"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Mandi Air Dingin dan Ketahanan Seorang Pria
Suasana kamar utama vila di Lembang itu begitu hening. Suara angin malam yang menghempas dinding kaca seolah lenyap, digantikan oleh detak jarum jam dan helaan napas halus dari wanita yang berada di dalam dekapan Askara.
Nadira tidak melepaskan genggamannya sama sekali. Trauma akibat terkunci di kamar mandi tadi membuat kewarasannya runtuh, menyisakan naluri dasar untuk mencari perlindungan pada sosok yang paling ia percayai. Kedua tangannya meremas kemeja Askara, sementara wajahnya makin mendusel masuk ke ceruk leher Askara, mencari kehangatan.
Dalam hitungan menit, napas Nadira perlahan memanjang dan teratur. Wanita itu tertidur pulas karena kelelahan emosional.
Askara membeku. Pria itu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, tak berani bergerak sedikit pun karena takut membangunkan Nadira. Ia membetulkan letak selimut tebal, menutupi seluruh tubuh wanita itu hingga sebatas bahu.
Namun, Askara sangat sadar akan satu hal: di balik selimut tebal itu, Nadira hanya terbalut selembar handuk mandi yang melilit tubuhnya.
Beban tubuh Nadira yang bersandar padanya, kehangatan kulitnya yang menerobos kain kemeja, serta aroma manis sampo dan sabun yang menusuk indera penciuman Askara benar-benar menguji ketahanan pria itu sampai ke batas paling ekstrem.
"Nad... lo bener-bener bikin gue gila," bisik Askara pelan, suaranya sangat serak.
Jari-jemari Askara bergerak tanpa sadar, mengusap helai rambut gelombang Nadira yang menutupi dahinya. Pandangan mata Askara lalu turun, tertuju lurus pada bibir merah Nadira yang sedikit terbuka dan tampak agak bengkak bekas kecupannya tadi siang di kantor.
Wajah Nadira bergerak kecil dalam tidurnya, kembali mendusel makin dalam ke leher Askara. Bibir basah wanita itu tak sengaja menyapu kulit leher Askara yang sensitif.
DEG!
Pertahanan yang dibangun Askara berantakan seketika. Jiwa kelelakiannya tersulut hebat. Mengabaikan suara akal sehat yang menjerit di kepalanya, Askara menundukkan kepala, menangkup rahang lembut Nadira, lalu menyatukan bibir mereka.
Muuuph...
Askara mengira Nadira akan terbangun dan menendangnya seperti biasa. Namun, bukan penolakan yang ia dapatkan. Nadira yang sedang berada di alam bawah sadarnya justru melenguh pelan, memberikan kemudahan akses tanpa perlawanan. Nadira memiringkan kepalanya sedikit, seolah membiarkan sahabatnya itu bertindak sesukanya.
Ciuman itu mendadak berubah menjadi sangat dalam, hangat, dan menuntut. Askara dengan mudah memagut bibir manis itu, menyesap setiap inci kelembutan yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia impikan. Tangannya yang tadinya menahan diri kini merambat melingkari pinggang Nadira yang tertutup selimut, menarik tubuh wanita itu makin menempel pada dadanya.
Desahan halus lolos dari tenggorokan Nadira di tengah pagutan itu, membuat darah di sekujur tubuh Askara berdesir hebat bagaikan gelombang pasang. Gejolak nafsu dan hasrat kepemilikan membakar habis ketenangan pria itu. Tangannya yang menempel di pinggang Nadira perlahan mulai menyusup ke balik selimut, menyentuh tekstur kain handuk mandi yang agak lembap.
Ting.
Sebuah kesadaran menghantam kepala Askara bagaikan aliran listrik.
Askara mendadak menghentikan ciumannya. Napasnya memburu parah di atas wajah tidur Nadira. Matanya membelalak, menatap bibir basah dan wajah polos wanita yang sangat dicintainya itu.
Gak... Gak boleh sekarang, batin Askara menjerit, berjuang mengambil alih kewarasannya kembali. Gue udah janji sama diri gue sendiri. Gue gak mau merusak dia sebelum dia resmi jadi istri gue. Tinggal tiga minggu lagi, Askara!
Dengan sisa kekuatan dan kendali diri yang teramat sangat, Askara perlahan melepas pagutannya. Ia menarik tangannya keluar dari balik selimut, lalu membaringkan kepala Nadira ke atas bantal dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan wanita itu.
Nadira hanya bergumam kecil, memeluk guling yang ada di sampingnya, lalu kembali terlelap pulas.
Askara mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menekan gejolak di dadanya. Pria itu menyingkap selimutnya sendiri, bergegas berdiri dari kasur dan melangkah cepat menuju kamar mandi luar yang berada di ujung koridor.
Wuuuuushhh!
Kucuran air dingin dari shower langsung mengguyur kepala dan seluruh tubuh Askara yang masih terbalut kemeja dan celana panjangnya. Askara menyandarkan kedua tangannya ke dinding keramik yang dingin, menundukkan kepala di bawah terpaan air es yang menusuk kulit.
"Bangsat..." umpat Askara pada dirinya sendiri, mengusap air yang menutupi wajahnya.
Air dingin Lembang malam itu benar-benar membekukan tubuhnya, namun bayangan tubuh Nadira yang hanya berbalut handuk, aroma manisnya, dan bagaimana bibir wanita itu menyambut ciumannya terus berputar di kepala Askara, meruntuhkan ketenangannya secara perlahan.
Sensasi panas di dadanya sulit sekali dipadamkan. Askara memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air dingin terus mengguyur tubuhnya hingga rasa menggigil menguasai fisik dan mematikan gejolak gairahnya.
Malam ini adalah malam yang sangat panjang dan tantangan terberat sepanjang hidup seorang Askara Pradipta.
Setengah jam kemudian.
Askara melangkah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti menggunakan kaus hitam santai dan celana kain tebal. Rambutnya yang basah ia usap dengan handuk kecil.
Ia melangkah pelan memasuki kamar utama kembali. Di atas tempat tidur besar itu, Nadira masih tertidur sangat pulas, meringkuk hangat di balik selimut tebalnya.
Askara menatap wanita itu dengan binar mata yang mendadak kembali melembut. Semua rasa frustrasi dan gejolak nafsu tadi berganti menjadi rasa cinta dan ketulusan yang tak terbatas.
Askara tidak naik ke atas kasur. Pria itu melangkah menuju sofa panjang bernuansa abu-abu yang terletak tak jauh dari ujung tempat tidur. Ia menyambar satu selimut tambahan, lalu membaringkan tubuh jangkungnya di atas sofa tersebut.
Dengan berbantalkan lengan tangannya sendiri, Askara memiringkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Nadira yang sedang tertidur.
"Tidur yang nyenyak, Calon Istri," bisik Askara pelan dengan senyuman hangat yang terukir di bibirnya. "Tiga minggu lagi, lo gak bakal bisa lari ke mana-mana lagi dari gue."
Dalam heningnya malam kota Bandung, Askara terus memandangi wajah wanita yang paling dicintainya itu hingga matanya sendiri perlahan-lahan terpejam menembus mimpi.
semangat terus thor...
/Heart/