NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15. Rasa Panik Saat Ada Mahasiswa Lain Mendekat

Hari itu, suasana kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Matahari bersinar cerah, angin berhembus lembut menyapu dedaunan di sepanjang lorong gedung fakultas. Aku berjalan menuju ruang kerjanya, payung hitam yang pernah ia pinjamkan terselip rapi di tanganku, dibungkus dengan kain bersih agar tetap kering dan rapi. Hatiku berdebar sedikit—bukan karena takut, melainkan karena ingin segera mengembalikannya, sekadar untuk menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Aku membayangkan wajahnya yang tenang, senyum tipis yang selalu ia berikan, dan betapa leganya ia saat melihat benda itu kembali ke tangannya.

Namun saat aku mendekati ruangan kerjanya, langkah kakiku tiba-tiba terhenti. Napasku tertahan di kerongkongan. Jantungku yang tadinya berdetak tenang kini seketika berpacu liar, seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada.

Di ambang pintu ruangannya, berdiri seorang mahasiswi lain. Wanita itu tampak cantik, mengenakan pakaian rapi dan tersenyum manis sambil berdiri sangat dekat dengan Arga. Bahu mereka nyaris bersentuhan. Tangannya terulur, seakan sedang menyodorkan sesuatu—entah itu berkas, entah itu hadiah kecil, atau apa pun itu. Dan yang membuat dadaku terasa sesak tak tertahankan... Arga berdiri di sana, menatap wanita itu dengan tatapan yang tenang, tanpa menarik diri sedikit pun. Ia tersenyum tipis, senyum yang sama seperti yang pernah ia berikan kepadaku.

Dunia seakan berhenti berputar seketika. Kakiku terasa berat, terpaku di tempatku berdiri, tak sanggup melangkah maju maupun mundur. Sebuah rasa asing yang mendadak muncul menyerbu dadaku—panik, cemas, dan sesuatu yang perih serta getir. Rasa cemburu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku menggenggam gagang payung itu begitu erat hingga buku jariku memutih. Napasku menjadi pendek dan tidak beraturan. Ribuan pikiran buruk berputar liar di kepalaku. Siapa dia? Mengapa dia berdiri sedekat itu dengannya? Mengapa Arga tidak menjaga jarak? Apakah... apakah ia juga memperlakukan wanita lain seperti ia memperlakukanku?

Pikiranku kacau balau. Selama ini aku merasa istimewa. Selama ini aku merasa bahwa di balik sikap dinginnya di depan umum, ada perhatian khusus yang hanya ditujukan kepadaku. Bahwa pandangannya yang berbeda, kebetulan-kebetulan yang sengaja diciptakannya, serta payung yang ia berikan... semua itu adalah tanda bahwa akulah yang memiliki tempat di hatinya. Namun saat melihat pemandangan itu di depan mataku sendiri, seketika itu pula keyakinananku runtuh. Ternyata... aku bukan satu-satunya. Ternyata... perlakuan yang ia berikan kepadaku mungkin saja ia berikan juga kepada wanita lain. Hatiku terasa hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

Aku mundur perlahan, langkahku lunglai dan tak berarah. Tak sanggup lagi melangkah mendekat. Tak sanggup melihat lebih jauh. Payung itu yang tadinya terasa begitu hangat dan berharga di tanganku, kini mendadak terasa berat dan dingin. Rasa panik semakin meluap-luap memenuhi dadaku. Bagaimana bisa aku begitu yakin bahwa aku istimewa? Bagaimana bisa aku begitu percaya begitu saja, padahal aku hanyalah mahasiswinya di hadapan semua orang? Di kampus ini, ia bebas berbicara dengan siapa pun, bebas tersenyum pada siapa pun, dan bebas membantu siapa pun. Tak ada yang melarangnya. Dan aku... aku tak punya hak sedikit pun untuk merasa cemburu atau keberatan, karena hubungan kita tak seorang pun tahu. Aku tak boleh bersikap posesif, tak boleh menuntut kesetiaan, tak boleh bertanya. Karena di mata dunia, aku hanyalah mahasiswi biasa.

Aku berjalan cepat menjauh, menuju tempat yang sepi di sudut taman belakang gedung. Di sana, di bawah pohon rindang yang tak banyak dikunjungi orang, akhirnya aku berhenti. Napasku terengah-engah, dadaku sesak luar biasa, dan air mata perlahan mulai menggenang di pelupuk mataku. Rasa panik itu perlahan berubah menjadi kesedihan yang mendalam. Apakah selama ini aku hanya berharap pada hal yang tak nyata? Apakah perhatian yang kurasakan itu hanyalah perasaanku sendiri yang berlebihan? Apakah payung itu hanyalah tindakan biasa seorang dosen yang baik hati, bukan tanda kasih sayang khusus?

Saat aku sedang duduk diam membiarkan air mata jatuh membasahi pipi, suara langkah kaki terdengar mendekat. Aku buru-buru menyeka wajahku, berusaha terlihat tenang. Namun saat mendongak, ternyata itu Arga. Ia berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, seakan baru saja berjalan cepat mencariku. Matanya menatapku lekat-lekat, penuh kekhawatiran.

"Lisna? Kau di sini... aku melihatmu tadi, kau berjalan pergi begitu cepat. Apa yang terjadi? Wajahmu pucat sekali," tanyanya pelan namun cemas.

Aku menunduk, tak berani menatap matanya. "Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya... tiba-tiba merasa kurang enak badan. Saya akan segera pulang."

Arga tak beranjak. Ia berdiri diam di depanku, menatapku seakan mampu membaca apa yang sedang tersembunyi di hatiku. "Kau melihatku tadi bersama mahasiswi itu di depan ruanganku, bukan?" tanyanya pelan namun tegas.

Hatiku mencelos. Aku tak bisa menyangkalnya, hanya diam membisu.

"Dia adalah ketua kelas di mata kuliah lain yang kuajar. Dia sedang menyerahkan daftar nama peserta lomba karya tulis yang akan diselenggarakan fakultas. Itu saja, Lisna. Tak ada hal lain di antara kami," jelasnya dengan nada lembut namun sungguh-sungguh. "Dan... saat melihatmu berjalan pergi dengan wajah pucat begitu, aku langsung tahu bahwa kau salah paham. Aku tak ingin kau berpikir yang bukan-bukan."

Aku mendongak perlahan, menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Tapi... Bapak tersenyum padanya... berdiri begitu dekat..."

"Karena aku berbicara dengan sopan dan ramah, sebagaimana layaknya seorang pendidik kepada seluruh mahasiswanya. Namun percayalah, Lisna... tak ada yang lain. Tak ada satu pun yang sama dengan cara aku memandangmu," ucapnya mantap, matanya menatapku dalam-dalam, seakan ingin meyakinkanku sepenuhnya. "Kau tak perlu merasa panik, tak perlu merasa takut. Selama aku masih memegang janji ini, takkan ada tempat lain untuk wanita lain di hatiku. Aku hanya perlu waktu dan kesabaranmu, agar kita bisa menjaga semuanya tetap wajar di hadapan orang lain tanpa menimbulkan kecurigaan. Tapi itu bukan berarti aku tak peduli, atau aku membagi perhatianku kepada siapa pun."

Kata-katanya perlahan meredakan badai yang sedang mengamuk di hatiku. Rasa panik itu perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh rasa lega sekaligus rasa malu karena telah berprasangka buruk padanya. Aku menyadari betapa konyolnya aku tadi—membiarkan rasa takut dan cemburu buta menguasai diriku hanya karena sebuah pemandangan yang ternyata sama sekali bukan seperti yang kukira.

"Maafkan saya, Pak..." ucapku pelan, menunduk malu. "Saya... saya tadi tiba-tiba merasa takut. Takut kalau ternyata saya bukan yang spesial. Takut kalau selama ini saya hanya berkhayal sendirian."

Arga tersenyum lembut, senyum yang begitu menenangkan. Ia menatapku sejenak sebelum berkata pelan, "Kau memang spesial, Lisna. Sangat spesial bagiku. Hanya saja... kita harus belajar mengelola perasaan itu di tempat yang tak boleh diketahui siapa pun. Dan kau juga harus belajar percaya padaku, sebagaimana aku pun berusaha mempercayaimu."

Kata-katanya meresap dalam ke dalam hatiku, menyembuhkan segala rasa sakit dan keraguanku. Aku mengangguk perlahan, menyadari bahwa mulai saat ini, aku harus belajar percaya. Percaya padanya, percaya pada ikatan kita, dan percaya bahwa meski dunia di sekitar kita tak tahu, hatinya tetap milikku sebagaimana hatiku miliknya. Rasa panik itu menjadi pelajaran berharga bagiku—bahwa cinta tak hanya tentang perhatian dan kehangatan, melainkan juga tentang kepercayaan yang tak mudah goyah hanya karena hal-hal yang tampak di permukaan.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!