NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017

Yang Kamu Takutkan

“Kalau itu yang kamu takutkan, berarti kamu memang nggak takut kehilangan aku.”

Tiara menatap Bram dengan napas tersengal. “Gampang buat lo ngomong. Laki-laki cerai disebut duda keren. Perempuan hampir tiga puluh kayak gue jadi janda nggak laku.”

“Kamu bukan barang.”

“Orang-orang tetap menilai!”

“Biarkan.”

“Lo bisa bilang begitu karena keluarga lo punya nama. Kalau kita cerai, orang tua gue bisa bunuh gue. Teman-teman gue bakal tanya gue kurang apa sampai suami pergi.”

Bram berdiri di depan Tiara. “Semua yang kamu sebut adalah akibat perceraian. Nggak ada satu pun tentang kehilangan aku.”

Tiara menggeleng, tetapi air matanya terus jatuh.

“Kamu takut malu, takut jadi bahan omongan, takut kehilangan fasilitas,” lanjut Bram. “Kamu nggak takut bangun dan aku nggak ada.”

“Tentu gue takut.”

“Kenapa?”

Tiara membuka mulut. Tidak ada jawaban yang keluar.

Bram menunggu. Selama bertahun-tahun, Tiara mengenal merek jamnya, harga mobilnya, jadwal acara keluarga, dan jumlah uang yang masuk ke rekening rumah tangga. Ia tidak tahu kapan Bram sulit tidur, kenapa kaki kanannya kadang sakit, atau makanan apa yang ia cari saat lelah.

Laras tahu hanya dalam beberapa hari.

“Yang kamu takutin itu efek buruk perceraian, bukan kehilangan aku,” kata Bram. “Kamu aja nggak cinta aku. Ngapain nahan-nahan?”

Tiara jatuh duduk di sofa. “Karena ini hidup gue.”

“Gue menikah sama pilihan orang tua. Semua orang bilang gue beruntung dapat anak Adiwangsa. Di rumah sakit, teman-teman selalu bilang hidup gue sempurna.” Tiara meremas ujung bajunya. “Kalau sekarang selesai, mereka bakal tahu semuanya bohong.”

“Kita memang sudah berbohong terlalu lama.”

“Mama gue akan bilang gue gagal menjaga suami. Papa gue akan menyalahkan pekerjaan gue. Keluarga besar akan bahas ini di grup berbulan-bulan.”

“Aku akan bilang keputusan cerai datang dariku.”

“Itu malah lebih memalukan. Berarti gue ditinggal.”

Bram mengembuskan napas. “Kamu punya pekerjaan, punya bagian harta bersama, dan bisa berdiri sendiri. Kamu bukan perempuan gagal hanya karena pernikahan selesai.”

“Lo nggak mengerti jadi perempuan.”

“Benar. Tapi aku mengerti kita nggak boleh mempertahankan kebohongan cuma karena orang lain suka bentuknya.”

“Bukan. Ini bentuk hidup yang kamu tunjukkan ke orang lain.”

“Apa bedanya?”

“Kalau kamu masih harus tanya, aku nggak bisa menjelaskannya.”

Bram masuk kamar dan mengeluarkan satu tas. Ia hanya mengambil pakaian beberapa hari.

Tiara berdiri di pintu. “Lo mau ke perempuan itu?”

“Aku keluar supaya kita nggak saling menyakiti malam ini.”

“Bram, jangan pergi.”

Ia berhenti, tetapi tidak berbalik. “Besok pengacaraku hubungi kamu. Pilih pengacara sendiri. Jangan tanda tangan apa pun sebelum kamu paham.”

“Gue nggak akan tanda tangan.”

“Itu hakmu.”

Pintu apartemen tertutup. Tiara berdiri sendirian di ruang yang selama ini ia kira cukup untuk disebut rumah.

Beberapa hari kemudian, Laras kembali ke Jakarta dengan kereta. Kali ini ia tidak menuju apartemen Tiara.

Ia turun di Depok, menitipkan koper di kantor Bu Ratna, lalu melihat tiga tempat tinggal yang sudah disimpan di ponselnya. Tempat pertama terlalu lembap. Tempat kedua meminta pembayaran setahun di muka. Tempat ketiga berupa unit kecil di rumah kos khusus perempuan, memiliki kamar mandi sendiri, meja kerja, dan jendela yang menghadap gang.

“Kalau tamu laki-laki hanya boleh sampai ruang depan,” jelas ibu pengelola.

“Nggih, Bu. Saya paham.”

“Kerja di mana?”

“Penerjemah. Untuk sekarang banyak kerja dari rumah.”

Ibu pengelola meminta kartu identitas, menjelaskan jam gerbang, listrik prabayar, dapur bersama, serta biaya air bulanan. Laras mencatat semuanya di ponsel. Aturannya banyak, tetapi setiap angka disebut di depan. Tidak ada tagihan mendadak yang diselipkan bersama rasa bersalah.

“Kalau cocok, kontrak minimal tiga bulan,” kata perempuan itu. “Kalau keluar, kabari sebulan sebelumnya.”

Laras melihat jendela kecil, meja yang cukup untuk laptop, dan kunci yang tergantung di tangan ibu tersebut. “Saya ambil.”

“Nggak mau pikir dulu?”

“Saya sudah terlalu lama berpikir sebelum memilih apa pun.”

Laras membayar deposit dan tiga bulan sewa dari uang yang tersisa di rekening. Untuk pertama kalinya, kunci yang diberikan pemilik tempat tinggal benar-benar berada di tangannya.

Kamarnya tidak besar. Kasur menempel ke dinding, lemari hanya dua pintu, dan pendingin ruangan berbunyi kasar. Namun ketika Laras meletakkan foto rumah contoh di atas meja, ruangan itu terasa lebih dekat pada impiannya daripada apartemen mewah Tiara.

Laras mengunci pintu dari dalam, membukanya, lalu mengunci lagi. Tidak ada Wahyu yang akan pulang meminta uang. Tidak ada Tiara yang bisa masuk tanpa mengetuk. Tidak ada Bram yang berhak menentukan kapan ia harus tinggal atau pergi.

Ia duduk di lantai dan makan nasi bungkus dengan sendok plastik. Di sampingnya, koper belum dibuka dan dinding masih kosong. Laras tersenyum sampai matanya basah.

Rumah kecil itu belum indah, tetapi untuk pertama kalinya ruang di sekelilingnya tidak menuntut apa pun.

Ia menolak bantuan saat Bu Ratna menawarkan mengantar barang. Laras memesan rak lipat, seprai, dan alat masak sederhana. Tidak ada yang bermerek. Semua dipilih berdasarkan fungsi dan dibayar dari uang yang ia tetapkan sebagai modal hidup sampai mendapat pekerjaan tetap.

Keesokan harinya, Laras kembali ke UI.

“Kamu sudah yakin tinggal di Jakarta?” tanya Bu Ratna.

“Sudah, Bu.”

“Bagaimana dengan suamimu?”

Laras tidak berbohong. “Saya sedang mengurus perpisahan.”

Bu Ratna tidak meminta detail. Ia hanya menggeser laptop agar Laras bisa melihat daftar biro penerjemahan.

“Kalau begitu, kita fokus pada sesuatu yang bisa kamu bangun.”

Mereka memperbarui CV, menambahkan proyek terbaru, dan mengirim lamaran ke beberapa perusahaan bahasa. Laras juga menyelesaikan terjemahan wawancara sebelum tenggat. Setiap kali memilih satu kata yang tepat, pikirannya terasa sedikit lebih teratur.

Bu Ratna meminta Laras membaca satu paragraf hasil terjemahan keras-keras. Setelah itu mereka memperbaiki ritme dan istilah sampai bunyinya alami.

“Ingat,” kata Bu Ratna, “perusahaan akan membayar kemampuanmu, bukan kasihan pada keadaanmu.”

Laras menyimpan versi akhir ke folder kerja. Kalimat itu ia bawa pulang bersama kunci kamar kos.

Ponsel Laras terus menerima pesan Bram.

`Aku sudah bicara sama Tiara.`

`Aku keluar dari apartemen.`

`Kamu tinggal di mana?`

Laras membaca semuanya tanpa memberi alamat. Ia belum siap membiarkan Bram masuk ke tempat pertama yang berhasil ia miliki sendiri.

Malam ketiga di kamar kos, Laras memasak mi di panci kecil. Hujan mengetuk jendela. Ia bekerja di meja sampai ponselnya bergetar.

Pesan itu bukan dari Bram.

Wahyu mengirim foto jadwal konsultasi dan satu kalimat.

Jari Laras berhenti di atas layar yang basah oleh cahaya.

`Kapan kamu bisa ke Pengadilan Agama?`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!