NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023

Hujan yang Tidak Selesai

Anon baru saja memperbarui episode terbaru: Hujan yang Tidak Selesai.

Louisa menatap notifikasi itu cukup lama sampai layarnya hampir redup.

Ia tahu seharusnya ia berhenti. Besok pagi tidak ada kantor yang menunggunya, tetapi tubuhnya tetap butuh tidur. Matanya sudah terasa panas. Bubur ikan di meja sudah benar-benar dingin. Di ruang kerja, Nathanael mungkin sedang membuka dokumen, atau mungkin sekadar memberi jarak agar ia bisa membaca dengan tenang.

Namun judul itu menahan ibu jarinya.

Hujan yang Tidak Selesai.

Louisa mengetuk notifikasi.

Panel pertama muncul pelan karena koneksi apartemen sempat turun. Latar belakangnya abu-abu kebiruan. Sebuah gedung sekolah swasta digambar dari sisi koridor, lampunya menyala kuning di tengah hujan Jakarta yang jatuh rapat. Air menggenang di lantai semen. Sepasang sepatu perempuan berdiri di dekat pintu perpustakaan, ujung kaus kakinya basah.

Louisa menggulir sedikit.

Gadis di panel itu memegang ponsel dengan kedua tangan. Pesannya hanya dua balon chat.

Tunggu sebentar, ya.

Aku pasti datang.

Di panel berikutnya, jam dinding menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Lalu lima lewat lima puluh. Lalu enam lewat sepuluh.

Gadis itu tetap berdiri.

Tidak ada wajah jelas, hanya rambut yang menempel di pipi, jari yang mengusap layar ponsel, dan tas sekolah yang semakin berat karena terkena cipratan air.

Dada Louisa terasa pelan-pelan mengencang.

Ia pernah melihat hujan seperti itu.

Bukan dalam gambar. Bukan di Webtoon.

Di SMA Penabur, bertahun-tahun lalu, ketika ia masih percaya bahwa menunggu adalah bentuk kesetiaan paling sederhana. Hari itu Kevin berjanji mengambil buku referensi lomba dari perpustakaan, lalu pulang bersama. Louisa menunggu di koridor belakang karena hujan terlalu deras dan sopir Lesmana belum datang. Ia memegang dua buku tebal di dada, berkali-kali melihat ponsel.

Tunggu sebentar.

Aku ke sana.

Kalimat Kevin waktu itu tidak berbeda jauh dari balon chat di layar.

Ia menunggu hampir satu jam.

Kevin tidak datang.

Besoknya Kevin berkata ada urusan mendadak. Ia lupa mengabari. Louisa tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Ia bahkan menyerahkan buku yang sudah ia bungkus plastik agar tidak basah.

Kenangan itu selama ini kecil saja. Tidak cukup besar untuk disebut luka. Tidak cukup penting untuk diceritakan pada siapa pun. Hanya satu dari ratusan hal yang ia simpan dan namai sebagai kebiasaan.

Tapi di layar Webtoon, Anon menggambarnya dengan terlalu lembut sampai kebiasaan itu tiba-tiba terlihat seperti sesuatu yang pernah menyakitkan.

Louisa menggulir lagi.

Tokoh laki-laki muncul di panel jauh, berdiri di ujung koridor lain. Ia membawa payung lipat hitam. Tidak mendekat. Tidak memanggil. Hanya menatap gadis yang masih menunggu seseorang yang tidak akan datang.

Narasi di bawahnya membuat Louisa menggigit bibir.

Aku tidak berani memintanya berhenti menunggu, karena aku tahu bukan aku yang ingin ia lihat ketika pintu terbuka.

Ruang tamu terasa terlalu sunyi.

Louisa menekan tombol komentar, tetapi tidak menulis apa pun. Komentar pembaca sudah mengalir.

Ini terlalu sakit. Dia lihat gadis itu nunggu orang lain, tapi tetap stay.

Anon, kamu pernah ngalamin ini ya?

Panel hujannya detail banget. Kayak memori asli.

Memori asli.

Louisa menatap dua kata itu sampai penglihatannya kabur.

"Louisa?"

Suara Nathanael datang dari arah ruang kerja.

Louisa cepat-cepat mengusap sudut matanya dengan punggung jari. "Iya?"

Pintu ruang kerja terbuka. Nathanael berdiri di sana, lengan kemejanya masih tergulung, tetapi dokumen tidak ada di tangannya. Matanya langsung turun ke wajah Louisa.

"Kamu nangis?"

"Nggak." Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Nathanael tidak mendebat. Ia berjalan ke meja rendah, mengambil kotak tisu, lalu meletakkannya di dekat tangan Louisa.

Tidak menekan. Tidak bertanya lagi. Hanya menyediakan sesuatu yang ia butuhkan sebelum ia mengaku membutuhkannya.

Louisa menatap kotak tisu itu.

"Webtoon-nya sedih," katanya akhirnya.

"Episode baru?"

"Iya." Louisa menarik selembar tisu, meremasnya tanpa benar-benar mengusap air mata. "Ada gadis yang nunggu orang di hujan. Orang itu nggak datang."

Nathanael duduk di ujung sofa, memberi jarak satu bantal di antara mereka.

"Lalu?"

"Lalu ada laki-laki lain yang lihat dari jauh." Louisa menunduk ke layar. "Dia bawa payung, tapi nggak berani mendekat."

Nathanael tidak bergerak.

Louisa tertawa kecil, tetapi suaranya pecah. "Bodoh, ya? Dua-duanya."

"Kenapa bodoh?"

"Yang satu menunggu orang yang nggak datang. Yang satu lagi membawa payung tapi tidak memberi."

"Mungkin dia takut membuat gadis itu malu."

Louisa menoleh.

Nathanael menatap layar ponselnya, bukan wajahnya. Profil wajahnya diterpa cahaya kota dari jendela, garis rahangnya terlihat lebih tegas, tetapi suaranya pelan.

"Kadang orang yang sedang menunggu sudah cukup terluka. Kalau ada orang lain datang dan bilang orang yang dia tunggu tidak akan datang, itu bisa terasa seperti mempermalukan dia."

Louisa menggenggam tisu.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa seperti tidak datang dari Webtoon. Terlalu nyata. Terlalu hati-hati.

"Kalau kamu jadi laki-laki itu," tanyanya, "kamu akan tetap diam?"

Nathanael mengangkat mata.

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, tipis seperti uap air hangat.

"Dulu mungkin," jawabnya.

"Sekarang?"

Nathanael menatapnya lebih lama. "Sekarang aku akan tanya dulu, dia mau pulang atau masih ingin menunggu."

Louisa terdiam.

Kemarin, di depan Tanuwijaya Group, Nathanael juga hanya bertanya, pulang.

Tidak menyuruh. Tidak menarik. Tidak mengatakan Kevin tidak pantas. Hanya membuka pintu.

Tiba-tiba tenggorokannya terasa penuh.

"Aku dulu sering menunggu," katanya, hampir seperti bicara pada diri sendiri. "Aku pikir kalau aku cukup sabar, suatu hari orang itu akan lihat."

Nama Kevin tidak keluar, tetapi Nathanael pasti mengerti. Matanya berubah dingin sepersekian detik, lalu kembali tenang ketika melihat tangan Louisa yang meremas tisu.

"Kamu tidak salah karena percaya," katanya.

Louisa menunduk.

Kalimat itu sederhana. Namun selama bertahun-tahun, ia lebih sering menyebut dirinya bodoh daripada menyebut orang lain ingkar. Mendengar seseorang memindahkan salah itu dari bahunya membuat dadanya terasa sakit dengan cara yang lain.

"Makasih," bisiknya.

Nathanael hanya mengangguk. "Kalau mau lanjut baca, aku duduk di sini sebentar."

"Kamu nggak kerja?"

"Dokumennya bisa menunggu."

Louisa tidak tahu harus menjawab apa.

Ia kembali ke layar dengan Nathanael duduk diam di ujung sofa. Kali ini, keheningan apartemen tidak terasa kosong. Ada suara AC, suara jauh kendaraan dari bawah, dan napas seseorang yang tidak memintanya menjelaskan kenapa ia menangis karena Webtoon.

Panel terakhir episode itu muncul.

Gadis di koridor akhirnya berjalan pulang sendirian. Sepatunya basah, buku di pelukannya miring, dan layar ponselnya tetap gelap. Di belakangnya, tokoh laki-laki berdiri lima langkah jauhnya, payung hitam masih tertutup di tangan.

Narasi terakhir tertulis kecil di sudut gambar.

Malam itu, ia tidak pernah tahu ada seseorang yang ikut basah hanya karena tidak sanggup meninggalkannya sendirian.

Louisa menahan napas.

Hujan dalam panel itu seperti bergerak. Koridor sekolah, lampu kuning, sepatu basah, ponsel yang tidak berbunyi. Semuanya terlalu dekat dengan ingatan yang selama ini ia anggap biasa.

Ia menyentuh layar dengan ujung jari.

"Kenapa," bisiknya, "aku merasa pernah ada di gambar ini?"

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!