NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemiripan yang Mengundang Curiga

Jam delapan malam, Bastian akhirnya tiba di rumah.

“AZZAM, AZZURA, DADDY PULANG!”

Ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa ruang tengah. Setelah melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemeja hitam hingga siku, Bastian berjalan menuju kamar kedua anaknya.

“Azzam? Azzura?” panggilnya lagi.

Tidak ada jawaban.

Bastian membuka pintu kamar Azzura lebih dulu. Kosong. Ia kemudian beralih ke kamar Azzam.

Langkahnya terhenti.

Di atas ranjang, Azzam tertidur sambil memeluk sebuah guling. Benda itu bahkan sengaja dipakaikan baju milik Diandra, seolah-olah bocah kecil itu sedang memeluk seseorang yang sangat dirindukannya.

Tatapan Bastian berubah sendu.

Baru beberapa hari Diandra pergi, tetapi putranya sudah terlihat begitu kehilangan. Rupanya kehadiran Diandra jauh lebih berarti bagi Azzam daripada yang selama ini Bastian sadari.

Bastian duduk perlahan di tepi ranjang. Matanya kemudian tertuju pada vas foto di samping kepala Azzam. Ia mengambilnya dan mendapati permukaannya masih lembap.

Air mata.

Dadanya terasa sesak.

“Mommy...” gumam Bastian pelan.

Ia meletakkan kembali vas foto itu ke nakas, kemudian menyentuh lengan putranya dengan hati-hati.

Azzam bergerak kecil tanpa membuka mata.

“Mommy... Azzam laper.”

Suara lirih itu membuat Bastian terdiam.

“Masakin Azzam...” lanjutnya dalam tidur. “Mama Serly nggak bolehin Azzam makan.”

Rahang Bastian mengeras.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kepergian Diandra bukan hanya meninggalkan kesunyian di rumah.

Ada luka yang perlahan tumbuh di hati anak-anaknya—dan mungkin, luka itu jauh lebih dalam daripada yang selama ini ingin Bastian akui.

Dahi Bastian langsung berkerut mendengar gumaman putranya.

“Laper, Mommy... perut Azzam sakit.”

Azzam terus meracau dalam tidurnya. Beberapa detik kemudian, air mata mengalir dari sudut matanya dan membasahi pelipis.

Hati Bastian mencelos.

Ia segera menggoyangkan bahu putranya dengan hati-hati.

“Azzam, bangun, Nak.”

Tubuh kecil itu bergerak sebelum perlahan membuka mata.

“Daddy?”

“Iya. Ini Daddy.”

Bastian menempelkan punggung tangannya ke dahi Azzam. Seketika wajahnya berubah serius.

“Kamu demam. Sebentar, Daddy panggil dokter.”

Bastian segera menghubungi dokter keluarga. Setelah memastikan dokter sedang dalam perjalanan, ia kembali duduk di sisi ranjang.

“Azzam belum makan?”

Tangannya mengusap pipi putranya. Bekas cakaran Azzura masih terlihat jelas di sana.

“Belum, Daddy.” Suara Azzam terdengar lemah. “Azzam laper. Perut Azzam sakit.”

“Kenapa belum makan?”

Bastian menatap putranya dengan penuh perhatian.

“Mama Serly sama Azzura di mana?”

“Pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Ke mall.”

Bastian terdiam beberapa saat. “Mereka pergi ke mall dan meninggalkan kamu sendirian di rumah?”

Azzam mengangguk pelan.

“Mama bilang Azzam nakal. Mama suruh Azzam di rumah buat introspeksi diri.” Bibir Azzam bergetar. “Mama Serly juga nggak bolehin Azzam makan sebelum Azzam minta maaf.”

Bastian mengepalkan tangan, tetapi berusaha menahan emosinya di depan putranya.

“Azzam nggak nakal, Daddy. Azzam juga nggak berantem lagi sama Azzura.” Air mata kembali menggenang di mata bocah itu. “Azzam cuma bilang Mama Serly jahat... karena Azzam nggak suka Mama Serly jelek-jelekkin Mommy.”

Bastian terdiam.

Ucapan sederhana itu terasa seperti tamparan keras baginya.

Ia mengusap pipi Azzam dengan lembut, lalu membenarkan rambut putranya yang berantakan.

“Sudah, jangan menangis. Duduk dulu, ya. Azzam lapar, kan?”

Azzam mengangguk.

“Daddy ambilkan makanan di dapur.”

Namun sebelum Bastian beranjak, tangan kecil Azzam mencengkeram lengannya.

“Azzam mau makan masakan Mommy.”

Bastian kembali menatap putranya.

“Daddy sudah ketemu Mommy, kan?” tanya Azzam penuh harap. “Daddy ajak Mommy pulang, ya?”

Pertanyaan itu membuat dada Bastian terasa semakin berat.

Ia menarik tubuh kecil Azzam ke dalam pelukan dan mengusap punggungnya perlahan.

“Daddy sudah ketemu Mommy, Sayang.”

Azzam menyandarkan wajahnya di dada sang ayah.

“Terus... Mommy kapan pulang?”

Bastian tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa kepergian Diandra telah meninggalkan kekosongan yang tidak mampu ia tutupi dengan apa pun.

Mata Azzam seketika berbinar. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Bastian dengan wajah penuh harapan.

“Kalau begitu Mommy di mana? Mommy ada di luar?” tanyanya antusias. “Azzam mau ketemu Mommy.”

Azzam hendak turun dari ranjang, tetapi Bastian segera menahannya.

“Pelan-pelan, Sayang.”

“Tapi Azzam mau ketemu Mommy.”

“Belum bisa sekarang. Mommy belum pulang.”

Senyum di wajah Azzam perlahan menghilang.

“Terus... Mommy pulang kapan?”

“Secepatnya.” Bastian mengusap rambut putranya. “Yang penting sekarang Mommy baik-baik saja dan sehat. Azzam juga harus sehat. Nanti kalau bertemu Mommy, Azzam harus dalam keadaan sehat, supaya Mommy nggak sedih melihat Azzam sakit.”

Azzam terdiam lalu menggeleng.

“Azzam nggak mau Mommy sedih.”

“Kalau begitu, sekarang kita makan, ya?”

“Iya, Daddy.”

Bastian menggenggam tangan kecil itu dan membantunya keluar kamar. Namun, baru beberapa langkah mereka sampai di ruang tengah, pintu rumah terbuka.

Serly dan Azzura baru saja pulang.

“Mas Bastian sudah pulang?”

Serly tersenyum sambil menghampiri. Namun, senyum itu perlahan memudar ketika mendapati tatapan Bastian yang jauh lebih dingin dari biasanya.

“Daddy!”

Azzura berlari menghampiri Bastian dan langsung memeluk pinggangnya.

“Daddy, Azzura mau digendong.”

Bastian menunduk.

Tatapan tajamnya membuat Azzura seketika menghentikan langkah. Bocah itu mundur dan kembali berlindung di sisi Serly.

Serly mengerutkan kening.

“Kenapa, Mas?”

Bastian tidak menjawab pertanyaan itu. Pandangannya justru tertuju pada Serly.

“Kamu pergi bersenang-senang ke mall, sementara Azzam sakit dan sendirian di rumah?”

Serly tampak terkejut.

“Loh, aku nggak tahu kalau Azzam sakit, Mas. Tadi aku dan Azzura sudah masuk ke kamarnya karena mau mengajaknya ke mall. Tapi dia sedang tidur. Aku pikir dia baik-baik saja, jadi kami pergi.”

Ia menoleh kepada Azzura.

“Iya, kan, Sayang?”

Azzura mengangguk cepat.

“Iya, Daddy. Azzura sama Mama nggak tahu Azzam sakit.”

Bastian mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras.

“Kalau begitu, jelaskan satu hal kepadaku.”

Serly terdiam.

“Kenapa Azzam sampai kelaparan?”

Wajah Serly berubah.

“Mas, aku—”

“Kenapa kamu menghukum anak kecil dengan tidak memberinya makan sebelum dia meminta maaf kepadamu?”

Ruangan seketika menjadi sunyi.

Bastian menatap Serly tanpa sedikit pun senyum.

“Azzam memang anak kecil, tapi bukan berarti dia pantas diperlakukan seperti itu.”

Azzam yang sejak tadi menggenggam tangan ayahnya hanya menunduk.

Bastian merasakan genggaman kecil itu semakin erat.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.

Serly menyipitkan mata ke arah Azzam. Bocah itu membalas tatapannya dengan berani, meskipun tubuhnya masih terlihat lemas.

“Karena Azzam terus menghina aku, Mas,” ujar Serly membela diri. “Aku ini ibunya. Apa aku nggak boleh marah kepada anakku sendiri?”

“Marah boleh,” jawab Bastian dingin. “Tapi bukan dengan cara seperti itu.”

Serly terdiam.

“Azzam dari pagi sampai malam belum makan. Perutnya sakit sampai demam.” Tatapan Bastian semakin tajam. “Kalau kamu ingin mendisiplinkan anak, lakukan dengan cara yang benar.”

Ia melirik kedua anaknya.

“Diandra saja tidak pernah menghukum Azzam dan Azzura seperti itu. Bahkan ketika Azzura mengatakan hal buruk tentang Diandra, dia tetap menahan diri. Diandra juga tidak pernah meninggalkan salah satu dari kalian sendirian di rumah.”

Azzura langsung menundukkan kepala.

Serly mengepalkan tangan.

“Sekarang Mas malah membandingkan aku dengan Diandra?” suaranya meninggi. “Aku ibu kandung Azzam dan Azzura. Aku lebih tahu bagaimana cara mendidik mereka.”

Bastian menatapnya lekat.

“Kalau memang begitu, kenapa Azzam sampai seperti ini?”

Serly terdiam.

“Mas...”

“Kenapa anakku harus kelaparan hanya karena kamu ingin memberinya pelajaran?”

“Dia menghina aku!”

“Dia masih anak-anak, Serly.”

Nada suara Bastian tetap tenang, tetapi justru terdengar lebih menusuk.

“Dan sebagai orang dewasa, seharusnya kamu yang lebih mampu mengendalikan diri.”

Serly menatap Bastian dengan mata berkaca-kaca.

“Aku nggak ada apa-apanya dibandingkan Diandra, begitu?”

Bastian tidak menjawab.

Keheningan itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan bagi Serly.

Ia tertawa kecil dengan getir, lalu air matanya jatuh.

“Mas keterlaluan.”

Serly mengusap pipinya.

“Aku melakukan semua ini karena aku ingin menjaga anak-anak kita. Aku mencoba menggantikan Diandra selama dia nggak ada. Tapi yang aku dapat malah dibanding-bandingkan terus.”

Bastian tetap bergeming.

“Kalau begitu, lebih baik aku pulang.”

“Ya sudah.”

Serly menatapnya tak percaya.

“Terima kasih sudah membantu hari ini. Mulai besok, kamu nggak perlu datang lagi ke rumah ini.”

Mata Serly membesar.

“Mas tega mengusir aku?”

“Aku bukan mengusirmu,” jawab Bastian datar. “Aku hanya tidak ingin kamu mengurus Azzam dan Azzura lagi.”

Serly kemudian beralih kepada Azzura. Ia berjongkok dan mengulurkan tangan.

“Sayang, kamu ikut Mama, ya.”

Azzura terlihat ragu.

Bastian memperhatikan keduanya tanpa berkata-kata. Lalu ia menambahkan dengan nada menantang,

“Kalau Azzura memang mau ikut kamu, silakan. Biar Azzam tinggal bersama Daddy.”

Azzura langsung menatap Bastian dengan mata sendu.

Di satu sisi, ia menyayangi Serly.

Namun di sisi lain, tatapan Daddy-nya membuat Azzura sadar bahwa malam itu sesuatu telah berubah.

Untuk pertama kalinya, Bastian tidak lagi membela Serly.

Dan untuk pertama kalinya pula, nama Diandra kembali memenuhi pikirannya.

“Daddy, Azzura mau ikut Daddy.”

Azzura segera menghampiri Bastian dan memeluk erat pinggang ayahnya.

Serly yang masih berdiri di dekat pintu mencoba membujuk putrinya.

“Azzura, kenapa nggak ikut Mama saja? Di rumah nanti kita bisa bermain sepuasnya.”

Azzura menggeleng kuat. Pelukannya pada Bastian justru semakin erat.

Melihat itu, Bastian menghela napas.

“Sudah. Kamu lihat sendiri, Azzura memilih tinggal bersama ayahnya. Pulanglah. Dan mulai besok, kamu nggak perlu datang ke rumah ini lagi.”

Serly mendengus kesal. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung meninggalkan rumah.

Beberapa menit kemudian, dokter keluarga tiba.

Bastian segera menggendong Azzam keluar dari kamar menuju ruang tamu. Azzura berjalan mengikuti mereka.

“Bagaimana kondisi Azzam, Dok?”

Dokter memeriksa keadaan Azzam dengan teliti sebelum tersenyum menenangkan.

“Tidak ada yang serius. Dia hanya mengalami demam. Setelah minum obat penurun panas dan cukup beristirahat, kondisinya akan segera membaik.”

Bastian mengangguk lega.

Setelah memberikan beberapa arahan, dokter pun berpamitan dan meninggalkan rumah.

Bastian kembali menghampiri kedua anaknya.

“Daddy...”

“Hm?”

“Azzam lapar.”

Bastian tersenyum tipis. “Mau makan apa?”

“Azzam mau makan di dekat kolam renang. Sambil lihat bintang.”

“Baik. Ayo.”

Azzura langsung mengangkat tangan.

“Azzura boleh ikut?”

“Tentu saja boleh. Masa Daddy melarang?”

Bastian menggenggam tangan Azzam dan Azzura, kemudian membawa mereka ke meja kecil di dekat kolam renang.

Tak lama kemudian, salah satu ART mengantarkan makanan. Bastian memastikan Azzam makan perlahan karena tubuhnya masih lemah.

Saat menyuapi putranya, Bastian memperhatikan Azzam yang beberapa kali mendongak ke langit.

“Kenapa kamu ingin makan sambil melihat bintang?”

Azzam menghentikan kunyahannya. Tatapannya terpaku pada langit malam yang dipenuhi cahaya kecil.

“Karena Mommy suka lihat bintang kalau malam.”

Bastian terdiam.

Ada sesuatu yang terasa menyesakkan dadanya ketika mendengar nama itu.

Ia mengikuti arah pandangan Azzam, menatap langit yang sama.

“Daddy yakin,” ucapnya pelan, “di tempat Mommy sekarang, Mommy juga sedang melihat bintang.”

Azzam tersenyum kecil.

“Berarti Mommy bisa lihat bintang yang sama kayak kita?”

Bastian mengusap rambut putranya.

“Iya, Sayang.”

Azzam kembali menatap langit dengan senyum tipis.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah kepergian Diandra, Bastian tidak merasa benar-benar mampu mengabaikan kerinduan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya sendiri.

...****************...

“Morning, Mama.”

Aretha yang sedang mengiris apel di meja dapur langsung menoleh. Begitu melihat putranya, ekspresinya berubah menjadi lega sekaligus kesal.

“Akhirnya pulang juga kamu!”

Tanpa banyak bicara, Aretha langsung menjewer telinga Sean.

“Aduh! Mama, sakit!”

Sean buru-buru menjauh sambil berusaha melepaskan tangan ibunya.

“Jangan kencang-kencang, dong. Nanti telingaku putus. Kalau aku ganteng tapi nggak punya telinga, siapa yang mau menikah denganku?”

“Biar putus sekalian!”

“Aduh, Mama!”

Setelah berhasil melepaskan diri, Sean segera mengusap telinganya sambil memasang wajah memelas.

Dua hari berada di apartemen membuat Sean berharap kepulangannya disambut hangat. Namun, bukannya pelukan, ia justru mendapat hadiah jeweran dari sang ibu.

Sean menatap Aretha dengan wajah polos.

“Sean ini anak Mama, kan?”

Aretha mendengus.

“Ya, memangnya kamu anak siapa?”

Sean langsung menyeringai.

“Ya anak Mama. Masa anak kambing? Kalau anak kambing, dari tadi aku pasti sudah bilang, ‘Mbeeek... mbeeek...’”

“Sean!”

Tawa Sean pecah melihat ibunya semakin kesal.

Kalau bukan karena ada sesuatu yang ingin Aretha bicarakan dengannya, mungkin sejak tadi ia sudah mengusir putranya keluar rumah.

Aretha akhirnya mengulurkan tangan.

“Mana kalung Mama?”

Senyum Sean menghilang sesaat.

“Kalung apa?”

“Jangan pura-pura lupa.” Tatapan Aretha menajam. “Liontin biru yang kemarin dibawa Papa ke toko Mama. Kamu yang mengambilnya, kan?”

Sean mengangkat kedua alis.

“Papa sudah bilang dia nggak mengambilnya. Jadi siapa lagi kalau bukan kamu?”

Sean terkekeh.

“Wah, jangan asal menuduh, Ma. Orang yang suka menuduh sembarangan nanti pantatnya kelap-kelip.”

Aretha memutar mata.

“Sudah! Kembalikan kalung itu.”

“Aku nggak membawanya.”

Sean merentangkan kedua tangan dengan santai.

“Kalau Mama nggak percaya, periksa saja.”

Aretha memperhatikannya dengan curiga.

Sean memang tidak berbohong. Kalung itu tidak ada padanya karena masih ia simpan di apartemen.

Lagi pula, ia tidak pernah merasa mencuri kalung tersebut. Sean sudah meminta izin kepada Aretha. Hanya saja, ia mengatakannya terlalu pelan sampai sang ibu tidak mendengar.

“Kamu pasti menyembunyikannya di suatu tempat. Ambil dan kembalikan sekarang!”

Sean memiringkan kepala.

“Mama tinggal membuat kalung baru saja.”

“Ini bukan soal membuat baru!”

Sean menghela napas seolah persoalannya begitu sederhana.

“Mama sendiri yang membuatnya, kan? Kalau soal harga, emang berapa? Satu miliar?”

Aretha melotot.

“Kalau memang itu masalahnya, Sean bisa transfer sekarang.”

“Hiiih! Anak ini!”

Aretha gemas lalu menjitak kepala putranya.

Sean malah tertawa.

Namun beberapa detik kemudian, senyumnya berubah menjadi tatapan penuh arti.

“Kenapa Mama segitunya takut kalung itu hilang?”

Aretha terdiam.

Sean melangkah mendekat.

“Atau Mama takut Papa tahu sesuatu?”

“Sean, jangan macam-macam.”

Sean justru semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan ibunya.

Ia menatap Aretha lekat-lekat.

“Jujur saja, Ma.”

Nada bercandanya perlahan menghilang.

“Kalung itu sebenarnya milik Tante Ayunda, kan?”

Aretha membeku.

Untuk sesaat, hanya keheningan yang tersisa di antara mereka.

Dan dari perubahan wajah ibunya, Sean tahu bahwa pertanyaannya telah menyentuh rahasia yang selama ini sengaja dikubur rapat-rapat.

Aretha sempat kehilangan kata-kata. Wajahnya menegang, tetapi ia buru-buru menyembunyikan kepanikan yang muncul di balik ekspresi tenangnya.

“Kenapa sekarang kamu malah ikut campur urusan Mama?” Aretha berusaha terdengar santai. “Biasanya kamu juga paling cuek.”

Ia kemudian menyipitkan mata.

“Mama tahu. Kamu pasti sedang menginginkan sesuatu. Bilang saja apa yang kamu mau. Mama akan turuti, asal kalung itu kamu kembalikan.”

Sean menggeleng.

“Aku nggak butuh apa-apa, Ma.”

Tatapannya berubah serius.

“Aku cuma ingin tahu... sebenarnya kalung itu Mama dapat dari mana?”

Aretha menatap putranya dengan penuh selidik.

“Kenapa kamu begitu penasaran dengan kalung itu? Sebenarnya apa yang ingin kamu ketahui?”

Sean menghela napas.

“Karena aku punya teman bernama Ola.”

Seketika tubuh Aretha menegang.

“Ola dari Panti Asuhan Kasih Bunda,” lanjut Sean. “Dia meninggal setelah jatuh dari gedung ketika menghadiri acara Club Waktu itu. Setelah kejadian itu, kalung milik Ola juga menghilang.”

Napas Aretha terasa tercekat.

Ia sama sekali tidak menyangka putranya mengenal Ola.

Namun yang paling membuatnya takut adalah kemungkinan Sean menghubungkan kematian gadis itu dengan dirinya.

“Padahal,” lanjut Sean, “Ola pernah cerita kalau kalung itu adalah pemberian ibunya.”

Aretha berusaha mempertahankan wajah tenang.

Sean terus mengamati setiap perubahan ekspresi ibunya.

“Aku jadi berpikir...” Sean sengaja berhenti sejenak. “Jangan-jangan Ola sebenarnya anak Tante Ayunda?”

Aretha berkedip beberapa kali.

Matanya sempat bergerak ke arah lain sebelum kembali menatap Sean.

Ia mencoba terlihat biasa saja, tetapi Sean menangkap kegelisahan itu.

Sebenarnya, tuduhan Sean bahwa Aretha mengambil kalung milik Ola hanyalah sebuah pancingan. Ia sengaja mengarang cerita seolah mengenal Ola.

Padahal, Sean mengetahui nama Ola dari cerita Diandra tentang gadis itu dan kalung yang pernah dicuri.

Namun reaksi Aretha membuat kecurigaannya justru semakin kuat.

Aretha tiba-tiba tertawa.

“Kamu ini terlalu banyak berimajinasi. Memangnya Mama mencuri kalung temanmu yang bernama Ola itu untuk apa?”

Ia menunjuk kalung tersebut.

“Kalung itu memang buatan Mama sendiri.”

Sean hendak membalas, tetapi suara langkah kaki terdengar dari arah ruang makan.

“Papa tunggu di ruang makan, ternyata kalian di sini.”

Abian muncul dengan senyum tipis.

“Ayo sarapan bersama.”

Aretha segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menghampiri suaminya dan menggandeng lengannya.

“Iya, Pa. Ayo.”

Dalam hati, Aretha mengembuskan napas lega.

Setidaknya untuk saat ini, ia berhasil menghindari pertanyaan Sean.

Namun kekhawatiran masih menghantuinya.

Putranya bukan orang yang mudah menyerah. Jika Sean sudah merasa ada sesuatu yang janggal, ia akan terus mencari jawabannya sampai rasa penasarannya terpuaskan.

Selama ini Aretha yakin tidak ada seorang pun yang mencurigai apa yang sebenarnya terjadi pada Ola.

Ia tidak pernah menyangka justru Sean yang mulai mendekati kebenaran.

Belum sempat suasana benar-benar tenang, Serly muncul dari arah kamar dengan wajah sembap. Begitu melihat Abian, ia langsung menghampiri dan memeluknya.

“Papa...”

Abian mengusap kepala Serly.

“Kenapa mata kamu sembap?”

Serly mengusap air matanya.

“Semalam Mas Bastian mengusir aku dari rumah. Padahal aku cuma ingin menjaga Azzam dan Azzura selama Diandra pergi.”

Sean yang mendengar itu langsung mendengus.

“Rasain.”

Serly menatapnya tajam.

Sean menyandarkan tubuhnya dengan santai.

“Baru dimarahi sedikit sudah menangis. Terus bagaimana dengan Mbak Diandra yang selama ini harus menahan sakit hati melihat kamu terus mendekati Bang Bastian?”

“Sean!”

Aretha langsung melotot.

“Kamu pagi-pagi sudah membuat keributan. Daripada pulang hanya bikin suasana rumah kacau, lebih baik kamu kembali saja ke apartemen.”

Sean mendengus, lalu mengalihkan pandangan kepada Abian.

“Papa, anak Papa diusir nih.”

Ia memasang wajah memelas.

“Papa nggak mau belain aku?”

Abian mengembuskan napas panjang.

Setiap kali Sean dan Serly bertemu, keduanya selalu saja terlibat adu mulut. Sebagai seorang ayah, Abian tidak ingin terlihat memihak salah satu dari mereka. Walaupun Serly bukan anak kandungnya, kasih sayangnya kepada gadis itu tetap tulus.

Sean memutar bola mata.

“Papa memang nggak tegas. Bikin malas.”

Ia langsung berbalik hendak pergi.

“Sean, tunggu.”

Abian berniat menyusul putranya, tetapi Serly buru-buru meraih lengannya.

“Pa, tadi Papa bilang mau sarapan di rumah. Serly mau sarapan sama Papa.”

Abian menatap putrinya sebentar.

“Papa ada rapat penting di kantor. Papa sarapan di kantor saja.”

Ia mengecup kening Serly dan Aretha sebelum menyusul Sean.

Abian memang harus mengejar putranya. Ia tahu betul sifat Sean. Kalau sedang kesal lalu menghilang tanpa kabar, dirinya juga yang akan kelabakan mencarinya.

Terlebih pagi itu ada agenda penting yang harus mereka hadiri bersama di perusahaan.

“Sean!”

Sean menghentikan langkah lalu menoleh.

“Wah, siapa nih?” Ia menyeringai. “Tumben Papa belain aku. Biasanya yang dibela juga anak kesayangan.”

Abian mendengus.

“Sudah. Ayo sarapan dengan Papa.”

Sean memasang wajah terkejut.

“Wah... kesambet apa, Pak Tua?”

Abian menggeleng.

Sean malah terkekeh.

“Papa pasti ada maunya. Takut aku ngambek, terus menghilang tanpa kabar? Atau takut nggak punya pewaris?”

“Kamu ini...” Abian hanya bisa menghela napas.

Keduanya akhirnya masuk ke mobil. Abian duduk di balik kemudi dan mulai menjalankan mobil meninggalkan rumah.

Beberapa saat kemudian, Abian melirik putranya.

“Tadi kamu bertengkar apa dengan Mama sampai dia kelihatan kesal begitu?”

Sean mengangkat bahu.

“Biasa.”

“Jangan terlalu sering membuat Mama kesal. Bagaimanapun juga dia tetap ibumu.”

Sean mendengus.

“Kalau Mama sampai kena serangan jantung bagaimana?”

“Sean!”

Sean terkekeh.

“Ya bagaimana? Kalau serangan jantung, dibawa ke rumah sakit dulu. Kalau nggak tertolong, ya...”

Abian langsung menggeleng frustrasi.

“Sudahlah. Papa menyerah bicara denganmu.”

Sean menatap keluar jendela.

“Kalau Mama mati pun rasanya nggak akan terlalu berpengaruh buat aku.”

Abian terdiam.

“Sejak kecil Mama nggak pernah benar-benar peduli sama aku. Apa pun yang terjadi, dia selalu lebih membela Serly.”

Abian menghela napas.

“Kamu juga nggak pernah memberi kesempatan kepada Mama untuk dekat denganmu.”

“Karena dia nggak pernah mencoba.”

Abian tidak melanjutkan perdebatan.

“Kita diam saja. Setiap kali kamu buka mulut, kepala Papa pusing.”

Sean tertawa kecil, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, Pa... aku penasaran dengan Tante Ayunda.”

Abian meliriknya sekilas.

“Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Ayunda?”

“Aku yakin Tante Ayunda pasti lebih cantik daripada Mama.”

“Sean.”

“Serius. Wajahnya pasti lembut, tatapannya teduh, nggak seperti Mama yang kalau melihat orang rasanya seperti mau menguliti.”

Abian akhirnya tertawa.

“Mereka sama-sama cantik.”

“Papa punya fotonya?”

“Ada.”

“Aku mau lihat.”

Abian menggeleng kecil.

“Untuk apa?”

“Penasaran saja. Secantik apa sih istri pertama Papa?”

Senyum tipis muncul di wajah Abian.

“Dia memang cantik. Dan sampai sekarang, melihat wajahnya pun rasanya nggak pernah membosankan.”

Sean langsung memperhatikan perubahan ekspresi ayahnya.

Dari cara Abian tersenyum, Sean bisa melihat sesuatu yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.

Ayahnya masih menyimpan perasaan untuk Ayunda.

Saat itu Sean semakin memahami satu hal: mungkin itulah alasan Aretha begitu membenci Ayunda.

“Sebentar.”

Abian mengambil ponselnya. Ia membuka beberapa folder hingga menemukan sebuah album yang tersimpan cukup dalam.

“Nah, ini.”

Ia menunjukkan sebuah foto kepada Sean.

“Ini foto Papa, Mama, dan Ayunda waktu kamu masih kecil.”

Sean memperhatikan layar dengan saksama.

“Jadi Papa, Mama, dan Tante Ayunda dulu bersahabat?”

“Iya.”

Sean memperbesar foto itu.

Dadanya seketika terasa berdebar.

Anak kecil berbaju merah muda yang berdiri di foto itu sangat mirip dengan potongan foto yang pernah ia temukan di brankas Aretha.

Jadi benar.

Potongan foto itu adalah Ayunda ketika masih kecil.

Sean mulai memahami kemungkinan lain. Mungkin Aretha sengaja merobek bagian foto yang menampilkan Ayunda karena begitu membenci perempuan itu.

“Ada foto Tante Ayunda waktu dewasa?”

“Ada.”

Abian kembali menggeser layar.

“Ini foto Ayunda sebelum dia diculik. Saat itu usia kehamilannya sudah cukup besar.”

Sean mendekat.

“Dan ini kalung liontin biru yang dia pakai.”

Abian menyerahkan ponselnya agar Sean bisa melihat lebih jelas.

Namun baru beberapa detik menatap foto tersebut, Sean mendadak membelalakkan mata.

“Tunggu...”

Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Pa, kenapa wajah Tante Ayunda mirip banget dengan Tante Elisa?”

Abian mengernyit bingung.

“Tante Elisa?”

Ia menoleh kepada Sean.

“Siapa Tante Elisa?”

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!