NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debaran

Udara pagi di balkon ruang rawat VIP terasa lebih segar dari biasanya. Meski Kaelith masih harus duduk di kursi roda karena cedera pada kakinya, ia bersikeras ingin menghirup udara di luar ruangan. Naura berdiri di sampingnya, bersandar pada pagar besi balkon, matanya menerawang ke arah pepohonan rumah sakit yang bergoyang pelan ditiup angin.

Semenjak skandal itu meledak, dunia mereka seolah berhenti berputar hanya pada satu poros. Kini, ketika dunia luar mulai sibuk dengan proses hukum para koruptor, di sini, di antara aroma antiseptik dan ketenangan pagi, mereka justru menemukan ruang untuk bernapas.

"Lo tahu, Nau?" Kaelith memecah keheningan, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Selama pelarian kita kemarin, setiap kali gue ngerasa mau menyerah, alasan pertama yang bikin gue bangkit bukan karena rasa tanggung jawab gue sebagai ketua BEM atau idealisme gue soal keadilan."

Naura menoleh, menatap pria yang perban di dahinya mulai mengering itu. "Terus karena apa?"

Kaelith menoleh perlahan, tatapannya mengunci mata Naura dengan intensitas yang membuat gadis itu harus menahan napas. "Karena gue takut kalau gue mati, gue nggak bakal punya kesempatan lagi buat ngelihat lo tersenyum dengan cara yang cuma lo lakuin kalau lo lagi merasa aman sama gue."

Jantung Naura berdegup kencang, sebuah debar yang jauh lebih kencang daripada saat ia harus menyusup ke gedung gala yang dijaga ketat. Ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi sangat pribadi. "Lo gombal banget, Kael. Habis kena benturan di kepala, ya?"

Namun, Kaelith tidak ikut tertawa. Ia justru menggerakkan kursi rodanya sedikit lebih dekat ke arah Naura, hingga lutut mereka hampir bersentuhan. "Gue serius. Di gudang itu, saat gue dipukuli dan diseret, yang ada di pikiran gue cuma satu: Naura harus selamat. Kalau dia selamat, misi gue selesai. Tapi kalau gue yang selamat dan lo nggak... dunia bakal jadi tempat yang paling kosong buat gue."

Naura terdiam. Keberanian yang selalu ia tunjukkan selama investigasi seolah luruh seketika di hadapan kejujuran Kaelith. Ia selalu menganggap hubungan mereka adalah aliansi yang terbentuk karena keadaan dua orang yang terjebak dalam arus yang sama. Namun, kata-kata Kaelith barusan menguak kenyataan bahwa di balik bahaya dan skandal, ada benih yang tumbuh dengan cara yang sangat tenang namun mendalam.

"Kael," bisik Naura, suaranya nyaris hilang ditelan angin. "Kita hampir kehilangan segalanya. Wajar kalau lo ngerasa terikat sama orang yang ada di samping lo saat itu."

"Ini bukan soal rasa terima kasih, Nau," potong Kaelith dengan nada yang sangat lembut. Ia perlahan meraih tangan Naura yang berada di atas pagar balkon, jemarinya yang hangat menyentuh punggung tangan Naura yang dingin. "Ini soal kenyataan bahwa lo adalah orang pertama yang membuat gue ngerasa nggak perlu pura-pura jadi ketua BEM yang tangguh, atau anak dari keluarga Atharrazka yang harus sempurna. Di depan lo, gue cuma Kaelith. Dan ternyata, itu cukup."

Naura menunduk, menatap tautan jemari mereka. Ia menyadari bahwa selama ini ia pun melakukan hal yang sama. Kaelith adalah tempatnya pulang di tengah berita-berita busuk yang harus ia tulis, dan tempatnya bersembunyi saat dunia terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

"Gue juga," akui Naura dengan nada yang lebih berani, kini ia membalas genggaman tangan Kaelith. "Gue selalu ngerasa harus jadi reporter yang nggak kenal takut. Tapi sama lo, gue sadar kalau gue juga boleh ngerasa capek. Boleh ngerasa takut. Dan ternyata, ada seseorang yang bisa menjaga rasa takut itu tetap terkendali."

Kaelith tersenyum, senyum yang membuat luka di wajahnya tidak lagi terlihat mengganggu. Ia menarik tangan Naura lebih dekat, menempelkannya ke pipinya yang masih memar. "Mulai sekarang, kita nggak perlu pura-pura lagi. Kita sudah lewatin yang terburuk. Sisanya... biarkan kita yang nentuin sendiri, bukan lagi skandal, bukan lagi yayasan, bukan lagi Hartono."

Di balkon itu, sejenak dunia seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua, di tengah kota yang perlahan mulai bergejolak kembali dengan proses hukum yang panjang. Tidak ada lagi ancaman senjata, tidak ada lagi pelarian di malam buta. Hanya ada kedekatan yang selama ini terpendam oleh urgensi misi.

Naura merasakan hangat menjalar di dadanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik semua kekacauan, ia akan menemukan seseorang yang melihatnya bukan sebagai aset atau alat, tapi sebagai seseorang yang layak untuk dijaga.

"Kael," Naura memanggil namanya lagi, kali ini dengan nada yang berbeda. "Gue nggak tahu apa yang bakal terjadi besok. Mungkin kita bakal dipanggil jadi saksi di pengadilan, mungkin kita bakal terus dikejar wartawan..."

"Apapun itu," Kaelith memotong dengan cepat, matanya menatap Naura dengan penuh keyakinan. "Kita hadapi bareng. Lo nggak akan pernah lagi nulis berita sendirian, dan gue nggak akan pernah lagi mengambil keputusan besar tanpa lo di samping gue."

Di bawah cahaya matahari pagi yang cerah, Naura menyandarkan kepalanya di bahu Kaelith. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Debar jantung mereka yang saling bersahutan adalah jawaban atas semua ketidakpastian masa depan.

Bagi Naura, romansa ini bukan tentang bunga atau janji-janji manis di kafe mewah. Ini adalah romansa yang lahir dari puing-puing perlawanan, dari keringat di ruang bawah tanah, dan dari air mata di balik pintu darurat. Ini adalah romansa yang paling jujur, karena ia terbentuk dari kebenaran yang tidak bisa digoyahkan.

Sementara itu, di dalam kamar rawat, ponsel Kaelith berdering. Pesan dari Keisha.

“El, semua pengurus BEM sepakat. Mereka nunggu pernyataan resmi kamu besok. Mereka nggak mau ketua lain, mereka cuma mau kamu. Dan mereka bilang, mereka dukung keputusan pribadi apa pun yang kamu ambil, termasuk kalau kamu mau mundur demi keamanan kamu.”

Kaelith membaca pesan itu, lalu melirik Naura. Ia tidak perlu lagi memikirkan tekanan organisasi. Ia memiliki pendukung terkuat yang pernah ia miliki, seorang jurnalis yang telah memenangkan perang paling berat dalam hidupnya.

"Gue punya kabar baik," ujar Kaelith sembari menunjukkan pesan itu pada Naura.

Naura membaca pesan itu, lalu tertawa kecil. "Jadi, lo mau ngomong apa sama mereka besok?"

Kaelith menatap Naura, lalu menoleh ke arah gedung kampus di kejauhan. "Gue bakal bilang, ketua BEM kalian sudah menemukan alasan kenapa dia harus tetap berjuang. Dan alasannya bukan lagi cuma soal kampus, tapi soal masa depan yang pengen gue bangun bareng seseorang."

Naura mencubit pelan lengan Kaelith, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Lo bisa berhenti ngerayu gue nggak?"

Kaelith tertawa, tawa yang ringan dan menular. Ia memeluk Naura dengan satu tangan yang bebas, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di kota yang masih memiliki banyak rahasia kelam, di antara sisa-sisa badai yang mereka lalui, mereka telah menemukan satu hal yang pasti, mereka telah menemukan satu sama lain.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!