NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 - Strategi Sang Ratu

Nathan Salim: 3%.

Angka itu kecil.

Namun bagi Sis, tiga persen itu seperti kembang api tahun baru.

"Tuan Rumah berhasil! Target pertama bergerak! Ini kemajuan besar! Walau cuma tiga persen, tetap tiga persen! Dari nol ke tiga itu secara matematis peningkatan tak terbatas karena sebelumnya nol!"

Felicia menatap layar biru dengan malas. "Jangan membuat matematika terdengar memalukan."

Nathan tidak bisa melihat layar itu. Ia hanya melihat Felicia diam beberapa detik setelah ciuman kedua, lalu tersenyum seperti baru menemukan sesuatu yang menyenangkan.

"Feli?" panggilnya hati-hati.

Felicia menutup layar Sis. "Kirim rekaman lengkap ke arsip. Simpan salinan pribadi juga."

Nathan berkedip, masih belum sepenuhnya kembali menjadi dirinya sendiri. "Kamu... langsung kembali ke rekaman?"

"Tadi kamu bilang ingin melindungi prosedur."

Wajahnya memerah lagi, kali ini lebih jelas. "Itu jawaban buruk."

"Tapi prosedurnya tetap berguna."

Nathan menarik napas pelan, lalu mengangguk. Gerakan itu membuatnya tampak seperti sedang mengumpulkan potongan diri yang tercecer di lantai ruang media.

Felicia mengambil cold pack dari meja dan menempelkannya sebentar ke punggung tangan. "Aku pergi dulu."

"Sekarang?"

"Kalau aku tinggal lebih lama, kamu tidak akan selesai bekerja."

Nathan tidak membantah.

Ia hanya menatapnya sampai Felicia membuka pintu. Tepat sebelum keluar, Felicia menoleh. "Bernapaslah dengan benar, Nathan."

Kali ini ia benar-benar menunduk, dan Felicia meninggalkannya dalam keadaan telinga merah.

Malam itu, Paviliun F4 terasa seperti papan catur yang semua bidaknya mulai bergerak sendiri.

Felicia duduk di kamar kecil lantai bawah dengan ponsel tubuh ini di tangan. Sis membuka layar sistem di sebelahnya, menampilkan empat nama target.

Nathan Salim: 3%.

Calvin Tanuwijaya: 0%.

Jayden Hartono: 0%.

Sebastian Widjaja: 0%.

"Tiga masih kosong," kata Sis. "Tapi data emosional semuanya naik. Ini bagus, kan?"

"Bagus kalau dikelola."

"Kalau tidak?"

"Mereka saling menggigit."

Sis terdiam. "Itu metafora, kan?"

Ponsel Felicia bergetar.

Pesan pertama dari Nathan.

Rekaman sudah diamankan. Aku juga menyimpan log perubahan aturan. Jika ada yang mengganggumu lagi, beri tahu aku.

Kalimatnya formal. Terlalu formal untuk seseorang yang baru dicium sampai lupa bernapas.

Felicia mengetik balasan.

Terima kasih. Jangan terlalu kaku. Aku lebih suka kamu saat jujur.

Tidak sampai sepuluh detik, status mengetik muncul, hilang, muncul lagi, lalu hilang lagi.

Felicia tersenyum dan tidak menunggu jawabannya.

Namun Nathan akhirnya tetap membalas.

Aku akan mencoba.

Hanya tiga kata. Tidak ada penjelasan, tidak ada emotikon, tidak ada kalimat formal tambahan. Justru karena itu, Felicia tahu pesannya mengenai sasaran.

Pesan kedua masuk dari Jayden.

Besok sore. Rematch. Jangan kabur, Sayang.

Felicia membalas:

Kalau kalah lagi, jangan menangis.

Balasan Jayden datang hampir seketika.

Gue kalau nangis tetap ganteng.

Lalu ia mengirim voice note tiga detik berisi tawa. Tidak ada isi penting, hanya energi yang menuntut ruang.

Sis membaca pesan itu dan menghela napas digital. "Percaya dirinya sehat sekali."

"Dia punya energi. Tinggal diarahkan."

Pesan ketiga bukan teks, melainkan foto.

Calvin mengirim gambar sketsa cepat: tangan Felicia memegang raket, garisnya kasar tapi hidup. Di bawahnya ada tulisan kecil.

Ci selalu terlihat seperti baru saja menang perang.

Felicia membalas:

Gambarmu lebih jujur saat tidak terlalu manis.

Calvin hanya mengirim satu pesan.

Berarti besok aku akan lebih jujur, Ci.

Tidak ada stiker. Tidak ada tawa. Dari Calvin, ketiadaan hiasan justru terdengar lebih serius.

Pesan keempat datang paling lambat.

Sebastian.

Kalimatnya seperti laporan penelitian.

Aku ingin menguji ulang kontak kemarin dalam kondisi terkontrol. Durasi singkat, area kulit minimal, tanpa tekanan sosial. Jika kamu bersedia.

Sis langsung panik. "Tuan Rumah, ini terdengar seperti proposal eksperimen!"

"Memang."

Felicia membalas:

Boleh. Tapi aku yang menentukan kapan berhenti.

Sebastian menjawab:

Setuju.

Empat target.

Empat pintu berbeda.

Nathan membutuhkan izin untuk menginginkan. Jayden membutuhkan lawan yang tidak takut. Calvin membutuhkan batas yang boleh ia sentuh tanpa merasa diusir. Sebastian membutuhkan bukti bahwa tubuhnya tidak mengkhianatinya setiap kali Felicia mendekat.

Felicia meletakkan ponsel di meja.

"Tuan Rumah akan memilih siapa dulu?" tanya Sis.

"Semuanya."

"Maksud Sis, prioritas."

"Semuanya prioritas."

Sis membuka empat bintang lagi, tampak gugup. "Itu... bisa kacau."

"Maka kita buat aturan."

Felicia mengambil kertas kosong dari buku catatan tubuh ini dan menulis satu kata di bagian atas.

Undian.

Sis membacanya pelan. "Undian?"

"Kalau mereka ingin waktu, mereka ambil nomor. Kalau ada yang tidak puas, mereka boleh menang dengan cara yang lebih menarik."

"Tuan Rumah, itu terdengar seperti memulai perang kecil."

"Bukan perang." Felicia menulis empat nama di bawah kata itu. "Permainan."

Ia membuat empat kolom kecil.

Nama. Waktu. Syarat. Pelanggaran.

"Aturan pertama," katanya sambil menulis, "waktu pribadi ditentukan lewat undian kalau permintaan mereka bentrok."

"Waktu pribadi maksudnya belajar? Bicara? Eksperimen Sebastian?" tanya Sis.

"Apa pun yang mereka minta dariku."

Sis membuat suara mencicit.

"Aturan kedua, aku punya hak mengganti hasil undian."

"Kalau begitu undiannya tidak adil."

"Ini bukan demokrasi. Ini manajemen risiko."

Felicia menulis kalimat itu dengan rapi. Hak akhir tetap di Felicia.

"Aturan ketiga, tidak boleh saling sabotase di luar permainan. Kalau mau menang, mereka harus membuatku ingin memilih mereka, bukan membuat yang lain jatuh."

Sis diam sebentar. "Itu justru sangat adil."

"Tentu."

"Tuan Rumah baru saja bilang ini bukan demokrasi."

"Adil tidak harus demokratis."

Felicia menambahkan baris terakhir: yang melanggar kehilangan giliran berikutnya.

Itu bukan hukuman berat, tetapi cukup untuk laki-laki yang mulai belajar bahwa waktu Felicia lebih sulit didapat daripada pujian guru, kemenangan balapan, atau ruang aman tanpa rasa sakit.

Sis membaca ulang catatan itu. "Tuan Rumah benar-benar akan menunjukkan aturan ini pada mereka?"

"Kenapa tidak?"

"Karena kebanyakan orang akan kaget kalau dijadikan peserta undian."

"Mereka target misi. Mereka akan terbiasa."

Felicia berhenti sebentar, lalu menambahkan satu kalimat di bawah semua aturan.

Tidak ada yang boleh menyentuh tanpa izin.

Ia menatap kalimat itu beberapa detik. Jayden yang panas, Calvin yang posesif, Nathan yang terlalu sopan, Sebastian yang takut sentuhan. Semua punya masalah berbeda dengan jarak tubuh.

Maka jarak juga harus menjadi aturan.

Saat ujung pulpen baru selesai menulis nama Sebastian, layar sistem berkedip.

"Tuan Rumah..."

"Apa?"

"Keempat target sedang bergerak ke area Paviliun F4."

Felicia mengangkat alis.

Di luar kamar, langkah kaki terdengar dari arah koridor utama.

Tidak satu pasang. Ada ritme lain yang lebih tenang dari tangga, lalu suara sepatu yang berhenti terlalu rapi di depan ruang tengah.

Lalu suara Jayden, jelas dan tidak sabar.

"Sayang ada di bawah, kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!