NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

“Anak itu semakin kurang ajar, Mas! Ia berani melawan kita dan bahkan menangkis setiap kali kita hendak memukulnya,” geram Risma penuh amarah.

“Iya, aku juga bingung kenapa ia berubah seperti ini. Risma, kamu ingat kan kemarin malam ia tidak pulang ke rumah?” tanya Anton. Risma hanya mengangguk pelan.

“Dan Mbok Asih juga bilang, saat Kiara akhirnya pulang, ia melihat Kiara masuk dengan wajah yang berbeda,” lanjut Anton. Risma menatap suaminya dengan pandangan cemas.

“Mas… Jangan-jangan ia sempat menguping pembicaraan kita malam itu?” tebak Risma.

“Tidak mungkin hal itu terjadi,” bantah Anton cepat.

“Tapi kenapa sikapnya berubah drastis hari ini? Ia berani melawan, bahkan sempat bertanya apakah ia benar-benar anak kandung kita. Padahal kenyataannya memang bukan. Hah… Seandainya saat itu kamu membiarkan Kiara tetap berada di panti asuhan, kita tidak akan serba bingung dan ketakutan seperti sekarang ini,” gumam Risma kesal.

Anton menatap tajam ke arah istrinya. “Apakah kamu sudah lupa dengan apa yang kita bicarakan semalam? Surat kepemilikan perusahaan yang aku buat itu dianggap palsu, karena dokumen aslinya masih disimpan oleh Yuda. Semua harta dan perusahaan itu sudah ia tuliskan atas nama istri dan anaknya, untuk diwariskan jika suatu saat ia tiada. Kamu tahu sendiri, Yuda hanya memberiku 10 persen saham saja, dan aku sama sekali tidak bisa menerima hal itu!” ucap Anton tegas.

“Papa…” Suara Angga tiba-tiba terdengar. Ternyata ia sudah berdiri di sana dan mendengar seluruh pembicaraan kedua orang tuanya.

“Apa maksud semua ini? Jadi saham yang Papa terima hanya 10 persen saja?” tanya Angga tak percaya.

“Kamu sudah pulang, Nak. Mari duduk dulu, kita bicarakan ini bersama-sama,” ajak Risma.

“Kalau kamu ingin mengetahui semuanya, dengarkan baik-baik. Seluruh harta dan kekayaan yang kita nikmati saat ini sebenarnya adalah milik Om Yuda. Semua ini kelak akan diwariskan kepada Kiara, sedangkan kita tidak akan mendapatkan apa-apa seandainya Yuda tidak memberiku bagian 10 persen itu. Maka dari itu, demi bisa menguasai perusahaan dan seluruh hartanya, Papa terpaksa menghabisi nyawa Yuda, membuat Linda menjadi gila, lalu mengambil Kiara dan membohongi Linda dengan mengatakan bahwa kami semua sudah meninggal dunia,” jelas Anton panjang lebar.

“Gila… Papa benar-benar sudah gila! Tapi kalau Om Yuda masih hidup, mungkin saat ini aku tidak akan menjadi Direktur Utama. Aku hanya akan menjadi anak Anton yang bekerja sebagai karyawan biasa saja… Euhh… Aku tidak mau hal itu terjadi, Pa!” seru Angga dengan wajah jijik membayangkannya.

“Kamu tidak akan pernah menjadi karyawan biasa, Nak. Kamu tetap akan menjadi pemilik dan pemimpin perusahaan itu, kamu tetaplah Direktur Utama,” ucap Anton meyakinkan.

“Dan mulai saat ini, Angga, kita harus bekerja sama untuk menyingkirkan Kiara. Sebab jika suatu saat ia mengetahui kebenaran tentang kematian ayahnya dan apa yang terjadi pada ibunya, ia pasti akan membalas dendam kepada kita semua,” tambah Risma dengan nada serius.

“Tenang saja, Ma. Serahkan semuanya padaku,” jawab Angga mantap. Risma dan Anton pun mengangguk setuju.

.

.

.

 

Malam itu, suasana di meja makan terasa sangat hening dan penuh kecanggungan. Kiara duduk sejajar dengan Angga dan Rico, tampak tenang menyantap hidangan yang tersaji. Sikapnya yang berani mengambil lauk sesukanya justru memicu rasa kesal di hati Angga.

“Cukup, Kiara! Kenapa kamu selalu menghabiskan makanan kesukaanku, hah?” bentak Angga tajam.

“Jangan pernah melarang ku menyentuh makanan yang ada di meja ini, karena sebagian dari makanan ini juga adalah hakku,” jawab Kiara santai tanpa rasa takut.

Risma yang sudah menahan kesal sejak tadi segera menegur sambil melipat kain serbet di tangannya. “Bisakah kamu tidak mengambil lauk kesukaan kakakmu itu?”

“Maaf, tidak bisa,” jawab Kiara singkat. Ucapan itu membuat Risma semakin naik pitam.

“Dasar anak kurang ajar! Berani sekali kamu melawan kata-kataku!” teriak Risma keras.

“SUDAH HENTIKAN SEMUA INI…!!” Suara tegas Anton memecah suasana.

“Kita sedang berada di depan makanan, tidak pantas saling bertengkar seperti ini. Dan kamu, Kiara, lebih baik pindah tempat duduk mu. Aku sudah muak melihat wajahmu di sini,” desis Anton penuh rasa jijik.

“Kalau kalian merasa muak melihatku, sebaiknya kalian saja yang pergi dari sini,” balas Kiara tenang.

Jawaban itu membuat Angga semakin memanas. Ia segera meraih mangkuk sup di depannya dan hendak melemparkannya ke arah Kiara. Namun sebelum mangkuk itu sempat melayang, Rico dengan sigap menahan tangan kakaknya itu.

“Hentikan, Mas! Jangan lempar dia dengan mangkuk itu!” cegah Rico cepat.

“Wah, rupanya kamu membela wanita murahan ini ya?” tunjuk Angga ke arah Kiara dengan penuh penghinaan.

“Jaga ucapanmu, Mas Angga! Wanita yang kamu sebut murahan itu adalah adikmu sendiri! Kenapa kalian semua bisa sekejam ini padanya, hah?!” balas Rico tak kalah keras.

“Kami tidak kejam, Rico. Kami hanya bertindak terlalu jauh saja,” kilah Anton.

“Bukan terlalu jauh, tapi kalian semua memang sudah keterlaluan!” seru Rico. Ia lalu berdiri, menarik tangan Kiara untuk menjauh dari meja makan itu.

“Sudahlah, Dek. Tidak usah makan di sini lagi. Ayo kita cari makan di luar saja,” ajak Rico sambil mengajak Kiara pergi, meninggalkan ketiga orang itu yang masih terpaku tak percaya melihat keberanian Rico.

Setelah keduanya cukup jauh dari pandangan mereka, Angga yang masih terbakar emosi melempar mangkuk itu ke lantai hingga pecah berantakan.

“Kenapa anak itu selalu membela Kiara?” geram Angga kesal.

“Memang sudah begitu kelakuannya sejak kemarin. Ia selalu memihak Kiara dan sama sekali tidak takut meskipun aku sudah berulang kali mengancamnya,” sahut Risma dengan nada penuh kekesalan.

“Biarkan saja ia bersikap begitu. Kita lihat saja sampai kapan ia akan memihak Kiara,” ucap Anton dingin.

.

.

.

 

Di tempat lain, Rico dan Kiara berjalan kaki menuju sebuah gerobak bakso di depan perumahan. Itu adalah tempat langganan Rico sejak ia masih kecil hingga sekarang.

“Mang, pesan dua mangkuk bakso ya!” seru Rico. Ia lalu duduk di bangku kayu tak jauh dari gerobak itu.

“Siap, Bos Rico! Sebentar ya,” jawab penjual bakso itu ramah, lalu segera menyiapkan pesanan mereka.

“Kak, tidak apa-apa kan kita makan di sini? Mama pasti akan sangat marah kalau sampai tahu,” tanya Kiara ragu.

“Jangan pikirkan mereka lagi. Yang penting sekarang adalah kondisi dan kesehatanmu. Apakah kamu tidak kasihan pada dirimu sendiri yang selalu diperlakukan semena-mena?” jawab Rico lembut namun tegas.

“Tapi aku takut nanti Kakak dimarahi dan ikut dihukum karena membela aku,” gumam Kiara khawatir.

“Kakak tidak apa-apa, Dek. Selama Kakak masih hidup, Kakak akan selalu ada untuk membela dan melindungimu,” ucap Rico sambil menatap wajah adiknya dengan tatapan tulus.

“Kakak…” Kiara tak menyangka mendengar ucapan sepenuh hati itu. Ia pun segera memeluk tubuh Rico erat-erat.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku bahkan belum bisa memastikan apakah ucapan Mama dan Papa itu benar… Bahwa aku sebenarnya bukan anak kandung mereka…” Isak tangis Kiara pun pecah. Mendengar hal itu, hati Rico terasa perih sekali. Bahkan, kalimat terakhir Kiara membuat Rico terkejut, karena hanya dirinyalah yang selama ini mengetahui rahasia besar itu.

Saat itu, Rico hendak menemui kedua orang tuanya untuk membahas soal cabang perusahaan yang akan dipimpinnya, agar ia bisa belajar berbisnis dan tidak lagi menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang. Namun, saat hendak mengetuk pintu kamar mereka, ia mengurungkan niatnya dan memilih mendengarkan pembicaraan di balik pintu itu. Di sanalah ia mengetahui semuanya—masa lalu yang kelam, kematian Yuda, nasib Linda, dan bagaimana mereka memisahkan Kiara dari orang tuanya sejak masih bayi.

Rico mengusap lembut kepala Kiara, berusaha menenangkan dan menguatkan hati gadis itu agar tetap tegar dan tidak lagi bersikap lemah seperti dulu.

“Apapun yang terjadi nanti, Kakak akan selalu mendukung dan membantumu,” janji Rico.

Kiara pun melepaskan pelukannya perlahan. “Kakak yakin benar-benar mau membantu aku?” tanyanya memastikan.

Rico mengangguk mantap. “Ya, Kakak yakin. Sebenarnya, Kakak sudah mengetahui semuanya jauh sebelum kamu mengetahuinya, Kiara,” jawabnya jujur.

“Terima kasih banyak, Kak,” ucap Kiara tulus. Keduanya pun saling berpelukan kembali. Tak lama kemudian, pesanan bakso mereka selesai dan diantarkan tepat di hadapan mereka.

Malam itu, mereka menikmati makan malam dengan semangkuk bakso hangat yang terasa jauh lebih nikmat dibandingkan hidangan mewah di rumah, karena ditemani oleh ketulusan dan rasa aman yang sudah lama dirindukan Kiara.

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!