NovelToon NovelToon
Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ranaraworld

Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.

Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.

Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.

Satu tahun. Hanya di atas kertas.

Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.

Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Dari Boston

​BAB 27: KEJUTAN DARI BOSTON

​Hembusan angin perbukitan sore membawa pendar kehangatan di pelataran Mansion Caelmont. Usai berenang dan tertidur lelap di sofa santai tepi kolam, Luna terbangun dengan kondisi tubuh yang bugar dan wajah merona segar.

​Di ruang keluarga berlantai kayu hangat, Elara sedang duduk bersimpuh di atas karpet empuk bersama Luna. Di hadapan mereka, dua buku gambar A3 baru dan kotak cat air non-toxic hasil belanja kemarin sudah terbuka lebar. 

Elara menerapkan metode Parallel Play, ia tidak menuntut Luna untuk melukis sesuatu yang spesifik atau mengajukan pertanyaan langsung, melainkan membiarkan jemarinya sendiri menggoreskan kuas basah berbentuk dedaunan hijau di atas kertasnya.

​Melihat Mamanya melukis dengan tenang tanpa menatapnya secara menuntut, mekanisme kecemasan di otak Luna mengendur total. Tanpa tekanan spotlight effect, binar rasa ingin tahu alami anak itu membuncah. Jemari mungil Luna meraih kuasnya sendiri, mencelupkannya ke warna kuning, lalu mencoretkan lingkaran hangat di samping lukisan Elara.

​"Bagus sekali lingkarannya, Sayang," puji Elara dengan nada suara yang sangat tenang dan kasual, tidak berlebihan agar Luna tidak merasa dinilai.

​Luna menatap Elara, lalu jarinya menunjuk ke arah buku gambar baru yang masih tertutup. Bibir kecilnya bergerak, mengeluarkan bisikan halus yang amat jernih:

​"...Bu... ku..."

​Deg.

​Dada Elara berdesir hebat! Napasnya tertahan bahagia. Kata itu bukan lagi sekadar panggilan "Mama" atau "Papa", melainkan ungkapan kognitif pertama Luna untuk menyebutkan benda di sekitarnya!

​"Iya, Sayang... ini buku gambar Luna," sahut Elara lembut, menyerahkan buku tersebut.

​Mata bulat Luna berbinar. Ia mengusap sampul buku itu, lalu membisikkan kata lain sembari menatap Elara:

​"...Li... at..."

​Air mata keharuan merebak di sudut mata cokelat Elara. Sesuai prinsip terapi pemulihan Selective Mutism, pemulihan pita suara Luna tidak terjadi karena dipaksa berbicara, melainkan karena ambang kecemasannya telah runtuh akibat rasa aman (secure base) yang kokoh di rumah ini.

​"Iya, Mama lihat. Cantik sekali," bisik Elara dengan senyum yang mekar sempurna.

​Stellan yang berdiri di ambang pintu ruang keluarga dengan gelas kopi di tangannya menyaksikan momen berharga itu dengan pendar mata yang amat hangat. CEO yang terkenal sangat dingin itu menyunggingkan senyum tulus yang tak pernah memudar sejak pagi.

​Namun, ketenangan sore yang indah itu mendadak terpecah oleh derap langkah sepatu bertumit tinggi yang menghentak nyaring melintasi koridor marmer utama!

​Tuk. Tuk. Tuk.

​"GELAP BANGAT YA DUNIA! ABANG SAYA NIKAH SAMA PSIKOLOG ANGGUN TAPI ADIK KANDUNGNYA SENDIRI MALAH TAHUNYA DARI TRENDING TOPIC X!"

​Suara lengkingan yang sarat akan kekesalan yang dibuat-buat dan nada heboh memecah keheningan mansion.

​Seorang gadis muda bertubuh tinggi semampai, berwajah sangat cantik dengan riasan natural yang elegan, serta mengenakan blazer oversized gaya chic melangkah masuk membawa koper kecil. Ia adalah Sienna Alora Caelmont—adik kandung Stellan, mahasiswi kedokteran di Boston yang juga seorang influencer ternama dengan ratusan ribu pengikut di media sosial.

​Stellan mengernyitkan alisnya, menghentikan langkahnya. "Sienna? Kenapa kamu tiba-tiba di Indonesia?"

​"Kenapa katanya?!" Sienna menepuk jidatnya heboh, meletakkan koper rimowa-nya begitu saja di dekat foyer. "Abang nanya kenapa?! Aku ini lagi mabuk ujian anatomi di Boston, terus pas buka explore Instagram, muka Abang dipeluk-peluk Mbak Elara lagi belanja baju anak bertebaran di mana-mana! Mami di London heboh, aku di Amerika pusing! Makanya aku langsung ambil penerbangan darurat ke sini!"

​Sienna melangkah maju dengan gaya dramatis, mengomeli kakaknya tanpa rasa takut sedikit pun. Bedanya dengan Stellan yang kaku dan dingin bagaikan Papi mereka, Sienna mewarisi ekspresif dan kehebohan Mami Seraphina.

​"Lagian Abang parah banget! Nikah nggak ngundang-ngundang! Kalau bukan karena Mbak Elara cantik dan berhati emas yang berhasil menaklukkan es batu kayak Abang, udah aku coret Abang dari Kartu Keluarga Caelmont!" cerocos Sienna tanpa jeda.

​Stellan memegang pelipisnya, menghela napas panjang melihat kelakuan adiknya yang super-ajaib. "Sienna, pelankan suaramu. Ada Luna dan Elara di dalam."

​Satu detik setelah kata 'Elara' diucapkan, mata Sienna seketika berbinar terang. Gadis itu menepis bahu kakaknya, melangkah cepat menuju ruang keluarga.

​"Mbak Elaraaa!" panggil Sienna dengan pendar kekaguman yang amat transparan.

​Elara yang tadinya duduk di karpet lekas berdiri, sedikit terkejut melihat kehadiran adik iparnya yang begitu segar dan heboh. Namun, sebelum Sienna sempat berlari dan memeluk Elara dengan antusiasme khas influencer, Elara lekas menegakkan telapak tangannya di udara, memberi isyarat perlahan.

​"Sienna... tunggu sebentar ya," bisik Elara dengan suara yang begitu tenang dan menyejukkan.

​Mata Elara melirik pelan ke arah Luna yang duduk di karpet. Mendengar suara melengking dan gerakan mendadak dari orang baru, postur tubuh mungil Luna seketika menegang. Bahunya ditarik ke dalam, tangannya refleks memeluk boneka beruang di dadanya, dan matanya menatap kaku ke arah lantai, gejala klasik anxiety freeze pada anak Selective Mutism.

​Sienna yang merupakan mahasiswi kedokteran seketika menghentikan langkahnya tepat waktu. Pikirannya lekas menangkap isyarat klinis dari Elara.

​Elara melangkah mendekati Sienna, berbisik halus di dekat telinganya. "Sienna, terima kasih sudah datang. Tapi untuk Luna... kita pakai aturan Tiga Jangan dulu ya. Jangan menatap matanya langsung, jangan mengajukan pertanyaan langsung yang butuh jawaban verbal, dan jangan membuat gerakan mendadak. Biarkan dia yang menyesuaikan diri."

​Sienna berkedip pelan, lalu mengangguk paham dengan rasa hormat yang membuncah terhadap kearifan Mbak iparnya. Gila, Mbak Elara beneran profesional dan lembut banget! batin Sienna terkagum-kagum.

​Dengan cerdas, Sienna mengubah taktiknya. Ia tidak mendekati Luna atau memaksanya bersalaman. Karena setelah Luna tinggal dengan kakaknya, ia sama sekali belum pernah berkunjung. 

Sienna melangkah santai, duduk di sofa kayu yang agak jauh dari Luna, membelakangi sudut pandang langsung anak itu, lalu berpaling menatap Elara dengan senyuman paling mekar.

​"Halo, Mbak Elara!" sapa Sienna dengan nada suara yang sengaja dipelankan dan amat ramah. "Aku Sienna. Maaf ya aku heboh banget, habisnya aku gemas sama Abangku yang kaku ini. Makasih banyak ya Mbak udah mau nampung es batu Caelmont Corp!"

​Elara tidak bisa menahan tawa halusnya, melangkah mendekat dan memeluk adik iparnya dengan hangat. "Halo Sienna. Selamat datang di rumah. Nggak apa-apa, Mami Seraphina juga sudah cerita banyak tentang kamu."

​Stellan berjalan mendekat, berdiri di samping Elara sembari menatap adiknya dengan pandangan datar. "Kamu cuma libur sebentar atau bagaimana, Sienna?"

​Sienna menyilangkan kakinya yang jenjang, bersandar anggun di sofa. "Aku dapat jatah libur pasca-ujian dua minggu, Bang. Lagian setelah lulus kedokteran nanti kan aku mau langsung ambil spesialis dan residency di Australia sekalian tinggal di sana. Jadi sebelum sibuk parah, aku harus memastikan Mbak Elara dan Luna bahagia di sini! Apalagi pas dengar ada pihak luar yang mau recok masalah hak asuh Luna di pengadilan!"

​Iris mata Sienna memancarkan ketegasan keluarga Caelmont saat menyinggung persidangan Tante Henny.

​Sementara mereka berbincang santai, Elara tetap menerapkan teknik Stimulus Fading. Elara kembali duduk di karpet dekat Luna, melanjutkan kegiatan melukisnya tanpa memedulikan Sienna. Sienna pun mengerti; ia berbicara dengan Stellan dan Elara dengan nada lembut, sesekali tertawa tanpa membuat gerakan mengancam.

​Melihat suasana tetap aman dan tidak ada orang asing yang mendesaknya berbicara, pertahanan emosional Luna perlahan melunak kembali. Punggung mungilnya rileks. Bocah kecil itu mengintip Sienna dari balik bulu matanya yang lentik.

​Luna mengamati Sienna yang memiliki kemiripan struktur wajah dengan Papanya dan Omanya. Rasa aman alami dari ikatan dan energi hangat Sienna mulai merayap ke batin Luna.

​Secara mengejutkan, Luna melepaskan pelukan boneka beruangnya. Bocah kecil itu merangkak pelan di atas karpet, mendekati tempat duduk Sienna, lalu mengulurkan tangan mungilnya yang memegang salah satu jepit rambut pita warna merah muda yang dibeli kemarin.

​Sienna menahan napasnya, tidak berani membuat gerakan mendadak atau bersorak gembira agar tidak merusak progress Luna. Sienna tetap duduk tenang, hanya mengulurkan telapak tangannya yang terbuka di atas karpet, memberikan Sense of Control penuh pada Luna.

​Luna menaruh jepit rambut pita itu di telapak tangan Sienna. Matanya yang bulat menatap wajah cantik tante mudanya dengan pendar kehangatan yang amat polos.

​Bibir kecil Luna bergerak pelan, mengeluarkan suara bisikan halus yang terdengar begitu menggemaskan:

​"...On... ty..."

​Deg.

​Sienna membelalak kaget! Air mata keharuan seketika merebak di sudut mata cantiknya. Sebagai seseorang yang tahu betapa parahnya kebisuan trauma Luna selama tiga tahun terakhir, mendengar keponakannya secara spontan memanggilnya "Onty" adalah keajaiban yang teramat dahsyat!

​Sienna menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, menahan jeritan bahagianya agar tidak menakuti Luna.

​"I-iya, Sayang... ini Onty Sienna..." bisik Sienna dengan suara bergetar amat lembut, menerima jepit rambut itu dengan hati yang meleleh tuntas.

​Luna menyunggingkan senyum tipisnya yang amat manis, lalu kembali duduk di samping Elara, memegang kuas melukisnya lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

​Elara menatap Stellan, dan Stellan membalas tatapan istrinya. Keduanya saling melemparkan senyuman penuh rasa syukur yang membuncah. Perkembangan Luna hari ini benar-benar luar biasa; dari kebisuan total menuju keberanian mengekspresikan diri kepada orang lain di luar lingkaran utamanya.

​Sienna mendongak menatap Elara dengan pendar kekaguman dan rasa sayang yang mutlak. Gadis muda itu berbisik mantap pada Elara:

​"Mbak Elara... fix, Mbak adalah kakak ipar terbaik di dunia! Kalau Abang Stellan sampai bikin Mbak sedih atau macam-macam, bilang sama Sienna ya. Biar Sienna dan Mami yang tendang Abang dari mansion ini!"

​Stellan terkekeh halus, menggelengkan kepalanya sembari merangkul bahu Elara secara protektif dari belakang. "Saya tidak akan pernah membuat istri saya sedih, Sienna."

​Elara menyandarkan kepalanya di dada bidang Stellan, mendengarkan detak jantung suaminya yang hangat, sembari memperhatikan Luna yang sedang asyik melukis bersama Sienna di atas karpet.

​Di dalam Mansion Caelmont yang kini dipenuhi tawa, kehadiran Sienna dan tawa hangat Luna menegaskan satu hal mutlak: duka masa lalu telah sepenuhnya sirna, berganti menjadi lembaran keluarga sejati yang penuh dengan cinta, keceriaan, dan harapan masa depan yang tak tergoyahkan.

Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!

Ponsel Elara di atas meja mendadak bergetar hebat. Elara melangkah mendekat, mengernyitkan alisnya tipis saat melihat nama pamannya tertera di layar: Om Bram.

Elara lekas menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Om Bram? Selamat sore—"

"Elara!" suara Om Bram di ujung telepon terdengar amat panik, terengah-engah, dan diliputi kebingungan besar. "Elara, kamu ada di dalam rumah konglomerat itu kan?!"

Elara tersentak pelan, firasatnya seketika memburuk. "I-iya, Om... Elara di rumah. Ada apa, Om Bram?"

Stellan yang melihat perubahan raut wajah Elara lekas menegakkan posisi berdirinya, menatap istrinya dengan pandangan fokus.

"Om... Om sekarang ada di luar gerbang utama Mansion Caelmont, El!" aku Om Bram dengan nada suara serba tergesa-gesa. "Om sengaja dari luar kota gara-gara berita dan foto kamu kemarin! Tapi penjaga gerbang depan kencang banget, pos pengawal bilang Om belum diperbolehkan masuk kalau belum dapat izin langsung dari pemilik rumah atau kamu! Elara... tolong kasih tahu pengawalnya, Om mau ketemu kamu sama suamimu sekarang!"

Deg.

Elara membelalak kaget, jantungnya berdegup kencang. Paman kandungnya, satu-satunya kerabat dekat yang paling penasaran dan menaruh curiga atas pernikahan mendadaknya kini benar-benar berdiri tepat di depan pos pemeriksaan gerbang depan Mansion Caelmont!

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Mei TResna Rahmatika
akhirnya up kak😍
Mei TResna Rahmatika
lanjut kak,baguss ceritanya 😍
Ranaraworld: makasih kak, tungguin terus ya kelanjutan nyaa
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
bab 1 udah menarik kak,lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!