang membebani dadanya.
Sebuah ide sederhana namun menghangatkan terlintas di kepalanya.
"Bagaimana kalau kita menonton kartun Tom and Jerry?" tawar Narendra seraya mengulas senyum tipis.
Mendengar judul kartun favorit masa kecilnya disebut, mata Tiyas seketika berbinar. Ia menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Narendra meraih remote televisi yang terpasang di dinding depan peraduan, lalu menyalakan tayangan komedi animasi legendaris tersebut.
Setelah itu, Narendra kembali naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Tiyas dengan guling tebal yang tetap terbentang kokoh di antara mereka sebagai batas pertahanan moral.
Layar televisi mulai menampilkan aksi kejar-kejaran konyol antara Tom si kucing dan Jerry si tikus mungil.
Strategi-strategi konyol Tom yang selalu berujung sial dan membalas dirinya sendiri memecah keheningan kamar.
Tak butuh waktu lama, suara tawa Tiyas pecah. Narendra yang berada di sisinya pun tak sanggup menahan tawa melihat tingkah konyol di layar.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersama, melepaskan seluruh ketegangan, duka, dan kepedihan yang menyelimuti hari-hari mereka sebelumnya.
Di dalam kamar itu, untuk sejenak, tidak ada lagi pengkhianatan Gio dan Mia—yang ada hanyalah kehangatan sederhana di antara dua jiwa yang saling menguatkan.
Tawa Tiyas perlahan-lahan mereda, digantikan oleh hela napas yang teratur dan halus.
Rasa lelah yang menumpuk serta efek obat yang diminumnya mulai mengambil alih kesadarannya kembali.
Tanpa disadari, kepalanya meluncur pelan dan tiba-tiba bersandar di bahu lebar Narendra.
Narendra tersentak kecil, tubuhnya membeku seketika saat merasakan sentuhan lembut di bahunya.
Ia menoleh perlahan dan melihat Tiyas yang ternyata sudah tertidur pulas.
Wajah wanita itu kini terlihat sangat damai, bebas dari guratan rasa sakit dan beban berat yang selama ini menghimpitnya.
Suara tayangan Tom and Jerry di layar televisi mendadak terasa menjadi musik latar yang samar.
Narendra mengukir senyum tipis, begitu tenang dan penuh rasa iba.
Pria itu mengulurkan tangannya yang lain dengan teramat pelan, meraih remote di meja nakas lalu mengecilkan volume suara televisi agar tidak mengganggu lelapnya Tiyas.
Dengan kehati-hatian ekstra agar tidak membangunkan sang pemilik rumah, Narendra membiarkan bahunya tetap menjadi sandaran yang kokoh bagi Tiyas.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘