NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa harus dia?

Kesalahanku yang mana lagi?

Aku mencoba menggeser tubuhku di dalam pelukannya, berniat memberi tahu bahwa ada telepon penting untuknya, namun Bastian justru melirik ke arah ponsel yang masih berada di genggaman tanganku. Dia terkekeh pendek dengan nada menggoda. " kita baru saja resmi menikah, dan kamu sudah mulai berani memeriksa ponsel suamimu?"

"Aku tidak sedang memeriksa ponselmu," balasku cepat sambil mengerucutkan bibir.

"Bastian, kamu..."

"Kamu Panggil aku apa tadi?" Bastian mengangkat satu tangannya, menyentuh cuping telingaku lalu memijatnya perlahan dengan ujung jarinya. Sorot matanya yang dalam mendadak dipenuhi rasa posesif yang kuat.

"Mas Bastian?!"

Sebuah jeritan melengking tiba-tiba memecah keheningan yang intim di dalam kamar.

Suara panggilan itu jelas bukan berasal dari mulutku, melainkan dari suara Sheila yang masih terhubung di ujung panggilan video.

Gerakan tangan Bastian yang sedang memijat telingaku langsung terhenti. Dia mengalihkan fokus pandangannya ke arah layar ponsel yang kupegang. Aku menekan tombol speaker dan memutar layar ponsel agar menghadap ke arah kami berdua. Di sana, wajah Sheila yang tampak sangat terpukul dan tidak percaya terlihat jelas di layar.

Sheila terus menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, menutup mulutnya dengan sebelah tangan seolah menolak mempercayai pemandangan di depannya.

Bastian hanya melirik layar itu sekilas tanpa ekspresi, lalu dengan gerakan tenang mengulurkan jarinya untuk langsung memutuskan sambungan panggilan video tersebut.

"Jadi, sekarang kamu sudah pintar menjebakku? Hmm?" Bastian kembali memusatkan perhatiannya kepadaku. Jari-jarinya yang panjang mencubit daguku lembut, memaksaku untuk menatap lurus ke dalam matanya.

"Siapa juga yang berniat menjebakmu?

Mantan kekasihmu itu yang menelepon duluan lewat ponselmu. Aku hanya berniat membantu mengangkatnya, mana tahu kamu akan langsung bertindak seagresif ini begitu keluar dari kamar mandi," jawabku sambil menegakkan leher, teguh pada prinsip utama untuk tidak pernah mengaku bersalah di depannya.

Mendengar pembelaanku, Bastian memajukan wajahnya hingga jarak kami kembali terkikis. "Jadi, menurutmu ini semua seratus persen salahku?"

"Tentu saja salahmu," ujarku tegas. "Pak CEO, apa kamu tidak pernah mendengar pepatah? Sekuat dan sehebat apa pun seorang pria di luar rumah, begitu dia pulang, dia harus sepenuhnya patuh pada ucapan istrinya.

Mengerti?"

Mau istrimu benar atau salah, aturan pertamanya adalah kamu harus selalu menganggap dia yang paling benar.

Begitu aku selesai mengoceh, Bastian perlahan melepaskan cengkeramannya dari daguku. Kilat geli yang jarang terlihat mendadak muncul di sepasang matanya yang biasanya sedingin es. "Istriku?" gumamnya pelan.

Aku tidak tahu apakah ini hanya bagian dari ekspektasiku sendiri, tetapi aku merasa sejak kami resmi menikah, sikap Bastian terasa menjadi jauh lebih lembut tanpa alasan yang jelas.

Sebuah senyuman akhirnya muncul di bibirku. Aku mengangkat kedua lenganku, lalu melingkarkannya dengan santai di leher Bastian. "Bastian... apa kamu sebenarnya menyukaiku?"

Bastian langsung terkekeh pendek mendengar pertanyaanku. "Amara, sebenarnya apa saja yang ada di dalam kepalamu sepanjang hari selain urusan cinta dan asmara, hm?"

Begitu Bastian selesai berbicara, aku memindahkan tanganku dari lehernya ke dagunya. Aku meniru gerakannya dengan mencubit dagunya pelan, lalu menggoda sambil bercanda, "Mas, memangnya kepalamu sendiri tidak pernah memikirkan soal cinta ?"

Malam itu terasa begitu panas dan panjang.

Keesokan harinya.

Aku masih tertidur lelap ketika bel pintu vila terus berdering tanpa henti. Karena merasa terganggu, aku berguling dan menendang kaki Bastian dengan kesal. "Menyebalkan sekali, bangun dan buka pintunya!" teriakku ketus.

Bastian tetap tidak bergeming di posisinya. Saat bel rumah kembali berbunyi dengan nyaring, aku mendadak duduk tegak lalu menyentak selimut dari tubuh Bastian. "Kamu tidak dengar? Sudah kubilang buka pintunya!"

Bastian perlahan membuka mata mendengar bentakanku. Tatapannya sempat memancarkan tatapan marah. Namun setelah menatapku selama beberapa detik, amarah itu mendadak mencair menjadi kekehan pelan. "Amara, kalau ada orang lain yang berani menendangku seperti tadi, aku pasti sudah melempar mereka keluar dari kamar ini sejak tadi."

"Memangnya ada orang lain yang berani menendangmu selain aku?" sahutku ketus, lalu dengan cepat merebahkan diri kembali dan menarik selimut untuk membungkus seluruh tubuhku.

Aku memang punya kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan: bad mood parah setelah bangun tidur. Aku bisa menjadi sangat sensitif dan mudah marah jika waktu tidurku diganggu secara paksa.

Sebenarnya, sifat burukku ini sudah ada sejak lama. Waktu Bastian menghabiskan malam pertama bersamaku di kamar hotel dulu, dia sempat ingin bermesraan lagi di pagi hari. Tapi aku yang masih setengah mengantuk langsung menampar wajahnya hingga meninggalkan bekas lima jari yang terlihat cukup jelas.

Bukan cuma itu saja. Beberapa kali setelah kejadian itu, setiap kali dia berani mengusik tidurku saat masih pagi, kami pasti akan berakhir dengan adu mulut dan saling menyerang di atas kasur.

Jujur, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dicari Bastian dari diriku. Mungkin karena dia mengira aku bukan tipe wanita yang akan terlalu bergantung atau merepotkannya, sehingga dia rela mempertahankan hubungan intim ini denganku selama bertahun-tahun.

Bastian akhirnya bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar untuk membuka pintu. Aku segera membalut kakiku dengan selimut tipis dan bersiap untuk melanjutkan tidur yang tertunda. Namun, dalam keadaan setengah tertidur, samar-samar aku mendengar suara tangisan dan isak tangis seorang wanita dari arah ruang tamu di bawah.

"Kenapa harus dia? Aku sudah menyukaimu selama bertahun-tahun, sedangkan wanita itu baru muncul beberapa hari!"

"Perempuan itu sebenarnya tidak tulus menyukaimu, Mas! Dia hanya mengincar hartamu saja. Biar sekarang juga aku temui dia, akan kuberi dia uang yang banyak agar dia mau pergi meninggalkanmu!"

Mendengar kalimat akan kuberi sejumlah uang, mataku langsung terbuka lebar. Rasa kantukku menguap begitu saja tanpa sisa. Aku segera menyibak selimut, memakai sandal rumah, dan langsung membuka pintu kamar.

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!