Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Degupan Jantung di Bawah Lampu Teras
Setelah memastikan Lala kembali terlelap di kamarnya yang hangat, suasana rumah nomor 12B kembali diselimuti hening. Lampu utama ruang tengah sudah dimatikan, menyisakan pendar redup dari lampu taman yang menerobos masuk melalui celah gorden.
Mila melangkah keluar dari kamar anak dengan sangat pelan, menutup pintu kamar Lala tanpa suara. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa ketegangan akibat kedatangan tamu misterius tadi.
Saat berbalik, ia terkejut menemukan Chiko sedang berdiri di dekat meja dapur, memegang dua cangkir teh chamomile yang masih mengepulkan uap hangat.
"Lala sudah tidur lelap?" tanya Chiko dengan suara berbisik yang sangat lembut.
Mila tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Sudah, Papah. Anak itu kalau sudah memeluk kotak pensil pandanya, langsung nyenyak sekali."
Chiko menyodorkan salah satu cangkir ke arah Mila. "Ini... teh hangat untuk Bunda. Tadi kelihatannya Bunda kaget sekali gara-gara orang asing tadi."
Mila menerima cangkir itu. Jemarinya yang biasanya begitu dingin saat memegang senjata, kini merasakan kehangatan yang merambat perlahan dari porselen cangkir.
"Terima kasih, Papah," ucap Mila pelan.
Mereka berdua berjalan menuju teras belakang rumah—sebuah sudut kecil yang terlindung dari pandangan luar, hanya dihiasi tanaman gantung dan hembusan angin malam yang sejuk. Mereka duduk berdampingan di bangku kayu panjang.
Tidak ada percakapan selama beberapa menit. Mereka hanya menyesap teh masing-masing dalam diam, namun anehnya, diam kali ini tidak terasa canggung. Ada kenyamanan aneh yang perlahan tumbuh di antara mereka.
"Papah..." panggil Mila pelan, menatap lurus ke arah dedaunan malam. "Maaf ya... soal kejadian tadi sore di meja makan."
Chiko menoleh, sedikit bingung. "Kejadian yang mana, Bunda?"
Mila menggigit bibir bawahnya, rona merah tipis kembali muncul di pipinya yang mulus. "Soal... Bu Siska. Dan soal Bunda yang marah-marah tidak jelas. Padahal... padahal kan kita cuma penyamaran. Aku tidak punya hak untuk bersikap seperti itu padamu."
Chiko tertegun. Ia menatap lekat wajah Mila dari samping. Di bawah temaram cahaya bulan, sudut mata Mila yang tegas tampak begitu lembut. Tidak ada jejak Ratu Viper yang ditakuti dunia bawah tanah—di depannya hanya ada seorang wanita yang tampak begitu jujur dan rapuh.
Chiko meletakkan cangkirnya di atas meja kayu. Dengan perlahan dan penuh rasa hormat, ia memberanikan diri menggenggam jemari Mila yang bebas.
Mila sedikit tersentak, namun ia tidak menarik tangannya.
"Bunda..." suara Chiko terdengar sangat tulus dan dalam, berbeda dari nada canggung yang biasa ia gunakan sebagai karyawan biasa. "Bagi Papa, pernikahan ini mungkin berawal dari sebuah penyamaran demi melindungi Lala. Tapi rasa peduli Papa pada rumah ini... pada Bunda... itu sama sekali bukan pura-pura."
Mila menoleh cepat, matanya berkedip memandangi Chiko.
Chiko mengangkat sebelah tangannya, dengan lembut mengusap helaian rambut Mila yang terurai di pipinya, lalu menyelipkannya di belakang telinga Mila. Ibu jari Chiko mengelus lembut tulang pipi wanita itu.
"Mila..." bisik Chiko, menyebut nama aslinya untuk pertama kali dengan nada penuh kehangatan. "Melihatmu peduli padaku tadi sore... sejujurnya membuat jantungku berdebar lebih kencang dari saat menghadapi bahaya apa pun. Aku sungguh-sungguh bersyukur kamu ada di sini."
Jantung Mila serasa berhenti berdetak selama satu detik. Kata-kata itu menembus pertahanan terdingin dalam jiwanya. Wajah mereka kini berjarak begitu dekat, hingga napas hangat Chiko menyapu lembut permukaan kulitnya.
Mila menatap ke dalam mata Chiko di balik kacamata tebal itu. Di sana, tidak ada kebohongan. Hanya ada ketulusan seorang pria yang benar-benar ingin melindunginya dan menghangatkannya.
Mila menyandarkan kepalanya pelan di bahu tegap Chiko, membiarkan jemari mereka saling bertaut erat di atas pangkuan.
"Jangan pernah tersenyum pada wanita lain seperti itu lagi, Chiko..." bisik Mila sangat pelan, menyembunyikan senyuman indahnya di balik bahu pria itu.
Chiko terkekeh renyah, melingkarkan lengannya di bahu Mila dan merengkuhnya lebih rapat. "Janji. Cuma senyum buat Bunda dan Lala."
Di balik pintu kaca teras yang terbuka selebar satu sentimeter, sebuah mata bulat menatap mereka berdua dengan binar kebahagiaan mutlak.
Lala, yang sebenarnya pura-pura tidur, memeluk boneka pandanya sambil tersenyum lebar tanpa suara di dalam kegelapan.
‘Asyik! Papa dan Bunda sudah pegangan tangan!’ batin Lala riang luar biasa. ‘Misi menyatukan Papa dan Bunda berjalan seribu persen sukses!’
------
Matahari pagi menyinari perumahan Griya Indah Permai dengan hangat. Di halaman belakang rumah nomor 12B, Chiko sedang mencuci motor matic tuanya, sementara Mila sibuk menyiram tanaman bunga kertas di sudut pagar.
Setelah kejadian romantis di teras malam sebelumnya, ada suasana berbeda di antara mereka. Senyuman yang mereka tukarkan pagi ini terasa jauh lebih alami, manis, dan tanpa rasa canggung lagi.
Namun, kedamaian hari Minggu itu mendadak terusik saat suara jeritan mungil bergema dari arah kamar anak.
"Bunda! Papah! BISKUIT PANDA LALA HILANG!"
Puk-puk-puk!
Lala berlari keluar dari rumah dengan wajah cemberut paling dramatis di dunia. Ia mengenakan piyama pandanya, memeluk erat kotak pensil raksasanya yang terbuka lebar.
Mila buru-buru mematikan selang air, sementara Chiko meletakkan kain lapnya. Kedua orang tua berdarah dingin itu langsung bersiap dalam mode siaga penuh.
"Hilang bagaimana, Sayang?" tanya Mila lembut, berlutut untuk menyejajarkan tingginya dengan Lala. "Bukan sudah ditaruh di dalam lemari kemarin?"
"Bukan yang di lemari, Bunda!" cetus Lala dengan pipi mengembung. "Biskuit panda edisi terbatas rasa strawberry-cokelat yang ada di dalam kotak pensil raksasa Lala! Tadi malam masih ada tiga, sekarang tinggal bungkusnya saja!"
Lala menunjukkan bungkus plastik kecil yang sudah kosong melompong dengan raut muka sangat gersang.
Chiko membetulkan kacamatanya, menyipitkan mata. ‘Tunggu... biskuit rasa strawberry-cokelat edisi terbatas itu ditaruh di dalam kompartemen rahasia kotak pensil Lala. Kalau ada yang bisa mengambilnya tanpa memicu sensor EMP... berarti si pencuri punya kemampuan stealth tingkat tinggi!’
Di saat bersamaan, Mila menganalisis bungkus plastik itu dengan cermat. ‘Tidak ada tanda-tangan robekan paksa. Plastik ini dibuka menggunakan teknik pemotongan sudut mikro dengan silet tipis... Teknik khas divisi pencuri bayangan!’
Seketika itu juga, aura Chiko dan Mila berubah menjadi sangat serius. Seseorang telah berhasil menyusup ke dalam rumah mereka tadi malam, melintasi kamar anak, dan mencuri biskuit milik putri tercinta mereka!
"Lala tenang ya," Chiko mengelus kepala Lala dengan lembut, namun sorot matanya di balik kacamata memancarkan kejahatan mutlak. "Papa janji, siapa pun yang mengambil biskuit Lala... Papa akan buat dia mengembalikannya seribu kali lipat."
Mila tersenyum sangat manis—jenis senyuman yang biasanya mendahului pembantaian di dunia bawah tanah. "Bunda juga akan bantu pelakunya 'mengingat' tata krama, Sayang."
Lala mendongak, matanya berkedip-kedip polos. ‘Wah, Papa dan Bunda makin kompak! Tapi... padahal biskuit itu tadi malam dimakan sendiri sama Lala pas lagi mengintip Papa dan Bunda pegangan tangan di teras...’ batin Lala menjerit panik di dalam hati.
Lala lupa kalau tadi malam ia mengunyah biskuit itu secara tidak sadar karena terlalu bersemangat menonton adegan romantis orang tuanya!
‘Aduh! Kalau Lala bilang jujur sekarang, Papa dan Bunda bakal tahu kalau Lala pura-pura tidur dan mengintip mereka!’ batin Lala makin panik. ‘Bisa-bisa adegan romantis tadi malam batal dan Lala tidak dapet es krim lagi!’
Dengan kejeniusan ber-IQ 210 milik Subject 04, Lala harus memutar otak dalam hitungan detik untuk mengalihkan penyelidikan dua agen rahasia kelas atas ini!
"E-eh... Papa, Bunda!" sela Lala cepat dengan suara cemprengnya yang menggemaskan. "Lala ingat! Tadi pagi ada kucing hitam besar lewat depan jendela! Kucingnya pakai Kacamata Hitam!"
Chiko dan Mila mendadak membeku.
"Kucing hitam... pakai kacamata hitam?" ulang Chiko heran.
"Iya! Kucingnya bisa jalan pakai dua kaki!" bual Lala tanpa dosa sambil memperagakan gerakan berjalan yang kaku. "Mungkin itu Kucing Ninja pencuri biskuit!"
Chiko dan Mila saling pandang. Di dalam pikiran mereka masing-masing, deskripsi "kucing hitam berjalan dua kaki pakai kacamata" langsung terhubung pada pria berjas hitam misterius yang mengetuk pintu rumah mereka kemarin malam!
‘Pria berjas kemarin... dia berani menyusup masuk dan mengambil barang di kamar Lala?!’ batin Chiko murka luar biasa.
‘Dia memprovokasi Black Crimson dengan mencuri biskuit anakku?!’ batin Mila dingin, siap menghancurkan faksi musuh detik itu juga.
Lala mengembuskan napas lega yang sangat panjang di dalam hati. ‘Fiuh! Misi mengkambinghitamkan paman berjas hitam: Sukses seribu persen!’
Lala melompat gembira, menggandeng tangan Chiko dan Mila bersamaan. "Nah! Daripada marah-marah sama Kucing Ninja, mending Papa dan Bunda antar Lala beli biskuit panda baru di supermarket! Terus kita beli es krim tiga rasa!"
Mila meleleh melihat senyuman putrinya, langsung mengangkat Lala ke dalam pelukannya. "Siap, Pahlawan Panda! Ayo kita berangkat!"
Chiko tertawa renyah, melempar kain lapnya ke dalam ember. "Ayo! Hari Minggu ini milik keluarga Leonhart!"
Di bawah naungan langit pagi yang cerah, tiga anggota keluarga penuh rahasia itu melangkah keluar rumah dengan gembira, siap menikmati hari Minggu mereka—sambil diam-diam merencanakan perburuan besar terhadap "Kucing Ninja" yang malang.
Bersambung..