Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu hitam
Angin dari ventilasi aula berembus pelan, membawa aroma bunga anggrek yang menghiasi panggung peresmian. Suara riuh di luar terasa begitu jauh, seolah dunia di dalam ruangan ini dan dunia di luar sana adalah dua tempat yang berbeda sama sekali. Husnan masih terpaku, mencerna kalimat terakhir yang baru saja diucapkan pria di hadapannya—kalimat yang seketika membuat seluruh isi kepalanya terasa berputar.
"Pulang?" Husnan mengulang kata itu, seolah lidahnya sendiri tidak percaya pada suaranya sendiri. Ia menatap lantai marmer di bawah kakinya, lalu kembali mengangkat wajah menatap pria yang mengaku sebagai ayahnya. "Rumah saya ada di gang sempit belakang pasar, Pak. Rumahnya kecil, atapnya bocor kalau musim hujan, dan Om Hendra harus kerja lembur tiap akhir bulan supaya saya bisa bayar SPP. Bukan di gedung-gedung mewah yang Bapak bangun."
Sorot mata Yudha sedikit meredup mendengar jawaban itu, namun ia tidak menunjukkan amarah sedikit pun. Justru ada sesuatu yang lebih menyakitkan tersirat di sana—rasa bersalah yang sudah dipendam selama sepuluh tahun, yang kini seakan pecah begitu saja di hadapan anak yang selama ini hanya bisa ia awasi dari kejauhan.
"Aku tahu ini berat untuk kamu terima dalam semalam," ujar Yudha, suaranya melunak, jauh berbeda dari nada tegas yang biasa ia gunakan di ruang rapat. "Aku tidak memintamu langsung memanggilku ayah, atau langsung meninggalkan Hendra begitu saja. Aku hanya memintamu satu hal, Husnan: beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, dari awal, tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi seperti sepuluh tahun terakhir ini."
Husnan menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan gejolak yang campur aduk di dadanya. Ribuan pertanyaan berebutan ingin keluar dari kepalanya sekaligus—soal ibunya, soal kenapa ia dititipkan, soal kenapa harus dirahasiakan selama ini—tapi yang paling mendesak justru pertanyaan yang paling sederhana dan paling nyata baginya sekarang.
"Kalau Bapak memang sudah 'membersihkan' semua ancaman itu seperti yang Bapak bilang tadi... kenapa masih ada pengawal bersenjata yang mengikuti saya seminggu terakhir ini? Kenapa Pak Arman sampai harus mengancam Pak Bambang segala, sampai bikin seisi sekolah heboh?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, raut wajah Yudha mengeras—bukan karena marah pada Husnan, tapi pada sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar percakapan ayah dan anak ini. "Karena ancaman itu memang sudah selesai untukku. Tapi belum tentu untukmu. Ada pihak yang baru menyadari keberadaanmu justru dalam sebulan terakhir, Husnan. Mereka menemukan celah yang tidak pernah kuperkirakan, dan mereka bergerak jauh lebih cepat dari yang bisa kuantisipasi."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Husnan berdiri seketika. Rasa dingin menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jarinya. "Maksud Bapak... saya masih dalam bahaya? Sekarang? Di sini?"
Yudha tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah dua pengawalnya yang berdiri diam bagai patung di belakangnya, seolah memastikan tidak ada yang mendengar lebih dari yang seharusnya, lalu kembali menatap Husnan dengan tatapan yang jauh lebih serius dari sebelumnya—tatapan seorang pemimpin yang terbiasa menimbang keputusan hidup dan mati.
"Itulah kenapa aku tidak bisa lagi menunggu 'seminggu lagi', 'sebulan lagi', seperti yang selalu kukatakan pada diriku sendiri selama ini. Aku harus membawamu ke tempat yang bisa kupastikan sendiri keamanannya, dengan sistem yang sudah kubangun bertahun-tahun. Bukan karena aku ingin merebutmu dari Hendra, Husnan. Aku tahu betul jasa-jasa Hendra untukmu, dan aku tidak akan pernah bisa membalasnya dengan cukup. Tapi aku tidak sanggup kehilangan satu-satunya alasanku bertahan selama ini, untuk kedua kalinya."
Kata-kata terakhir itu menggantung di udara, sarat akan makna yang belum sepenuhnya bisa dipahami Husnan. Alasan bertahan? Kehilangan untuk kedua kalinya? Pertanyaan-pertanyaan baru justru bermunculan, namun waktu tidak berpihak padanya.
Di luar, Fajar yang mengintip dari celah pintu tiba-tiba merasakan getaran ponsel di sakunya. Ia buru-buru mengeceknya. Pesan dari Ferdi masuk dengan huruf kapital semua, jelas menandakan kepanikan di baliknya: "ROMBONGAN BALIK ARAH! KEPSEK LUPA SAMBUTAN PENUTUP, MEREKA BALIK KE AULA SEKARANG! CEPETAN!!"
Wajah Fajar seketika memucat. Ia segera mengetuk pintu pelan namun mendesak, berbisik lantang ke dalam celah pintu yang masih terbuka sedikit. "Hus! Gawat, rombongan Kepala Sekolah balik lagi ke aula! Kita kehabisan waktu, cepat!"
Husnan menoleh panik ke arah suara Fajar, jantungnya berdegup semakin kencang, lalu kembali menatap Yudha yang tampaknya sudah menduga situasi genting ini akan terjadi cepat atau lambat.
"Waktu kita habis," ucap Yudha cepat, namun tenang, seolah situasi darurat semacam ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia mengeluarkan sebuah kartu berbahan logam tipis berwarna hitam polos dari saku dalam jasnya. Tidak ada nama tercetak di permukaannya, hanya sederet nomor asing dan sebuah kode QR kecil di sudut kanan bawah. "Ini bukan sekadar nomor telepon biasa, Husnan. Kalau kamu merasa dalam bahaya—sekecil apa pun itu, sekecil firasat buruk yang mampir di kepalamu—pindai kode ini dengan ponselmu. Bantuan akan datang dalam hitungan menit, di mana pun kamu berada, kapan pun itu."
Ia menyodorkan kartu itu ke arah Husnan, namun remaja itu tidak langsung mengulurkan tangannya. Ada keraguan besar yang masih mengganjal di dadanya.
"Kenapa saya harus percaya semua ini? Bapak baru muncul seminggu yang lalu, lewat mobil hitam yang bikin seisi sekolah ketakutan. Sekarang Bapak muncul lagi, bicara soal bahaya, soal kartu ajaib yang bisa manggil bantuan. Ini semua kedengaran seperti mimpi buruk yang enggak masuk akal buat anak SMA biasa seperti saya."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, sudut bibir Yudha tertarik membentuk senyum tipis—senyum yang, entah kenapa, terasa begitu familiar bagi Husnan, seperti pernah ia lihat setiap kali bercermin sendirian di kamar kecilnya setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
"Karena kamu anakku, Husnan. Dan darah yang mengalir di tubuhmu tidak pernah salah membaca situasi berbahaya, sekalipun logikamu berusaha menyangkalnya. Kamu sudah merasakannya sendiri sejak seminggu lalu, bukan? Rasa was-was yang tiba-tiba muncul tanpa sebab jelas, insting yang membuatmu selalu menoleh ke belakang saat pulang sekolah—itu bukan ketakutan biasa anak SMA yang sedang stres ujian. Itu instingku, yang menurun padamu tanpa pernah kau sadari asalnya."
Suara langkah kaki dan obrolan riuh mulai terdengar mendekat dari arah pintu utama aula, semakin lama semakin jelas. Husnan hampir kehabisan waktu untuk memutuskan, dan ia tahu betul konsekuensinya jika sampai tertangkap basah berada di dalam sini.
Dengan tangan sedikit gemetar—entah karena takut, karena gugup, atau karena emosi yang terlalu banyak berkecamuk sekaligus—ia akhirnya mengambil kartu hitam itu dari tangan Yudha, menyelipkannya cepat ke dalam saku celana sekolahnya yang agak longgar.
"Ini bukan berarti saya setuju ikut Bapak," tegas Husnan, mundur selangkah demi selangkah menuju pintu belakang tempat Fajar sudah menunggu dengan wajah panik. "Saya masih perlu bicara dengan Om Hendra dulu, malam ini juga. Dia yang membesarkan saya sepuluh tahun ini tanpa pernah mengeluh sekali pun, jadi dia berhak tahu semuanya lebih dulu dari siapa pun. Dan dia juga berhak jadi orang pertama yang saya ajak bicara soal keputusan sebesar ini, bukan Bapak, bukan siapa pun dari perusahaan Bapak."
Yudha mengangguk pelan, tampak menghargai ketegasan itu—sesuatu yang mungkin juga menurun darinya, sifat keras kepala yang sama-sama mereka miliki tanpa pernah saling mengajarkannya secara langsung. "Aku akan menunggu keputusanmu. Tapi jangan menunggu terlalu lama, Nak. Tidak semua orang di luar sana punya kesabaran sepertiku, dan waktu bukan lagi sesuatu yang bisa kita mainkan dengan santai sekarang."
Suara pintu utama aula berderit terbuka, disusul suara tawa dan obrolan basa-basi khas acara formal. Husnan buru-buru berbalik badan, berlari kecil menuju pintu belakang tempat Fajar sudah menariknya keluar dengan cepat, lalu menutup pintu itu perlahan namun rapat, tepat beberapa detik sebelum rombongan Kepala Sekolah dan para tamu undangan memasuki kembali ruangan megah tersebut—sama sekali tanpa menyadari percakapan singkat namun mengubah segalanya yang baru saja terjadi di dalam sana.
Di koridor sepi dekat gudang, Husnan bersandar lemas ke dinding, napasnya memburu tidak beraturan, seolah baru saja berlari sejauh satu kilometer padahal ia hanya berdiri diam selama beberapa menit. Fajar menatapnya cemas, tangannya masih memegangi bahu Husnan seakan takut sahabatnya itu akan roboh kapan saja.
"Gimana, Hus? Apa yang dia bilang tadi? Muka kamu pucet banget, lebih pucet dari tadi pagi," tanya Fajar, suaranya pelan namun penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
Husnan merogoh sakunya, menggenggam kartu hitam itu erat-erat seolah itu satu-satunya hal nyata yang bisa ia pegang saat ini, lalu menatap Fajar dengan mata berkaca-kaca yang susah payah ia tahan agar tidak jatuh di depan sahabatnya sendiri.
"Dia bener, Jar. Dia beneran ayahku," ucap Husnan pelan, hampir seperti bisikan. "Dan katanya... aku masih dalam bahaya. Bahaya yang bahkan aku sendiri enggak tahu bentuknya kayak apa."
Ferdi yang baru saja bergabung dari ujung koridor, terengah-engah setelah berlari, langsung menangkap ekspresi wajah kedua sahabatnya. "Ada apa lagi sekarang? Jangan bilang tambah runyam."
Husnan hanya bisa menggeleng pelan, matanya menerawang ke ujung koridor yang mulai dipenuhi murid-murid lain yang kembali beraktivitas seperti biasa, sama sekali tidak menyadari betapa dunia Husnan baru saja terbalik sepenuhnya dalam hitungan menit yang singkat.