Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Sudah tiga hari Abimanyu menjalani perawatan di rumah sakit. Waktu yang semula terasa lambat kini seakan berjalan lebih ringan. Demam tinggi yang sempat menguras seluruh tenaganya telah berangsur turun, wajahnya yang beberapa hari lalu pucat kini mulai memancarkan warna kulit normalnya.
Meski tubuhnya masih menyisakan lemah, setidaknya ia sudah mampu duduk lebih lama, berjalan perlahan di sekitar kamar perawatan.
Infus masih terpasang di punggung tangannya, tetapi cairan obat yang menetes kini tinggal sedikit. Nafsu makannya perlahan kembali, dan dokter yang memeriksanya setiap pagi pun terlihat puas dan bangga melihat perkembangan kondisinya yang sekarang.
"Kalau hasil pemeriksaan besok tetap bagus dan tidak ada demam lagi, kemungkinan Anda sudah boleh pulang," ucap dokter dengan senyum yang menenangkan.
Kalimat sederhana itu menjadi kabar paling melegakan setelah tiga hari penuh perjuangan melawan penyakit. Bagi Abimanyu, bukan hanya tubuhnya yang perlahan pulih, tetapi juga semangatnya yang kemarin sempat redup kini kembali menyala setelah mendengar kata pulang.
"Ini serius dok, saya besok sudah boleh pulang?" Tanya Abimanyu berbinar, ekor matanya melirik Amara yang berdiri di samping kanan ranjang bersebrangan dengan dokter.
Dokter menganggukan kepala. "Ya, tentu saja. Tapi dengan syarat hasil pemeriksaan bagus semua, dan itu bukan berarti anda boleh beraktifitas secepat itu, anda tetap harus bedrest di rumah."
Di sampingnya, Amara yang tak pernah sekalipun meninggalkan rumah sakit, akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Lingkaran hitam di bawah matanya menjadi saksi bagaimana ia hampir tak pernah tidur nyenyak selama tiga hari. Bukan hanya tentang sakitnya Abimanyu dan ketidaknyamanan berada di rumah sakit meski mendapat fasilitas yang terbaik, namun kegelisahan terus menggerogotinya sejak membaca pesan yang masuk ke ponsel Abimanyu dari nomor yang tidak dikenalnya itu.
Saat visit selesai dan dokter sudah kembali keluar, suasana kamar kembali hening. Abimanyu yang sedari kemarin sudah menyadari perubahan sikap Amara yang lebih banyak diam akhirnya membuka suara. "Mara..." Panggilnya menatap lurus wajah yang kentara lelahnya.
"Ya, om." Sahut Amara cepat tanpa membalas tatapan Abimanyu, gadis itu pura-pura menyibukkan diri dengan ponselnya.
Melihat respon Amara, Abimanyu menarik napas. Ia pun bingung harus berbicara apa, karena tidak mungkin tiba-tiba menanyakan sesuatu yang akan dianggap ko-nyol. Meski hubungannya dengan Amara tidak selayaknya pasangan suami istri pada umumnya, namun ia merasakan ada sesuatu yang membuat sikap Amara berubah.
Bahkan Amara terlihat canggung dan menjaga jarak setiap kali berinteraksi dengannya, seperti hal nya tadi pagi saat sarapan. Padahal saat hari pertama sembari menyuapinya Amara selalu berceloteh apa saja, bahkan mengomelinya. Namun saat hari kedua, perubahan itu mulai terasa.
Amara saat bersamanya seketika diam dan terlalu tenang, berbeda saat berbicara dengan orang lain.
"Om barusan manggil aku, ada perlu apa?"
Suara Amara mengalihkan Abimanyu dari racauan batinnya. Pria itu mengerjap sesaat, "kamu jangan banyak lihat hp, sebaiknya tidur saja dari kemarin kurang tidur." Ucap Abimanyu asal, bahkan ia melupakan waktu saat menyuruh Amara tidur.
"Tidur?" Amara melihat ke arah jam kemudian terkekeh namun tak sampai mata. "Masih jam sembilan pagi om." Ucapnya kemudian bangkit menuju kamar mandi.
Abimanyu terdiam, otaknya yang biasa selalu bekerja cepat namun saat ini mendadak buntu di depan Amara.
Dering ponsel dari arah meja kecil di sampingnya mengalihkan perhatian Abimanyu. Pria itu memutar leher, baru sadar setelah beberapa hari di rumah sakit ia sama sekali tak menyentuh ponselnya. Perlahan Abimanyu menggeser tubuhnya meraih benda pintarnya itu.
Abimanyu menatap deretan angka yang tertera di layar ponselnya, hingga tak menyadari keberadaan Amara yang berdiri di sampingnya tengah merapikan selimut.
"Oiya, baru ingat. Nomor itu juga kemarin kirim pesan, aku enggak sengaja lihat." Celetuk Amara tanpa menoleh membuat Abimanyu mengerutkan kening, namun jarinya bergerak menolak panggilan dari nomor yang tak bernama itu.
"Pesan apa?" Abimanyu mendongak menatap punggung Amara.
"Mana ku tahu!" Amara mengedikkan bahunya kemudian duduk di sofa dan kembali fokus dengan ponselnya sendiri.
Mendengar jawaban Amara, Abimanyu tak bertanya lagi. Ia membuka aplikasi hijaunya yang terdapat ratusan pesan dari grup, dan puluhan pesan dari belasan orang. Jarinya membuka pesan dari nomor tanpa nama karena sengaja ia sudah menghapusnya, Jenny...
Raut wajah Abimanyu seketika berubah, ia menghela napas berat mengumpat perempuan yang dulu dicintainya dengan sepenuh hati. Tanpa berpikir panjang, ia menekan nomor itu dan memblokirnya tanpa ada keraguan sedikitpun. Jangan pernah berpikir aku akan berubah pikiran dengan melihat foto-foto sia-lan itu.
Abimanyu terus mengumpat dalam hati, otaknya seketika bekerja. Apa jangan-jangan Amara membaca pesannya? Seketika wajah Abimanyu terlihat tegang.
Apa dia berubah sikap karena baca WA dari Jenny? Kalau begitu, berarti dia cemburu... Argh, dasar bocah. Kenapa harus cemburu segala.
Wajah Abimanyu yang barusan sempat menegang kini kembali melunak, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman bersamaan dengan ekor mata Amara yang meliriknya kemudian membuang muka.
Makan mesti di suapin, apa-apa belum kuat, giliran baca WA dari kekasih senyum-senyum sendiri, apa pantas orang sakit seperti itu. Amara menggerutu sinis dalam batin.
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️