NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 — Wajah dari Tujuh Tahun Lalu

“Kau yakin ingin melihat data mereka sekarang?”

Hendra meletakkan tiga berkas digital di meja kantin lima.

Tri sedang mengupas telur murah dari paket hemat. “Kalau data bisa membuat gue makan lebih pelan, berarti data itu penting.”

Rakha duduk di samping dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Ia tidak membawa katalog bahan. Tidak membawa makanan mahal. Hanya satu gelas air dan Kom yang sejak tadi tidak ia sentuh.

Di layar meja, dua nama muncul.

Anindya Adiwangsa.

Kirana Wiranata.

Tri berhenti mengupas telur.

Hendra melihat gerakan kecil itu. “Kau benar-benar tertarik pada Api Kekaisaran.”

“Gue tertarik pada orang yang membuat Damokles terlihat seperti murid latihan.”

“Kalimat itu masih terdengar terlalu sopan untuk lo.”

Tri tidak menjawab.

Rakha menyentuh layar. Foto pertama terbuka.

Seorang gadis berambut hitam berdiri di ruang komando. Seragam Akademi Kekaisaran menempel rapi, garis emas di bahu tidak terlalu mencolok tetapi cukup untuk membuat orang tahu tempatnya. Wajahnya muda, tetapi matanya tidak punya kelonggaran anak muda.

Di bawah foto:

Anindya Adiwangsa.

Tingkat Daya Indra: 3S.

Profesi: Komandan.

Julukan: Api Kekaisaran.

Keluarga: Adiwangsa, garis utama.

Tri menatap foto itu.

Waktu seperti berhenti di antara denging kantin.

Rambut hitam.

Mata dingin.

Cara menatap yang membuat luka orang lain terlihat seperti data.

Tujuh tahun lalu, di lantai beton penuh darah, gadis berambut hitam itu mengambil Kristal Kelabu dari dinding dan berkata selesai.

Tri masih ingat kata itu.

Selesai.

Seolah-olah nyawanya hanya baris kecil di daftar pekerjaan.

Hendra mengetuk meja pelan. “Tri?”

Tri mengupas sisa telur.

Kulitnya retak terlalu kecil-kecil.

“Lanjut.”

Rakha membuka foto kedua.

Gadis berambut keemasan. Posturnya lebih tajam, bahunya seperti selalu siap menyerang. Senjata panjang di tangannya bukan aksesori. Foto itu diambil setelah laga, ada goresan darah hitam di ujung bilah, tetapi wajahnya tetap bersih dari ragu.

Kirana Wiranata.

Tingkat Daya Indra: 3S.

Profesi: Prajurit Mecha.

Keluarga: Wiranata.

Julukan informal: salah satu Bintang Kekaisaran.

Tri melihat senyum tipis di foto itu.

Sayang bodoh.

Kalimat itu kembali dari puing gedung lama.

Hendra yang sejak tadi mengamati wajahnya akhirnya duduk lebih dekat. “Lo kenal mereka?”

Tri menaruh telur ke piring.

“Pernah lihat.”

Rakha mengangkat kepala. “Di mana?”

“Planet 3212.”

Rakha membeku.

Hendra tidak.

Ia langsung paham ada sesuatu yang salah. “Kapan?”

“Tujuh tahun lalu. Gedung utara. Bestia Bintang.”

Suasana di meja itu berubah.

Hendra ingat cerita pendeknya: Tri hampir mati, Pak Ilyas membayar Kapsul Pemulihan, dua gadis kaya mengambil kristal dan pergi. Tri tidak pernah tahu nama mereka.

Sekarang nama itu ada di meja.

Rakha melihat foto Anindya lagi, wajahnya rumit. “Kak Anindya... ada di Planet 3212?”

Kata Kak keluar pelan, hampir kebiasaan keluarga.

Tri menoleh.

Rakha menghela napas. “Aku Adiwangsa cabang samping. Dia garis utama. Kami tidak dekat. Di keluarga seperti itu, satu nama bisa berarti langit berbeda.”

“Tapi kau mengenalnya.”

“Semua orang Adiwangsa mengenalnya.” Rakha menatap foto itu. “Dia terlalu kuat untuk tidak dikenal.”

Hendra membuka berkas ringkas. “Anindya sakit waktu kecil, lama berada di bawah perlindungan Distrik 1. Setelah masuk Akademi Kekaisaran, langsung jadi pusat komando. Kirana Wiranata adalah Prajurit 3S yang selalu berdiri di sisinya. Mereka disebut dua bintang Kekaisaran.”

Tri menatap dua foto itu.

Dua bintang.

Di Planet 3212, dua bintang itu pernah turun ke gedung busuk, mengambil sesuatu dari darahnya, lalu naik tanpa menoleh.

“Mereka ingat lo?” tanya Hendra.

Tri tertawa pendek. “Menurut lo?”

Tidak mungkin.

Bagi mereka, ia hanya anak kecil sekarat di lantai.

Mungkin lebih rendah: gangguan setelah pengambilan barang.

Rakha membuka mulut, lalu menutup lagi.

Tri tahu apa yang ingin ia katakan. Bahwa mungkin ada alasan. Bahwa keluarga besar punya misi. Bahwa Nona Adiwangsa bukan orang yang sembarang turun ke planet sampah.

Semua itu mungkin benar.

Tidak satu pun menghapus darah di lantai.

“Gue tidak butuh alasan mereka,” kata Tri.

Hendra menatapnya. “Lalu butuh apa?”

Tri menutup foto Kirana, lalu foto Anindya.

“Jarak.”

“Jarak?”

“Jarak yang cukup dekat supaya mereka tidak bisa melihat gue sebagai noda di lantai.”

Di saat yang sama, jauh di Akademi Kekaisaran, ruang komando utama tetap terang meski malam sudah turun.

Anindya Adiwangsa berdiri di depan peta lima akademi.

Kirana Wiranata bersandar di meja samping, memutar bilah latihan kecil di antara jari. Mereka baru selesai rapat evaluasi Turnamen Agni. Di layar, nama Damokles muncul sebagai akademi kelima.

“Damokles mulai mengangkat bibit baru,” kata seorang analis.

Anindya tidak langsung menjawab.

Data singkat muncul:

Hendra Gunawan, Komandan 3S, planet tak bernama.

Rakha Adiwangsa, Empu Mecha 3S, cabang samping Adiwangsa, kini Damokles.

Tri, Petembak Terpilih, A tingkat, asal Planet 3212.

Kirana melirik nama terakhir. “A tingkat?”

“Data resmi,” jawab analis.

Kirana tersenyum tipis. “Damokles memang suka membuat orang A terlihat seperti harapan.”

Anindya menatap nama Tri.

Tidak ada perubahan di wajahnya.

“Petembak Terpilih yang mengalahkan Mira dalam latihan?”

“Ya, Nona.”

“Simpan rekamannya. Damokles jarang memilih tanpa alasan.”

Kirana berhenti memutar bilah. “Kau tertarik?”

“Aku menilai risiko.”

“Satu A tingkat dari planet sampah?”

Anindya menutup data. “Risiko tidak selalu datang dari angka tertinggi.”

Kirana tertawa ringan. “Itu kalimat yang membuat orang lain tidak bisa tidur.”

Anindya tidak tersenyum.

“Biarkan mereka tumbuh,” katanya. “Turnamen berikutnya akan menunjukkan apakah Damokles hanya berisik atau benar-benar punya gigi.”

Di kantin lima, Tri tidak tahu namanya baru saja lewat di meja orang yang ia ingat.

Ia hanya memutar foto Anindya sekali lagi.

Hendra dan Rakha tidak mengganggu.

Foto itu diam, dingin, sempurna.

Tri menaruh pecahan Kristal Kelabu kecil dari tujuh tahun lalu di atas meja. Ia jarang membawanya keluar, tetapi hari itu ia sengaja membuka kantong kain kecil di saku dalam.

Serpihan itu kusam di bawah lampu kantin.

Rakha melihatnya. “Itu...”

“Sisa dari dinding tempat mereka mengambil barang.”

Hendra menatap serpihan itu, lalu dua foto.

Semua garis akhirnya bertemu.

Tri menutup foto Kirana lebih dulu.

“Yang berambut emas menertawakan gue.”

Ia menutup foto Anindya.

“Yang berambut hitam mengambil kristal dan tidak menoleh.”

Telur di piringnya sudah dingin.

Tri tidak peduli.

Ia menekan telapak tangan di atas foto yang tertutup, suaranya rendah, jernih, dan tidak marah-marah.

“Jadi namanya Anindya Adiwangsa.”

Hendra tidak mengatakan apa pun.

Rakha juga.

Tri mengangkat mata ke arah layar yang sudah gelap.

“Gue akan berdiri di arena yang sama,” katanya. “Dan kali ini, dia akan melihat gue sampai selesai.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!