"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Cokelat, Kecupan, dan Pengakuan Licik
Vibrating...
Ponsel Askara di atas meja bergetar tipis. Sebuah pesan rahasia masuk dari Bayu, bodyguard bayangan yang ditugaskan mengawasi Nadira.
[Bayu]: Pak Askara, Bu Nadira tadi melihat Bapak dari area lobi restoran bersama wanita tersebut. Bu Nadira terlihat sangat kecewa, menangis, dan sekarang langsung bergegas pulang ke kantor bersama timnya.
Askara melirik layar ponselnya sekilas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin. Semuanya berjalan persis seperti yang ia perkirakan. Rebecca pikir ia sedang menjebak Askara, padahal wanita di hadapannya ini hanya sedang menari di dalam skenario yang Askara biarkan terjadi. Sekalian, Askara ingin melihat seberapa jauh rasa cemburu Nadira kali ini.
Rebecca yang tidak menyadari hal itu, memajukan tubuhnya, mencoba mengelus punggung tangan Askara. "Ka... lo lihat kan? Gue bisa hancurin reputasi Nadira dalam sekejap. Mending lo sama gue—"
Sret!
Askara menarik tangannya kasar sebelum jari Rebecca sempat menyentuhnya. Tatapan mata Askara berubah sehitam jurang, memancarkan aura intimidasi yang membuat napas Rebecca mendadak tercekat.
"Lo pikir lo pinter ya, Becca?" suara Askara terdengar sangat rendah, namun menusuk hingga ke tulang.
Rebecca tertawa canggung, merapikan gaun merahnya. "M-maksud lo apa, Ka?"
"Gara itu adik lo. Dia masuk magang di kantor Nadira atas suruhan lo kan? Buat bikin Nadira hancur dan mancing emosi gue?" Askara menyandarkan punggungnya, menatap Rebecca dengan tatapan kasihan. "Lo lupa siapa gue, Becca? Gue selalu sepuluh langkah di depan permainan busuk lo."
Wajah Rebecca perlahan memucat. "L-lo udah tahu?"
"Gue tahu semuanya," potong Askara dingin. "Sama seperti delapan tahun lalu... waktu lo sengaja nyebarin rumor jahat tentang Nadira di kampus. Lo tahu kenapa tiba-tiba orang tua lo ngirim lo secara paksa ke luar negeri dengan dalih 'sekolah'?"
Rebecca membelalakkan matanya. "M-maksud lo... Orang tua gue...?"
"Iya. Gue yang bikin bisnis ayah lo hampir bangkrut malam itu juga," bisik Askara santai, menyunggingkan senyum miring yang mengerikan. "Gue kasih ayah lo dua pilihan: kunci lo di luar negeri selamanya, atau perusahaan keluarga lo hancur tanpa sisa. Dan lo tahu kan pilihan apa yang diambil ayah lo?"
Darah Rebecca serasa berhenti mengalir. Tubuhnya gemetar hebat. Selama bertahun-tahun ia mengira orang tuanya memaksanya kuliah di luar negeri karena keinginan mereka sendiri, tanpa tahu bahwa pria tampan dan tenang di hadapannya inilah dalang di balik pengasingannya.
"Rian... mantan Nadira yang mendadak bangkrut dan kabur? Pria-pria hidung belang yang pernah nyakitin Nadira dan tiba-tiba hilang dari Jakarta?" Askara memajukan tubuhnya, menatap mata Rebecca yang gemetaran. "Itu semua ulah gue, Becca. Siapa pun yang berani bikin Nadira nangis... bakal gue hancurin hidupnya."
"L-lo... lo gila, Askara! Lo psikopat!" bisik Rebecca dengan suara bergetar ketakutan.
"Gue memang gila kalau itu menyangkut Nadira Ruella," sahut Askara tenang, lalu berdiri dari kursinya. Ia merapikan kancing jasnya. "Jangan pernah muncul di depan Nadira lagi. Kalau adik lo atau lo masih berani nyenggol dia... kali ini bukan cuma diasingkan, keluarga lo bakal gue bikin melarat seumur hidup."
Tanpa menunggu jawaban dari Rebecca yang membeku ketakutan, Askara berbalik dan melangkah pergi meninggalkan restoran.
...****************...
Di dalam mobilnya menuju kantor Nadira, Askara merogoh ponselnya dan menekan nomor Nadira.
Panggilan Ditolak.
Askara terkekeh pelan. Ia menelpon lagi.
Panggilan Ditolak.
"Sesuai tebakan," gumam Askara menggelengkan kepala.
Ia meminggirkan mobilnya sebentar di sebuah toko cokelat premium, membeli dua kotak cokelat dark truffle kesukaan Nadira, lalu kembali meluncur cepat ke gedung Ruella Creative.
Di ruang kerjanya, Nadira duduk di belakang meja dengan napas memburu dan mata yang sangat sembap. Isakannya baru saja mereda, digantikan oleh rasa marah dan cemburu yang membakar dadanya.
"Dasar Askara jahat! Penjahat kelamin! Tukang bohong!" umpat Nadira sambil meremas tisu di tangannya.
Cklek!
Pintu ruang kerjanya mendadak terbuka. Askara melangkah masuk dengan tenang sambil membawa kantong kertas berisi cokelat.
Mata Nadira melotot tajam. "Ngapain lo ke sini?! Keluar gak?!"
Askara tidak menjawab. Ia berbalik, memutar kunci pintu ruang kerja Nadira hingga terdengar suara KLIK! yang mengunci ruangan itu rapat-rapat.
"K-kok pintunya malah dikunci?!" jerit Nadira panik, langsung berdiri dari kursinya. "Askara! Buka gak pintunya!"
Askara berjalan santai mendekati meja kerja Nadira. Tanpa bicara, ia meletakkan kantong kertas berisi cokelat mahal itu tepat di atas meja.
Nadira melirik kantong itu sekilas. Tangan refleksnya menyambar kotak cokelat tersebut dan memeluknya protektif, namun matanya tetap menatap Askara dengan sengit.
"Gak usah nyogok pake cokelat!" bentak Nadira dengan suara serak. "Pergi sana sama cewek gaun merah lo itu! Nikahin aja dia sekalian! Ngapain masih nemuin gue?!"
"Nad—"
"Gak usah panggil-panggil nama gue! Gue benci sama lo, Askara! Lo pembohong! Katanya cemburu sama Gara, tapi lo sendiri malah berduaan sama mantan gebetan lo di restoran hotel mewah!" jerit Nadira makin menjadi-jadi, menyemburkan seluruh kecemburuannya yang tak terbendung.
Askara menatap wanita yang sedang mengomel dengan bibir cemberut dan mata sembap itu. Rasa gemas yang luar biasa membakar dada Askara. Pria itu tidak tahan lagi.
Sret!
Dengan satu gerakan cepat dan kuat, Askara mencengkeram pinggang Nadira, mengangkat tubuh wanita itu dan mendudukkannya paksa di atas meja kerja yang luas.
"Apaan sih! Askara, lepasin gue—"
Askara memajukan tubuhnya, menyela kalimat Nadira. Tangannya meluncur ke belakang kepala Nadira, menangkup tengkuknya, lalu mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Nadira yang sedang mengomel.
Muuuph!
"Mmph! As-ska... lepas!" jerit Nadira teredam.
Nadira memberontak hebat. Karena kedua kakinya menggantung di tepi meja, ia memukuli bahu dan dada Askara dengan kotak cokelat dan berkas-berkas di mejanya. Tangannya bahkan naik menjambak rambut hitam Askara dengan kasar.
BUGH! BUGH!
"Lepas! Penjahat kelamin! Mesum!" teriak Nadira saat bibir Askara terlepas satu detik.
Askara tidak memberi ampun. Ia menahan kedua pergelangan tangan Nadira, menguncinya rapat di samping tubuh wanita itu. Matanya menatap tajam ke dalam iris mata Nadira yang panik.
"Buka mulut lo, Nadira," bisik Askara dengan suara rendah yang sangat dalam dan seksi, menatap bibir basah wanita itu.
"Gak sudi—umph!"
Askara kembali menuntut bibirnya, kali ini jauh lebih dalam, posesif, dan penuh dengan gairah yang lama terpendam. Ciuman itu membakar seluruh pertahanan Nadira. Rasa marah, cemburu, dan gengsi yang dibangunnya bertahun-tahun runtuh seketika.
Tubuh Nadira yang tadinya memberontak perlahan melemas. Cokelat di tangannya terlepas jatuh ke atas meja. Ketika jemari Askara mengelus rahangnya dengan lembut dan berbisik meminta akses, Nadira entah kenapa justru menurut begitu saja. Ia membuka mulutnya, membiarkan Askara menyesap dan menguasai seluruh inderanya.
Ruangan kerja yang terkunci itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru napas mereka berdua yang memburu di udara. Hati Nadira berdesir hebat—menyadari bahwa dalam permainan perasaan ini, dirinya telah kalah total dari sahabatnya sendiri.
semangat terus thor...
/Heart/