Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Diagnosis Salah Sasaran
Bab 16 - Diagnosis Salah Sasaran
Sinta masih berdiri mematung di tepi meja makan mewah penthouse Kuningan. Matanya mengerjap kaku menatap tumpukan obat, berbagai botol suplemen, hingga koyo cabai yang berjejer rapi di samping piring sarapannya. Isi kepala mahasiswi kedokteran itu mendadak blank total. Bagaimana bisa seorang CEO jenius yang keputusannya sanggup mengguncang bursa saham, bertindak sekomedi ini hanya karena salah membaca situasi?
"Pak Dean..." Sinta bersuara, nadanya bergetar menahan malu yang luar biasa. "Ini... terlalu banyak. Saya tidak sedang sakit parah."
Dean yang sudah bersiap dengan tas kerja kulitnya tidak bergeser satu milimeter pun. Posisi berdirinya tegak sempurna, menatap Sinta lurus-lurus dengan wajah sedingin papan pengumuman.
"Kuantitas tersebut sudah melewati kalkulasi efisiensi," sahut Dean lempeng tanpa dosa. "Jika kamu menolak meminumnya di depan saya, probabilitas kamu untuk mengabaikan kesehatan mandiri adalah 85%. Berdasarkan observasi visual pagi ini, gaya berjalanmu memang membaik 40% dibanding semalam, namun eliminasi total gejala harus dicapai hari ini."
[POV Dean]
Nona Sinta terus menatap botol-botol suplemen itu dengan ekspresi wajah yang sulit diklasifikasikan dalam algoritma emosi saya. Mengapa dia tidak menyentuh pereda nyeri otot itu? Padahal, menurut jurnal medis yang saya baca pukul 02.15 dini hari tadi, ketegangan otot panggul dan pinggang akibat stres fisik membutuhkan intervensi analgesik topikal atau oral dengan segera. Saya bahkan secara spesifik menghubungi Anita pukul empat pagi tadi untuk mencari koyo dengan tingkat panas maksimal demi percepatan vaskularisasi darah istri saya.
Mengingat Anita adalah seorang wanita, saya berasumsi dia memiliki referensi merek pereda nyeri feminin yang lebih akurat. Apakah dosisnya kurang? Atau Nona Sinta tidak suka aroma mentol?
"Saya akan meminum vitaminnya nanti di kampus, Pak," potong Sinta cepat sebelum Dean kembali membuka mulut untuk menceramahinya tentang teori medis hasil pencarian Google semalam.
Sinta buru-buru menyambar selembar roti bakar, benar-benar tidak ingin memperpanjang debat "kalkulator vs stetoskop" ini.
Dean melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya. Tepat pukul 06.15 WIB. Waktu keberangkatan ke kantor tidak boleh bergeser lebih dari tiga menit demi menghindari anomali kemacetan di jalur protokol Jakarta.
"Baik. Jadwal keberangkatan saya sudah dimulai. Supir akan mengantarmu ke fakultas kedokteran sepuluh menit lagi," ucap Dean formal. Pria itu berbalik, melangkah tegap meninggalkan ruang makan dengan wibawa seorang konglomerat yang tak tergoyahkan.
Sinta mengembuskan napas panjang setelah punggung tegap itu hilang di balik pintu lift pribadi. Dia segera mengambil tasnya, memasukkan beberapa botol vitamin—dan dengan sengaja meninggalkan koyo cabai serta obat pelancar haid di atas meja. Dia tidak butuh semua itu! Yang dia butuhkan hanyalah waktu agar luka iritasi akibat "gairah merusak jadwal" suaminya malam Jumat lalu bisa benar-benar sembuh.
Siang harinya di Rumah Sakit Pendidikan Santika, Sinta baru saja menyelesaikan sesi diskusi kelompok (DK) yang menguras energi. Efek salep dari dokter kandungan kemarin memang bekerja sangat baik, membuatnya bisa bergerak bebas tanpa harus meringis menahan perih lagi.
Namun, ketenangannya pecah saat ponsel di dalam saku jas almamaternya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor suaminya.
Pak Dean:
Saya sudah memeriksa CCTV ruang makan melalui iPad saya. Kamu meninggalkan 60% dari regimen suplemen yang saya sediakan, termasuk koyo otot.
Apakah ada resistensi terhadap merek tersebut? Saya bisa meminta sekretaris saya untuk menukar dengan varian impor.
Sinta menepuk jidatnya di koridor rumah sakit. Dia lupa kalau suaminya adalah tipe pria protektif yang mengawasi segala hal dengan sistem keamanan tingkat tinggi.
Belum sempat Sinta mengetik balasan untuk meredam kegilaan bapak robot itu, sebuah notifikasi baru masuk. Kali ini dari nomor tidak dikenal, namun pesannya langsung membuat jantung Sinta mencelos.
Dr. Sandra Sp.OG (RS Ibu & Anak):
Halo Sinta, ini Dokter Sandra yang kemarin memeriksa kamu di RS swasta. Dompet kosmetik beludru merah mudamu tertinggal di ruangan saya. Kebetulan sore ini saya ada jadwal visitasi riset gabungan ke RS Pendidikan Santika tempat kamu co-ass. Tadi saya tanya ke bagian sekretariat akademik namamu, katanya kamu sedang di gedung direksi. Dompetnya saya bawa sekalian ya, nanti saya titipkan ke staf di lantai atas gedung direksi saja.
Jantung Sinta rasanya langsung merosot ke lambung. Matanya membelalak menatap layar ponsel, sementara wajahnya mendadak pucat pasi.
Lantai atas gedung direksi?! Di saat yang sama, Sinta tahu dari jadwal umum RS bahwa siang ini direksi Wijaya Group—yang dipimpin oleh suaminya sendiri—sedang mengadakan rapat koordinasi tahunan di lantai yang sama!
Sinta tidak tahu bagaimana rupa sekretaris suaminya, dan Dr. Sandra juga sama sekali tidak tahu kalau Sinta adalah istri seorang Dean Galang Wijaya karena pernikahan mereka dirahasiakan dari publik. Namun, jika Dr. Sandra menitipkan dompet itu ke meja administrasi direksi yang sedang dijaga oleh tim Dean, atau jika dompet itu sampai terbuka di sana, rahasia memalukannya akan hancur berantakan. Dean yang super jeli pasti akan langsung mengenali nama "Sinta Aniswari" yang tertulis di nota klinis dalam dompet tersebut!
"Enggak, enggak boleh! Muka saya mau ditaruh di mana?!" bisik Sinta panik.
Tanpa pikir panjang, Sinta langsung berlari kencang menuju lobi utama gedung direksi di lantai atas. Mengabaikan sisa rasa ngilu yang mendadak mencuat lagi akibat gerakan ekstrem, Sinta bertekad harus mengambil dompet itu sebelum ada orang kantor Dean yang menyentuhnya.
Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak pada Sinta.
Begitu dia berbelok di koridor utama lobi direksi, pintu ruang pertemuan besar di ujung lorong baru saja terbuka. Rapat besar Wijaya Group telah selesai. Dean Galang Wijaya melangkah keluar dengan wibawa mutlaknya, diikuti oleh seorang wanita karier modis berpakaian ketat yang merupakan sekretaris pribadinya (Anita).
Di saat yang sama, Dr. Sandra berjalan terburu-buru dari arah berlawanan di koridor yang sama, sambil mendekap beberapa berkas dan dompet beludru merah muda milik Sinta. Karena kurang memperhatikan jalan, Dr. Sandra tidak sengaja tersenggol oleh salah satu staf internal rumah sakit yang sedang berjalan mendampingi rombongan Dean.
Bruk!
Berkas di tangan Dr. Sandra berhamburan, dan dompet beludru merah muda milik Sinta terlempar ke lantai marmer yang mengilat. Karena ritsletingnya yang memang sudah rusak sebesar tiga puluh persen, sebuah tube salep medis berwarna putih-hijau menggelinding keluar dari dalam dompet... tepat dan berhenti persis di depan ujung sepatu Oxford kulit mahal milik Dean Galang Wijaya.
Asisten medis dan staf yang ada di sana langsung sigap membantu membereskan kertas-kertas. Sebagai pria dengan tingkat keteraturan tinggi yang benci melihat kekacauan di jalurnya, Dean secara refleks ikut membungkuk tegap. Tangan kekarnya memungut tube salep serta dompet beludru tersebut untuk berniat mengembalikannya kepada Dr. Sandra yang sedang sibuk merapikan kertas.
Namun, gerakan Dean mendadak terkunci saat mata hitamnya yang tajam membaca stiker laboratorium apotek yang tertempel erat di badan tube salep dan nota klinis yang menyembul dari dompet: Nama Pasien: Sinta Aniswari (22 tahun).
Wajah tampan Dean tetap lempeng layaknya manekin toko pakaian, namun kedua daun telinganya dalam sekejap langsung berubah merona merah tipis. Otak jeniusnya langsung memproses data sekunder dengan kecepatan penuh.
[POV Dean]
Akurasi identifikasi data: Salep topikal bermerek Hydrocortisone-Antiseptic dengan kode registrasi klinis atas nama Sinta Aniswari berada dalam genggaman saya. Dokter paruh baya di hadapan saya sama sekali tidak menunjukkan indikasi mengenali hubungan domestik saya, yang berarti situasi ini murni sebuah kebetulan mekanis koridor. Namun, indikasi penggunaan salep ini—berdasarkan sediaan farmakologinya yang sempat saya pelajari sekilas—adalah untuk meredakan inflamasi, kemerahan, dan iritasi pada jaringan epidermis yang sensitif akibat gesekan atau trauma mekanis intensitas tinggi. Memori otak saya langsung melakukan penarikan data mundur ke malam Jumat pukul 23.45 WIB. Durasi, friksi, dan hilangnya kendali sistem operasional biologis saya malam itu... adalah penyebab mutlak dari kebutuhan obat ini. Jadi, ini alasan Nona Sinta berjalan dengan gaya abduksi semalam? Ini alasan dia membentak saya, menolak kompensasi termal (pelukan), dan menyembunyikan data medisnya dengan ketat? Sistem berpikir saya mengalami anomali masif. Rasa bersalah dan... kepuasan psikologis bercampur dalam persentase yang tidak seimbang.
Dean memasukkan kembali salep itu ke dalam dompet beludru dengan gerakan yang sangat tenang, lalu menyodorkannya kepada Anita yang berdiri di belakangnya. "Simpan ini di tas kerja saya. Pemilik objek ini adalah tanggung jawab personal saya," ucap Dean dengan suara berat andalannya yang datar, membuat Anita mengerjap bingung namun tetap patuh memasukkannya.
Dari jarak sepuluh meter di balik pilar besar, Sinta menyaksikan seluruh kejadian itu dengan tubuh yang lemas seketika. Wajahnya mendadak terasa panas pekat seperti kepiting rebus yang matang sempurna.
Salep keramat itu kini sudah berada di dalam tas kerja suaminya. Dan malam ini di penthouse, dia harus bersiap menghadapi sesi audit dari si bapak robot yang sudah mengetahui rahasia paling memalukannya.
"Tamat sudah riwayat saya..." bisik Sinta pasrah, ingin rasanya menghilang dari muka bumi saat itu juga.