NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Antara Nyali dan Restu

Suasana ruang kerja eksekutif di penthouse Marko terasa mencekik. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit saat Yoga membanting map di atas meja kaca.

"Waktu kita cuma tinggal hitungan menit, Ko!" ujar Yoga dengan suara tertahan. "Tim IT gue gak bisa nembus enkripsi pengirimnya. Kalau lu gak bayar tebusan seratus juta itu sekarang, video lu sama Aluna beneran terkirim ke HP Ardi!"

Marko mengepalkan tangan di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Gue bakal transfer uangnya. Tapi gue gak akan biarkan dia lepas gitu aja. Kita jebak dia saat penarikan dana."

"Lu yakin?" tanya Yoga ragu.

"Yakin. Siapkan jebakan rekening penampung dan pelacakan real-time," tegas Marko dingin.

Satu jam kemudian, Marko mentransfer sejumlah uang yang diminta ke rekening anonim tersebut. Namun, nasib berkata lain. Pelaku rupanya jauh lebih licik. Uang tersebut langsung ditarik dan diputar melalui belasan akun kripto dalam hitungan detik hingga jejaknya menguap tanpa sisa.

"Sialan!" umpat Yoga seraya meremas rambutnya frustrasi di depan laptop. "Jebakan kita gagal, Ko. Uangnya lenyap, dan kita tetap gak tahu siapa bedebah di balik semua ini!"

Marko menyandarkan punggungnya, memejamkan mata rapat-rapat seraya menghembuskan napas berat. "Ya sudah... setidaknya timer ancaman itu mati. Gue cuma bisa berharap masalah ini selesai sampai di sini dan dia gak ganggu Aluna lagi."

---

Keesokan harinya, jadwal bimbingan dosen di kampus selesai lebih cepat. Tanpa mengabari Marko terlebih dahulu, Luna berinisiatif datang ke kantor Janitra Group untuk memberikan kejutan.

Klek.

Pintu ruang kerja CEO terbuka pelan. Marko yang sedang memeriksa dokumen mendongak kaget saat melihat sosok kekasih kecilnya menyelinap masuk.

"Surprise!" bisik Luna manis seraya mengunci pintu ruangan dari dalam.

Tanpa membuang waktu, Luna melangkah cepat memutari meja kerja dan langsung menjinjitkan kakinya, mendaratkan ciuman mesra di bibir Marko. Gadis itu kini sudah begitu mahir membalas lumatan bibir Marko, membuat sang CEO terbuai hingga merengkuh pinggangnya erat. Pagut cinta itu berlangsung hangat dan sarat akan kerinduan yang membuncah.

Klek!

Pintu ruangan mendadak terdorong dari luar—Yoga lupa memasang kembali kunci otomatis usai meletakkan berkas beberapa saat lalu.

"Ko, ini berkas—" Suara Ardi terhenti kaku di ambang pintu.

Marko dan Luna seketika menghentikan ciuman mereka dan melompat mundur dengan raut kaget setengah mati.

"Papa?!" seru Luna membelalak, dadanya berdebar liar.

Ardi mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap putri semata wayangnya dan sahabat karibnya secara bergantian dengan tatapan curiga. "Luna? Kok kamu ada di sini? Bukannya kata kamu hari ini ada bimbingan di kampus?"

"A-anu, Pa... tadi selesai lebih cepat. Terus Luna mampir ke sini mau... mau antar berkas magang," alibi Luna terbata-bata dengan rona merah membakar pipinya.

Ardi melangkah masuk, menatap Marko tajam. "Ko... lu sama anak gue ada yang disembunyiin dari gue gak sih? Tadi gue liat kalian kok deket banget?"

Jantung Luna serasa berhenti berdetak. Di dalam hatinya, Luna sangat berharap Marko menggunakan kesempatan ini untuk jujur dan mengakui hubungan mereka di depan sang papa. Luna menatap Marko penuh harap.

Namun, Marko justru berdeham pelan, menetralkan raut wajahnya menjadi sangat profesional. "Enggak ada apa-apa, Di. Tadi Aluna hampir kepeleset pas mau naruh map di meja gue, makanya gue refleks pegangin bahunya. Kamu ini ada-ada saja."

Mendengar alibi dan kebohongan halus itu, binar di mata Luna seketika padam. Senyumnya lenyap berganti kekecewaan yang teramat dalam.

"Iya, Pa. Benar kata Om Marko," timpal Luna dingin tanpa berani menatap Marko lagi. "Luna pulang dulu ya, Pa. Udah dijemput supir."

Luna melangkah keluar ruangan tanpa pamit pada Marko. Marko yang menangkap raut kecewa itu hanya bisa berdiri mematung dengan rasa bersalah yang menusuk dada.

---

Sejak siang hingga malam hari, pesan dan panggilan telepon dari Marko diabaikan sepenuhnya oleh Luna. Marko merasa sangat bersalah, namun ia sadar situasi di kantor tadi benar-benar tidak tepat untuk berterus terang.

Pagi harinya, Marko yang tidak tenang memutuskan menunggu di depan gerbang kampus Luna. Begitu sosok Luna melangkah turun dari mobil jemputan, Marko langsung menghadangnya.

"Aluna, tolong dengarkan saya dulu," panggil Marko lembut, memegang pelan lengan Luna.

Luna menepis kasar tangan Marko, menatap pria matang itu dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. "Mau ngomong apa lagi, Om?! Kemarin di depan Papa, Om langsung ngeles kan?! Om seakan malu ngakuin aku sebagai pacar Om di depan Papa!"

"Bukan begitu, Sayang... Suasananya kemarin sama sekali gak tepat buat ngaku," tutur Marko mencoba menjelaskan. "Saya minta maaf—"

"Om sebenarnya serius gak sih sama hubungan ini?!" potong Luna dengan suara bergetar. "Aku capek harus terus disembunyiin kayak barang haram! Aku butuh waktu sendiri dulu. Tolong jangan hubungi aku!"

Luna berbalik dan berlari masuk ke dalam area kampus, meninggalkan Marko yang berdiri mematung memandangi punggung kekasihnya dengan perasaan kacau balau.

---

Saat makan siang tiba, Marko, Yoga, dan Ardi berkumpul di sebuah restoran privat untuk membahas proyek konsorsium baru. Di meja makan, Ardi memperhatikan Marko yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera.

"Lu kenapa sih, Ko? Dari tadi diam aja, mukanya keruh banget kayak belum gajian seminggu," celetuk Ardi terkekeh.

Yoga yang duduk di samping Marko menyeringai jahil, mencoba mencairkan suasana. "Biasa, Di... paling lagi berantem sama pacarnya."

Ardi membelalak kaget, meletakkan sendoknya. "Bentar, bentar... lu udah punya pacar, Ko?! Demi apa duda karatan kayak lu bisa laku lagi?!"

Marko menghela napas pelan, melirik Yoga tajam sebelum menatap Ardi. "Iya, gue udah ada pasangan, Di. Tapi... kita belum sempat publish."

"Wah, siapa cewek hebat yang berhasil meluluhkan hati dingin lu, Ko?" tawa Ardi renyah. "Kenalin dong ke gue! Cantik gak?"

Marko tersenyum tipis nan getir. "Cantik banget. Tapi... usianya jauh lebih muda dari gue. Jadi ya gitu... kadang banyak beda pendapat dan sering ngambek."

Ardi manggut-manggut dengan raut bijak. "Ya namanya juga cewek muda, Ko. Lu kan udah dewasa, harus lebih banyak ngalah dan ngertiin dia. Jangan paksa dia buat punya pemikiran setara lu."

Mendengar respons Ardi yang terbuka, Marko memberanikan diri melempar umpan pancingan.

"Di... gue mau tanya," panggil Marko penuh kehati-hatian. "Misalkan... kelak Aluna punya pacar yang usianya jauh lebih tua dari dia—bahkan selisih puluhan tahun kayak gue... sebagai orang tua, reaksi lu bakal gimana?"

Keringat dingin seketika membahasi pelipis Yoga. Pria itu menahan napas, menegang kaku di kursinya menunggu jawaban Ardi.

Ardi diam sejenak, menyesap teh hangatnya sebelum menjawab dengan nada teramat tenang. "Jujur ya, Ko... kalau dulu waktu Luna masih kecil, gue pasti nolak mentah-mentah. Tapi sekarang Luna udah dewasa. Buat gue, usia itu cuma angka. Yang paling penting buat gue cuma satu: pria itu harus bertanggung jawab, sayang tulus sama Luna, dan bisa membahagiakan anak gue. Mau dia lebih tua atau seumuran, kalau Luna bahagia dan pria itu baik, gue bakal restui."

Yoga seketika menghembuskan napas lega yang kencang, menyandarkan badannya ke kursi. Marko pun merasakan beban berat di dadanya sedikit terangkat.

---

Malam harinya usai pulang ke penthouse, Marko kembali mencoba menghubungi nomor Luna. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya sambungan telepon diangkat.

"Mau apa lagi, Om?" suara Luna terdengar dingin dari balik telepon.

Marko menghembuskan napas lembut, bersuara penuh ketulusan. "Saya cuma mau minta maaf, Aluna... Saya tahu saya salah kemarin. Saya janji, secepatnya saya akan bicara jujur ke Papa kamu."

"Janji mulu..." gumam Luna pelan, walau nada bicaranya mulai melunak.

"Saya serius, Sayang. Tolong jangan jauhi saya lagi ya?" bisik Marko manis.

Setelah percakapan telepon berakhir, Marko bersandar di kursi kerjanya, menatap langit-langit kamar. Jawaban bijak Ardi siang tadi memang memberi angin segar, tapi bagaimana cara mengeksekusi pengakuan itu secara langsung tanpa merusak persahabatan mereka?

Tiba-tiba, suara bel dan ketukan kencang di pintu penthouse-nya berbunyi berulang kali di tengah malam yang sunyi.

Siapakah tamu tak diundang yang datang bertandang ke penthouse Marko di jam segini, dan kabar mengejutkan apa yang dibawanya?

1
sundusiyah86
minta kompensasi thor 1bln aja wkwkkw biar langsung nikah..tambah bab thor
papoy: tahan yaa kak hehe..
total 1 replies
sundusiyah86
ko jadi gini siih thor... kenapa papa n mmh nya Aluna ngak setuju aja siih .. iiihh pengen cepet" romantis ..
sundusiyah86
lanjut thor nambah bab
sundusiyah86
lanjut thor tinggal romantis ny aja 🤭
papoy: terimakasih kaka, di spill dikit tinggal satu ujian lagi dpt restu apa ngga dari ayah nya luna 🤭
total 1 replies
Adiba Adisa
visual om marko, ganteng banget 😍
Adiba Adisa
om marko tipe om om greenflag yaa 😍
Emily
Marko jgn mengingkari perasaan mu
Emily
, wkwkwk Marco mau menjerit gak mungkin bisa jatoh harga dirimu
Emily
gimana Skrang perasaanmu marko
papoy: marko menyesal dengan apa yg udh dia lakukan hehe..
total 1 replies
Emily
bang Marko datang lun😁
Emily
hampir saja wkwkwk
Emily
lha ngomong OPO Kowe Marco😁
Adiba Adisa
marko galau berat
Adiba Adisa
pak Ardi, gak ngeh marko lagi ngode tuh
Adiba Adisa
blak blakan banget ngomong nya pak 🤣
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
papoy
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!