NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Suami Rasa Pembantu

Asap tipis mengepul dari wajan enamel yang sudah menghitam di bagian bawahnya. Rendy mematikan kompor gas dua tungku yang salah satu kenopnya sudah longgar, lalu mengelap dahinya yang berpeluh dengan handuk kecil di pundak. Jam dinding plastik berbentuk apel di sudut dapur menunjukkan pukul enam pagi. Sudah tiga jam Rendy berdiri di dapur berukuran sempit itu, menyiapkan sarapan lengkap untuk keluarga besar istrinya.

Empat macam masakan sudah tertata rapi di atas meja makan porselen: ayam goreng mentega, tumis kangkung terasi, telur dadar tebal, dan sup iga sapi yang mendidih sejak subuh. Rendy menyapu pandangan pada hasil kerjanya, menarik napas lega, lalu mengusap telapak tangannya yang memar ke celana kain hitamnya. Luka memar itu didapatnya kemarin sore saat mengangkut dua galon air sekaligus atas perintah ibu mertuanya.

"Rendy! Mana supnya? Dion sudah mau berangkat kantor, kamu ini lelet sekali!"

Suara lengkingan bernada tinggi itu memecah ketenangan dapur. Ibu Rosma—ibu mertua Rendy—melangkah masuk dengan daster sutra bermotif bunga warna merah menyala. Wajahnya yang dipoles krim malam tebal tampak sangat masam. Tanpa memandang Rendy yang mengangguk hormat, Rosma langsung meraih sendok sayur dan mencicipi kuah sup iga di atas meja.

Dua detik kemudian, raut wajah Rosma berubah drastis. Ia melepaskan sendok itu hingga terhempas keras ke dasar mangkuk porselen, menimbulkan bunyi dentang nyaring yang membuat Rendy terperanjat.

"Apa-apaan ini?!" bentak Rosma sambil menunjuk mangkuk sup dengan telunjuknya yang berhias cincin emas lima gram. "Hambar! Kamu mau memberi makan manusia atau memberi makan ternak, hah? Kurang garam! Kurang bumbu! Selama tiga tahun menikah dengan anakku, otakmu memang tidak pernah dipakai!"

"Maaf, Bu. Saya tadi hanya mengikuti takaran biasanya agar tekanan darah Ibu tidak naik—"

"Tidak usah sok perhatian!" potong Rosma kasar. Tangannya bergerak cepat, menepis tangan kanan Rendy. Punggung tangan Rendy yang sudah memar membentur pinggiran meja makan yang tajam. Rasa nyeri menjalar hingga ke siku, namun Rendy hanya mengepalkan jemarinya kuat-kuat, menahan sakit di tenggorokan.

"Lihat dirimu," cibir Rosma dengan pandangan merendahkan. "Laki-laki tidak berguna. Hanya bisa menumpang hidup, makan dari uang keluarga kami, dan kerjanya cuma seperti pembantu rumah tangga! Dibandingkan dengan Hendra, menantuku dari anak pertama, kamu ini tidak ada seujung kukunya!"

Rendy menunduk dalam-dalam. Nama Hendra selalu menjadi pukulan utama yang dijatuhkan ke kepalanya setiap hari. Hendra adalah suami dari kakak pertama Clarissa—seorang manajer di perusahaan swasta yang rajin membawakan barang-barang bermerek tiap kali berkunjung ke rumah ini.

"Hendra bulan lalu memberi Ibu uang belanja sepuluh juta, membawa kami liburan ke villa," lanjut Rosma dengan nada bangga yang dibuat-buat. "Sementara kamu? Apa yang bisa kamu berikan untuk Clarissa? Kerja hanya sebagai sopir serabutan yang penghasilannya tidak cukup untuk beli bedak istri sendiri!"

Rendy tetap diam. Bibirnya terkunci rapat. Di balik kepalan tangannya yang bergetar menahan sakit pada memar di tangannya, ada sebuah rahasia besar yang tersimpan rapat. Rahasia yang membuatnya rela menahan semua hinaan ini demi sebuah janji cinta yang ia ucapkan tiga tahun lalu pada Clarissa.

"Ibu... sudah, jangan marah-marah pagi-pagi."

Sebuah suara lembut memecah ketegangan di dapur. Clarissa berdiri di ambang pintu dapur dengan gaun tidur berbahan katun halus berwarna merah muda lembut. Rambut hitam panjangnya terurai bergelombang di bahu. Wajah cantiknya tampak pucat dan menyisakan rasa bersalah saat menatap Rendy yang berdiri menunduk di dekat kompor.

"Kamu ini selalu membela suami tidak bergunamu ini, Clarissa!" omel Rosma sambil menatap putrinya dengan sengit. "Lihat tangannya, cuma bisa bikin masakan hambar. Ibu sudah bilang dari dulu, ceraikan saja dia."

"Bu, masakan Rendy enak kok. Nanti Clarissa tambahkan garam sedikit di mangkuk Ibu," bujuk Clarissa pelan.

Rosma mengibaskan tangannya gusar. "Sudah! Ibu hilang selera makan! Suruh si pembantu ini bersihkan meja setelah Dion dan Hendra selesai makan nanti!" Dengan langkah dihentak-hentakkan, Rosma berlalu meninggalkan dapur.

Suasana dapur mendadak hening. Hanya terdengar detak jam apel dan deru napas Rendy yang tertahan.

Clarissa membalikkan badan, menatap suaminya. Matanya berkaca-kaca saat melihat punggung tangan kanan Rendy yang kini memerah dan membengkak akibat benturan tadi. Dengan langkah perlahan, Clarissa mendekati Rendy, lalu meraih jemari suaminya dengan lembut.

"Mas... maafkan Ibu, ya," bisik Clarissa halus.

Rendy menengadahkan kepala, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak apa-apa, Sa. Mas yang salah karena kurang teliti memasak tadi."

"Jangan bohong. Tanganmu sakit, kan?" Clarissa menuntun tangan Rendy dengan sangat hati-hati. "Ayo ke kamar. Aku obati lukamu dulu."

Tanpa menunggu jawaban Rendy, Clarissa menarik pelan tangan suaminya menuju kamar tidur mereka yang terletak di bagian belakang rumah—kamar paling kecil yang sempit dan hanya berisikan kasur busa serta lemari kayu dua pintu.

Clarissa menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menyuruh Rendy duduk di pinggiran tempat tidur. Ia mengambil kotak P3K dari atas lemari dan duduk tepat di samping Rendy. Dengan ketelitian dan kelembutan seorang istri, Clarissa meneteskan obat cair dan mengoleskan salep dingin di atas memar merah di punggung tangan Rendy.

"Kenapa Mas selalu diam kalau Ibu menghina Mas?" tanya Clarissa pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Rendy. Suaranya terdengar serak menahan kesedihan. "Aku merasa menjadi istri yang sangat jahat karena tidak bisa melindungimu di rumah ini."

Rendy menggerakkan jemari tangannya yang sehat untuk merengkuh dagu Clarissa, mengangkat wajah istrinya agar menatap matanya secara langsung. Tatapan mata Rendy begitu dalam, sarat akan keteguhan yang tak tergoyahkan.

"Karena Mas mencintaimu, Clarissa," jawab Rendy serak. "Selama Mas masih bisa melihat senyummu setiap pagi, semua makian itu tidak ada artinya bagi Mas."

Mata mereka saling mengunci. Clarissa tidak kuasa menahan air matanya. Ia langsung memeluk Rendy dengan erat. Pelukan itu adalah pelukan permohonan maaf, terima kasih, dan rindu yang sudah lama ia tahan selama tiga tahun hidup di bawah tekanan ibunya.

Rendy membalas pelukan itu dengan tulus. Ia mengusap punggung Clarissa pelan untuk menenangkannya. Dalam pelukan di kamar sempit itu, mereka berdua hanya diam, saling menguatkan. Semua hinaan Ibu Rosma di dapur tadi seakan hilang, terganti dengan kehangatan karena mereka masih saling memiliki.

Clarissa menyandarkan kepalanya di dada Rendy. "Terima kasih ya Mas, sudah bertahan sejauh ini buat aku. Aku janji suatu hari nanti aku yang akan lindungi Mas balik."

Rendy tersenyum dan mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih. "Mas percaya sama kamu, Sa."

Untuk sesaat, dunia luar terasa berhenti. Tidak ada Ibu Rosma, tidak ada Hendra, tidak ada hinaan. Hanya mereka berdua yang saling menguatkan di kamar kecil itu.

DOK! DOK! DOK!

Gedoran keras yang mengguncang pintu kayu kamar memutus seketika kehangatan di antara mereka.

Clarissa terperanjat kaget, segera melepas pelukannya. Rendy dengan refleks berdiri, menempatkan dirinya di depan Clarissa untuk melindunginya.

"Rendy! Keluar kamu sekarang!" Suara teriakan ibu mertuanya bergema kasar dari luar, diiringi gedoran bertubi-tubi yang semakin tidak sabar. "Ada Pak RT dan polisi di depan! Kamu mencuri jam tangan mahal milik Dion, ya?! Keluar, dasar pencuri!"

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!