NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Pelukan dari Belakang

Lima puluh juta penonton menahan napas.

REYN berhenti tepat di depan Wenny.

Di tengah aula yang penuh kamera, sapaan peserta lain, dan komentar live yang bergerak terlalu cepat, ia hanya melihat Wenny. Tidak menyentuh, tidak membuat adegan besar. Ia hanya menunduk sedikit, suaranya rendah.

"Aku datang."

Seolah tiga hari terakhir memang hanya jeda dari janji yang belum selesai.

Wenny seharusnya menjawab sesuatu yang aman. `Selamat datang`, mungkin. Atau candaan ringan agar kamera tidak terlalu rakus menangkap wajahnya.

Namun yang keluar hanya, "Aku lihat."

Sudut bibir REYN naik sedikit.

Kevin di belakang mereka memegang dada. "Aku tiba-tiba merasa jadi wallpaper."

Koko nyaris melompat karena bahagia. "Bagus. Simpan energi ini untuk besok."

Besoknya, energi itu berubah menjadi ujian bagi jantung Wenny.

Lokasi rekaman hari kedua berada di sebuah area berkuda di pinggiran Bandung. Udara masih sejuk, tanah sedikit lembap, dan arena latihan dikelilingi pagar kayu. Beberapa kuda sudah disiapkan bersama instruktur profesional. Kru memasang kamera di sisi arena, sementara peserta memakai helm dan perlengkapan keamanan.

Wenny berdiri di depan seekor kuda cokelat yang tampak tenang tetapi tetap jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

"Dia jinak," kata instruktur.

Wenny mengangguk, tidak sepenuhnya percaya.

Kevin dari samping berbisik, "Kalau aku hilang martabat hari ini, tolong edit dengan musik heroik."

"Kamu belum naik," kata Stella.

"Justru itu. Ketakutanku visioner."

Wenny tertawa, tetapi tangannya tetap mencengkeram tali helm.

REYN memperhatikannya.

"Takut?" tanyanya.

"Tidak."

Ia menatap tangan Wenny.

"Sedikit," Wenny mengoreksi.

"Bagus. Kalau kamu bilang tidak takut sama sekali, aku lebih khawatir."

"Kenapa?"

"Orang yang mengaku tidak takut biasanya lupa hati-hati."

Ia berdiri di depannya, lalu menunjuk tali helm. "Boleh?"

Wenny tahu ia bisa membetulkan sendiri. Ia juga tahu kamera sedang menyorot. Tetapi jari REYN sudah bergerak pelan, menunggu izin, bukan mengambil alih.

Ia mengangguk.

REYN menyesuaikan tali helm di bawah dagunya. Sentuhannya cepat dan hati-hati, hanya pada pengait, tetapi jaraknya membuat Wenny bisa melihat bulu mata pria itu dari dekat.

"Terlalu kencang?" tanya REYN.

"Tidak."

"Kalau pusing, bilang."

"Kamu benar-benar akan mengingatkan semua hal?"

"Iya."

Jawaban itu tidak punya malu.

Komentar live di monitor kecil dekat kru langsung bergerak.

`Dia bahkan pasang helm seperti adegan lamaran.`

`Wenny sudah merah.`

`Kevin benar, dia wallpaper.`

Instruktur menjelaskan aturan dasar. Duduk tegak, jangan menarik tali terlalu keras, jangan panik jika kuda bergerak lambat, dengarkan aba-aba. Setiap peserta awalnya akan mencoba sendiri dengan instruktur berjalan di samping.

Giliran Wenny tiba.

Ia naik dengan bantuan pijakan kecil. Begitu duduk di atas pelana, dunia terasa lebih tinggi dan kurang stabil. Kuda itu bergerak sedikit, hanya menggeser berat badan, tetapi Wenny langsung menahan napas.

"Tenang," kata instruktur.

Wenny mengangguk kaku.

Kuda mulai berjalan pelan.

Beberapa langkah pertama baik-baik saja. Lalu angin lewat, membuat ujung cardigan Wenny bergerak. Kuda itu mengangkat kepala sedikit. Gerakannya tidak berbahaya, tetapi cukup untuk membuat Wenny menegang dan menarik tali terlalu cepat.

"Jangan tarik keras," instruktur mengingatkan.

"Maaf."

REYN yang berdiri di luar pagar langsung maju satu langkah.

Koko melihat peluang. "REYN, kamu punya pengalaman berkuda?"

"Pernah untuk video klip."

"Bisa bantu Wenny untuk satu putaran?"

Wenny menoleh cepat. "Aku bisa belajar sendiri."

Kuda di bawahnya bergerak lagi.

Wenny langsung diam.

Kevin mengangkat tangan dari pagar. "Sebagai perwakilan publik, aku mendukung bantuan profesional dari REYN."

Rosa tersenyum tipis. "Kalau Wenny keberatan, jangan dipaksa."

REYN menatap Wenny, bukan Koko, bukan Rosa. "Kamu keberatan?"

Pertanyaan itu membuat pilihan kembali padanya.

Wenny memegang tali lebih longgar, lalu menggeleng kecil. "Tidak."

Instruktur mengangguk setelah memastikan kuda itu cukup tenang. "Boleh, tapi pelan. Saya tetap di samping."

REYN naik dari sisi belakang dengan gerakan terlatih. Pelana yang tadi terasa luas mendadak menjadi terlalu sempit. Tubuhnya berada di belakang Wenny, tidak menempel penuh, tetapi cukup dekat untuk membuat udara di antara mereka terasa hangat.

Begitu REYN duduk, suasana di pinggir arena berubah. Kevin yang biasanya punya komentar untuk semua hal tiba-tiba hanya membuka mulut tanpa suara. Natasha menepuk lengan Kevin, meminta ia diam. Stella memandang Wenny dengan senyum yang lebih mirip peringatan: jangan jatuh terlalu cepat. Felix berdiri di belakang Stella, tetapi matanya sempat turun ke tangan Stella yang menggenggam pagar.

Rosa tidak bergerak.

Di wajahnya masih ada senyum, tapi kali ini senyum itu tidak sampai ke mata. Kamera mungkin menangkapnya. Mungkin tidak. Wenny sendiri tidak sempat melihat, karena seluruh dunia di belakangnya baru saja berubah menjadi napas REYN.

Instruktur memberi aba-aba, "Kalau tidak nyaman, langsung bilang."

REYN menjawab sebelum Wenny, "Dia akan bilang."

Wenny hampir menoleh. "Kamu yakin?"

"Aku sedang berharap kamu percaya itu."

"Rileks," kata REYN di dekat telinganya.

Wenny hampir tertawa karena mustahil.

"Kamu yang duduk di belakangku."

"Justru karena itu kamu aman."

Kalimat itu masuk ke telinga Wenny bersama napas REYN yang hangat. Ia berusaha melihat ke depan, tetapi seluruh tubuhnya terlalu sadar pada pria di belakangnya.

REYN mengulurkan kedua tangan, melewati sisi tubuh Wenny untuk memegang tali kendali.

Gerakannya membuat lengannya seperti mengurung Wenny dari belakang.

Tidak erat.

Tidak menekan.

Namun cukup untuk membuat seluruh arena menghilang sebentar.

"Tanganmu di sini," katanya.

Jari REYN menyentuh punggung tangan Wenny, membimbing posisinya di tali. Wenny mengikuti, terlalu takut salah gerak, terlalu sadar bahwa jika ia bersandar sedikit saja, punggungnya akan menyentuh dada REYN.

"Jangan tarik. Arahkan saja."

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu. Tadi kamu hampir meminta dia berhenti dengan cara marah."

"Aku panik."

"Makanya aku di sini."

Kuda mulai berjalan.

Pelan.

Satu langkah, dua langkah, lalu ritmenya menjadi stabil. Dengan REYN di belakangnya, gerakan itu tidak lagi terasa seperti akan menjatuhkannya. Tali kendali bergerak di bawah tangan mereka. Setiap kali kuda sedikit berubah arah, REYN menyesuaikan dengan halus, dan tubuh Wenny ikut terbawa.

Di tikungan kecil, kuda itu mempercepat langkah setengah detik karena mengikuti aba-aba instruktur. Tidak berbahaya, tetapi cukup membuat Wenny refleks mencondongkan tubuh ke belakang.

Punggungnya menyentuh dada REYN.

Waktu seperti berhenti.

Tangan REYN langsung menguat di atas tali, bukan menarik Wenny, melainkan menstabilkan arah. Lengan kirinya merapat sedikit di sisi pinggang Wenny, memberi batas agar tubuhnya tidak bergeser.

"Aku di sini," katanya.

Tiga kata itu lebih efektif daripada semua instruksi.

Wenny menggigit bibir, lalu mengangguk kecil.

"Jangan takut bersandar kalau perlu," tambah REYN. "Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh."

Kalimat itu seharusnya hanya soal berkuda.

Namun tubuh Wenny tidak menerimanya sesederhana itu.

"Lihat ke depan," kata REYN.

Wenny melihat ke depan.

"Napas."

Ia baru sadar ia menahan napas.

Ia menarik napas pelan.

Aroma rumput basah, kulit pelana, dan parfum REYN bercampur. Di belakang, dada REYN naik turun dengan ritme yang lebih tenang. Atau mungkin tidak setenang itu, karena beberapa detik kemudian Wenny merasakan sesuatu yang berdegup cepat dari arah punggungnya.

Jantung.

Milik siapa?

Ia tidak tahu.

Mungkin miliknya sendiri yang terlalu keras sampai terasa di seluruh tubuh. Mungkin milik REYN yang berada terlalu dekat. Mungkin keduanya bertemu di ruang sempit antara punggung dan dada, lalu membuat ritme baru yang tidak bisa dibedakan.

Di pinggir arena, Kevin benar-benar tidak bicara.

Natasha menutup mulutnya. Stella menyilangkan tangan dengan senyum kecil. Felix menatap Stella lebih sering daripada arena. Rosa berdiri diam, matanya mengikuti tangan REYN yang melingkari sisi tubuh Wenny.

Koko berbisik pada kameramen, "Jangan potong. Jangan satu detik pun."

Di monitor samping, komentar live sudah tidak lagi membentuk kalimat rapi.

`Pelukan dari belakang!`

`Ini masih acara kencan atau drama premium?`

`REYN bilang aku di sini. Aku yang di rumah ikut percaya.`

Di ruang observasi, Chelsea memeluk bantal kecil sampai penyok. Jay tidak menggoda kali ini. Ia hanya melihat sahabatnya di layar dengan ekspresi yang lebih tenang, seperti akhirnya menyaksikan orang yang lama berlari sendirian menemukan tempat berhenti.

Kuda melewati sisi pagar yang menghadap bukit. Angin Bandung menyentuh wajah Wenny, lebih dingin dari Bali, tetapi tubuhnya justru terasa panas.

"Sudah tidak takut?" tanya REYN.

"Masih."

"Bagus."

"Kenapa bagus?"

"Berarti kamu masih butuh aku."

Wenny memejamkan mata satu detik.

"REYN."

"Hmm?"

"Kamu selalu bicara seperti itu pada semua orang?"

"Tidak."

"Pada siapa saja?"

"Pada kamu."

Tali kendali hampir terlepas dari jari Wenny.

REYN menahan tangannya dengan lembut. "Fokus."

"Sulit kalau kamu begitu."

Ia mendengar tawa rendah REYN di belakangnya, dekat sekali, tidak ditujukan untuk kamera. Tawa itu masuk ke dada Wenny dan tinggal di sana.

Satu putaran selesai. Instruktur memberi tanda agar mereka berhenti. Kuda melambat, lalu diam.

REYN belum turun.

Lengannya masih berada di sisi tubuh Wenny, tangannya masih menutup sebagian tangan Wenny di atas tali kendali. Dari belakang, suara detak itu masih terdengar, atau terasa, atau mungkin hanya dibayangkan.

Wenny menatap tangan mereka.

Ia tidak yakin itu jantung siapa.

Mungkin miliknya.

Mungkin milik REYN.

Atau mungkin, untuk pertama kalinya, dua jantung sedang belajar berdetak dalam ritme yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!