Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum
POV Author
Dua minggu telah berlalu sejak chat Fariq yang lumayan konyol itu. Dira yang awalnya biasa saja kini mulai menyadari ada yang tidak biasa dari perlakuan kakak iparnya. Selama dua minggu ini Fariq memang tidak menampakkan batang hidungnya, tapi setiap hari ia tidak pernah absen memberi kabar pada Dira tentang aktivitasnya. Fariq menuturkan pekerjaannya di lapangan tidak bisa ditinggalkan sama sekali. Siapa peduli? Batin Dira tanpa memberi balasan apapun pada chat Fariq.
Dan di Hari Minggu yang syahdu ini, tiba-tiba saja Fariq sudah ada di halaman toserba tempat Dira bekerja. Jangan tanya bagaimana riuhnya teman-teman Dira saat melihat Fariq keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke toserba.
Dengan tubuhnya yang tinggi tegap, Fariq begitu pantas mengenakan t-shirt warna putih dan celana warna khaki. Penampilan yang nyaris sempurna itu membuat beberapa teman Dira tak henti melongo.
“Permisi Mbak, maaf mau tanya apa Dira masuk ya hari ini?” Tanya Fariq pada staf kasir siang itu, Murti.
“A.. Ada Mas, ada. Lagi ke kamar kecil. Sebentar biar dipanggilkan anak-anak.” Jawab Murti dengan terbata, ia lalu melempar kode pada teman-temannya supaya segera memanggil Dira.
“Ditunggu, Mas.” Kata Murti sambil melempar senyum ramah, Fariq pun mengangguk.
"Mbak sudah lama kerja disini?" Fariq berbasa-basi.
"Lumayan, Mas. Hampir satu tahun. Mas Fariq ini teman atau saudaranya Mbak Dira?"
"Tahu nama saya, Mbak?"
"Iya, Mbak Dira yang ngasih tahu."
"Oh, ya? Dira cerita apa saja tentang saya, Mbak?" Fariq jadi penasaran, ia terlihat antusias melakukan percakapan dengan salah satu teman kerja Dira.
"Mbak Dira cuma cerita kalau Mas Fariq temen lamanya. Gitu doang, sih." Jawab Murti dengan sopan.
"Oh, iya benar kalau gitu, saya teman lamanya, Mbak. Temannya Irwan sama Indah juga." Fariq menjawab sambil tersenyum. Bersyukur ternyata Dira mengenalkannya sebagai teman lama, bukan kakak ipar.
“Ngapain lagi sih, Mas?” Beberapa saat kemudian sebuah suara terdengar jelas menghampiri Fariq dan Murti yang tengah bercakap-cakap di meja kasir.
“Hai, Ra.” Sapa Fariq saat mengetahui bahwa wanita yang selalu ingin dilihatnya kini sudah ada di depan mata.
“Aku kan sudah bilang kalo Mas Fariq nggak boleh kesini lagi. Kenapa dilanggar, sih?” Ucap Dira kesal. Tak dihiraukan lagi pandangan heran teman-temannya.
“Oh, tunggu, Ra. Aku kesini memang mau beli ini,” Fariq menyodorkan dua buah kemasan pengharum mobil varian jasmine flow.
Ia seperti sudah bisa menebak respon Dira, maka pengharum mobil ini bisa dijadikan senjata untuk mengalihkan kekesalan Dira.
“Di Surabaya nggak ada, makanya aku belain kesini karena sempat lihat tempo hari.” Ia menjelaskan lebih dulu alasannya datang ke toserba ini, meski itu seratus persen bohong.
“Aku udah off sif pagi, jadi nggak bisa scan barang ini lagi. Murti, Mas ini mau bayar.” Ucap Dira sambil berlalu dari balik meja kasir.
“Ra, Ra, bentar aku mau ngomong.”
“Mas tunggu di depan aja.” Dira tetap melenggang pergi dari pandangan Fariq, menuju pintu yang terletak di belakang rak popok.
“Sabar ya, Mas. Seharian ini Mbak Dira memang agak uring-uringan. Dan kebetulan Mbak Dira sif pagi hari ini, jadi jam kerjanya udah berakhir dari sepuluh menit lalu. Kayaknya sekarang dia ambil tas dulu baru pulang, Mas tunggu aja.” Terang Murti sambil menyerahkan struk belanjaan Fariq.
"Iya, Mbak. Terima kasih, ya." Ucap Fariq dengan berbesar hati, ia menerima struk itu dan berjalan pelan keluar.
Benar saja, belum sampai lima menit ia menunggu di samping mobil, Dira sudah terlihat keluar dari pintu samping toserba.
“Ra,” sapanya saat Dira berjalan mendekat.
“Ada apa?”
“Apa kabar, Ra?”
“Mas Fariq nggak lagi ngajak aku main sambung kata, kan?” Tanya Dira kesal. Hari ini ia sangat lelah sehingga berpengaruh terhadap moodnya.
“Aku kang... Aku khawatir sama kamu, Ra. Karena kamu nggak balas chatku sama sekali.” Hampir saja kata kangen meluncur dari mulut Fariq, beruntung ia segera tersadar dan meralatnya.
“Memangnya aku punya kewajiban untuk balas chat Mas Fariq?” Tegas Dira katakan hal itu, ia sudah bisa membaca maksud kedatangan Fariq kesini.
“Ra, maaf kalau aku buat kamu nggak nyaman, ya. Aku cuma ingin tahu keadaan kamu, nggak lebih.” Pelan Fariq menjelaskan ketulusannya datang kesini.
“Sekarang udah lihat aku, kan? Aku baik-baik saja, kan? Mas Fariq mending pulang sekarang.” Dira benar-benar badmood ternyata. Fariq yang menjadi lawan bicaranya hanya mematung sambil menelan ludah, serba salah.
“Ra, apa kamu sudah ke dokter?” Fariq melemparkan pertanyaan itu dengan suara yang sangat lirih, ia takut Dira akan kembali marah dan sinis melihatnya.
“Belum, belum sempat.”
“Misal aku antar sekarang kamu bersedia, Ra?” Ucap Fariq penuh harap.
“Nggak.” Dira menjawab tanpa menatap Fariq.
“Ra..”
“Mas, tolong hargai batasanku. Aku masih sangat menghormati Mas Fariq sebagai kakak iparku, tidak lebih. Mas ini anggap aku apa? Jangan jadikan kondisiku saat ini sebagai momen untuk merapatkan jarak antara kita berdua. Mas sama sekali nggak perlu merasa bertanggungjawab atas kondisiku.” Lagi-lagi intonasi Dira begitu tegas, kini tatapannya tajam pertanda bahwa dia tidak sedang berkompromi.
Beberapa hari belakangan Dira sudah mulai merasa ada yang tidak biasa dari Fariq. Chat bertubi masuk ke ponselnya namun tidak satu pun yang penting, semua hanya bernada basa-basi mirip orang yang sedang mengambil perhatian seseorang yang disuka. Dira jelas risih, karena Fariq yang ia kenal adalah Fariq yang dingin, irit bicara, dan sangat ia segani.
Belum lagi belakangan ini dia juga sering berkunjung ke instagram Farhan, disana ia sering melihat postingan Farhan bersama sang kekasih. Bahkan di postingan terbarunya, dua sejoli itu tengah pamer cincin kembar mereka. Jadi sangat wajar jika saat ini Dira tengah dilanda badmood yang cukup parah.
“Ini kali terakhir kita ketemu, selanjutnya aku nggak akan pernah mau ketemu Mas Fariq lagi.” Ucap Dira sambil menarik tali tasnya. “Dan, tolong jangan chat basa-basi lagi. Aku terganggu.” Lanjutnya ketus.
"Sudah, ya. Mas lebih baik pulang, titip salam untuk semua keluarga di Surabaya. Anggap kita tidak pernah ada interaksi, permisi." Pamit Dira.
Fariq membisu, matanya tak berkedip, lidahnya tiba-tiba kelu. Ia hanya diam menatap punggung Dira yang berangsur menjauh dari tempatnya berdiri. Dira benar, hubungan mereka hanya sebatas ipar, sudah seharusnya ia menyadari hal itu sejak lama, bukan malah memaksakan diri untuk terus mendekat. Mungkin, inilah saat yang tepat untuk mulai belajar membuat batasan seperti yang dilakukan Dira.