Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. ( Kecurigaan )
"Andrea, tunggu!"
Sreett
Lucien dengan cepat menarik tangan Andrea yang ingin kabur darinya. Namun, dia terkejut saat gadis ini melakukan penolakan kasar dengan cara menghempas tangannya kemudian mendorong dadanya agar menjauh. "Ada apa, An? Kenapa hari ini kau terus menghindariku? Bukankah kemarin masih baik-baik saja?"
"Mulai sekarang kau harus jaga jarak dariku!" ucap Andrea dengan tegas.
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak mau dekat-dekat dengan orang mesum."
"Mesum?"
Andrea mengangguk dengan cepat.
"Aku?" ucap Lucien seraya menunjuk hidungnya sendiri.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan dirimu?" Raut wajah Andrea menjadi sinis sekali saat teringat dengan foto yang diberikan oleh ibunya Lucien. "Kebiasaan orang kota memang menjijikkan. Sebagai atasan, harusnya kau tidak berbuat cabul pada bawahanmu sendiri. Apa kau tidak takut perbuatan itu diketahui oleh orang lain? Tidak takut orang akan mencela tabiat burukmu itu, hah?"
Kening Lucien terus mengerut seiring tuduhan tak masuk akal yang dilayangkan oleh Andrea. Menuduhnya sebagai atasan yang berbuat cabul pada bawahannya sendiri, memangnya apa yang sudah dia perbuat? Membingungkan sekali.
"Bisa berhenti mengomel dulu tidak?" Lucien hendak membungkam mulut Andrea yang terus mengoceh, tapi langsung ditepis dengan kasar. Dia mendesah, merasa kecewa dengan penolakan tersebut. "An, jujur saja. Aku tidak paham dengan arah pembicaraan yang sedang kau bahas. Mencabuli bawahanku sendiri? Apa kau sudah gila. Kau mendapatkan informasi tak masuk akal itu dari siapa? Coba beritahu agar aku tidak bingung."
"Halah, jangan pura-pura tidak tahu kau. Waktu aku tak sengaja tidur di sofa ruanganmu, apa yang sudah kau perbuat hah? Coba diingat baik-baik. Jangan sampai aku menunjukkan buktinya!"
Deg
(Jangan-jangan Andrea tahu kalau waktu itu aku menciumnya? Tapi ini tidak mungkin. Aku melihat dengan jelas kedua matanya terpejam dan mulutnya mendengkur, mustahil dia tahu apa yang kulakukan)
"Nah, tidak bisa menjawab 'bukan? Lucien, kau bos cabul!" teriak Andrea kemudian berlari pergi dari sana. Saat menoleh, kekecewaan terlihat jelas di matanya.
Veroz yang sejak tadi berkamuflase menjadi patung, perlahan mendekati bosnya yang terlihat syok dan juga bingung. Jujur, dia cukup kaget mendengar penuturan Nona Andrea barusan. Gadis itu benar-benar marah atas perlakuan bosnya yang entah sudah melakukan apa.
"Waktu itu aku diam-diam menciumnya. Tapi Veroz, saat aku melakukannya, di ruanganku hanya ada aku dan Andrea saja. Dan itu pun dia sedang tertidur lelap. Aku berani bersumpah demi nyawaku!" ucap Lucien sembari menekan pinggiran kepala. Pusing.
"Jika benar begitu lalu dari mana Nona Andrea mengetahui perbuatan Anda?" sahut Veroz balik bertanya. "Ini janggal sekali, Tuan. Atau mungkin ada yang diam-diam mengintip lalu mencuri barang bukti? Tetapi di perusahaan ini siapa yang berani melakukan hal bodoh seperti itu?"
Alhasil, Lucien dan Veroz saling bertanya-tanya. Mereka lalu memutuskan pergi ke ruang CCTV guna menyelidiki siapa orang yang berani menyinggung Andrea.
Byurrr
Di kamar mandi, Andrea membasuh wajahnya beberapa kali. Kalau saja tak ingat pesan neneknya, tadi dia pasti sudah menghajar Lucien. Sebagai wanita, dia merasa sangat dirugikan atas tindakan pria itu yang diam-diam menciumnya tanpa ijin. Untung saja Nyonya Crystal mau bekerja sama dengan menyerahkan foto itu sebagai barang bukti. Untuk jaga-jaga saja, siapa tahu Lucien menolak mengakui. Ya meskipun Andrea harus sedikit memberi ancaman pada wanita cantik tersebut.
"Aku harus bersikap seperti apa ya jika nanti berpapasan lagi dengannya?" gumam Andrea seraya menatap cermin.
"Bersikap seperti biasa saja."
Andrea terperanjat kaget saat seseorang menjawab gumamannya. Segera dia menoleh lalu mengerutkan kening mendapati Cheril yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Tuan Lucien pasti punya alasan kenapa melakukan itu padamu. Jangan langsung menuduhnya sebagai orang jahat," ucap Cheril mencoba menasehati.
"Berbuat cabul pada seseorang yang bukan istrinya. Masih kurang jelas?"
"Sangat jelas malah. Tetapi An, selama ini dia tak punya jejak buruk terhadap lawan jenis. Bisa jadi tindakan itu dilakukan atas dasar rasa suka. Memangnya kau tidak sadar dengan sikap Tuan Lucien sejak kau bekerja di sini? Hanya orang buta yang tak bisa melihat bagaimana dia memperlakukanmu dengan cara tak biasa."
Cheril mendekat.
"Aku tahu kau gadis baik-baik, itu sebabnya kau semurka ini pada Tuan Lucien. Belum lagi dengan apa yang diperbuat oleh Nyonya Crystal, wajar kalau kau marah. Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja tolong kau pikirkan juga dari sudut pandang bos kita. Tidakkah kau merasa ada yang salah dibalik foto itu?"
"Maksudnya?"
"Ini hanya dugaanku saja. Sejak bergabung dengan GS Company, aku belum pernah mendengar ada karyawan yang bisa bebas keluar masuk di lantai paling atas. Kecuali Tuan Veroz, William dan beberapa karyawan yang punya jabatan penting di kantor. Dengan adanya foto itu, aku merasa ada seseorang yang ingin menargetkan kalian, terutama kau. Jika tidak, bagaimana mungkin gambar seintim itu bisa sampai ke tangan Nyonya Crystal? Pasti ada mata-mata di sini."
Benar juga. Andrea juga tahu kalau selain dirinya, tidak ada karyawan yang diizinkan naik seenaknya ke lantai khusus milik Lucien.
"Butuh teman untuk menyelidiki?" Cheril mengacungkan jari ke atas. "Aku sangat bersedia. Bagaimana?"
"Haruskah kita menyelidikinya?"
"Come on, Andrea. Ini kehidupan kota. Tidak ada yang benar-benar ingin melihatmu sukses. Satu dari sepuluh orang yang mendukungmu, pasti ada satu yang sangat ingin melihatmu jatuh. Percayalah padaku."
"Aku ... ragu. Bagaimana jika faktanya tidak seperti yang kita duga? Bisa sajakan Lucien sengaja memanfaatkan situasi agar bisa memperkenalkan aku pada keluarganya? Caranya memang salah, tapi masa iya ini perbuatan orang lain?" ucap Andrea meragu. Dia tak serta-merta menyetujui saran dari Cheril. Hati kecilnya berkata ada hal lain dibalik kejadian ini.
"Kalau bukan orang lain masa iya aku yang melakukan?"
"Memangnya kau berani memprovokasi Lucien?"
"Tentu saja tidak. Aku masih sangat butuh pekerjaan ini," sahut Cheril terus-terang.
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang? Jikapun ingin mencari tahu, dari mana kita harus memulai?"
Hening. Cheril dan Andrea sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki mendekat ke kamar mandi, barulah mereka sadar kemudian pergi dari sana.
"Bagaimana kalau kita mulai dari rumahnya Tuan Lucien dulu," ucap Cheril memberi ide.
"Kenapa rumah? Kenapa tidak ruangan Lucien saja?"
Cheril meringis. Barusan dia asal menjawab saja.
"Tapi boleh juga idemu. Siapa tahu di sana aku bisa menemukan barang bukti yang lain," ucap Andrea semringah. "Jadi kapan aku harus ke sana?"
"Malam ini saja."
"Ck."
"Kenapa berdecak? Semakin cepat dilakukan maka semakin cepat pula kebenarannya terungkap. Bagaimana sih."
Bibir Andrea mengerucut. Niatnya malam ini dia ingin jalan-jalan sebentar setelah pulang kantor. Itulah kenapa dia berdecak.
"Cheril, sebenarnya kita ini bekerja sebagai karyawan atau sebagai detektif sih. Kok rasanya aneh sekali," keluh Andrea merasa aneh dengan pembahasan yang sedang berlangsung. Masa iya hanya karena sebuah foto dia sampai harus mendatangi rumahnya Lucien. Itu tak etis dilakukan oleh seorang gadis.
"Aku cuma ingin membantumu saja, An. Kalau kau merasa keberatan, kita bisa membatalkan rencana ini sekarang juga. Sungguh," sahut Cheril merasa tak enak hati.
"Bukan itu maksudku. Aku cuma ....
Brukkk
Tepat ketika akan berbelok, Andrea menabrak seseorang yang mana membuat tubuhnya yang mungil limbung ke belakang.
"Aaaaa!!"
Greepp
Cheril terbelalak kaget lalu buru-buru balik badan. Sedangkan Andrea, gadis itu memejamkan mata dengan erat, mengira kalau tubuhnya akan berbenturan dengan lantai.
(Lho, kok tidak sakit?)
Tanpa Andrea sadari, saat ini tubuhnya berada dalam rengkuhan seseorang yang sedang dia hindari. Bosnya.
"Sudah puas memelukku?"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂