Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Banyak mata di restoran itu mulai melirik ke arah meja mereka, terutama kaum wanita yang tampak terpesona dengan aura pria yang kini tampak gagah dan berwibawa dalam balutan jas slim-fit biru dongker tersebut.
Bisik-bisik kekaguman terdengar samar di sekitar mereka, membuat suasana di meja makan mendadak penuh perhatian.
Nadya menyadari tatapan-tatapan itu, dan tanpa sadar, ia sedikit cemburu.
"Mas, banyak yang melihat ketampananmu," gumam Nadya pelan sambil menundukkan pandangannya ke arah piring, nada suaranya menyiratkan rasa posesif yang manis.
Tak lama kemudian, pelayan datang menghidangkan pesanan mereka dengan rapi.Aroma nasi goreng yang gurih dan uap hangat dari nasi tim menyelimuti meja.
"Ayo, dimakan dulu. Setelah itu kita pulang," ajak Armand lembut, mencoba mengalihkan perhatian istrinya dari tatapan orang-orang di sekitar.
Nadya hanya merespons dengan mengerucutkan bibirnya sedikit, pertanda ia masih merasa terusik dengan perhatian yang didapat suaminya dari wanita-wanita lain.
Melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan, Armand meletakkan sendoknya sejenak.
Ia meraih tangan Nadya di atas meja, menggenggamnya dengan hangat dan meyakinkan.
"Dek, tidak usah cemburu," bisik Armand dengan tatapan teduh yang mematikan rasa cemburu Nadya seketika.
"Mas orang yang setia. Di mata Mas, tidak ada wanita lain yang jauh lebih indah dan berarti daripada kamu. Kamu adalah alasan Mas ingin tampil seperti ini hari ini."
Nadya tersentak kecil, pipinya kembali merona merah mendengar penegasan tulus dari sang suami.
Rasa cemburunya menguap, berganti dengan rasa syukur yang mendalam karena memiliki pria di depannya yang kini sepenuhnya miliknya.
Disaat sedang menikmati makanannya, suasana meja makan yang tenang mendadak terusik oleh bayangan dua wanita yang berdiri tepat di samping mereka.
Sarah dan ibunya, Ibu Mirna, menghampiri meja Nadya dengan gaya angkuh yang khas.
"Nadya? Dengar-dengar kamu sudah menikah dengan si gembel itu, ya?" tanya Sarah dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar orang sekitar.
Ia melayangkan pandangan meremehkan ke sekeliling meja.
"Sekarang di mana dia? Kamu malu ya, menikah dengan si gembel sampai tidak berani membawanya ke tempat umum?" ejek Sarah sambil tertawa sinis.
Nadya bangkit dari kursinya dengan tenang namun memancarkan aura yang tajam.
Ia menatap Sarah tepat di matanya. "Sepertinya dua miliar sudah benar-benar membuat matamu buta, Sarah," ucap Nadya dingin. "Suamiku ada tepat di hadapanku."
Sarah secara refleks menoleh ke arah pria yang duduk di depan Nadya.
Ia menelan salivanya dengan susah payah saat melihat sosok pria yang kini duduk di depannya.
Pria yang mengenakan pakaian rapi, dengan rambut tertata rapi dan garis wajah yang bersih—pria itu tampak jauh lebih gagah daripada pria mana pun yang pernah dilihat Sarah di mall itu.
"M-Mas Armand?" tanya Sarah terbata-bata, matanya membelalak tak percaya.
Armand menatap mantan istrinya dengan sorot mata yang tenang namun penuh wibawa.
"Iya, Sarah. Aku Armand," jawabnya dengan suara yang berat dan berkelas.
"Kenapa? Terkejut? Ini semua berkat kebaikan istriku yang jauh lebih menghargai harga diriku daripada kamu yang hanya bisa menjualnya."
Sarah tertegun, lidahnya kelu. Ia merasa seperti baru saja ditampar oleh kenyataan yang sangat pahit.
Sementara Ibu Mirna yang berdiri di samping putrinya tampak memucat, matanya tidak bisa beralih dari penampilan Armand yang kini terlihat seperti pria kaya raya berkelas.
Melihat putrinya yang mulai tampak goyah dan malu di depan banyak orang, Ibu Mirna segera menarik tangan Sarah dengan kasar.
"Ayo Sarah, kita pergi!" serunya dengan nada gugup, takut jika Nadya akan membalikkan keadaan atau mempermalukan mereka lebih jauh di depan umum.
Mereka pun bergegas melangkah pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan kepulan rasa malu yang membekas di wajah Sarah yang kini tampak pucat pasi.
Melihat Sarah dan ibunya pergi dengan langkah seribu dan wajah menanggung malu, ketegangan di meja itu seketika mencair.
Nadya menghela napas lega, lalu tersenyum lebar.
Ia mengangkat gelas es teler miliknya dan menatap Armand dengan binar mata penuh kemenangan sekaligus kekaguman.
"Good job, Mas!" seru Nadya riang.
Armand tersenyum tipis, lalu menyambut gestur istrinya dengan mengangkat gelas teh tawar panas miliknya.
Keduanya melakukan TOS kecil, merayakan kemenangan telak atas sindiran murahan yang baru saja mereka lewati.
"Ayo kita lanjut makan lagi," ajak Armand lembut, kembali bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Nadya menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Sisa-sisa kekesalan tadi lenyap tak bersisa, digantikan oleh selera makan yang kembali bangkit.
Mereka kembali menikmati sisa siang itu dengan penuh kehangatan, seolah seluruh dunia di luar meja makan itu tidak lagi penting selain kehadiran satu sama lain.
Setelah sampai di rumah yang tenang dan sejuk, Nadya dan Armand segera menuju ruang tengah yang luas.
Armand tampak begitu bersemangat, ia sudah menyiapkan buku catatan kecil dan pita meteran jahit yang ia ambil dari tas jahit pribadinya.
"Dek, kemarilah," panggil Armand lembut sambil melambai ke arah istrinya.
Nadya tersenyum, lalu berdiri tegak tepat di hadapan suaminya.
Armand pun mulai bekerja dengan profesionalisme seorang penjahit yang telah lama mendalami ilmunya.
Ia bergerak dengan hati-hati, memastikan setiap inci pengukuran memberikan kenyamanan bagi Nadya.
"Ayo, Dek, Mas ukur dulu ya," ucap Armand fokus.
Armand mulai melingkarkan pita meteran pada tubuh Nadya dengan gerakan yang terlatih:
Lingkar Dada: Armand mengukur tepat di bawah ketiak dan bagian paling menonjol pada dada Nadya, memastikan ada ruang gerak yang pas agar pakaian tidak terasa sesak saat Nadya beraktivitas di kantor.
Lingkar Pinggang: Ia mengukur bagian terkecil di atas panggul, tempat di mana kemeja atau jas nantinya akan membentuk siluet tubuh yang rapi dan elegan.
Lebar Bahu: Armand menarik pita dari ujung tulang bahu kiri ke kanan, memastikan potongan bahu jas nantinya akan tegak sempurna tanpa membuat Nadya terlihat kaku.
Panjang Lengan: Ia mengukur dari puncak bahu hingga ke pergelangan tangan, memperhitungkan posisi manset agar terlihat profesional saat Nadya sedang memegang dokumen atau berjabat tangan dengan klien.
Panjang Baju: Terakhir, Armand mengukur dari pangkal leher hingga ke panjang yang diinginkan, menyesuaikan dengan standar pakaian formal seorang CEO agar tetap terlihat berwibawa namun tetap modis.
Setiap kali angka disebutkan, Armand
mencatatnya dengan teliti di buku catatannya.
Sesekali ia menatap Nadya, memastikan apakah ukuran tersebut sudah sesuai dengan keinginan istrinya.
"Mas sudah dapat semua ukurannya, Dek. Sekarang tinggal Mas tuangkan ke pola di atas kain," ucap Armand dengan senyum puas.
Nadya menatap suaminya dengan penuh rasa bangga.
Ia tidak lagi melihat seorang "gembel" seperti yang dihina Sarah dulu; ia kini melihat seorang pria yang tekun, ahli di bidangnya, dan sedang berusaha membangun harga diri mereka bersama-sama.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,