Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan
Petugas keamanan datang membawa tablet yang terhubung dengan rekaman CCTV area parkir.
"Rekamannya sudah ditemukan, Pak." Ucapnya, lalu menyerahkannya kepada Danendra.
Danendra menerimanya, kemudian bersama Pak Surya, ia mengajak tamu tersebut melihat rekaman bersama-sama agar tidak terkesan ditutup-tutupi.
Layar memperlihatkan suasana parkir sekitar tiga puluh menit sebelumnya. Saat itu, mobil para tamu terparkir rapi, namun sebuah mobil pikap milik pemasok tanaman yang ditumpuk cukup tinggi berbelok, dan menyebabkan satu pot bergeser hingga sebuah batu berukuran bola kecil yang sebelumnya terselip di sela-selanya terpental, dan mengenai kaca depan mobil SUV milik tamu itu.
Video berhenti, dan semua yang melihatnya terdiam.
Danendra lalu menghembuskan napas pelan. "Berarti penyebabnya sudah jelas," katanya, lalu menoleh kepada Pak Surya. "Mobil pemasok itu sudah keluar?"
"Belum, Pak. Masih menurunkan barang di gudang belakang." Kata Pak Surya yang dijawab anggukan oleh Danendra.
Kemudian Danendra kembali menghadap tamu tersebut. "Pak, sekali lagi saya mohon maaf. Walaupun batu itu berasal dari muatan kendaraan pemasok, tapi peristiwa ini tetap terjadi di area kami. Karena itu, Bapak tidak perlu mengurus apa pun." Danendra tersenyum kemudian melanjutkan, "seluruh biaya penggantian kaca akan ditanggung oleh Lereng Mahitala. Setelah itu, urusan dengan pihak pemasok menjadi tanggung jawab kami."
Pria itu tampak terkejut mendengarnya. "Tapi bukan pegawai anda yang melakukannya."
Danendra mengangguk. "Benar, tapi Bapak datang sebagai tamu kami. Saya tidak ingin Bapak pulang membawa kesan yang buruk hanya karena persoalan seperti ini."
Nada bicara pria itu pun melunak sepenuhnya. "Terima kasih, Pak. Terus terang, tadi saya datang dengan emosi."
"Saya mengerti." Jawab Danendra sambil tersenyum ramah, "kalau itu terjadi pada saya, mungkin saya juga akan bereaksi sama."
Pria itu akhirnya mengulurkan tangan. "Perkenalkan, saya Bima."
Danendra menyambut uluran tangannya dengan hangat. "Senang berkenalan, Pak Bima."
Jalan penyelesaian dari masalah itu kini terpecahkan, semua orang akhirnya dapat menghela napas lega.
"Syukurlah, semuanya bisa diselesaikan dengan baik." Ucap Pak Surya.
"Pak Surya." Panggil Danendra.
"Iya, Pak?"
"Tolong mulai besok semua kendaraan pemasok diperiksa sebelum masuk ke area wisata. Kalau ada muatan yang belum diikat dengan benar, jangan diizinkan masuk."
"Baik, Pak." Kata Pak Surya, patuh.
"Saya juga ingin seluruh petugas parkir mendapat pengarahan ulang. Kita jadikan kejadian ini sebagai pelajaran."
Pak Surya mengangguk mantap. "Siap, Pak."
Niken masih memperhatikan dari teras restoran dengan hati yang dipenuhi rasa bangga. Ia melihat bagaimana suaminya tidak sibuk mencari siapa yang salah, namun justru memastikan tamunya merasa didengar dan mendapatkan solusi.
Danendra akhirnya kembali kepada Niken yang langsung disambut senyum lega olehnya.
"Sudah selesai, Mas?" Tanyanya.
"Sudah, masalahnya tidak sebesar yang dibayangkan." Kata Danendra yang dijawab anggukan oleh Niken.
"Tapi aku sempat khawatir."
"Namanya juga usaha, pasti ada saja persoalannya. Yang penting bukan bagaimana menghindarinya, tapi bagaimana menyelesaikannya."
Niken tersenyum menatap suaminya, lalu berkata lembut. "Setiap hari aku selalu menemukan alasan baru untuk mengagumimu, Mas."
Danendra tersenyum mendengar ucapan Niken. Di balik insiden kecil siang itu, ada satu hal yang semakin diyakini Niken. Baginya, Danendra bukan hanya berhasil membangun Agrowisata Lereng Mahitala, tetapi juga membangun kepercayaan orang-orang di sekitarnya—sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah tempat usaha.
"Nasi kita jadi dingin," gumam Niken sambil tersenyum tipis.
Danendra terkekeh. "Iya, aku minta ganti yang panas."
"Tidak usah." Jawab Niken cepat.
Danendra mengangguk pelan. Kemudian mereka kembali menikmati makan siang yang sempat tertunda. Sesekali Niken mengangkat pandangannya ke arah Danendra, seolah masih memikirkan cara suaminya menyelesaikan persoalan tadi.
"Mas."
"Iya?"
"Tadi aku lihat mas tidak marah sama sekali, padahal orang itu datang dengan emosi."
Danendra meletakan sendok makannya, kemudian tersenyum kecil sebelum akhirnya menjawab dengan santai. "Kalau aku ikut marah, masalahnya tidak akan selesai. Lagi pula tamu yang marah tidak selalu ingin bertengkar, kadang mereka hanya ingin didengar saja."
Niken mengangguk paham, lalu melanjutkan makan.
Saat makan siang itu hampir selesai, Pak Surya kembali menghampiri meja mereka. "Pak Danendra."
"Iya, Pak Surya?"
"Tadi pihak pemasok sudah saya temui, mereka mengakui kelalaiannya dan siap menganti semua biaya." Kata Pak Surya yang dijawab anggukan oleh Danendra.
"Bagus. Tetap buatkan berita acaranya, mulai besok, semua kendaraan pemasok wajib melewati pemeriksaan sebelum masuk area wisata."
"Siap, Pak. Kalau begitu, saya pamit." Kata Pak Surya sambil mengangguk mantap, ia lalu tersenyum kepada Niken, "sampai jumpa lagi, Bu Niken."
Niken membalasnya dengan senyum hangat. "Terima kasih, Pak Surya. Sampai bertemu lagi."
Tidak lama kemudian mereka pun selesai makan. Keduanya lalu berjalan menuju area parkir setelah sebelumnya berpamitan kepada seluruh karyawan.
* *
Sementara itu, di rumah keluarga Pradipta suasana siang berlangsung tenang seperti hari-hari biasanya. Ratih sedang merapikan ruang makan bersama Bi Inah setelah makan siang, sambil sesekali berbincang ringan. Sementara Pradipta memilih menghabiskan waktu di halaman belakang untuk merawat tanaman hias yang menjadi kegemarannya.
"Mas, mataharinya sangat terik, jangan terlalu lama di luar." Teriak Ratih dari ambang pintu.
"Iya, hanya sebentar." Jawab Pradipta tanpa menoleh. Ia tetap fokus mengamati satu per satu pot yang berjajar rapi di tepi halaman. Namun baru beberapa langkah, kakinya mendadak berhenti, ketika napasnya terasa lebih pendek dari biasanya.
"Hm." Pradipta mengusap dada kirinya perlahan, "mungkin terlalu capek." Gumamnya, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman itu.
Ia kembali melangkah untuk mencuci tangannya, namun belum sempat mencapai keran air, pandangannya mendadak berkunang-kunang. Dadanya terasa semakin sesak hingga ia refleks memegang batang pohon di sampingnya sebagai penopang.
Byur...
Selang air terlepas dari genggamannya, lalu airnya mengalir begitu saja membasahi halaman belakang. Pradipta menundukkan kepala, berusaha mengatur napas, namun rasa sesaknya justru semakin kuat.
"Ratih..." suara lirihnya hampir tak terdengar.
Dari jendela dapur, Bi Inah melihat Pradipta berdiri sempoyongan sambil memegangi dadanya. "Astagfirullah, Bu Ratih!" Teriaknya panik, "Ibu cepat ke belakang."
Ratih yang sedang menyusun piring bersih, langsung menoleh panik. "Ada apa, Bi?"
Ia segera berlari ke halaman belakang mengikuti Bi Inah, langkahnya seketika terhenti ketika melihat suaminya sedang bersandar pada batang pohon dengan wajah pucat. Napasnya memburu, sementara keringat mulai membasahi pelipisnya.
"Mas!" teriak Ratih sambil berlari menghampiri suaminya. "Mas, Mas kenapa?"
Pradipta berusaha menjawab, tetapi hanya mampu menggeleng pelan sambil memegangi dadanya. "Napasku sesak..."
"Bi Inah!"
"Iya, Bu!"
"Tolong ambilkan obat Bapak di laci kamar! Cepat!"
Bi Inah berlari tanpa membuang waktu.
Ratih menopang tubuh suaminya agar tidak jatuh. "Mas, lihat aku. Tarik napas pelan. Pelan saja, jangan dipaksa."
Tangannya gemetar ketika mengusap punggung Pradipta, berusaha menenangkan suaminya meski dirinya sendiri nyaris menangis.
Tak lama kemudian, Bi Inah kembali sambil membawa kotak obat dan segelas air putih. "Ini, Bu!"
Ratih segera membantu Pradipta meminum obat yang biasa diresepkan dokter untuk kondisi darurat.
Beberapa menit terasa begitu panjang. Napas Pradipta perlahan mulai lebih teratur, namun kondisi tubuhnya masih terlihat sangat lemas.
Ratih menghembus napas lega, namun air matanya tak lagi mampu dibendung. "Mas jangan membuatku takut seperti ini," bisiknya lirih sambil menggenggam tangan suaminya erat."
Pradipta memaksakan senyum tipis. "Maaf, mungkin karena cuacanya terlalu panas."
Ratih menggeleng, "tidak, kita tidak boleh menganggap ini sepele." Ia menoleh kepada Bi Inah dengan wajah masih diliputi kecemasan, "Bi, ambilkan ponsel saya. Saya akan menghubungi Danendra."
Bi Inah mengangguk cepat lalu berlari masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Ratih tetap berada di sisi suaminya. Halaman belakang rumah di tengah siang itu, mendadak dipenuhi kecemasan yang belum mereka rasakan selama ini.
...****************...