Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26, PERTEMPURAN KABUT
Angin berubah. Kabut yang biasanya tenang kini bergerak gelisah, berputar-putar di antara pepohonan bengkok dan bukit rendah Morgh. Di garis depan, di perbatasan negeri kabut, pasukan persekutuan telah bersiap — bukan di tembok batu yang tinggi, bukan di balik gerbang besi, melainkan di dataran terbuka yang dikelilingi hutan lebat dan rawa yang tak terduga. Morgh tidak punya benteng. Tapi seluruh negeri ini adalah benteng itu sendiri.
Zhoo berdiri di tengah barisan depan. Di sebelah kiri Elara, di kanan Arvin. Di belakang mereka, Kael berdiri tegak, tangannya menggenggam pedang erat, matanya tidak lagi ragu — ia telah memilih, dan ia akan membuktikan pilihannya. Lebih jauh ke belakang, pasukan Oakhaven dan Thalyn membentuk sayap kiri; pasukan Solis yang tangguh di sayap kanan, siap menyerang dari samping; dan di tengah, prajurit Morgh yang bergerak senyap, seolah menyatu dengan bayangan tanah.
"Lihatlah ke depan," kata Zhoo pelan, suaranya terdengar jelas meski tanpa ditinggikan. "Lihatlah orang di sebelahmu. Itulah alasan kita bertarung. Bukan untuk tanah, bukan untuk mahkota — tapi untuk orang yang berdiri di sampingmu, yang siap mati agar kau bisa hidup."
Dari balik kabut di kejauhan, suara langkah kaki bergema — bukan ribuan, tapi puluhan ribu. Bumi bergetar lembut, lalu semakin kuat, hingga dedaunan di atas kepala mereka bergetar jatuh. Perlahan, barisan depan pasukan Veyra muncul dari kelabu kabut — zirah baja berkilauan, panji-panji emas dan ungu berkibar gagah, kuda-kuda perang yang besar dan kuat. Di tengah barisan itu, di atas kuda putih yang menjulang tinggi, duduk Raja Vereon. Zirahnya berhias permata, jubahnya merah darah, dan di tangannya ia memegang pedang panjang yang terbuat dari baja hitam — senjata yang dikatakan telah minum darah ratusan ksatria.
Ia berhenti di jarak seratus langkah, dan keheningan menyelimuti kedua pasukan. Raja Vereon menatap Zhoo, lalu tertawa — suara yang keras dan dingin, tanpa tawa sama sekali.
"Jadi ini dia," suaranya menggelegar menembus kabut. "Pasukan pengemis, orang buangan, dan pemberontak! Kau menyebut ini persekutuan, Zhoo? Ini hanyalah sekumpulan orang yang takut dan putus asa! Serahkanlah dirimu sekarang, dan aku akan membunuhmu dengan cepat. Tapi jika kau memilih untuk bertarung... maka aku akan menghancurkan setiap orang di sisimu, satu per satu, di depan matamu sendiri!"
Zhoo melangkah maju satu langkah, tidak membiarkan dirinya terintimidasi oleh kekuatan yang jauh lebih besar.
"Kau mengira jumlah yang banyak membuatmu kuat?" serunya lantang, didengar oleh kedua pihak. "Kau mengira zirah tebal dan pedang tajam membuatmu menang? Kau salah! Kekuatan sejati bukan berasal dari apa yang kau miliki — tapi dari apa yang kau rela korbankan! Pasukanmu bertarung karena disuruh! Pasukanku bertarung karena mereka memilih! Dan itulah perbedaan antara budak dan manusia yang bebas!"
Vereon menggeram, wajahnya merah padam karena amarah. "Serang! Hancurkan mereka semua! Jangan tinggalkan satu pun yang hidup!"
Terompet perang menderu panjang, dan gelombang pertama pasukan Veyra melesat maju seperti banjir baja yang tak terbendung. Pertempuran itu dimulai — bukan dengan teriakan kemenangan, tapi dengan dentuman logam yang memekakkan telinga, derap kuda, dan jeritan orang yang terluka.
Di garis depan, hantaman pertama begitu kuat hingga barisan persekutuan mundur dua langkah. Zhoo tidak menyerang dengan membabi-buta — ia memimpin dengan tenang, menutup celah di mana musuh mendesak, mengatur ulang barisan yang mulai terpecah, selalu berada di tempat yang paling berbahaya. Di mana pun musuh mendesak, di sanalah ia muncul — bukan untuk membunuh sebanyak-banyaknya, tapi untuk melindungi orang-orangnya.
"Jangan biarkan mereka memecah barisan!" teriaknya. "Tetap bersama! Satu tubuh, satu hati!"
Di sayap kanan, pasukan Solis bertarung dengan keberanian yang luar biasa. Mereka tidak mundur walau kuda-kuda musuh menyerang dengan kekuatan penuh. Naira memimpin mereka di garis depan, pedang di tangan kiri, dan di setiap serangannya ada kemarahan yang mendalam — kemarahan karena tanahnya pernah diperbudak, kemarahan karena rakyatnya pernah diancam.
"Untuk Solis! Untuk kebebasan!" teriaknya, dan prajuritnya berteriak bersamanya, mengangkat pedang tinggi, lalu menyerang balik dengan kekuatan yang membuat musuh terdesak mundur.
Namun jumlah musuh terlalu banyak. Gelombang kedua datang, lebih besar dari yang pertama, dan barisan persekutuan mulai terdesak mundur menuju hutan. Panah menghujani dari belakang barisan musuh, dan banyak prajurit Morgh yang jatuh — mereka yang hidup di kabut, yang lembut namun teguh, kini gugur demi orang yang baru saja mereka kenal.
Zhoo melihat itu, dan hatinya hancur. Tapi ia tahu — jika mereka mundur lebih jauh, mereka akan terjepit di antara musuh dan rawa yang mematikan.
"Kita tidak bisa bertahan di sini!" teriak Arvin di tengah kebisingan pertempuran. "Kita harus mundur ke dalam hutan! Di sana kavaleri tidak bisa bergerak!"
"Kita mundur bertahap!" perintah Zhoo. "Morgh di belakang, Solis dan Thalyn melindungi sayap! Oakhaven di belakang! Jangan ada yang tertinggal! Jangan ada yang ditinggal!"
Mereka mundur sambil tetap bertarung — setiap langkah dibayar mahal, setiap mundur dijaga dengan nyawa. Panah dan tombak terus menghujani mereka, dan di antara mereka yang gugur adalah Kapten Mara — wanita yang membawa mereka ke Lirael, yang berani menentang kekuasaan Vereon di pelabuhannya sendiri. Ia jatuh tertembak di dada, namun sebelum matanya tertutup, ia tersenyum melihat pasukannya berhasil masuk ke dalam perlindungan hutan.
"Kita... berhasil..." bisiknya pelan, lalu napasnya berhenti.
Di dalam hutan, kavaleri Veyra tidak bisa lagi menyerang dengan formasi rapi. Pohon-pohon besar menghalangi kuda, akar-akar menjerat langkah, dan cahaya matahari hampir tidak bisa menembus kanopi dedaunan yang tebal. Di sinilah keunggulan Morgh terlihat — prajurit Morgh menghilang di antara bayangan, muncul tiba-tiba di belakang musuh, menyerang dengan cepat lalu menghilang lagi, membuat musuh merasa seolah mereka dikelilingi oleh hantu yang tak terlihat.
"Jangan biarkan mereka beristirahat!" perintah Ryn yang kini memimpin pasukan Morgh. "Hutan ini milik kita! Biarkan mereka merasakan ketakutan yang sama seperti yang mereka tanam di hati orang lain!"
Namun Vereon tidak menyerah. Ia mengirim pasukan infanteri terkuatnya — prajurit elit yang tidak takut pada kegelapan, yang terlatih untuk bertarung di mana saja. Mereka membawa obor, membakar semak-semak, berusaha memaksa pasukan persekutuan keluar dari persembunyiannya. Asap mulai mengepul, dan api kecil mulai menjalar di lantai hutan.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi!" kata Elara, matanya berair karena asap. "Api akan memakan hutan ini, dan kita akan terjebak di antara api dan musuh!"
Zhoo menatap sekeliling — asap tebal, temannya terluka, musuh semakin dekat. Ia tahu ada satu jalan keluar, tapi itu berbahaya. Di belakang hutan itu ada tebing curam yang menghadap ke rawa luas. Di sana tidak ada jalan mundur. Tapi di sana juga, musuh hanya bisa menyerang dalam jumlah kecil sekaligus.
"Kita naik ke bukit batu di belakang hutan!" kata Zhoo tegas. "Dari sana kita bisa melihat setiap pergerakan mereka. Dan mereka hanya bisa naik satu jalur sempit. Itu akan menjadi benteng kita sampai bantuan datang!"
"Bantuan?" tanya Kael terengah-engah sambil menahan serangan musuh. "Siapa yang akan datang? Lirael belum berani menyatakan perang!"
"Vereon tidak tahu itu," jawab Zhoo dengan tatapan tajam. "Dan ia tidak akan mengambil risiko. Jika kita bertahan sampai matahari terbenam, ia akan ragu. Dan keraguan adalah musuh terbesarnya."
Mereka bergerak menuju bukit batu itu — membawa yang terluka, melindungi yang lemah, tidak meninggalkan satu pun orang yang masih bernapas. Saat mereka akhirnya sampai di puncak bukit itu, mereka melihat ke bawah — pasukan Veyra berkumpul di dasar lembah, siap untuk menyerang naik. Dan di kejauhan, di arah Lirael, Zhoo melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar kencang — debu yang naik tinggi di udara, dan panji-panji putih berhias ombak dan burung laut.
"Lirael!" serunya dengan suara penuh harapan. "Mereka datang! Ratu Seren akhirnya berani!"