Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 saling memanfaatkan
“Tidak usah memikirkan cicilan mobilku,” sahut Sonia tenang, menyunggingkan senyum mengejek yang membuat darah Mila makin mendidih.
“Nak, kenapa kamu nekat ambil mobil baru? Nanti siapa yang bayar cicilannya?” tanya Mirna tak kalah kaget.
“Sonia, kita ini bisa berbagi mobil. Kamu jangan membebani aku lagi,” timpal Adam seraya memijit pelipisnya.
Alya ikut menimpalinya dengan suara lembut dibuat-buat, “Iya, Sonia... kasihan Mas Adam, sudah banyak sekali beban yang dia tanggung.”
Sonia menatap Alya dan Adam bergantian. Tatapan itu menyiratkan kepastian bahwa Alya benar-benar wanita bermuka dua yang tidak bisa diandalkan, dan Adam sudah sepenuhnya hilang kendali di bawah pengaruh istrinya.
“Aku membeli mobil ini secara tunai. Cash. Tidak mencicil,” jawab Sonia datar.
“Ini, Nyonya, kunci mobilnya,” panggil seorang petugas pengiriman seraya menyodorkan kunci Honda BR-V gres yang terparkir rapi di pinggir jalan depan rumah, sebab garasi rumah Mirna hanya cukup untuk satu kendaraan.
“Oh, terima kasih banyak,” ucap Sonia halus, merogoh tasnya dan memberikan uang tip sebesar 200 ribu rupiah kepada petugas tersebut.
Wajah petugas itu seketika berbinar terang. “Terima kasih banyak, Nyonya! Semoga rezekinya makin lancar!”
Mirna yang masih terperanjat memanggil petugas itu sebelum ia pergi. “Pak! Apa benar mobil ini dibeli lunas oleh anak saya?”
“Iya, Bu. Mobil ini dibeli secara cash,” jelas petugas itu ramah. “Proses pengirimannya agak sedikit memakan waktu karena ini tipe model terbaru dengan pembaruan teknologi keselamatan.”
Seluruh anggota keluarga yang berdiri di halaman mematung. Tatapan mereka membeku pada Sonia. Pembelian cash sebuah mobil baru bernilai ratusan juta adalah hal yang sama sekali tak masuk di akal mereka saat ini.
“Sonia... kamu dapat uang dari mana, Nak?” tanya Mirna penasaran setengah tak percaya.
“Di dalam aku ceritakan,” jawab Sonia dingin.
Angin malam berhembus pelan, menerpa dan mengibaskan rambut panjang Sonia. Dengan dagu terangkat, Sonia melangkah masuk ke dalam rumah, memancarkan aura keangkuhan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Adam mengekor di belakang dengan raut cemas. “Sonia, kamu tidak melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan mobil ini, kan?”
Sonia menghentikan langkahnya di ruang tamu, lalu berbalik seraya menatap Adam tajam. “Aku ini dikuliahkan tinggi-tinggi supaya pintar, Mas. Bukan untuk jadi penjahat.”
“Kamu... kamu tidak menjual diri, kan?” cecar Adam penuh selidik.
“Adam!” bentak Mirna keras, lalu mengalihkan pandangannya pada Sonia dengan cemas. “Nak... katakan pada Ibu, kamu dapat uang dari mana?”
Sonia mengukir senyum tipis. “Aku ini kan anak Ibu yang paling pandai. Tentu saja aku bekerja, Bu.”
“Bekerja di mana sampai-sampai baru mulai bisa langsung beli mobil baru cash?!” sela Alya. Niatnya ingin memasang nada sopan, namun getaran merendahkan di suaranya tak mampu disembunyikan.
“Aku ini anak cerdas. Bahkan sebelum resmi lulus kuliah pun aku sudah bisa bekerja dengan gaji besar. Itu semua berkat kemampuanku sendiri,” balas Sonia percaya diri.
Alya terkekeh sinis. “Mana ada perusahaan yang langsung memberikan gaji fantastis sampai bisa beli mobil cash untuk lulusan baru?”
“Kenyataannya aku bisa,” potong Sonia tajam, menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Makanya, jangan samakan semua orang seperti seseorang yang sekolah tinggi sampai ke luar negeri, tapi gajinya biasa-biasa saja.”
Alya tersentak, wajahnya merah padam.
“Sonia, jaga sopan santunmu!” tegur Adam tegas. “Sekarang jelaskan saja, di mana kamu bekerja?”
Sonia bersedekap dada. “Aku bekerja di Bank Bintang Timur. Aku berhasil menggaet nasabah prioritas, dan mobil itu adalah apresiasi bonus dari nasabah prioritas tersebut. Aku berhasil mencairkan fasilitas pinjaman sebesar 100 miliar rupiah, jadi aku dapat komisi besar dari pihak bank dan nasabah.”
Sonia melirik Alya. “East Star Bank... E.S. Bank. Kamu tahu, kan?”
Alya mengernyitkan dahi. Sebenarnya ia masih sangat kesal pada Sonia, namun ia menahannya demi menjaga citra di depan Adam. “Bank apa itu? Aku belum pernah dengar.”
Sonia terkekeh meremehkan. “Sekolah tinggi-tinggi tapi tidak tahu bank internasional.”
Adam mendadak membelalakkan mata. “E.S. Bank?! Bukannya itu bank eksklusif kalangan atas asal Jepang?”
“Nah, ternyata Mas Adam lumayan pintar,” sindir Sonia.
“E.S. Bank... bank internasional berkelas tinggi...” gumam Alya yang kini gelisah. “Bagaimana mungkin kamu bisa diterima bekerja di sana?”
“Kamu saja yang terlalu meremehkan aku,” ucap Sonia dingin. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah id card karyawan berlogo E.S. Bank dengan tulisan jabatan: Marketing Manager.
Mirna yang melihat kartu identitas itu langsung menggenggam tangan Sonia dengan mata berbinar bangga. “Wah... kamu benar-benar jadi karyawan bank, Nak?”
“Iya, Bu. Aku tidak akan pernah mempermalukan Ibu lagi,” sahut Sonia lembut pada Mirna.
“Wah, hebat sekali kamu, Sonia!” timpal Mila yang mendadak antusias. Sikap merendahkan yang tadi ia tunjukkan sirnah seketika, berganti dengan senyuman manis yang penuh puji-pujian—sebuah perubahan drastis khas manusia opportunis.
“Iya, dan aku langsung diangkat jadi Marketing Manager karena pencapaian kredibilitasku,” pamer Sonia.
“Anak Ibu memang paling pintar!” puji Mirna mengusap bahu Sonia.
Mila mendekat dengan mata berbinar. “Sonia... kalau begitu, apa aku bisa pinjam uang di bankmu itu?”
Adam yang mendengar hal itu langsung memotong cepat, “Nggak mungkin, Mbak Mila! Bank itu nasabahnya rata-rata pemilik perusahaan besar!”
“Benar, Mbak Mila. Toko sembako milikmu rasanya tidak memenuhi kualifikasi untuk meminjam di E.S. Bank,” tambah Alya sok tahu.
Sonia menyunggingkan senyum misterius. “Secara prosedur umum memang tidak bisa... tapi kalau aku yang memberikan rekomendasi khusus sebagai manajer, tentu beda cerita.”
Adam menghembuskan napas jengkel. “Mbak Mila! Kamu kan sudah menggadaikan rumah ini! Sekarang kamu mau menggadaikan apa lagi?!”
Mila terdiam sejenak, tampak kebingungan. “Sonia... apa harus pakai jaminan sertifikat?”
“Ya haruslah, Mbak,” jawab Sonia santai. “Dan asal Mbak tahu, batas minimal pinjaman di tempatku itu 400 juta rupiah.”
“Apa?! 400 juta minimal?!” mata Mila membelalak tak percaya, membayangkan deretan angka fantastis itu.
“Iya. Kalau sertifikat rumah biasa mungkin taksirannya cuma 200 juta, tapi karena aku manajernya, aku bisa up limitnya sampai 500 juta rupiah,” jelas Sonia dengan nada yang sangat meyakinkan.
Membayangkan uang tunai 500 juta rupiah berada di tangannya membuat Mila tersenyum-senyum sendiri. Otaknya mendadak liar memikirkan keuntungan.
“Lalu... apa harus ada persetujuan dari suami?” tanya Mila berbisik.
“Harus. Tapi suamimu tidak perlu repot-repot datang ke kantor. Asalkan Mbak Mila bisa dapat tanda tangan dan KTP-nya, semua bisa aku atur dengan aman,” terang Sonia melancarkan umpan.
Adam kembali menegur, “Mbak! Jangan nekat pinjam uang lagi! Nanti Mas Doni marah besar kalau tahu!”
“Yah, itu semua terserah Mbak Mila,” sahut Sonia santai seraya mengibaskan tangan. “Yang jelas, sekarang aku punya posisi penting di sana. Coba Mbak cari di mana ada bank yang mau beri pinjaman 500 juta untuk toko grosir yang baru berjalan lima tahun? Persaingan usaha sekarang makin ketat, Mbak. Dari grosir kecil, Mbak bisa naik kelas jadi agen besar yang membawahi puluhan toko grosir lain...”
Kalimat Sonia meresap sempurna ke dalam benak Mila. Otak bisnisnya berputar cepat. Akhir-akhir ini, kompetitor toko sembakonya memang bermunculan dan ia sangat kekurangan modal segar. Belum lagi bulan depan ia harus membayar cicilan pinjaman bank yang sebelumnya. Namun jika ia bisa menjadi agen tunggal di wilayah ini... ia bisa menguasai pasar.
Sonia kan pegang jabatan penting di bank itu, bisik batin Mila penuh kecurangan. Kalau nanti aku sampai tidak sanggup bayar cicilannya, tinggal limpahkan saja kesalahannya pada Sonia! Sonia kan sudah menghabiskan banyak uang Bapak dan Ibu dari dulu, sekarang saatnya dia ganti rugi padaku. Aku bayar dua atau tiga cicilan pertama saja, sisanya biar Sonia yang tanggung dari gajinya yang melimpah! Hari pertama saja dia sudah bisa beli mobil cash, gajinya pasti fantastis!
“Baiklah! Aku akan usahakan semua persyaratannya!” tegas Mila dengan mata berbinar serakah.
“Bagus. Aku tunggu berkasnya,” sahut Sonia tersenyum manis.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Sonia tertawa penuh kemenangannya.
Kamu memang target pertamaku, Mbak... bisik batin Sonia dingin bagaikan es. Akan kupastikan kamu tidak akan pernah sanggup membayar pinjaman itu. Asetmu akan disita habis, dan kamu akan hidup sengsara di jalanan. Ini pembalasan atas sikapmu—sebagai seorang kakak, kamu tidak pernah membelaku sedikit pun dan cuma bisa menghinaku!
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
kelrg ada sama aliya 11/12🤭