Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Lampu-lampu gantung kristal memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat di dalam ruang makan privat sebuah restoran mewah berkonsep fine dining di pusat kota. Alunan musik instrumental mengalir lembut, menciptakan suasana yang begitu tenang, elegan, dan penuh kehangatan.
Di tengah ruangan, sebuah meja bundar berlapis taplak putih bersih tersaji indah dengan set perlengkapan makan kristal, barisan hidangan steak kualitas terbaik, hidangan laut segar, serta cangkir-cangkir minuman hangat yang menggugah selera.
Malam ini adalah malam yang sangat istimewa. Tidak ada lagi raut kesedihan, tidak ada lagi beban berat yang menekan dada, dan tidak ada lagi bayang-bayang kebohongan yang membayangi keluarga ini. Husna duduk di kursi utama dengan senyuman paling anggun yang mengembang di wajah cantiknya. Ia mengenakan gaun malam kasual berwarna biru lembut yang makin mempertegas aura ketenangan, kecantikan, dan kemandirian seorang wanita yang baru saja memenangkan kembali hak atas kehidupannya.
Di sisi kanan dan kirinya, duduk dua putra kembar yang menjadi kebanggaan dan pelindung utamanya: Devan dan Deka. Kedua pemuda bertubuh tegap itu tampil rapi dengan kemeja kasual, menatap sang bunda dengan pandangan penuh rasa hormat, kasih sayang, dan kebanggaan yang tak terkira.
"Nah, ini dia hidangan penutupnya sudah datang!" seru Deka penuh semangat saat pelayan restoran meletakkan piring-piring makanan pencuci mulut berhiaskan es krim dan buah-buahan segar di atas meja.
Deka mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi, matanya berbinar ceria seraya menatap bunda dan saudaranya.
"Oke, sebelum kita makan hidangan penutup yang super enak ini, Deka mau memimpin toast dulu!" ujar Deka riang. "Mari kita angkat gelas untuk perayaan kebebasan Bunda cantik dari Si Tua penipu dan pelakornya. Cheers untuk kehidupan baru Bunda yang jauh lebih bahagia, tenang dan penuh kemewahan tanpa benalu!"
Husna dan Devan terkekeh pelan melihat tingkah ceria Deka. Denting halus dari gelas-gelas kristal yang bersentuhan bergema lembut di dalam ruangan, diikuti tawa bahagia yang menyejukkan batin.
"Terima kasih ya, Deka, Devan..." tutur Husna lembut, menatap kedua anaknya bergantian dengan mata yang berkaca-kaca oleh rasa haru. "Makan malam mewah malam ini benar-benar bikin hati Bunda rasanya hangat sekali."
Devan memotong daging steak-nya dengan tenang, lalu meletakkan garpunya seraya menatap wajah ibunya dengan lembut. Tatapan Devan yang dewasa dan penuh perhatian selalu berhasil menenangkan hati Husna.
"Gimana perasaan Bunda saat ini?" tanya Devan membuka percakapan, suaranya terdengar begitu hangat dan penuh kepedulian. "Gimana keadaan batin Bunda setelah semua proses hukum, PHK Si Tua dan pendaftaran gugatan cerai di Pengadilan Agama tadi pagi resmi berjalan?"
Deka ikut menumpukan kedua sikunya di atas meja, mengangguk setuju dengan pertanyaan kembarannya. "Iya, Bun! Deka juga mau tahu banget! Gimana rasa dadanya Bunda sekarang? Apakah masih ada rasa ganjel, sedih, atau ada rasa trauma yang tersisa?"
Husna menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang empuk. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Sebuah senyuman tulus senyuman yang datang murni dari kedalaman jiwanya terukir indah di bibirnya.
"Keadaan Bunda saat ini... benar-benar sangat lega, Nak. Sangat, sangat plong," jawab Husna dengan suara yang begitu tenang dan mantap.
Ia memegang dada kirinya seraya melanjutkan, "Kalau dulu, tiap kali Bunda bangun pagi, dada Bunda rasanya sesak. Ada ketakutan, ada kebingungan, dan ada rasa sakit hati karena terus-terusan dibohongi dan dituntut sama seseorang yang tidak tahu cara menghargai. Tapi hari ini, saat Bunda duduk di kantor dan tahu kalau surat gugatan cerai sudah terdaftar dan dia sudah di-PHK... Bunda merasa seolah ada beban ribuan ton yang baru saja diangkat dari atas pundak Bunda."
Devan tersenyum tipis mendengar penuturan ibunya. "Jadi, sama sekali tidak ada rasa menyesal atau kasihan sama Si Tua, Bun?"
Husna menggelengkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun. "Tidak ada, Devan. Sama sekali tidak ada. Kasihan itu hanya layak diberikan kepada orang tulus yang tertimpa musibah, bukan kepada orang yang secara sadar memilih untuk mengkhianati, membodohi, dan merusak rumah tangganya sendiri demi wanita lain dan keserakahan."
"Mantap! Itu baru Bundanya Deka!" seru Deka seraya menepuk tangannya girang. "Bunda pengusaha sukses yang tegas, Deka bangga banget sama Bunda! Biarkan Si Tua merasakan sendiri gimana dinginnya tidur di atas kardus swalayan sama Tante Salma."
Husna terkekeh geli melihat tanggapan anak bungsunya itu. "Kamu ini, Deka, kalau bicara selalu saja ada kardusnya."
"Loh, kan emang kenyataan, Bun!" sahut Deka santai seraya menyuap es krimnya. "Informasi dari anak buah kita di lapangan bilang, mereka berdua itu benar-benar menginap di swalayan setelah diusir dari rumah utama dan mobil dinasnya disita satpam kantor pusat tadi pagi. Pas banget surat panggilan dari pengadilan sampai di tangan mereka siang tadi. Bayangin deh gimana gosongnya muka Si Tua sama Tante Salma."
Devan yang mendengarkan cerita Deka hanya menyunggingkan senyum dingin. Bagi Devan, kehancuran ayahnya adalah konsekuensi logis dari tindakan jahat yang ditanamnya sendiri selama berbulan-bulan.
"Devan cuma mau memastikan Bunda benar-benar aman dan nyaman," kata Devan kembali fokus menatap ibunya. "Mulai hari ini, Bunda tidak perlu memikirkan apa pun lagi soal urusan Si Tua maupun utang-utangnya. Semua urusan sidang perceraian, pembagian hak asuh, dan perlindungan aset sepenuhnya sudah ditangani oleh tim pengacara terbaik kita. Bunda fokus saja mengurus bisnis, menikmati hidup, dan istirahat yang cukup."
Husna menatap kedua putra kembarnya dengan pandangan penuh rasa syukur yang mendalam. Ia teringat betapa terpuruknya ia dulu saat pertama kali mengendus pengkhianatan Bian. Namun keberadaan Devan dan Deka dua pria muda yang berdiri paling depan menjadi benteng pelindung baginya telah memberikan keberanian luar biasa bagi Husna untuk mengambil tindakan tegas dan bermartabat.
"Bunda beruntung sekali punya kalian berdua..." bisik Husna dengan mata membasah oleh air mata kebahagiaan. "Dulu Bunda sempat berpikir kalau hidup Bunda sudah hancur karena pernikahan ini. Tapi Bunda salah. Kebahagiaan Bunda yang sejati itu adalah kalian. Melihat kalian bertumbuh jadi pria yang jujur, tegas, dan sayang sama Bunda... itu sudah lebih dari cukup untuk menggantikan belasan tahun masa-masa pahit kemarin."
Devan mengulurkan tangannya di atas meja, menggegam jemari ibunya dengan hangat dan erat. "Kami yang beruntung punya Bunda yang kuat. Mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakiti atau memanfaatkan kebaikan Bunda lagi. Devan dan Deka yang akan jadi garda terdepan buat jaga Bunda."
"Betul banget kata Devan, Bun!" timpal Deka mantap, lalu ikut menumpuk tangannya di atas tangan ibu dan saudaranya. "Mulai besok, Bunda tinggal tunjuk mau liburan ke mana! Mau ke Bali, ke Korea, atau jalan-jalan keliling Eropa? Bilang saja sama Deka dan Devan, nanti kita atur semuanya! Yang penting Bunda selalu tersenyum dan bahagia."
Tawa bahagia kembali pecah di meja makan itu. Rasa hangat dan kasih sayang yang tulus memenuhi ruangan privat tersebut, mengusir jauh-jauh sisa-sisa kegelapan masa lalu.
Sambil menikmati hidangan penutup yang manis, Husna menatap ke luar jendela kaca restoran. Di bawah sana, lampu-lampu kota bertaburan indah bagaikan lautan bintang. Husna menyunggingkan senyum paling anggun dan damai dari bibirnya. Malam ini, di antara kehangatan cinta dari Devan dan Deka, Husna tahu bahwa babak penderitaannya telah usai sepenuhnya. Sebuah lembaran baru kehidupan yang terhormat, cerah, dan penuh dengan kebebasan sejati telah resmi dimulai.
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
bagus dan banyak pelajaran ny
yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,
terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
bukan
kartu hitam black card
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
lanjuut kak ,,
akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,