NovelToon NovelToon
The Stellar Blood Swordmaster'S

The Stellar Blood Swordmaster'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: EAGLE EZ

Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.

​Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.Malam perak

Bau anyir darah menjalar lebih cepat daripada kobaran api.

Ren terengah-engah, punggungnya bersandar pada dinding bata yang retak dan terasa panas. Di luar gang sempit tempatnya bersembunyi, jeritan histeris dan denting besi beradu memecah kesunyian malam di Distrik Kumuh Oakhaven.

Tempat yang selama ini ia sebut rumah—sebuah bangunan tua semi-permanen yang berfungsi sebagai panti asuhan sekaligus rumah bordil kelas bawah—kini tengah dilalap api.

"Cari ke sebelah sana! Jangan ada satu pun tikus parit yang lolos!"

Suara bariton itu terdengar penuh otoritas. Ren mengintip dari celah tumpukan kayu. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena takut, melainkan karena amarah yang membuat seluruh badannya bergetar.

Di bawah temaram cahaya bulan dan kobaran api, berdiri belasan pria dengan zirah perak yang berkilau mewah. Di dada zirah mereka, terukir lambang pedang dan matahari terbit—simbol Ordo Ksatria Perak, yang katanya adalah tangan kanan dewa, pelindung kaum yang lemah.

Namun malam ini, pedang-pedang suci itu justru berlumuran darah para pelacur tua, anak-anak telantar, dan orang-orang cacat yang tidak punya daya untuk melawan.

"Komandan Kaelen! Area barat sudah bersih. Dokumen-dokumen selundupan milik uskup yang mereka simpan juga sudah diamankan," lapor seorang prajurit sambil memberi hormat.

Pria yang dipanggil Kaelen Vance itu mengangguk pelan. Ia menarik selembar kain sutra putih dari sakunya, lalu menyeka noda darah yang menempel di bilah pedang panjangnya dengan gerakan yang sangat santai, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan memotong rumput.

"Bagus," jawab Kaelen. Suaranya terdengar begitu tenang, bahkan cenderung lembut, bertolak belakang dengan pemandangan mengerikan di sekitarnya. "Bakar semuanya sampai habis. Distrik ini tidak boleh menyisakan apa pun yang bisa memicu rumor buruk tentang Ordo di media cetak kekaisaran besok pagi."

*‘Bajingan...’* batin Ren. Kebencian membakar dadanya.

Selama tiga belas tahun hidup di distrik kumuh ini, Ren bertahan hidup dengan otaknya. Dia cerdas. Dia yang mengelola pembukuan rahasia rumah bordil ini, memastikan anak-anak yatim piatu di sini bisa makan setidaknya sekali sehari. Dia tahu bahwa tempat ini memegang bukti korupsi pasokan logistik yang dilakukan oleh oknum Gereja dan Ksatria Perak. Tapi ia tidak menyangka mereka akan bertindak sejauh ini—membantai seluruh isi panti hanya untuk membungkam sejarah.

*Khhh...*

Tiba-tiba, rasa sakit yang teramat sangat menghantam tenggorokan Ren. Rasanya kering, panas, dan perih, seperti terbakar bara api.

Bersamaan dengan itu, luka goresan di bahu Ren akibat serpihan kayu berangsur-angsur menutup dengan sendirinya. Pupil matanya yang semula berwarna hitam pekat, perlahan menyusut dan berubah menjadi merah menyala di dalam kegelapan.

Ren mencengkeram lehernya sendiri, berusaha menahan erangan.

Itu adalah kutukan yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat. Dia bukan manusia biasa. Dia adalah seorang Vampir—mungkin yang terakhir dari jenisnya di kota ini. Sejak kecil, ia mati-matian menahan insting purbanya, tidak pernah menyentuh darah segar, dan memilih hidup sebagai manusia biasa agar tidak diburu oleh para penyihir suci.

Namun malam ini, mencium bau darah yang begitu pekat di sekelilingnya, rasa haus itu bangkit dengan kekuatan berkali-kali lipat. Rasa haus yang menuntut pembalasan.

"Hei, ada gerakan di balik sana!"

Sial. Sial. Sial.

Deteksi insting tajam para ksatria itu menangkap hawa keberadaannya. Dua orang prajurit berzirah perak langsung melangkah lebar menuju gang tempat Ren bersembunyi, pedang mereka sudah terhunus siap menjagal.

Ren berbalik dan berlari sekuat tenaga ke dalam reruntuhan bangunan utama yang sudah setengah runtuh. Asap tebal membuat matanya perih, tapi penglihatan vampirnya memungkinkannya melihat jalan di dalam kegelapan.

*BRAAK!*

Satu tebasan horizontal dari ksatria di belakangnya menghancurkan pilar kayu di dekat Ren. Efek kejutnya melemparkan tubuh kurus Ren ke depan, menghantam lantai papan yang sudah rapuh karena terbakar.

*KRETEKK... PRAYAANG!*

Lantai itu jebol. Ren jatuh terperosok ke bawah, berguling-guling di antara runtuhan puing dan debu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghantam lantai tanah yang keras dan dingin.

"Uhuk! Uhuk!" Ren memuntahkan darah. Dadanya sesak. Jatuh dari ketinggian itu membuat beberapa tulang rusuknya retak.

Di atas sana, lubang tempat ia jatuh tertutup oleh reruntuhan kayu besar yang terbakar, menghalangi jalan para ksatria untuk mengejarnya, sekaligus mengurung Ren di dalam kegelapan total.

Ren terengah-engah di lantai tanah. Tempat ini terasa asing. Ini bukan sekadar ruang bawah tanah biasa yang digunakan untuk menyimpan anggur atau logistik panti. Tempat ini jauh lebih dalam, berbau debu ribuan tahun, dan dipenuhi oleh aura magis yang terasa pekat dan... berat.

"Apakah... aku akan mati di sini?" bisik Ren lirih. Pandangannya mulai mengabur. Kekuatan regenerasi vampirnya melambat karena tubuhnya kekurangan asupan darah segar.

Tepat saat kesadarannya mulai menipis, seberkas cahaya merah darah berpendar di ujung ruangan.

Cahaya itu berasal dari sebuah pedang tua yang tertancap di atas bongkahan batu hitam. Bilahnya dipenuhi ukiran rune kuno yang rumit, dan di bagian hulu pedangnya, terdapat sebuah permata merah delima yang berdenyut lambat—seperti detak jantung.

*Dug... Dug... Dug...*

Ren merasa detak jantungnya sendiri beresonansi dengan denyutan permata tersebut. Seolah ada magnet tak kasat mata, tubuhnya yang sekarat bergerak merangkak secara insting menuju batu itu.

Darah dari telapak tangan Ren yang terluka menetes, membasahi lantai, dan merembes hingga menyentuh dasar batu hitam tempat pedang itu tertancap.

*WUUUSHH!*

Rune di bilah pedang itu tiba-tiba menyala terang, memancarkan gelombang energi hitam-merah yang membuat debu di seluruh ruangan beterbangan.

**"Bocah... darahmu... baunya luar biasa murni."**

Sebuah suara berdengung hebat, langsung bergema di dalam batok kepala Ren. Suara itu parau, berat, sarat akan nuansa kuno, dan terdengar sangat sinis.

Ren tersentak, menghentikan gerakannya. "Siapa... siapa itu?"

**"Aku? Aku adalah ujung dari keputusasaan musuh-musuhku. Aku adalah malam yang tidak pernah berakhir,"** suara itu tertawa terkekeh, suara tawa yang bisa membuat orang awam langsung gila karena ketakutan. **"Tapi di era yang membosankan ini, orang-orang menyebutku Crimson. Roh yang terikat dalam besi tua ini."**

Permata di hulu pedang itu bersinar lebih terang, seolah menatap langsung ke dalam manik mata merah milik Ren.

**"Kau adalah ras taring panjang yang sekarat, hah? Menarik. Sungguh takdir yang menggelikan. Hei, Bocah Cerdas, apa kau mau mati konyol di bawah runtuhan ini sementara bajingan bertopeng keadilan di luar sana tertawa riang?"**

Ren mengepalkan tinjunya. Bayangan wajah Kaelen Vance yang tersenyum tenang saat membantai orang-orang yang dikenalnya kembali terlintas. Rasa hangat amarah mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.

"Tidak," desis Ren, giginya gemeretak. "Aku tidak mau mati sebelum mencincang mereka semua."

**"Bagus! Sifat keras kepala yang aku suka!"** Crimson berseru puas. **"Genggam hulu pedangku. Berikan aku darah murnimu sebagai bayaran kontrak, dan akan kutunjukkan padamu... bagaimana cara menggunakan besi ini untuk memotong kehormatan palsu para ksatria sialan itu!"**

Tanpa ragu sedikit pun, Ren bangkit berdiri dengan sisa tenaga terakhirnya. Ia melangkah maju, lalu mengulurkan tangan kanannya yang bersimbah darah, mencengkeram erat hulu pedang Crimson.

*JLEEBB!*

Rasa sakit seperti disengat listrik jutaan volt menjalar ke seluruh tubuh Ren saat kontrak darah itu terbentuk. Cahaya merah darah meledak, menerangi seluruh ruang bawah tanah kuno tersebut, menandai awal dari bangkitnya sang penguasa pedang darah yang baru.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Coba bikin yang murim 👍🏻
EAGLE EZ: oke untuk bab pertama dulu bree kalo ingin di tambah mohon bantu juga bree👍
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!