NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~05

Di saat ketegangan di ruang tamu belum juga mereda.

Sementara itu, di dapur, suasana kesibukan tersendiri Mbak-Mbak Khadimah tengah berjalan santai, karena waktu sudah semakin sore mereka biasanya hanya menghangatkan makanan yang tersisa dan membuat makanan untuk para pekerja bakti sore, tidak perlu memasak lagi.

Di tengah kesibukan mereka, ada satu gelagat yang aneh di antara mereka. Salsa terus-menerus melirik jam dinding dengan tatapan gelisah. Begitu jarum jam tepat menunjukkan angka setengah lima, ia mendadak menghentikan aktivitasnya. Sikapnya mendadak tergesa-gesa, mengundang tanya, karena biasanya dialah orang yang paling terakhir meninggalkan dapur.

"Eh, aku ke kamar dulu, ya. Ada urusan mendadak," pamit Salsa. Ia meletakkan pisau dapur yang digenggamnya begitu saja, lalu melangkah pergi dengan terburu-buru.

Tidak ada satu pun jawaban yang terucap, hanya tatapan penuh tanda tanya di antara para santri lain di sana.

Seketika, suasana di dapur mendadak dingin dan menegangkan. Semua terdiam, menahan kata yang hampir saja meledak.

"Iiihhh!..." Ucapan itu terpotong sebelum sempat tuntas.

"Hust, diam! Enggak boleh begitu," tegur Sinta cepat. Ia tidak ingin ruangan ini berubah menjadi tempat gunjingan.

"Tenang, Ran," bisik salah seorang temannya, mencoba meredakan gejolak di dada Rani yang sudah tak tahan menahan emosi.

"Huuft..." Rani menarik napas dalam-dalam, mencoba menormalkan hatinya yang tegang agar kembali tenang.

Di dapur itu, memang tidak ada yang benar-benar menaruh simpati pada Salsa. Bukan karena status senior nya, melainkan karena wataknya yang sulit diartikan dengan yang lain. Ia hidup dalam kesendirian tanpa teman dekat, sebagian besar telah menjauh akibat perbuatannya sendiri. Satu-satunya orang yang masih sudi mengulurkan tangan dan berteman tulus dengannya hanyalah Zia.

Meskipun begitu, rasa tidak suka itu tetap disertai rasa takzim. Mereka masih menghargai Salsa sebagai senior. Tak pernah sekalipun mereka menyindir atau mengusik di depannya, demi menjaga hatinya. Mereka selalu bersikap biasa saja saat bertatap muka, walau saat Salsa pergi, ada rasa emosi yang ingin sekali diluapkan. Beruntung, benteng kesabaran mereka masih kuat untuk saling menjaga agar tidak terjerumus dalam ghibah. Keluhan-keluhan itu pada akhirnya hanya terendam di dalam hati masing-masing.

Sebelum mengurung diri di kamar, Salsa sengaja membersihkan diri terlebih dahulu. Karena seluruh perlengkapannya sudah ia siapkan di kamar mandi, ia tak perlu lagi bolak-balik.

Usai mandi, ia bergegas menuju kamar dan langsung bersolek di depan cermin. Pesonanya yang imut dengan kulit putih bersih memang sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Tak sedikit Kang Santri yang memendam rasa padanya. Namun, entah kriteria lelaki berwibawa seperti apa yang ia dambakan, hingga sampai detik ini hatinya masih belum jatuh pada siapapun.

Sinta yang baru saja kembali dari dapur, terpesona melihat Salsa yang sudah rapi dan berdandan sangat anggun. Rasa penasaran mendorongnya untuk memberanikan diri bertanya. "Mau ke mana, Mbak? Kok sudah rapi" tanya Sinta, berusaha menyelidik.

Salsa sempat terdiam sesaat sambil menyempurnakan lipatan kerudungnya. Ia segera mencari alasan yang tepat.

"Apakah aku berkewajiban menjawab pertanyaanmu, Sinta?" gurau Salsa, mencoba mencairkan ketegangan. "Nggak ke mana-mana, kok. Cuma ada urusan mendadak sebentar. Permisi, ya," lanjut Salsa dengan nada yang sedikit tergesa, berjalan melewati Sinta yang masih berdiri di ambang pintu. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam," jawab Sinta lirih. Ia menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala, menatap punggung Salsa yang semakin menjauh.

***

Sementara itu, di kediaman Abah, Zizan menghadapi amplop rahasia yang belum terbuka. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dengan berdoa, ia memantapkan hati.

"Bismillah. Izin membukanya, Bah."

"Iya, silakan," jawab Abah, tenang dan berwibawa.

Zizan menyobek segel amplop itu dengan hati-hati. Begitu kertas di dalamnya terbuka, matanya menatap deretan kalimat yang tertulis.

Surat Lomba Cerdas Cermat Nahwu Shorof se-Kecamatan? batin Zizan, bergejolak.

"Apa isinya, Zan?" tanya Zia, tak mampu lagi membendung rasa penasarannya.

"Bacakan, Zan," pinta Abah lembut namun penuh penekanan.

Zizan berdeham, lalu membaca dengan suara yang agak bergetar.

Surat Undangan Lomba Cerdas Cermat Nahwu Shorof Santri Salafiyah Antar-Kecamatan.

Sehubungan dengan digelarnya kompetisi cerdas cermat ini, yang akan diikuti oleh santri dari berbagai pesantren di Kecamatan Gebongan, setiap pesantren diharapkan memilih dan mengirimkan dua delegasi terbaiknya—satu santri putra dan satu santri putri. Mereka akan mengikuti seleksi ketat yang nantinya berpusat di Ponpes Al-Anwar Gebongan. Dari seluruh kandidat yang berkompetisi, hanya akan diambil 3 santri putra dan 3 santri putri terbaik. Perlu dicatat bahwa kompetisi tahun ini tidak memberlakukan batasan usia bagi para peserta, sehingga seleksi terbuka murni berdasarkan kualitas keilmuan. Mohon kesediaannya untuk segera mendaftarkan santri perwakilan tersebut.

Batas akhir pendaftaran: Senin, 07 September 2026.

Acara seleksi : Rabu, 09 September 2026.

Atas perhatian dan kesediaan Bapak, kami haturkan terima kasih.

Seketika, kebingungan melanda Zizan dan Zia. Kalimat terakhir dari surat itu seolah menghantam pikiran mereka. Ketiadaan batas usia berarti mereka berpotensi menghadapi lawan-lawan tangguh yang jauh lebih senior atau bahkan para pengajar dari pesantren lain. Mereka saling menunduk dengan rasa yang sangat takut akan kekalahan.

Abah yang menangkap kebimbangan di wajah kedua santrinya itu, akhirnya tersenyum bijak.

"Iya, benar. Itu adalah surat seleksi peserta cerdas cermat, dan waktu kalian tidak banyak hanya tinggal empat hari lagi. Abah sudah mendiskusikannya dengan Umi yang sedang di luar kota. Dan kami berdua telah memberikan kepercayaan besar kepada kalian untuk menjadi delegasi dari pesantren kita. Jangan gentar walau tidak ada batasan usia. Abah tahu medannya akan berat karena kalian bisa saja berhadapan dengan santri senior yang sudah tahunan mengabdi, atau bahkan ustadz muda dari ponpes lain. Namun, tata hati dan siapkan mental kalian, ya. Abah percaya ilmu kalian mampu bersaing." Abah menepuk pundak Zizan dengan mantap, menyalurkan energi keyakinan.

Ada keraguan mendalam yang sempat menghantam di dada. Perlombaan ini mendadak terasa sangat berat. Namun, menolak perintah sang kiai adalah hal yang mustahil bagi seorang santri. Zizan dan Zia akhirnya menundukkan kepala, sebuah isyarat kepatuhan dan kesediaan yang mutlak.

"Insya Allah, kami siap, Bah," jawab mereka serempak, sarat akan rasa takzim.

Bagi Zizan dan Zia, materi perlombaan mungkin bukan suatu yang besar karena mereka adalah mutakharrijin yang mumpuni di bidang tersebut. Namun, beban mereka kini berlipat ganda karena beratnya kompetisi tanpa batas usia tersebut. Mereka teramat takut mengecewakan harapan besar yang telah Abah titipkan.

"Baik, Abah anggap kalian menerima amanah ini. Bawalah surat itu, pelajari materinya dengan matang agar kalian bisa lolos."

"Baik, Bah," jawab keduanya, membungkuk hormat. Namun, sebelum melangkah pergi, Zia menghentikan langkahnya sejenak. Ada satu ganjalan teknis di dalam surat yang membuat hatinya dilingkupi ragu. Ia menoleh ke arah Zizan, lalu kembali menatap Abah dengan saksama.

"Mohon izin bertanya, Bah," ucap Zia memecah keheningan. "Mengenai teknis lombanya nanti, apakah delegasi putra dan putri akan digabung dalam satu tim yang sama, ataukah kami berjuang sendiri-sendiri?"

Zizan ikut mengangguk, membenarkan rasa penasaran yang sama yang sempat melintas di benaknya.

Abah tersenyum tipis, lalu membetulkan posisi duduknya yang berwibawa. "Untuk perlombaannya nanti, pelaksanaannya berjalan berbarengan, namun tempatnya dipisah di ruangan yang berbeda antara peserta putra dan putri. Jadi, kalian tidak menjadi satu tim, melainkan berjuang di jalur masing-masing."

Abah menjeda kalimatnya sejenak, memberikan pandangan yang teduh namun penuh motivasi. "Jika kalian berdua nanti mampu lolos di babak seleksi ini, kalian akan mewakili Kecamatan Gebongan ke tingkat yang lebih tinggi. Zizan sebagai delegasi resmi peserta putra, dan Zia sebagai delegasi resmi peserta putri. Jadi, persiapkan diri kalian masing-masing dengan maksimal."

Mendengar penjelasan itu, beban di pundak mereka terasa sedikit reda, meski tanggung jawab yang dipikul tetaplah besar. Setidaknya, kini peta perjuangan mereka sudah terlihat terang benderang.

"Ya sudah, silakan lanjutkan kembali aktivitas kalian."

Keduanya mengangguk takzim. Zizan melangkah keluar terlebih dahulu dengan pikiran yang berkecamuk, disusul oleh Zia beberapa saat kemudian.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!