NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Hari-hari Manis

Sekar menutup wajah dengan botol air mineral, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti rangkaian hal kecil yang terlalu manis untuk disebut kebetulan.

Pagi hari, Kevin menunggu di gerbang samping. Kalau Sekar datang membawa tas berat, tas itu pindah ke bahunya tanpa perlu diminta. Kalau rambut Sekar berantakan karena angin motor, Kevin akan menatapnya beberapa detik, lalu berkata, "Rapiin," dengan telinga yang memerah lebih dulu daripada wajahnya.

Jam istirahat, meja kantin mereka selalu terisi lima orang.

Sekar, Kevin, Bryan, Yola, dan Steven Gunawan.

Steven awalnya datang karena Yola menariknya duduk untuk membuktikan bahwa ia "tidak takut sama aura preman Kevin". Ternyata Steven benar-benar tidak takut. Ia duduk, menaruh dua botol es teh, lalu mengangguk pada Kevin.

"Gue Steven."

Kevin menatapnya. "Gue tahu."

"Bagus. Berarti gue terkenal."

Bryan langsung suka padanya. "Akhirnya ada cowok normal di meja ini."

Yola menunjuk Bryan. "Kamu tidak termasuk normal."

"Kamu?" Bryan menunjuk Steven.

Steven menatap Yola yang sedang membuka bungkus siomay. "Aku sedang mempertimbangkan."

Yola hampir melempar sendok plastik.

Sekar tertawa sampai bahunya bergetar. Kevin duduk di sebelahnya, ekspresinya datar, tetapi ia mendorong tisu ke dekat tangan Sekar sebelum Sekar sempat mencarinya.

Hal seperti itu terjadi terus.

Saat Sekar batuk kecil, air mineral muncul. Saat ia lupa membawa penghapus, Kevin meletakkan penghapus baru di atas mejanya tanpa mengatakan dari mana ia mendapatkannya. Saat cuaca panas, ia memilih tempat duduk yang tidak terkena matahari langsung. Saat ada siswa laki-laki dari kelas lain terlalu lama menatap Sekar, Kevin hanya mengangkat mata, dan tatapan itu cukup membuat orang tersebut langsung melihat ke papan pengumuman.

Yola menyebutnya "layanan keamanan pribadi".

Bryan menyebutnya "paket pacar premium".

Kevin menyebutnya "diam kalian".

Sekar menyebutnya kebahagiaan.

Suatu sore, mereka belajar bersama di perpustakaan sekolah karena Bu Wati memberi kuis mendadak untuk minggu depan. Sekar duduk di samping Kevin, membantu menjelaskan soal logaritma yang jelas tidak ingin dipahami Kevin. Di seberang meja, Yola dan Steven berdebat pelan soal jawaban nomor lima.

"Ini harusnya dua," kata Yola.

"Tiga," jawab Steven.

"Dua."

"Kalau dua, hasilnya jadi aneh."

"Kamu yang aneh."

Steven tersenyum. "Kalau aku aneh, kenapa kamu dari tadi tanya aku?"

Yola terdiam, lalu pura-pura membalik halaman terlalu keras.

Sekar menahan tawa. "Yol, wajahmu merah."

"Panas."

"Perpustakaan pakai AC."

Yola menendang kaki kursi Sekar pelan di bawah meja.

Kevin menatap buku Sekar. "Fokus. Lo juga belum selesai."

"Kamu cemburu sama logaritma?"

"Gue cemburu sama semua yang bikin lo lihat selain gue terlalu lama."

Pulpen Sekar jatuh dari tangannya.

Bryan yang baru datang membawa keripik kentang langsung berhenti di pintu perpustakaan. "Gue masuk di waktu yang salah ya?"

Petugas perpustakaan menatapnya tajam.

Bryan pelan-pelan menyembunyikan keripik di balik punggung.

Meja mereka hampir meledak tawa, tetapi semua menahannya karena takut diusir.

Ketika perpustakaan tutup, hujan sudah turun lebih dulu.

Mereka berdiri di teras gedung, menatap halaman sekolah yang mengilap oleh air. Beberapa siswa berlari sambil menutup kepala dengan tas. Yola mengeluh karena payungnya tertinggal di kelas.

"Aku antar sampai gerbang," kata Steven.

Yola meliriknya. "Kamu punya payung?"

Steven membuka tas dan mengeluarkan payung lipat kecil warna hitam. "Punya."

"Kenapa dari tadi nggak bilang?"

"Kamu belum tanya."

Yola tampak ingin membantah, tetapi hujan turun makin deras. Akhirnya ia berdiri di samping Steven, terlalu dekat untuk disebut biasa. Ketika Steven membuka payung, bahu mereka hampir bersentuhan.

Bryan berbisik pada Sekar, "Itu kalau belum jadian, gue makan tali sepatu."

Sekar menahan tawa.

Kevin melepas jaket denimnya dan meletakkannya di atas kepala Sekar.

"Kev, nanti kamu basah."

"Gue nggak meleleh kena hujan."

"Aku juga nggak."

"Lo gampang sakit."

"Sejak kapan?"

"Sejak gue bilang."

Sekar ingin membalas, tetapi Kevin sudah menariknya mendekat ke sisi dalam teras agar percikan hujan tidak mengenai roknya. Di depan mereka, Yola dan Steven berjalan di bawah satu payung, saling menyalahkan arah payung yang miring padahal dua-duanya tersenyum.

Sekar melihat pemandangan itu dan tiba-tiba merasa seluruh dunia menjadi lembut.

Di tengah semua itu, Sekar merasa seperti diberi kesempatan untuk hidup sebagai remaja biasa. Belajar, makan siang, menunggu pacar di gerbang, mendengar sahabatnya berdebat dengan cowok yang jelas-jelas ia sukai, pulang dengan tangan digenggam hangat.

Terlalu biasa.

Terlalu indah.

Malamnya, setelah Kevin mengantarnya sampai depan gang dan memastikan ia masuk rumah, Sekar duduk di kamar sambil membuka buku biru gelap. Surat tiga kalimat itu masih ada. Di halaman berikutnya, Kevin mencoret satu soal matematika dengan tulisan berantakan dan menulis jawaban salah.

Sekar tertawa sendiri.

Lalu tawanya perlahan hilang.

Di luar jendela, hujan turun pelan. Suara air menyentuh genteng mengingatkannya pada malam pemakamannya, pada tanah basah, pada Kevin yang berdiri sendirian di depan batu nisan.

Sekar menutup buku itu.

Semua berjalan terlalu baik.

Kevin tersenyum lebih sering. Oma Lien mulai bertanya kapan Kevin akan datang makan bakpao. Yola dan Steven mulai saling mencari. Bryan sudah menganggap meja kantin mereka sebagai markas.

Semuanya terlalu sempurna.

Jari Sekar menekan sampul buku sampai memutih.

Dan justru karena itu, Sekar takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!