Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Domino Kehancuran dan Racun Dendam
"Di mana Danila, bajingan?! Bagaimana bisa seorang wanita penyakitan bisa lenyap dari vila itu tanpa ada satu pun dari kalian yang tahu?!"
Prang!
Fernando Enrique melemparkan gelas wiski kristalnya ke arah dinding ruang kerja, hancur berkeping-keping bersamaan dengan runtuhnya kewarasan pria tua itu. Napasnya memburu, wajahnya merah padam menatap barisan pengawal pribadinya yang kini menunduk gemetar ketakutan.
"M-Maaf, Tuan Besar... Saat kami tiba di vila perbukitan, seluruh sistem keamanan sudah diretas dan diambil alih oleh pihak luar. Nyonya Danila sudah dipindahkan sejak kemarin sore," lapor kepala pengawal dengan suara bergetar.
"Sialan! Ini pasti ulah Dallas dan bajingan James Guinevere itu!" Fernando mencengkeram tepi mejanya dengan erat. Belum sempat ia meredakan amarahnya, pintu ruang kerja digedor dengan kasar. Seorang direktur keuangan Enrique Group masuk dengan wajah pucat pasi.
"Tuan Besar! Gawat! Saham Enrique Group anjlok tiga puluh persen dalam waktu dua jam sejak pembukaan pasar pagi ini!" tergah direktur itu dengan napas tersengal-sengal. "Skandal video Nona Lucianna dan Tuan Damian, ditambah pengumuman sepihak Tuan Muda Javier semalam, membuat para investor asing menarik modal mereka secara massal!"
Fernando ambruk ke kursi kerjanya, matanya membelalak horor. "Apa...? Tiga puluh persen?!"
...****************...
Di tempat lain, di dalam sebuah ruang VIP kelab malam yang tertutup, atmosfer justru dipenuhi oleh bau darah dan pecahan kaca. Javier Enrique berdiri dengan napas memburu, buku jarinya bersimbah darah setelah berkali-kali menghantam wajah Damian Lorakalyn yang kini terkapar di lantai dengan sudut bibir robek.
"Kau... kau mengkhianatiku, Damian! Kau sahabatku, keparat!" raung Javier, merenggut kerah kemeja Damian dan mengangkatnya kasar. "Kau tidur dengan calon istriku di belakangku?!"
Damian meludah darah, terkekeh sumbang dengan sisa kekuatannya. "Calon istrimu? Jangan melucu, Javier! Lucianna tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mengincar hartamu! Dan di atas ranjang... dia selalu datang merangkak kepadaku karena kau tidak pernah becus memuaskannya!"
"Bajingan!" Bugh! Satu pukulan keras kembali bersarang di wajah Damian.
Lucianna yang duduk di sudut ruangan menangis meraung-raung, penampilannya hancur berantakan. "Javier, hentikan! Aku mohon hentikan! Aku dijebak, Damian yang memaksaku malam itu!"
"Diam kau, pelacur!" bentak Javier, menatap Lucianna dengan pandangan penuh rasa jijik yang amat dalam. "Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku, atau aku sendiri yang akan menghabisimu!"
Di saat dua sahabat itu saling hancur dan menyerang satu sama lain, di sudut ruangan lain, Tobias—salah satu investor saingan terbesar Enrique Group—sedang mengamati layar tabletnya sambil tersenyum puas. Jari-jarinya dengan cepat mengeksekusi pembelian lot saham Enrique Group yang dilepas murah oleh pasar.
"Bertarunglah sesuka kalian, anak muda," gumam Tobias sambil menyesap cerutunya. "Sementara kalian sibuk memperebutkan selangkangan, aku akan mengambil alih seluruh proyek saham dan sisa-sisa kejayaan Enrique Group dari tangan ayahmu."
...****************...
Sementara itu, di sebuah rumah sewa kecil di pinggiran kota, Odelia duduk di lantai dengan rambut acak-acakan. Kamar itu dipenuhi oleh barang-barang yang berserakan. Rencananya untuk mempermalukan Bellamy berantakan total, dan kini ia tidak lagi memiliki wajah atau kekuasaan untuk kembali ke mansion Guinevere menghadapi James, Bellamy, bahkan Diane.
"Semuanya hancur... Anakku menjadi konsumsi publik, dan aku terbuang seperti sampah," desis Odelia, matanya melotot penuh dengan kabut kegilaan dan dendam yang pekat.
Lucianna yang baru saja tiba setelah diusir oleh Javier, langsung melempar tasnya dan menangis histeris di atas ranjang usang. "Ini semua karena Bellamy, Ibu! Jalang itu yang merencanakan video ini! Aku bersumpah akan membunuhnya!"
"Tidak, Lucianna... Jika kita menyerang Bellamy atau James sekarang, kita akan langsung mati," Odelia berdiri perlahan, senyuman mengerikan dan distorsi muncul di wajahnya. "Kita harus menghancurkan titik terlemah James. Kita harus membunuh Diane."
Lucianna menghentikan tangisnya, menatap ibunya dengan ngeri. "Membunuh Tante Diane?"
"Ya! James dan Bellamy sangat menyayangi wanita penyakitan itu. Jika Diane mati secara perlahan karena racun... mereka akan merasakan penderitaan yang seribu kali lebih sakit daripada ini!" Odelia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening dari dalam laci rahasianya—racun arsenik dosis tinggi yang sempat ia simpan. "Aku akan menyelinap masuk ke dapur mansion melalui jalur belakang yang biasa kugunakan, dan memasukkan ini ke dalam sup herbal malam milik Diane."
Tanpa Odelia dan Lucianna sadari, di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Pak Dodi berdiri membeku dengan seragam sopirnya. Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya tertahan di tenggorokan mendengar rencana pembunuhan berencana yang keluar dari mulut istrinya sendiri.
Pak Dodi tahu, ia memang dipaksa menikahi Odelia karena skandal kopi waktu itu, namun hati kecilnya tidak bisa membiarkan sebuah nyawa melayang—terlebih nyawa Nyonya Diane yang selama ini selalu bersikap baik dan tidak pernah merendahkannya sebagai seorang sopir di mansion Guinevere.
"Kau benar-benar sudah gila, Odelia," bisik Pak Dodi di dalam hatinya, langkah kakinya bergerak mundur dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Ia meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel tuanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Pak Dodi tahu, ia harus segera menghubungi seseorang di mansion utama sebelum racun itu benar-benar berpindah ke dalam cangkir Nyonya Diane. Ia harus menggagalkan rencana gila ini, apa pun risikonya, demi menebus rasa bersalahnya atas kekacauan yang terjadi selama ini.
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣