NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Drastis

Pintu kamar tidur utama Victor Thorne tertutup rapat dengan suara klik mekanis yang nyaris tak bersuara. Kamar itu adalah cerminan dari jiwa sang pemilik: didominasi oleh warna hitam legam, abu-abu arang, dan aksen logam perak yang dingin. Lampu-lampu LED tersembunyi di balik panel dinding kayu eboni memancarkan pendar temaram, menciptakan suasana yang megah namun terasa begitu terisolasi dari dunia luar.

Victor melangkah masuk tanpa menyalakan lampu utama. Ia melepas jas hitamnya, melemparkannya begitu saja ke atas sofa beludru panjang di sudut kamar, lalu melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar. Hari yang panjang di mansion utama bersama sang ayah, Vendrick, benar-benar menguras energinya. Namun, bukan kelelahan fisik yang mendominasi benaknya saat ini, melainkan sebuah kegelisahan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ponsel pintar berbingkai titanium di saku celananya bergetar pelan. Victor mengeluarkannya, mendapati layar menyala terang di tengah kegelapan kamar. Tanpa sadar, ibu jarinya bergerak cepat membuka aplikasi pesan singkat, langsung menuju satu nama yang kini telah menjadi pusat gravitasinya: Freya.

Victor berdiri di depan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah kegelapan malam Amsterdam. Jari-jarinya dengan cepat mengetikkan serangkaian kata, menyampaikan berita yang sejak tadi berat untuk ia sampaikan.

“Honeyy, aku baru saja selesai dengan urusan di mansion utama. Aku tidak bisa kembali ke penthouse malam ini, atau bahkan selama satu minggu ke depan. Papi memintaku berangkat ke wilayah barat Belanda untuk menemui Tuan Sammuel mengurus ekspansi bisnis keluarga. Aku harus segera terbang besok pagi. Maafkan aku.”

Victor menatap pesan itu sejenak sebelum menekan tombol kirim. Ada rasa tidak rela yang mencengkeram dadanya. Meninggalkan Freya sendirian di penthouse tengah hutan selama tujuh hari penuh di tengah ancaman tersembunyi dari Annelise adalah sebuah pertaruhan besar yang membuat malamnya terasa lebih dingin dari biasanya.

Tidak butuh waktu lama bagi ponselnya untuk bergetar kembali. Balasan dari Freya masuk.

“Aku mengerti, Victor. Jangan khawatirkan aku. Pekerjaanmu jauh lebih penting. Hati-hati di jalan ya.”

Membaca pesan singkat yang penuh pengertian itu membuat rahang Victor yang tadinya mengeras perlahan melunak. Sebuah tarikan napas panjang keluar dari bibirnya. Ia membalas pesan Freya dengan instruksi agar gadis itu selalu mengunci pintu dan tidak pergi ke mana-mana tanpa pengawalan Markuz.

Namun, di tengah pertukaran pesan tersebut, sebuah notifikasi susulan muncul dari Freya.

“Oh ya, Victor... Mumpung kau sedang tidak ada di sana, bolehkah aku meminta satu hal? Aku sangat merindukan Steven, adikku. Bolehkah Steven datang dan menginap di penthouse selama dua hari saja? Aku berjanji akan menjaganya dengan baik.”

Victor tertegun sejenak. Alisnya bertaut. Membawa orang luar—sekalipun itu adik kandung Freya—masuk ke dalam penthouse rahasia yang menjadi tempat persembunyian mereka adalah pelanggaran besar terhadap protokol keamanannya. Namun, Victor tahu betul seberapa besar rasa sayang Freya pada Steven. Ia juga paham betapa terisolasinya gadis itu hidup di dalam sangkar hutan selama berbulan-bulan.

Setelah menimbang berbagai risiko dan memastikan bahwa Markuz bisa mengatur pengamanan tambahan di sekitar area, Victor akhirnya mengetikkan persetujuannya.

“Baiklah, kau boleh mengizinkan Steven menginap selama dua hari. Tapi ingat syaratnya: laporkan setiap hal kecil kepadaku, pastikan penjagaan ketat, dan jangan biarkan siapapun keluar dari area pagar utama. Paham, honey?”

“Paham! Terima kasih banyak, Victor! Kau yang terbaik!” balas Freya disertai emoji senyum kecil yang langsung membuat dinding pertahanan dingin Victor runtuh seketika.

Tanpa disadari oleh Victor, di luar pintu kamarnya yang sedikit terbuka, sesosok bayangan berdiri mematung dalam kegelapan koridor lantai atas.

Nyonya Valen Thorne—yang tadinya berniat membawakan secangkir teh hangat herbal untuk putranya sebelum tidur—menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Wanita paruh baya itu tertegun, urung mengetuk pintu kayu mahoni tebal tersebut. Matanya yang tajam menangkap pemandangan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Di dalam ruangan yang gelap gulita itu, hanya tersisa pendar cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajah Victor. Dan di bawah cahaya temaram tersebut, pria dingin yang dikenal sebagai pewaris paling kejam dan kaku di dunia korporat Amsterdam sedang tersenyum lebar.

Bukan sekadar senyuman tipis atau seringai sinis yang biasa ia tunjukkan pada para pesaing bisnisnya, melainkan sebuah senyuman tulus, hangat, dan begitu memikat—senyuman seorang pria muda yang sedang mabuk kepayang karena jatuh cinta.

Valen mengerjap perlahan, jantungnya berdegup kencang karena rasa heran bercampur rasa terkejut yang luar biasa. Selama tiga puluh tahun melahirkan dan membesarkan Victor, Valen tidak pernah melihat putranya berekspresi seperti itu. Bahkan saat Victor berhasil mengakuisisi perusahaan multinasional terbesar di Jerman tahun lalu, ekspresi wajah putranya tetap datar tanpa emosi.

Siapa wanita itu sebenarnya? batin Valen bertanya-tanya, dadanya tiba-tiba dilingkupi oleh rasa cemas yang mendalam.

Selama ini, Valen selalu percaya bahwa ia memegang kendali penuh atas masa depan Victor, termasuk merencanakan perjodohan terhormat dengan Annelise Van Der Bilt. Namun, melihat perubahan drastis pada diri putranya malam ini, Valen menyadari bahwa ada rahasia besar yang sedang disembunyikan Victor rapat-rapat di balik dinding penthouse di pinggir hutan kota. Dan rasa penasaran itu mulai membakar pikiran sang matriark keluarga Thorne.

Keesokan paginya, suasana di dalam penthouse mewah pinggiran kota Amsterdam terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pinus, menyinari ruang tamu yang luas tempat Freya sedang sibuk menyiapkan sarapan sederhana.

Ting-tong.

Bel pintu utama berbunyi nyaring. Freya langsung meletakkan spatula di tangannya, berlari kecil menuju pintu depan dengan senyuman terkembang lebar di wajahnya. Begitu pintu dibuka, sosok remaja laki-laki berambut acak-acakan dengan ransel lusuh di punggungnya langsung menghambur memeluknya erat.

"Kak Freya!" seru Steven riang.

"Steven! Ya ampun, aku merindukanmu!" balas Freya, memeluk erat adik kesayangannya itu sambil mencium puncak kepala Steven dengan mata berkaca-kaca. Sudah sekian lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama di tempat yang nyaman seperti ini sejak sang ibu jatuh sakit.

Steven melepaskan pelukan, lalu melangkah masuk ke dalam penthouse. Matanya langsung membelalak lebar, mengamati setiap sudut ruangan mewah berlantai marmer putih dengan interior kelas atas yang tampak bagaikan istana di dalam dongeng.

"Wah... Kak... tempat apa ini?" bisik Steven takjub, menyentuh sofa beludru hijau zamrud dengan hati-hati seolah takut merusaknya. "Apakah kita sedang tinggal di hotel bintang lima sekarang?"

Freya tersenyum canggung, menutup pintu utama rapat-rapat sesuai instruksi keamanan dari Victor. "Ya... semacam tempat tinggal sementara, Stev. Jangan heran, ya. Semua ini berkat... ehm, seseorang yang membatu kita."

"Seseorang? Maksudmu Tuan Victor Thorne itu?" selidik Steven dengan alis terangkat penuh rasa ingin tahu, melirik kakaknya dengan tatapan menyelidik khas remaja cerdas. "Pria dingin yang membiayai kuliahku dan pengobatan Mami di rumah sakit? Kak, apakah kalian... ehm, menjalin hubungan khusus?"

Pipinya Freya mendadak merona merah padam mendengar pertanyaan blak-blakan adiknya. "Sudahlah, jangan banyak tanya! Ayo duduk, aku sudah memasak makanan kesukaanmu."

Selama dua hari berikutnya, suasana di penthouse itu dipenuhi oleh tawa kecil dan kehangatan keluarga yang sudah lama hilang dari hidup Freya. Steven tampak sangat menikmati fasilitas mewah di sana, bermain gim di televisi layar datar raksasa, menikmati makanan lezat yang dikirimkan oleh staf Markuz, dan menghabiskan waktu mengobrol dengan kakaknya.

Namun, sesuai dengan janji dan aturan ketat yang diberikan oleh Victor, Freya tidak pernah lengah. Setiap malam, sebelum tidur, ia selalu mengirimkan laporan singkat melalui pesan kepada Victor—menceritakan aktivitas Steven, memastikan keamanan di sekitar area hutan, dan menyelipkan ucapan rindu yang membuat jarak ribuan kilometer antara Amsterdam dan wilayah barat Belanda seolah tidak ada apa-apanya.

Sementara itu, di belahan wilayah barat Belanda, mobil sedan hitam berplat khusus keluarga Thorne melaju kencang membelah jalanan tol pesisir yang dikelilingi oleh kincir angin raksasa dan hamparan padang rumput hijau yang luas. Udara dingin khas Laut Utara menyergap begitu jendela mobil sedikit diturunkan.

Victor duduk di kursi belakang dengan setelan jas abu-abu gelap, memegang dokumen tebal berisi portofolio kerja sama logistik internasional. Di sampingnya, Markuz sedang melaporkan perkembangan situasi keamanan di penthouse melalui sambungan telepon satelit.

"Laporan dari tim pengamanan di sekitar hutan pinggiran kota menunjukkan situasi aman, Tuan," lapor Markuz dengan nada profesional. "Adik Nona Freya, Steven, sudah berada di sana selama dua hari dan tidak ada aktivitas mencurigakan dari pihak luar, termasuk tidak ada pergerakan dari Nona Annelise."

Victor mengangguk pelan, menutup dokumen di pangkuannya. "Bagus. Pastikan pengamanan tetap diperketat hingga aku kembali ke Amsterdam lusa."

"Baik, Tuan." Markuz mematikan sambungannnya, lalu melirik bosnya sekilas. "Omong-omong, Tuan Sammuel sudah menunggu kedatangan Anda di perkebunan pribadinya di dekat pelabuhan utama Rotterdam."

Victor menghela napas berat. Misi kali ini bukan perkara mudah. Sammuel Zefs Houten adalah sosok taipan pelayaran senior yang terkenal keras kepala, perfektif, dan tidak mudah terkesan oleh nama besar keluarga Thorne. Jika Victor gagal meyakinkan pria tua itu dalam negosiasi hari ini, ekspansi strategis perusahaan keluarga mereka di Eropa barat akan terancam tertunda selama berbulan-bulan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!