Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Pria dalam Kisah Anisa
Anisa menatap kedua pria yang memanggil namanya. Niat awal ingin menemui Reinhart karena masalah pekerjaan, tapi malah bertemu Ruby yang membuatnya gagal fokus.
"Jadi, selama ini kamu disini?" Ruby sungguh senang bisa bertemu Anisa lagi.
"Ha?" Anisa masih bingung dengan situasi yang sedang terjadi sekarang.
"Ada apa, Anisa?" Reinhart ikut bertanya.
Anisa terdiam cukup lama. Merasa aneh dengan apa yang terjadi. Desa ini cukup terpencil bahkan di aplikasi gugel maps saja katanya tidak terdeteksi. Namun, kenapa dua pria dalam masa lalu Anisa tiba-tiba datang seperti ini?
"Bu Bidan Anisa?" Suara Reinhart membuyarkan lamunan Anisa.
"Eh? Umm, saya ... saya ... ingin menemui Dokter Reinhart." Akhirnya bibir Anisa bisa berucap juga.
Sudut bibir Reinhart tertarik. "Oh? Ingin menemui saya? Mari ikut ke ruangan saya. Atau mau bicara di sini saja?"
Anisa melirik Ruby sekilas kemudian menggelengkan kepala.
"Ya sudah, ayo ikut ke ruangan saya."
Anisa mengangguk patuh lalu mengikuti langkah Reinhart. Sementara Ruby hanya menatap nanar kepergian Anisa.
"Jadi, selama ini Anisa ada di desa ini? Pantas saja tidak ada yang tahu dimana dia berada." Ruby tersenyum samar. "Mereka dipertemukan lagi. Apakah kali ini ... mereka akan bersama? Atau masih ada kesempatan untukku jadi bagian hidup Anisa?"
*
*
*
"Silakan duduk!"
Anisa tiba di ruang kerja Reinhart dalam kondisi masih setengah sadar. Anisa hanya patuh dan menuruti perintah Reinhart.
"Jadi, katakan ada perlu apa kamu mencari saya?" tanya Reinhart tanpa berbasa basi.
Anisa menundukkan wajah sambil meremat kedua tangannya. "Umm, saya ... ingin menanyakan tentang tawaran Dokter tempo hari. Apakah masih berlaku?" Anisa terlihat cemas setelah mengutarakan maksudnya.
Reinhart tersenyum tipis. "Jadi maksudnya kamu menerima penawaran dari saya?"
Anisa mengangguk pelan.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin bergabung dengan klinik ini? Waktu itu kamu bilang menolaknya."
"Eh? Sa-saya mencabut kata-kata saya waktu itu. Saya minta maaf." Anisa makin tak berani berhadapan langsung dengan Reinhart jika begini. "Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya."
Jawaban Anisa membuat Reinhart mengembus napas kasar. "Kalau begitu mulailah bekerja sekarang."
"Ha? A-apa?"
"Pergilah bantu teman-teman tenaga medis yang lain."
"Do-dokter menerima saya?"
"Heem."
Ada secercah senyum terbit di wajah Anisa. "Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih."
Anisa pamit keluar dari ruangan Reinhart. Hatinya cukup lega karena Reinhart tidak mencercanya dengan banyak kata-kata. Dia pikir Reinhart akan marah berlarut-larut, tapi nyatanya pria itu selalu jadi pria baik dalam hidup Anisa.
*
*
*
"Ternyata selama ini kamu tinggal di sini?" tanya Ruby saat semua pasien yang datang sudah pergi.
Hari ini cukup melelahkan untuk para tenaga medis klinik yang memang tidak banyak itu.
"Iya, aku belum lama pindah kesini. Baru dua tahunan." Suasana antara Anisa dan Ruby sudah mencair. Mereka mengobrol di gazebo yang ada di belakang klinik.
"Untung saja aku menerima tawaran dari Profesor Boy. Jadi, aku bisa bertemu denganmu lagi. Banyak orang yang mencarimu, Anisa."
Anisa malah tertawa kecil. "Siapa yang mencariku? Aku ini kan bukan siapa-siapa."
"Bagaimana kabar Ibu?"
Anisa diam sejenak. "Ibu ... sudah meninggal, Kak."
"Eh? Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Aku turut berduka ya."
Anisa mengedikkan bahu. "Sudah dua tahun yang lalu kok, makanya aku pindah kemari."
Keheningan kembali melanda. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
"Nis..."
"Hmm?"
"Apa kamu ... memiliki hubungan dengan Dokter Reinhart?"
Anisa hampir saja tersedak air yang sedang diminumnya. Anisa menggelengkan kepala. "Tidak. Aku dan Dokter Reinhart tidak memiliki hubungan apapun."
"Kalau kami ada hubungan, memangnya kenapa?" Terdengar suara dari arah belakang mereka berdua.
"Dokter Reinhart?" Anisa bangkit dari duduknya dan menatap Reinhart.
"Oh ya? Hubungan seperti apa?" Ruby ikut menatap Reinhart. Sepertinya ketegangan yang dulu sempat terjadi akan kembali terulang.
"Kak Ruby! Aku gak ada hubungan apapun dengannya," tegas Anisa di depan Ruby.
"Benarkah begitu? Lalu bagaimana dengan janji kita di bukit bintang? Dan kata-kata yang kamu teriakkan saat di bianglala? Apa semua hanya kebohongan?" Reinhart membuat Anisa tak bisa berkutik.
"Kamu hanya suami palsu Anisa. Saya tahu itu. Jadi, jangan sok bersikap jadi suami Anisa yang sebenarnya." Reinhart menunjuk Ruby.
"Cukup, Dokter. Jangan membicarakan masa lalu. Karena saya sudah melupakan semua itu. Ayo, Kak. Kita pergi dari sini!" Anisa menarik tangan Ruby dan membawanya pergi dari sana.
"Oh astaga!" Reinhart mengusap kasar wajahnya menatap kepergian Anisa dan Ruby. "Kenapa juga harus dia yang terpilih untuk ada di sini? Dokter yang lain kan juga ada." Reinhart kesal pada dirinya sendiri.
*
*
*
"Assalamu'alaikum, Anisa."
"Wa'alaikumsalam. Mas Rudi?" Anisa yang baru pulang dari klinik dikejutkan dengan kedatangan Rudi, putra Pak Rizal di rumahnya. "Silakan masuk, Mas." Tak ingin bersikap kurang sopan, Anisa mempersilakan Rudi untuk masuk.
"Iya, terima kasih. Oh ya, ini aku bawakan sayur-sayuran dari kebunku. Ini kesukaan Rere. Dimana dia? Biasanya dia suka menyambutku kalau aku datang."
"Eh? Mungkin Rere sedang main." Anisa menjawab canggung.
Tak lama Mak Rahma datang membawa dua cangkir teh. "Silakan Nak Rudi, diminum tehnya."
"Iya, Mak. Makasih."
Mak Rahma ikut duduk bersama Anisa dan Rudi. "Nak Rudi ini sudah nunggu kamu dari tadi lho. Dia pikir kamu ada di rumah. Trus Mak bilang kalau kamu sekarang kerja di klinik."
Anisa mengulas senyum tipis. "Rere dimana, Mak?"
"Oh itu ... biasa dia lagi main." Mak Rahma tidak mengatakan yang sebenarnya karena tak enak hati dengan Rudi.
Setelah berbincang ringan selama beberapa saat, akhirnya Rudi pamit undur diri dari rumah Anisa.
"Huft..." Anisa menghela napas lega.
"Kamu kelihatan lelah, Nak."
Anisa mengangguk. "Pasiennya banyak yang datang karena masih digratiskan."
Mak Rahma mengulas senyum. "Yang sabar dan semangat ya." Mak Rahma menepuk bahu Anisa.
"Jadi, Rere pergi ke tempat dokter Reinhart lagi?"
Mak Rahma mengangguk takut-takut. "Maaf ya, Nak. Emak gak bisa cegah Rere buat gak pergi ke sana."
"Iya, gak apa-apa, Mak. Lagipula Rere kan keponakannya." Anisa tak bisa memungkiri hubungan darah yang dimiliki Rere dan Reinhart.
Pukul sembilan malam, Reinhart mengantar Rere pulang ke rumah. Gadis kecil itu ternyata sudah terlelap dan Reinhart menggendongnya.
"Baringkan langsung saja di kamar!" titah Anisa.
Anisa menyelimuti tubuh Rere dan mengusap wajahnya. "Kamu main sampai ketiduran begini." Anisa mengecup kedua pipi Rere kemudian kening.
Anisa tak menyadari jika Reinhart masih ada di dalam kamar. Reinhart sedang menatap foto wisuda Anisa dua tahun lalu.
"Itu adalah kenangan terakhir saya dengan Ibu," cerita Anisa.
"Kamu pasti kesulitan saat itu. Harus kuliah dan juga menghidupi keluargamu."
Anisa menggeleng. "Enggak juga. Saya punya uang yang cukup banyak saat itu. Saya bisa kuliah karena hadirnya Rere dalam hidup saya."
"Jadi, sebenarnya apa arti saya untuk kamu, Anisa?" Wajah Reinhart tampak sendu menatap Anisa. "Lima tahun saya berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua itu saya lakukan hanya untuk melupakan kamu. Tapi ternyata ... tidak semudah yang saya bayangkan." Reinhart keluar dari kamar Anisa. Dia tak ingin terjadi fitnah karena berdua-duaan di dalam kamar.
Anisa mematung mendengar pernyataan Reinhart. Anisa memejamkan mata untuk menetralkan degup jantungnya. Selalu saja begini jika bersama Reinhart.
Anisa keluar kamar dan melihat Reinhart berpamitan pada Mak Rahma. Sosoknya menghilang begitu saja dibalik gelapnya malam.
Anisa keluar rumah dan memandangi mobil Reinhart yang melaju pergi.
"Jangan pergi, Dokter..." Dinginnya udara malam malah menghangatkan kedua mata Anisa hingga melelehkan cairan bening di sana. Anisa menangis sesenggukan. Ternyata hati memang tidak pernah bisa berbohong.
Mak Rahma ikut bersedih melihat keponakannya menangis seperti itu. "Semoga kelak kalian bisa bersatu, Nak. Berikan keluarga yang utuh untuk Rere."
*
*
*
Sudah satu minggu Anisa bekerja di klinik Avicenna. Reinhart memakai nama itu lagi karena memang klinik ini milik keluarga Avicenna.
Pasien yang tadi membludak kini sudah berkurang karena sudah tidak tersedia pengobatan gratis lagi. Namun, untuk penanganan medis pun tidak dibebankan biaya yang berat. Warga diperbolehkan membayar seikhlasnya saja jika ingin berobat.
"Aaahh." Reinhart meneguk secangkir kopi yang disodorkan Ruby.
Hubungan mereka telah mencair menjadi rekan kerja profesional meski dalam hati masing-masing masih sama-sama menggebu untuk mendapatkan hati Anisa.
"Kakakmu sudah jadi penguasa tertinggi di dunia bisnis. Tapi kamu? Kenapa malah bekerja pada orang lain begini?"
Reinhart tertawa sumbang. "Sejak awal aku tidak menginginkan semua itu. Memiliki kekuasaan hanya membuat hidup tidak tenang. Lebih baik hidup bebas begini."
Ruby tertawa. "Aneh sekali pemikiranmu. Dimana-mana orang ingin jadi nomer satu. Apalagi dalam dunia bisnis."
Reinhart menggeleng. "Aku tidak menginginkan itu."
"Kamu hanya mau Anisa. Iya kan?" terka Ruby sambil bercanda.
"Nah itu tahu! Makanya, kamu jangan berani-berani mendekatinya," peringat Reinhart.
"Selama ini kamu menghilang sama seperti Anisa. Kurasa kalian ... sama-sama ingin melupakan. Tapi faktanya, hati kalian tidak bisa berbohong."
Reinhart terdiam. Kata-kata Ruby memang benar.
"Aku kalah."
Reinhart melirik Ruby.
"Sejak awal aku sudah kalah."
Reinhart menyesap kembali kopinya.
"Anisa selalu memilih kamu, Dokter Reinhart. Hanya saja ... dia masih ragu dengan hatinya sendiri. Dia memang begitu. Aku tahu itu karena aku sudah lama mengenalnya."
Reinhart memilih diam. Dia sendiri juga bingung dengan hatinya. Di satu sisi dia ingin bersama Anisa. Tapi, ada ikatan antara Anisa dan kakaknya yang tidak bisa lepas begitu saja. Andai saja Anisa tidak mengandung anak Rendra, mungkin Reinhart berani bertindak lebih jauh lagi.
Tanpa mereka berdua sadari, diam-diam sejak tadi Anisa berdiri di belakang mereka dan mendengarkan semua obrolan dua pria itu. Hati Anisa tercubit mendengar pernyataan Ruby. Anisa terlalu takut untuk mengakui perasaannya terhadap Reinhart. Di tambah lagi, masa lalu Anisa dan kakak Reinhart. Oh ya ampun, dunia Anisa terasa rumit dan berputar-putar pada satu poros saja.
Hanya satu pertanyaan yang belum bisa terjawab, "bisakah kami bersama?"
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸