NovelToon NovelToon
Bayangan yang Tenggelam

Bayangan yang Tenggelam

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / CEO / Angst / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kang Xian adalah anak angkat keluarga Tan, salah satu konglomerat Tionghoa terbesar di Jakarta. Tumbuh di antara empat saudara tiri yang membencinya, dia belajar satu hal sejak kecil: bertahan berarti memakai topeng.

Di usia dua puluh, dia kehilangan satu-satunya orang yang pernah melihatnya tanpa topeng — Yap Ting Zhi, pelukis jenius berumur delapan belas yang meninggal bersama ayahnya. Sejak saat itu, jantung Xian berhenti berdebar. Untuk siapa pun.

Sampai dia menemukan Liem Yuan Zhou.

Bukan karena cinta. Karena wajahnya — wajah yang nyaris identik dengan Ting Zhi. Xian mendekatinya, menjadi kekasih rahasianya, dan selama empat tahun hidup dalam bayangan orang yang sudah mati.

Yuan Zhou adalah CEO konglomerat Liem. Dingin, posesif, dan terbiasa mengendalikan segalanya — termasuk wanita di ranjangnya. Dia menganggap Xian miliknya. Tidak pernah bertanya apakah Xian menganggapnya sebagai apa.

Sampai sebuah foto lama ditemukan. Foto seorang pemuda yang wajahnya identik dengan Yuan Zhou — tapi bukan Yuan Zhou. Dan di belakang foto itu, dua huruf: TZ.

Kebenaran meledak. Empat tahun cinta yang Yuan Zhou kira nyata, ternyata dibangun di atas kebohongan seorang wanita yang tidak pernah melihatnya — yang hanya melihat bayangan orang lain di wajahnya.

Dalam kemarahannya, Yuan Zhou menyekap Xian. Menghukumnya. Memohon padanya. Sampai suatu malam, dia memakai kemeja putih — pakaian khas Ting Zhi — dan berlutut:

"Anggap saja aku dia. Kalau itu membuatmu tetap di sini."

Xian menolak. Dan pergi.

Enam bulan berlalu. Yuan Zhou kehilangan segalanya — perusahaan, keluarga, penglihatan, kemampuan berjalan. Xian membuka toko buku kecil di kota pegunungan Batu, hidup dalam ketenangan yang dia kira dia inginkan.

Sampai suatu malam badai, dia membuka pintu dan menemukan pria itu di depannya — wajah penuh luka, duduk di kursi roda, memeluk kucing yang hilang darinya seminggu lalu.

Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapnya dengan mata yang sudah berbeda.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Xian ingin menangis bukan karena Ting Zhi.

Genre: CEO Romance | Substitute Love | Revenge | Konglomerat Tionghoa
Target: Pembaca wanita 18-35, platform NovelMe / GoodNovel / Wattpad Indonesia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Garis Pengawasan

Dalam tiga hari setelah kejadian di PIK, Tan Yu Yao tidak muncul di depan Xian.

Itu lebih aneh daripada permintaan maaf.

Yu Yao bukan tipe yang mundur setelah gagal. Ia biasanya akan muncul dengan senyum lebih manis, kata-kata lebih tajam, seolah semua orang harus menerima bahwa kejahatan kecilnya hanyalah bagian dari sifat manja anak bungsu keluarga Tan.

Kali ini, rumah Tan terlalu rapi.

Terlalu tenang.

Saat Xian datang untuk rapat acara amal berikutnya, kepala pelayan langsung mengantarnya ke ruang duduk samping. Tidak ada lorong sepi. Tidak ada Yu Yao tiba-tiba muncul. Tidak ada Ju Yin bersandar di dinding sambil tersenyum.

Mama Tan bahkan berkata, "Yu Yao kurang sehat. Ju Yin ada urusan di luar."

Xian mengangguk.

Ia tidak bertanya siapa yang membuat mereka `kurang sehat` dan `ada urusan`.

Jawabannya berdiri di ruang kerja lantai dua.

Fu Huai.

Setelah rapat selesai, Xian naik ke lantai dua dengan alasan mengembalikan daftar sponsor. Pintu ruang kerja Fu Huai terbuka. Ia sedang berbicara dengan Asisten Shi.

"Dua orang itu sudah tanda tangan pernyataan?" tanya Fu Huai.

"Sudah, Pak Fu Huai. Mereka mengaku dibayar oleh Tuan Ju Yin, tapi tidak tahu nama Nona Xian sebelumnya."

"Simpan rekamannya. Jangan kirim ke Papa dulu."

"Baik."

"Akses Ju Yin ke rekening operasional acara amal?"

"Sudah dibekukan sementara."

"Yu Yao?"

Asisten Shi menunduk sedikit. "Nona Yu Yao diminta Mama Tan tinggal di rumah utama sampai acara selesai. Tapi beliau menolak makan pagi."

"Dia akan makan saat lapar."

Nada Fu Huai datar.

Xian mengetuk pintu.

Asisten Shi langsung berhenti bicara. Fu Huai menoleh, tidak tampak terkejut.

"Masuk."

Xian meletakkan map sponsor di meja. "Aku tidak tahu Ko Fu Huai sedang rapat."

"Sekarang tahu."

Asisten Shi menunduk dan keluar, menutup pintu di belakangnya.

Xian berdiri di depan meja. "Ko Fu Huai menangani semuanya tanpa memberitahuku."

"Kamu ingin diberi laporan?"

"Itu menyangkutku."

"Karena menyangkutmu, aku menangani sebelum Yuan memakainya untuk menyerang rumah Tan."

Xian menatapnya. "Atau sebelum Yuan tahu Ko Fu Huai punya rekaman yang bisa menekan Ju Yin dan Yu Yao?"

Fu Huai memandangnya beberapa saat. "Kamu mulai belajar bertanya dengan benar."

"Aku belajar dari orang-orang yang suka menyembunyikan pisau."

Sudut mulut Fu Huai bergerak tipis. "Kalau aku tidak bergerak, Yu Yao akan mencoba lagi."

"Kalau Ko Fu Huai bergerak terlalu banyak, Yuan akan tahu."

"Yuan sudah tahu."

Xian diam.

Fu Huai membuka laci, mengeluarkan sebuah amplop kecil. Di dalamnya ada foto hitam putih dari kamera jalan: mobil Feng berhenti di depan rumah Tan, lalu mobil lain yang tidak dikenal berada dua kendaraan di belakang.

"Orang Yuan mengikuti mobilku kemarin," kata Fu Huai. "Tidak terlalu rapi."

"Feng?"

"Bukan. Orang luar. Mungkin disewa cepat."

Xian merasakan sakit kecil di belakang kepala. Yuan tidak hanya meminta laporan. Ia mulai memasang mata di luar sistemnya sendiri.

"Ko Fu Huai senang?" tanyanya.

"Karena diperhatikan Yuan?"

"Karena sekarang ada alasan untuk membalas."

Fu Huai menyimpan kembali foto itu. "Aku tidak perlu alasan untuk membalas. Aku hanya perlu waktu yang tepat."

Ponsel Xian bergetar.

Pesan dari Yuan:

`Turun.`

Hanya satu kata.

Fu Huai melihat layar dari jarak yang cukup untuk membaca.

"Dia menunggu?"

"Feng menunggu."

"Yuan juga."

Xian mengangkat mata.

Fu Huai berjalan ke jendela. Dari sana, halaman depan rumah Tan terlihat jelas. Di luar gerbang, mobil hitam Yuan Zhou berhenti di bawah pohon. Feng berdiri di samping pintu, tetapi di kursi belakang, kaca mobil diturunkan sedikit.

Yuan datang sendiri.

Xian tidak menyangka dadanya akan terasa sesempit itu.

"Pergilah," kata Fu Huai.

"Ko Fu Huai tidak turun?"

"Kalau aku turun, dia akan mendapat yang dia mau."

"Apa?"

"Bukti bahwa aku ingin menahanmu."

Xian hampir berkata bahwa Fu Huai memang menahannya dengan cara lain. Tetapi pesan Yuan kembali masuk.

`Sekarang.`

Ia mengambil tasnya dan turun.

Di halaman, Feng membuka pintu mobil. Yuan duduk di dalam, tablet di pangkuannya, tetapi layarnya mati. Ia tidak sedang bekerja.

Xian masuk.

Pintu tertutup.

"Kamu lama," kata Yuan.

"Rapat baru selesai."

"Rapat dengan Mama Tan atau dengan Fu Huai?"

"Aku mengembalikan daftar sponsor ke ruang kerjanya."

"Berdua?"

Xian menoleh. "Ada Asisten Shi saat aku datang."

"Lalu dia keluar."

Jadi Yuan tahu sampai detail itu.

Xian menyandarkan punggung ke kursi. "Kalau kamu sudah tahu, kenapa bertanya?"

Yuan memandangnya. "Aku ingin dengar versi yang kamu pilih."

Mobil mulai bergerak.

Di luar jendela, rumah Tan mundur pelan. Di lantai dua, tirai ruang kerja Fu Huai bergerak sedikit. Xian tidak tahu apakah angin atau tangan seseorang.

"Fu Huai menahan Yu Yao dan Ko Ju Yin," kata Xian. "Agar kejadian PIK tidak terulang."

"Dia baik sekali."

"Dia menjaga rumah Tan."

"Dan kamu kebetulan bagian dari rumah Tan?"

Xian tidak menjawab.

Yuan tersenyum tanpa hangat. "Aku juga bisa menjaga."

"Aku tahu."

"Tidak. Kamu belum tahu." Yuan menyalakan tablet dan menunjukkan sebuah foto. Di foto itu, salah satu pria dari ruang karaoke PIK sedang duduk di ruang interogasi kantor polisi sektor setempat. Wajahnya pucat.

Xian menegang.

"Kamu melapor?"

"Aku tidak perlu melapor. Ada banyak cara membuat orang bicara."

"Liem Yuan Zhou."

"Tenang. Aku tidak menyentuh mereka." Suaranya datar. "Aku hanya memastikan mereka tahu siapa yang mereka hampir sentuh."

Hampir sentuh.

Kalimat itu membuat Xian ingin menarik napas panjang, tetapi ruang mobil terlalu sempit.

"Ini akan membuat Tan tahu kamu ikut campur."

"Bagus."

"Itu akan memperburuk keadaan."

"Keadaan sudah buruk saat mereka mengira bisa melakukan itu padamu."

Untuk sesaat, Xian hampir percaya bahwa kemarahan Yuan benar-benar untuknya.

Lalu ia menambahkan, "Dan saat Fu Huai berpikir dia bisa menjadi orang pertama yang muncul."

Di sana letaknya.

Bukan hanya perlindungan.

Perebutan tempat.

Malam itu, setelah Xian tidur, Yuan berdiri di balkon kamar dan menelepon seseorang.

"Kirim pesan ke Tan Fu Huai," katanya.

Di seberang, Feng menjawab, "Isi pesannya, Tuan?"

Yuan memandang halaman gelap di bawah.

"Tidak perlu panjang."

Beberapa menit kemudian, di BSD City, ponsel Fu Huai menyala di atas meja kerjanya.

Nomor tidak dikenal.

Pesannya hanya satu kalimat:

`Jangan sentuh milikku.`

Fu Huai membaca pesan itu.

Lama sekali ia tidak bergerak.

Lalu ia menyimpan nomor tersebut dengan nama: `Liem Yuan Zhou`.

Setelah itu, ia mengetik satu balasan.

`Kalau benar milikmu, kenapa dia selalu mencari jalan keluar?`

Pesan itu tidak langsung ia kirim.

Ia hanya membiarkannya terbuka di layar, seperti pisau yang belum diputuskan akan ditancapkan atau disimpan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!