Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Di Bawah Langit yang Saksi Janji Kita
Gelap gulita menyelimuti seluruh lantai dua seperti selimut yang direndam air es. Di balik pintu kayu jati yang terkunci rapat, Larasati berdiri mematung, punggungnya menempel dingin pada dinding, napasnya terperangkap di tenggorokan seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya. Ketukan pelan itu berulang lagi—tok, tok, tok—sama persis dengan irama isyarat yang pernah ia dengar Paman Surya berikan pada anak buahnya di taman. Tenang. Terukur. Mematikan.
“Kamu tidak perlu takut, Nak,” suara pria tua itu merayap masuk lewat celah pintu, terdengar begitu ramah hingga justru membuat bulu kuduk Larasati meremang. “Aku cuma ingin mengembalikan barang kecil yang hilang dari kamarku. Kamu orang pintar. Kamu pasti tahu, mengambil milik orang lain tanpa izin… bisa berakibat sangat buruk bagi orang yang kamu sayangi.”
Jantung Larasati berdegup sedemikian kencang sampai ia yakin Paman Surya bisa mendengarnya dari luar. Tangannya meraba-raba di samping tempat tidur, mencari ponsel, mencari apa saja yang bisa dijadikan tameng, sampai jemarinya menyentuh bantal. Di bawahnya tersimpan tiga barang yang kini menjadi nyawa mereka semua: kertas kode obat, amplop rekaman asisten dokter, dan kaset CCTV tua yang menjadi kunci semua kebohongan dua puluh lima tahun silam.
Pintu itu mulai bergetar pelan. Seseorang dari luar sedang memasukkan sesuatu ke dalam lubang kunci.
Larasati memejamkan mata erat. Dalam sekejap semua kenangan melintas cepat seperti film yang diputar mundur: malam hujan di halte bus saat Agung pertama kali menjemputnya dengan motor tua, kamar kos sempit yang selalu hangat meski bocor saat musim hujan, air matanya yang jatuh di bawah pohon beringin saat ia hampir menyerah, janji Agung bahwa kamu adalah rumahku yang sebenarnya. Ia tidak bisa menyerah sekarang. Tidak setelah semua yang mereka lalui bersama.
Tepat saat gagang pintu itu berputar pelan, terdengar suara langkah kaki berat berlari menaiki tangga dengan terburu-buru. Lalu suara yang paling ingin ia dengar di dunia ini, menggelegar penuh amarah yang belum pernah ia dengar sebelumnya:
“LEPASKAN DARI PINTU ITU SEKARANG JUGA!”
Agung.
Terdengar bunyi hantaman keras, teriakan Dika yang kaget, lalu suara tubuh besar yang terjatuh ke lantai marmer. Detik kemudian pintu kamarnya didorong terbuka lebar, dan siluet pria yang paling ia cintai muncul di ambang pintu, napasnya terengah, kemejanya compang-camping di bagian lengan, matanya berkilat liar karena campuran amarah dan ketakutan yang luar biasa. Saat mata Agung menemukan istrinya yang berdiri gemetar di sudut ruangan, semua amarah itu seketika luruh berganti kepanikan yang menyakitkan.
“Lar…” serunya parau, lalu dalam dua langkah panjang ia sudah sampai di depan Larasati, menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya sedemikian erat sampai rasanya tulang-tulang mereka mau bersatu. Dada Agung bergetar hebat di bawah telinga Larasati, aroma sabun kayu putih yang selalu dikenalnya—aroma rumah, aroma aman—segera menyelimuti seluruh indranya, membuat air mata yang selama ini ditahan akhirnya tumpah juga.
“Aku di sini. Aku di sini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi,” bisik Agung berulang-ulang di atas ubun-ubunnya, mencium rambutnya dengan gerakan yang hampir histeris, seolah takut wanita di pelukannya akan lenyap menjadi asap jika ia melepaskan sedikit saja genggamannya. “Maafkan aku. Maafkan aku yang bodoh, yang tidak peka, yang membiarkanmu berjuang sendirian melawan semua teror ini. Aku janji. Mulai detik ini, tidak ada lagi rahasia di antara kita. Tidak ada lagi bahaya yang kamu hadapi tanpaku di sampingmu.”
Dari balik pintu yang terbuka, Ibu Saras berdiri mematung di sana. Di tangannya masih tergenggam sebuah pemukul besi kecil yang biasa dipakai untuk memecahkan kaca jendela saat darurat—ternyata dialah yang membangunkan Agung dari kamar sebelah saat listrik padam, yang menceritakan semuanya dalam tiga menit yang penuh air mata dan penyesalan. Wajah wanita itu masih pucat, tapi tatapannya kini tegas, tak lagi ada keraguan sedikit pun. Di belakangnya, Mbah Sarto sudah memanggil dua penjaga keamanan pribadi keluarga yang paling setia, mengikat Paman Surya dan Dika yang terkapar di lantai dengan tangan yang terikat di belakang punggung.
Paman Surya mendongak menatap mereka semua, dan untuk pertama kalinya topeng ramah itu jatuh sepenuhnya. Wajah tua itu kini tampak begitu mengerikan, penuh kebencian dan keputusasaan yang sudah dipendam puluhan tahun. “Kalian pikir kalian menang?” serunya parau sambil tertawa dingin yang menggema di seluruh koridor gelap. “Besok siang ada ratusan tamu penting yang akan datang. Kalian mengumumkan semua ini? Kalian mau hancurkan nama baik keluarga Wijaya yang dibangun tiga generasi hanya karena cerita seorang wanita kampung dan menantu yang dulu juga tidak diterima? Pikir baik-baik. Kebenaran mahal harganya. Dan kadang… persatuan keluarga lebih berharga daripada keadilan untuk orang yang sudah mati dua puluh lima tahun lalu.”
Ibu Saras melangkah maju, lalu meludah tepat di depan kaki pria itu. Air matanya jatuh tapi suaranya tidak bergetar sedikit pun. “Persatuan yang dibangun di atas darah dan kebohongan bukan persatuan. Itu cuma kuburan yang dihiasi bunga-bunga palsu. Besok, di depan semua orang, kita akan buang semua bunga itu. Dan kita akan mulai membangun keluarga ini lagi… di atas tanah yang jujur.”
Matahari keesokan harinya terbit begitu terang, seolah alam sendiri ingin menjadi saksi bagi apa yang akan terjadi hari itu. Pesta ulang tahun Pak Haryo yang ke-70 berjalan sesuai rencana: aula utama dipenuhi ratusan tamu berpakaian mewah, orkestra biola memainkan lagu-lagu klasik yang anggun, meja makan panjang berkilau oleh peralatan perak dan hidangan terbaik yang bisa dibeli uang. Semua orang tersenyum, bersalaman, saling memuji kemegahan keluarga Wijaya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik panggung kemegahan itu, badai terbesar dalam sejarah keluarga itu sudah menunggu untuk pecah.
Larasati berdiri di sudut aula mengenakan gaun sederhana berwarna krem gading yang dipilihkan Ibu Saras sendiri—tanpa perhiasan berlian yang berlebihan, tapi ia bersinar lebih terang dari semua wanita di ruangan itu. Tangan kanannya digenggam erat oleh Agung yang tidak pernah melepaskannya sejak tadi pagi, bahkan saat ia harus menyapa tamu-tamu penting. Di sisi lain Larasati, Ibu Saras berdiri tegak dengan gaun sutra marun tua, sesekali meremas lembut lengan baju menantunya sebagai isyarat: kita bersama.
Saat jam menunjukkan pukul dua siang, acara puncak dimulai. Pak Haryo naik ke panggung utama dengan bantuan tongkat kayunya, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin. Ibu Saras mengangkat segelas jus delima merah—minuman kesukaan mertuanya—dan berjalan mendekat untuk memberikannya, seperti yang sudah direncanakan sejak lama.
Tapi sebelum gelas itu sampai ke tangan Pak Haryo, Larasati melepaskan genggaman tangan Agung. Ia melangkah maju melewati deretan kursi tamu, di bawah tatapan ratusan pasang mata yang terkejut, sampai ia berdiri tepat di depan panggung. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas sampai ke sudut paling belakang aula, membawa ketenangan yang justru lebih mengguncang dari teriakan apa pun.
“Tolong jangan diminum, Pak. Di dalam jus itu ada obat yang akan membuat Bapak tidak pernah bangun lagi.”
Ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Hanya suara gesekan biola dari pojok aula yang masih terdengar pelan sebelum akhirnya juga berhenti total.
Paman Surya yang berdiri di barisan paling depan langsung berdiri, wajahnya memerah padam menahan amarah. “Apa omongan tidak sopan ini, Larasati? Ini pesta penting! Kamu mau mempermalukan keluarga kita di depan semua orang hanya karena—”
“Karena saya punya bukti,” potong Larasati tenang, lalu mengangkat tangan kanannya. Dari belakang panggung, Mbah Sarto masuk membawa proyektor portabel. Layar putih diturunkan perlahan di belakang Pak Haryo, dan satu per satu bukti yang dikumpulkan Larasati dan Ibu Saras ditampilkan di sana, untuk dilihat semua orang:
Pertama, kertas kode obat yang ditemukan di kamar Paman Surya, dengan penjelasan ahli medis yang diundang diam-diam pagi itu tentang bagaimana dosis 0,15 mg obat itu cukup menghentikan jantung orang tua tanpa jejak.
Kedua, rekaman suara percakapan antara Paman Surya dan Dokter Hartono yang diberikan asisten dokter—suara mereka yang merencanakan pembunuhan itu terdengar jelas, dingin, tanpa penyesalan sedikit pun.
Dan ketiga, yang membuat seluruh ruangan terengah bersamaan: rekaman CCTV berwarna tua yang diambil dua puluh lima tahun lalu, di depan kamar Bu Wulan—ibu kandung Agung. Di rekaman itu terlihat jelas Paman Surya masuk ke kamar wanita itu pada tengah malam, diikuti Dokter Hartono yang membawa sebuah tas medis kecil. Mereka keluar satu jam kemudian dengan wajah tegang, dan tak lama setelah itu terdengar teriakan pelayan yang menemukan Bu Wulan sudah tidak bernapas lagi.
Pak Haryo berdiri mematung di atas panggung. Gelas jus delima di tangannya terlepas, jatuh pecah berkeping-keping di lantai marmer, cairan merahnya menyebar seperti noda darah yang tak bisa dihapus lagi. Air mata tua itu akhirnya jatuh juga—air mata penyesalan yang sudah tertunda dua setengah dekade. Ia menatap kakaknya sendiri dengan tatapan hancur yang lebih menyakitkan daripada amarah mana pun. “Kakak… wanita yang aku cintai paling banyak di dunia ini… kau bunuh dia cuma demi jabatan dan harta?”
Paman Surya tahu dia sudah kalah. Tidak ada lagi topeng yang bisa dipakai, tidak ada lagi kebohongan yang bisa menyelamatkannya. Ia tertawa panjang, suara itu pecah dan menyedihkan, menggema di seluruh aula yang masih hening. “Aku yang paling tua! Aku yang seharusnya mewarisi semuanya! Tapi ayah kita malah memilihmu yang lembut, yang terlalu percaya pada orang lain! Dua puluh lima tahun aku berpura-pura menjadi kakak yang baik, dua puluh lima tahun aku menahan mimpi-mimpiku hanya karena kau duduk di takhta yang seharusnya milikku! Apa salahku menginginkan apa yang menjadi hakku?”
“Tidak ada yang salah dengan bermimpi,” jawab Larasati pelan, tapi suaranya menggelegar di hati setiap orang yang mendengarnya. “Yang salah adalah ketika kau membunuh, mengkhianati, dan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah hanya untuk memenuhi mimpimu sendiri. Kebenaran tidak pernah memihak siapa yang paling tua atau siapa yang paling kaya. Kebenaran hanya memihak mereka yang berani memegangnya… meski harganya adalah nyawa sendiri.”
Beberapa menit kemudian, dua mobil polisi berpantul tiba di halaman rumah. Paman Surya, Dika, dan Dokter Hartono dibawa pergi dengan tangan diborgol, di bawah tatapan ratusan tamu yang masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja mereka saksikan. Tidak ada lagi yang menghina Larasati. Tidak ada lagi yang memandangnya rendah sebagai wanita kampung. Saat ia berbalik hendak turun dari panggung, seluruh hadirin tiba-tiba berdiri serentak, lalu memberikan tepuk tangan yang panjang dan meriah—tepuk tangan untuk keberanian, untuk ketulusan, untuk kebenaran yang akhirnya menang setelah sekian lama terkubur.
Malam itu, setelah semua tamu pulang dan rumah kembali sunyi, Larasati dan Agung kembali duduk di bawah pohon beringin tua di taman belakang. Pohon yang menjadi saksi air mata keputusasaannya, saksi janji setia Agung, saksi semua kebohongan yang akhirnya terungkap juga. Langit malam begitu bersih, bintang-bintang bertaburan begitu terang seolah ikut merayakan kemenangan mereka.
Agung menarik istrinya duduk di antara kedua kakinya, memeluknya dari belakang sedemikian erat hingga tidak ada celah sedikit pun di antara tubuh mereka. Ia mencium leher Larasati pelan, lalu menyelipkan seutas kalung kecil dengan liontin berbentuk rumah sederhana ke leher wanita itu.
“Ini bukan berlian atau emas mahal,” bisik Agung di samping telinganya, suaranya bergetar lembut yang penuh kerentanan tulus. “Aku buat sendiri waktu kita masih tinggal di kamar kos dulu, dari besi tua yang aku temukan di bengkel tempatku kerja paruh waktu. Dulu aku takut memberikannya padamu karena malu. Aku pikir kamu pantas dapat yang lebih bagus. Tapi sekarang aku tahu… rumah yang paling mahal dan paling indah di dunia ini bukan gedung marmer ini. Rumahku adalah di mana pun kamu berada. Dan selama aku masih memegang tanganmu, aku tidak takut menghadapi badai sebesar apa pun.”
Larasati memegang liontin kecil itu di dadanya, air matanya jatuh lagi—tapi kali ini air mata bahagia, air mata kelegaan setelah melewati semua mimpi buruk. Ia menoleh menatap wajah suaminya, lalu mengusap lembut bekas luka kecil di pipi Agung yang didapat saat menghajar Paman Surya tadi malam. “Aku juga janji, Mas. Mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia di antara kita. Kalau ada bahaya, kita hadapi bersama. Kalau ada air mata, kita tangis bersama. Karena cinta sejati bukan tentang siapa yang paling kuat melindungi. Cinta sejati adalah tentang… berani menjadi lemah di depan pasangan, dan tetap percaya dia tidak akan pergi meninggalkanmu.”
Dari kejauhan, di teras lantai dua, Pak Haryo dan Ibu Saras berdiri menyaksikan mereka berdua. Ibu Saras bersandar lembut di bahu suaminya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia bisa tersenyum tulus tanpa beban masa lalu. “Kita salah menilainya dulu, Yah,” ucapnya pelan. “Larasati bukan noda yang merusak keluarga kita. Dialah lem yang menyatukan kembali kepingan-kepingan keluarga kita yang sudah hancur sejak lama.”
Pak Haryo mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menatap pohon beringin tempat anak dan menantunya duduk. “Kita baru saja melewati badai terbesar dalam hidup keluarga ini. Tapi lihatlah… setelah badai berlalu, akar pohon kita justru tumbuh lebih kuat, lebih dalam. Dan itu semua berkat satu wanita sederhana yang tidak pernah menyerah pada kebenaran.”
Angin malam berhembus pelan, menggerakkan dedaunan beringin yang rindang, membawa aroma melati dari sudut taman. Di bawah langit yang menjadi saksi semua janji mereka, Larasati akhirnya mengerti satu hal besar: perjalanannya masuk ke keluarga Wijaya bukanlah kebetulan semata. Ia dipertemukan dengan Agung, dihina, diuji, hampir dihancurkan… semuanya mengantarnya pada satu takdir besar: menjadi kebenaran yang menyatukan kembali keluarga yang selama bertahun-tahun hidup dalam kebohongan.
Namun takdir ternyata masih menyimpan satu kejutan kecil lagi. Saat Agung hendak mengajaknya masuk ke dalam rumah, Mbah Sarto tiba-tiba berlari mendekat dengan wajah sangat terkejut, membawa sebuah amplop cokelat tua yang baru saja ditemukan di dalam brankas pribadi Bu Wulan—surat wasiat rahasia yang ditulis wanita itu sehari sebelum ia meninggal, yang isinya akan mengubah kembali peta kekuasaan keluarga Wijaya… dan mengungkap bahwa Paman Surya ternyata bukan satu-satunya orang yang menyimpan rahasia gelap selama ini.
Bersambung..
------
Lanjut ke Bab 9 yang akan membuka lembar baru: isi surat wasiat rahasia Bu Wulan, kedatangan sosok tak terduga dari masa lalu Ibu Saras, serta ujian cinta terberat bagi Agung dan Larasati saat mereka harus memimpin perusahaan keluarga yang goyah pasca-skandal.