Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Makan Malam Jebakan
Jam menunjukkan pukul 19.45.
Clarissa berdiri di depan cermin besar di dalam ruang ganti lantai 30. Gaun pensil hitam yang tadi siang ia kenakan sudah ia rapikan kembali. Wajahnya sudah tidak pucat lagi, tapi sorot matanya penuh kebimbangan. Di atas meja rias di depannya, tergeletak kartu undangan emas dari Kevin Mahardika.
SKY LOUNGE, LANTAI 55, JAM 20.00. HANYA KITA BERDUA.
Di balik kaca, bayangan Rendy terlihat. Pria itu berdiri bersandar di kusen pintu dengan kemeja abu-abu yang sudah ia ganti. Kemeja batik yang bernoda tinta biru tadi sudah ia lepas. Kini ia terlihat seperti Presdir sepenuhnya. Dingin, tenang, dan tatapannya tidak bisa dibaca.
"Kamu akan datang?" tanya Rendy akhirnya. Suaranya datar.
Clarissa menunduk. Jemari lentiknya meremas ujung gaunnya dengan gelisah. "Mas... proyek resort Bali 50 miliar itu... itu satu-satunya cara kita selamatkan perusahaan Papa. Jika aku tidak datang, Kevin bilang dia akan buat berita pelelangan aset keluarga besok pagi jadi viral. Papa bisa serangan jantung, Mas..."
Rendy tidak menjawab. Ia melangkah mendekat. Ia tidak marah. Justru karena ia tidak marah, Clarissa semakin takut.
"Aku tahu kamu terpaksa," kata Rendy pelan. "Tapi ingat satu hal, Clarissa. Kamu bukan lagi karyawan yang bisa diatur oleh klien. Kamu adalah istri dari Presdir Pradipta Group. Harga dirimu adalah harga diriku."
Clarissa mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Lalu aku harus bagaimana, Mas?"
Rendy tersenyum tipis. Senyum yang baru pertama kali Clarissa lihat. Senyum seorang pemburu.
"Kita datang," kata Rendy. "Tapi bukan kamu yang makan malam dengan dia. Kita."
Sky Lounge lantai 55.
Tempat ini adalah restoran paling mahal di Jakarta. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca, menghadap langsung ke pemandangan kota yang gemerlap. Hanya orang-orang dengan kartu keanggotaan black card yang bisa masuk.
Kevin sudah menunggu. Ia duduk di meja terbaik, dekat jendela. Jas putihnya masih sama seperti tadi siang. Di atas meja, sudah ada sebotol wine merah paling mahal dan dua gelas kristal. Ia terlihat sangat percaya diri. Ia bahkan sudah memesan dua porsi steak wagyu A5.
Pintu lift terbuka.
Kevin berdiri dengan senyum kemenangan, mengira Clarissa datang sendirian seperti yang ia minta.
Tapi senyum itu langsung membeku.
Yang masuk bukan hanya Clarissa. Di belakang Clarissa, berjalan seorang pria dengan langkah yang jauh lebih anggun dan berwibawa. Rendy Pradipta.
Rendy mengenakan kemeja putih sederhana tanpa jas, tapi jam tangan di pergelangan tangannya adalah Patek Philippe edisi terbatas yang harganya bisa membeli dua mobil mewah Kevin.
"Selamat malam, Pak Kevin," sapa Clarissa dengan suara gugup. "Maaf... suami saya... ikut..."
Kevin berusaha mempertahankan senyum pangerannya. "Tentu saja... tentu saja tidak apa-apa. Saya justru senang Presdir Pradipta Group yang baru bisa bergabung. Silakan duduk."
Rendy tidak langsung duduk. Ia berjalan melewati Kevin, dan dengan gerakan yang sangat lembut dan gentleman, ia menarik kursi untuk Clarissa.
Bukan kursi yang ada di depan Kevin.
Rendy menarik kursi yang ada di sampingnya, merapatkannya hingga jarak antara kursi Clarissa dan kursinya hampir tidak ada celah.
"Duduk di sini, sayang," bisik Rendy, suaranya cukup pelan tapi sengaja dibuat agar Kevin mendengar kata "sayang" itu.
Clarissa duduk dengan jantung berdebar kencang. Begitu Clarissa duduk, Rendy mendorong kursinya perlahan hingga merapat sempurna ke meja.
Lalu, adegan sensual aman yang kamu minta itu terjadi.
Rendy duduk di samping Clarissa. Dengan gerakan yang sangat natural dan penuh kepemilikan, tangan kanan Rendy terangkat, bukan merangkul tubuh Clarissa, tapi merangkul sandaran punggung kursi tempat Clarissa duduk. Posisi itu terlihat sopan di mata pelayan, tapi di mata Kevin, itu adalah sebuah tanda pagar yang jelas: Wanita ini milik saya. Jangan coba-coba.
Kevin yang melihat itu, rahangnya mengeras.
Pelayan datang. "Selamat malam, Tuan. Apakah sudah siap memesan? Tuan Kevin tadi sudah memesan dua porsi Wagyu A5 dan wine Bordeaux 1982."
Kevin tersenyum menyombong. "Ya, saya sudah pesankan yang terbaik untuk Clarissa. Steak ini harganya dua puluh juta per porsi. Hanya orang yang mengerti kualitas yang bisa memesannya."
Ia menatap Rendy dengan tatapan meremehkan, seolah berkata: Kamu mampu pesan ini?
Rendy tidak terpancing. Ia bahkan tidak melihat buku menu. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan tenang.
"Ganti semua pesanan dia," kata Rendy dengan suara yang sangat pelan, tapi semua orang di meja itu mendengarnya. "Wine itu bawa kembali. Istri saya tidak minum alkohol."
Kevin terkejut. "Tapi..."
Rendy melanjutkan, masih dengan suara yang sama tenangnya. "Untuk makan malamnya, saya pesan: Satu porsi Blue Lobster dari Perancis yang masih hidup, dimasak dengan truffle putih Alba. Satu porsi Caviar Almas dari Iran. Dan untuk minumannya, dua gelas air putih hangat dengan irisan lemon."
Pelayan itu langsung mencatat dengan tangan gemetar. "B-baik, Tuan Presdir. Blue Lobster dan Almas Caviar... totalnya sekitar seratus dua puluh juta untuk dua porsi, Tuan."
Seketika, wajah Kevin yang tadi sombong dengan steak dua puluh jutanya, langsung merah padam karena malu.
Seratus dua puluh juta. Rendy memesan makanan yang harganya enam kali lipat dari makanan yang dipesan Kevin, tanpa melihat harga, dan bahkan membatalkan wine mahal Kevin begitu saja.
Ini bukan soal makanan. Ini soal power.
Kevin yang tadinya ingin membuat Rendy minder soal uang, justru ia sendiri yang dibuat minder.
Makanan datang. Lobster biru yang masih mengepulkan asap dengan aroma truffle yang memenuhi ruangan. Clarissa menatap makanan di depannya dengan gugup. Ia belum pernah makan makanan semahal ini.
Rendy dengan sabar memotongkan sedikit daging lobster itu, lalu meletakkannya di piring Clarissa. Gerakannya lembut, penuh perhatian, seperti seorang suami yang sedang melayani istrinya.
"Makan, sayang. Kamu dari siang belum makan," bisik Rendy.
Clarissa mengangguk dan mulai makan dengan pelan.
Kevin yang duduk di depan mereka, merasa seperti orang ketiga yang tidak diundang. Ia mencoba mengembalikan topik.
"Clarissa, soal proyek resort Bali itu... aku serius. Aku bisa cairkan 50 miliar besok pagi, asal kamu..."
"Asal istri saya apa?" Rendy memotong kalimat Kevin. Ia meletakkan pisau dan garpunya dengan pelan. Bunyi dentingan piring itu terdengar sangat jelas.
Rendy menyandarkan punggungnya ke kursi, tangan kanannya masih tetap merangkul sandaran kursi Clarissa. Tatapannya yang gelap menatap lurus ke mata Kevin.
Kevin terdiam.
Rendy tersenyum. Senyum yang dingin.
"Pak Kevin, saya hargai niat baik Anda ingin memberikan proyek pada perusahaan istri saya. Tapi sepertinya Anda salah paham tentang satu hal."
"Apa?" tanya Kevin dengan suara tertahan.
Rendy menoleh, menatap Clarissa yang sedang menatapnya dengan mata berbinar penuh cinta dan kekaguman. Lalu ia kembali menatap Kevin.
Rendy menarik kursi Clarissa sedikit lebih merapat lagi padanya, hingga bahu mereka bersentuhan.
"Di keluarga kami, ada aturan," kata Rendy, suaranya rendah, berat, dan sangat mengintimidasi, tapi tetap terdengar elegan di restoran mahal itu.
Kevin menelan ludah. "Aturan apa?"
Rendy mendekatkan wajahnya sedikit, memastikan hanya Kevin dan Clarissa yang mendengar kalimat terakhirnya yang akan menjadi cliffhanger malam ini.
"Istri saya... alergi makan malam dengan pria yang bukan suaminya. Jadi, makan malam ini... saya yang bayar."
DEG!
Wajah Kevin langsung pucat pasi.
Di saat yang sama, pelayan datang membawa tagihan.
Rendy mengeluarkan sebuah kartu hitam legam dari dompetnya. Kartu Black Card Centurion milik Pradipta Group. Kartu yang bahkan Kevin tidak punya.
"Gesek kartu saya. Dan tolong, mulai besok, batalkan semua reservasi atas nama Grup Mahardika di semua restoran milik Pradipta Group."
Clarissa terbelalak. Ia menatap Rendy dengan air mata haru yang tidak bisa lagi ia tahan.
Makan malam jebakan yang direncanakan Kevin untuk merebut Clarissa, justru berbalik menjadi panggung pembuktian kekuasaan Rendy sebagai Presdir yang sesungguhnya.
Kevin mengepalkan tangannya di bawah meja. Malu, marah, dan kalah telak.
Apakah Kevin akan menyerah setelah dipermalukan seperti ini di depan Clarissa?
Atau justru besok pagi, pelelangan aset yang ia ancamkan itu benar-benar akan ia laksanakan?
[TERIMA KASIH 15,0K POPULARITAS]
Makasih 217 komen, 1249 Like, 24 Fans & 20 bintang 5 yang udah baca dari pagi-sore ini! 😭 Popularitas naik 700 sehari karena #KalenderKebab viral! Menurut kalian janin Clarissa kuat nggak setelah baca surat Valerie? Komen "KUAT" biar aku semangat nulis Bab 55! Aku balas malam ini! - Dian Mita